
3 hari sudah Ana berada di rumah sakit. Hari ini Ana akan kembali pulang ke mension, ia sedari kemarin sudah merengek untuk minta di pulangkan karena tidak betah berada di rumah sakit berlama-lama.
"Pakai maskermu, Ana." Ujar Sean memberikan masker yang ia minta pada pihak rumah sakit tadi.
Ana segera memakai masker agar tidak dikenali oleh beberapa orang di luaran sana.
"Kita melewati jalan yang kita lalui saat tiba di sini." Sambung Sean.
Mereka pun bergegas untuk pulang meninggalkan rumah sakit. Mami Sean membantu membawa salah satu dari baby twin, mereka melewati jalan yang di lalui Sean waktu baru saja tiba di rumah sakit. Agar publik tidak mengetahui.
Sesampainya di parkiran khusus, Ana segera masuk ke dalam mobil. Sean membukakan pintu untuk Ana, di susul dirinya yang ikut duduk di samping Ana.
"Jalan." Perintah Sean pada supirnya.
Sang supir melajukan mobilnya dengan kecepatan standart. Tidak lupa juga jika mobil yang di tumpangi Sean mendapat pengawalan ketat dari anak buahnya.
30 menit kemudian, mobil yang berjejer itu pun tiba di mension milik Sean.
Sean keluar dan membukakan pintu untuk Ana.
Mereka semua masuk ke dalam mension milik Sean. Di dalam mension sudah di dekor untuk penyambutan baby twin.
Pesta penyambutan kecil-kecilan sesuai permintaan Ana itu pun membuat semua yang berada di mension merasakan senang dan kegembiraan. Mereka semua ikut senang jika sang pewaris dari keluarga William lahir di dunia.
Ana tersenyum melihat antusias penyambutannya dan baby twin, meskipun itu pesta kecil-kecilan, itu sudah membuat Ana merasa senang.
"Selamat datang nyonya dan baby twin." Ucap mereka bersamaan.
"Waahh... terimakasih kalian sudah menyambutku dan si kecil." Ucap Ana pada semua pekerja yang ada di mension.
Meskipun acar itu hanya di hadiri keluarga inti dari Sean dan semua pekerja yang ada di mension Sean, hal itu tidak pernah mengurangi kebahagiaan yang menghampiri.
Acara itu justru berjalan dengan sangat khitmad tanpa ada gangguan apapun.
Setelah pesta penyambutan selesai, Sean membawa Ana dan kedua anaknya ke kamar baby yang sudah di renovasi beberapa waktu yang lalu. Kamar itu di desain sedemikian rupa dengan warna silver berpaduan gold.
Di sana juga sudah lengkap dengan semua mainan dan dua tempat tidur baby.
__ADS_1
"Kenapa mainannya banyak sekali, Sean? Apa ini tidak terlalu kebanyakan?" Tanya Ana yang melihat buanyak sekali mainan yang berada di kamar anak-anaknya.
"Apa kau yang membelikannya?" Sambung Ana.
"Tidak... aku hanya membelikan beberapa saja. Mungkin ini ulah mami dan papi." Jawab Sean.
"Lalu, akan kita apakan semua mainan ini?"
"Biarkan saja. Nanti mereka besar juga pasti akan di gunakan." Jawab Sean. Ana hanya bisa menghela nafasnya. Ingin menolak pun juga tidak bisa, semua mainan itu sudah berada di sana.
'Toko mainan pindah ke sini' batin Ana dalam hatinya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ana meletakkan Julian yang berada di gendongannya agar putranya itu bisa tidur dengan nyenyak.
"Apa sebaiknya kita memperkejakan baby sitter? Aku tidak mau dirimu kelelahan merawat mereka berdua." Ujar Sean.
"Tidak perlu, Sean. Justru inilah yang paling aku nanti. Aku ingin merawat anak-anak kita tanpa bantuan baby sitter, aku ingin melihat setiap tumbuh kembang mereka. Aku juga ingin agar mereka lebih dekat dengan kita, orang tuanya." Terang Ana. Ana memang sedari dulu suka dengan anak kecil, dan sekarang dirinya sudah menjadi ibu untuk anak-anaknya. Inilah saat yang paling di tunggu Ana saat sudah memiliki seorang anak.
