
"Apa tuan muda akan ikut bersama dengan mereka?" Tanya anak buahnya.
"Eemm.. Kemungkinan besar aku akan ikut andil dengan mereka." Jawabnya dnegan tanpa ragu. Gerald memutuskan untuk ikut andil di sana, dia sudah menebak jika pasti Jennifer akan ikut dalam perang itu, maka dari itu Gerald tidak akan membiarkan Jennifer bertarung sendiri.
"Tuan muda yakin?" Tanyanya memastikan.
"Eemm.." Gerald menjawabnya dengan deheman.
Jika saja orang itu mengincar Jennifer, mungkin Gerald akan mengerahkan semua anak buahnya yang ada di sini untuk ikut andil dalam hal ini. Gerald akan melihat bagaimana perkembangannya nanti.
Jennifer sedang berada di toko buku saat ini, Jennifer sedang mencari buku untuk di baca di waktu senggang. Tak jauh dari sana, ada yang mengawasinya sedari tadi. Jennifer yang merasa dirinya di awasi itu pun mencoba untuk mengalihkan perhatian orang tersebut, Jennifer berada di kerumunan orang-orang di sana lalu mencari tempat bersembunyi.
"Kemana perginya gadis itu?" Gumamnya yang sudah tidak melihat keberadaan Jennifer di sana. Orang itu sedari duduk di sana dengan menutupi wajahnya dengan buku, karena memang di toko buku itu menyediakan tempat untuk membaca. Dia celingukan ke sana ke mari karena tidak menemukan Jennifer.
Orang itu pun bangkit dari duduknya kemudian mencari keberadaan Jennifer di sana, dia mencari ke sana ke mari tapi yang ia cari tidak ada. Karena memang toko itu toko buku terbesar yang ada di kota.
"Apa kau belajar menjadi seorang penguntit?" Sahut Jennifer dari belakang orang tersebut. Orang tersebut pun menoleh ke arah sumber suara, Jennifer tersenyum sinis melihat orang itu.
"Kau mencariku?" Jennifer masih menunjukkan senyum sinisnya pada orang itu, orang tersebut hanya diam menatap ke arah Jennifer. Ternyata tidak semudah yang dia kira saat mengawasi Jennifer.
"Apa tidak pekerjaan sampai-sampai kau jadi seorang penguntit?" Jennifer masih memancing orang itu untuk berbicara.
"Nona muda William," orang itu menaikkan sebelah alisnya.
"Oowh... aku kira kau tidak tahu siapa aku, ternyata aku salah. Tapi, kalau kau tidak tahu siapa aku tidak
mungkin kau menguntit bukan?" Smirknya terlihat jelas di sana.
"Tidak ada gunanya jika kau mengikutiku, sebaiknya kau kembali. Kau hanya membuang-buang waktumu." Ujar Jennifer kembali mencari buku yang ada di rak.
"Heh, ternyata kau sangat sombong, Nona." Ujar orang itu tersenyum miring.
"Aku anggap itu adalah pujian untukku. Karena kau tidak tahu siapa diriku, jelas saja aku terlihat sombong di matamu." Wajah Jennifer terlihat meremehkan orang tersebut.
__ADS_1
"Bicaramu sungguh tinggi, Nona." Ujar orang itu. Tadinya dia ingin mengikuti dan melihat semua gerak gerik Jennifer, tapi ternyata dia sudah ketahuan lebih dulu oleh Jennifer. Jennifer hanya menggedikkan bahunya dengan ucapan orang tersebut.
"Sepertinya, kau sangat tahu siapa diriku?" Ujar orang itu.
"Apa itu penting bagiku untuk tau siapa dirimu? Tidak penting sama sekali, aku hanya tidak suka jika ada penguntit sepertimu. Sebaiknya kau kembalilah dan katakan pada tuanmu, kau di sini hanya sia-sia," ujar Jennifer dengan santainya. Sepertinya, Jennifer sudah tahu siapa orang yang mengawasi dirinya sejak tadi.
"Siapapun dirimu, aku tidak peduli. Kembalilah ke tempat asalmu, jangan terlalu bodoh untuk mengikuti kemauan tuanmu." Ujar Jennifer sinis lalu meninggalkan orang itu sendiri di sana. Jennifer menuju ke kasir untuk membayar buku yang ia dapat.
Orang itu hanya memandang Jennifer dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Tangannya mengepal kuat melihat kepergian Jennifer dari sana, Jennifer segera keluar dan berjalan ke arah mobil miliknya. Tanpa berlama-lama, Jennifer melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Sialll... Sepertinya dia tidak bisa di buat main-main." Kesalnya lalu merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, tuan." Sapanya saat panggilan telfonnya terhubung.
"Gadis itu sepertinya tidak bisa di buat main-main, aku tertangkap basah olehnya." Ujarnya pada orang di seberang sana. Orang itu pun memutuskan panggilan telfonnya lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Sedangkan di sisi lain...
"Tuan muda," ucapnya lalu menundukkan sedikit badannya. Siapa lagi tuan muda yang dia maksud kalau bukan Gerald.
Bugh...
Bugh...
"Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu, Nona muda William berada di toko buku, dia di ikuti oleh seorang laki-laki. Tapi, Nona muda William membuat dirinya bungkam." Lapornya. Aktifitasnya terhenti saat mendengar ada yang mengikuti Jennifer.
"Apa kau tahu siapa lelaki itu?" Tanyanya dengan serius.
"Sepertinya, dia adalah dari pihak yang mengibarkan bendera perang dengan tuan William. Mereka mencari cela untuk memulai peperangan, Nona muda sangat peka dalam hal ini." Jelasnya lagi.
Ekspresi Gerald seketika berubah sangat serius setelah mendengarnya, "awasi orang-orang itu, jangan sampai menyentuh milikku. Kau awasi juga di manapun dan kemanapun Jennifer pergi," perintahnya dengan lantang pada anak buahnya.
"Baik, tuan." Anak buahnya pergi mengundurkan diri dari sana.
__ADS_1
Gerald menghentikan olahraganya dan melepas sarung tangan tinju yang ia kenakan. Ia mengambil ponsel dan segera mencari momor ponsel seseorang. Gerald menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
Kriing...
Kriiing...
Bunyi ponsel seseorang di seberang sana, ia segera memasang earphone-nya dan menggeser tombol hijaunya.
"Hallo, babe." Ucapnya setelah menekan tombol hijau. Benar sekali jika orang yang di hubungi Gerald adalah Jennifer.
"Aku merindukanmu, di mana sekarang?" Tanya Gerald yang ada di seberang sana.
"Jika kau rindu denganku cepatlah kembali ke Berlin. Aku sedang di jalan, ada apa?" Jawab Jennifer. Dia belum tahu kalau Gerald dari kemarin sudah berada di Berlin, karena memang Gerald tidak memberitahunya.
"Apa kau tidak merindukanku?"
"Tidak." Jawab Jennifer singkat yang membuat Gerald tersenyum sendiri di sana. Jennifer memang beda dari yang lain, ketika yang lain kembali membalas ucapan rindu, Jennifer justru dengan spontan menjawab tidak dengan lantang.
"Aahh... Aku sangat sedih karena kau tidak merindukanku di sini." Gerald mencoba mengganti nada suaranya dengan memelas.
"Jangan bertingkah seperti Julian." Celetuk Jennifer.
"Hahaha..." Gerald tertawa keras mendengarnya.
"Aku bukan dirinya, kenapa kau samakan aku dengan dirinya?" Gurau Gerald.
"Karena kau terkadang bertingkah sepertinya yang seperti anak-anak." Jawab Jennifer singkat padat jelas. Mungkin karena dirinya fokus menyetir.
"Apa semuanya baik di sana?" Tanya Gerald basa basi. Padahal dirinya sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
"Emm... Ya... Di sini baik. Kau tidak tidur?" "Aku terbangun karena memikirkanmu," Gerald mengeluarkan kata-kata mautnya untuk Jennifer.
"Kau memang tukang gombal. Lanjutkan tidurmu, aku masih dalam perjalanan." Ucap Jennifer.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati. Dan sampai bertemu lagi, Love you." Gerald memutuskan panggilan telfonnya. Ia pun melangkahkan kakinya dan bergegas untuk membersihkan diri dari keringat yang menempel pada tubuhnya.