"Tapi, bagaimana jika nanti kamu merasa kelelahan, sayang."
"Kau adalah yang terbaik bagiku." Ucap Sean lalu mencium kepala Ana.
"Ayo kita keluar, biar mereka tertidur lebih dulu." Ajak Sean. Mereka pun keluar dan bergabung dengan papi dan maminya.
Mereka duduk berkumpul dalam satu ruangan.
"Istirahatlah, Ana. Jangan banyak gerak dulu." Ucap sang mami dengan perhatian.
"Tidak apa-apa, mi. Ana kan cuma jalan kecil, biar tidak kaku." Jawab Ana.
Mereka pun saling berbincang-bincang mengenai banyak hal. Terkadang perdebatan-perdebatan antara Diva dan Ana kembali terjadi.
Malam harinya...
Ana menggendong salah satu anaknya untuk di berikan asi agar mereka bisa tertidur dengan nyenyak.
"Lihat putrimu ini, Sean. Dia sangat cantik, dia pun tidak banyak menangis. Dia lebih banyak diam." Ujar Ana yang mengelus-elus pipi Jennifer.
__ADS_1
"Dia akan mempunyai sifat lembut sepertimu, sayang." Jawab Sean yang menimang-nimang Julian.
"Tidak, aku rasa dia lebih berdominan padamu. Dia sepertinya mempunyai wibawa yang tinggi nanti, seperti dirimu." Jelas Ana.
Selama di rumah sakit, putri mereka memang jarang sekali untuk menangis. Menangis pun hanya sesekali dan sebentar saja, beda lagi dengan Julian yang sering menangis. Bahkan tangisannya sangat kencang.
"Benarkah seperti itu?" Sahut Sean.
"Benar. Aku bisa merasakannya. Dan untuk Julian, dia memang lebih muda dari Jennifer. Tapi, semua kekuasaan akan takluk di bawah kaki dan tangannya." Jelas Ana lagi.
"Apa yang kau ucapkan sepertinya benar. Mereka akan menjadi orang-orang yang kuat." Ujar Sean lalu mencium kening putranya yang ia gendong.
"Lihat, dia tersenyum." Ujar Sean yang melihat Julian sedikit membuka matanya dan tersenyum. Sepertinya dia faham dan mendengar apa yang di ucapkan oleh mami dan papinya.
"Sepertinya dia faham dengan apa yang kita ucapkan." Sahut Ana.
"Sepertinya begitu." Mereka kembali menimang-nimang baby twin. Perasaan bahagia dan senang tidak bisa di gambarkan oleh keduanya.
Sean sepertinya sangat menikmati perannya yang sudah menjadi seorang ayah dengan dua anak. Sean tidak henti-hentinya mencium putra dan putrinya sedari tadi. Sampai-sampai dari mereka terbangun dan menangis.
Mereka meletakkan kedua bayi itu kembali ke box miliknya masing-masing karena sudah tertidur dengan lelapnya.
"Boy, kau adalah anak laki-laki satu-satunya di sini.
Kau harus kuat, agar bisa melindungi mami dan kakak-kakakmu." Tutur Sean lembut pada putranya.
"Dan putri papi. Meskipun kamu perempuan, kamu harus bisa lebih kuat dari adikmu. Kau harus bisa menjadi ratu yang kuat dan tidak terkalahkan." Sambung Sean beralih pada putrinya.
Setiap kata-kata dari Sean dan Ana sepertinya adalah gambaran nasib mereka masing-masing yang tidak bisa di bantah. Tentu saja mereka akan menjadi orang-orang yang kuat. Sean tidak akan membiarkan anaknya menjadi seseorang yang lemah, Sean akan menjadikan anak-anaknya orang yang kuat dan tidak terkalahkan.
Dan Sean sendirilah yang akan memastikan jika anak-anak mereka akan menjadi seseorang yang sangat kuat melebihi dirinya. Bahkan dirinya mungkin juga tidak bisa mengalahkannya.
Ana dan Sean memilih menemani kedua anaknya di kamar baby mereka. Ana takut jika nanti mereka menangis kelaparan.
Kamar yang di gunakan untuk baby twin pun tidak kalah luasnya dengan kamar-kamar yang berada di mension.
"Sekarang tidurlah. Kau harus banyak istirahat." Perintah Sean.
__ADS_1