Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 316


__ADS_3

Fany dengan lahap menyantap ice cream miliknya sambil berjalan-jalan dengan Julian. Tanpa memperdulikan tatapan-tatapan setiap orang yang tengah melintas. Selagi yang di lakukan olehnya tidak mengganggu orang lain, Fany enjoy saja.


"Sebaiknya kita cari tempat duduk," ajak Julian." Jangan makan sambil jalan."


"Tidak perlu. Sudah mau habis juga," tolak Fany yang asik menikmati ice cream miliknya. Biasa anak muda menikmati masa pacaran dengan berjalan-jalan ke luar untuk mencari suasana baru.


"Apa lihat-lihat? Mau aku congkel matamu!?" sengal Fany pada salah satu orang yang tengah melihat ke arahnya. Dia menunjukkan sisi bar-barnya begitu saja, padahal belum tentu juga jika orang itu melihat dirinya.


Orang yang mendapat plotoan mata dari Fany itu memilih terus melangkahkan kakinya pergi dari pada berhadapan dengan Fany. Lagian dirinya juga tidak mengenal Fany. Julian sudah tidak merasa aneh lagi kalau Fany terkadang tiba-tiba ngegas dengan orang lain.


"Kau membuatnya takut, Honey," ujar Julian melihat orang tadi hanya diam.


"Bagus jika mereka takut denganku. Tidak perlu susah-susah aku membuang tenaga," jawabnya amsih dengan memakan ice cream miliknya.


"Bagaimana dengan teman-temanmu? Bukankah mereka sedang belajar bela diri? Kenapa kau tidak menemani mereka?" tanya Fany mengalihkan pembahasan lainnya.


"Eeem... lumayan. Tinggal mereka mendalami saja. Setelah denganmu nanti aku akan datang ke sana," ucapnya.


"Aku mau ikut. Aku ingin mencoba berlatih dengan mereka. Hehehe...." Tawa Fany menunjukkan tidak akan baik-baik saja. Bak iblis yang tersenyum mengeluarkan tanduknya, sepertinya ia memiliki rencana untuk itu.


"Baiklah. Habiskan dulu makananmu." Ke duanya melanjutkan langkah kaki yang entah ke mana mereka akan menuju.


Julian dan Fany telah sampai di lokasi tempat Julian melatih ke dua temannya untuk bela diri. Fany bertanya-tanya kenapa Julian tidak melatihnya di markas saja.


"Kenapa tidak membawa mereka ke markas saja? Kenapa harus di sini?" tanyanya untuk menghilangkan rasa penasaran.


"Aku sengaja membawa mereka ke sini. Aku tidak mau nanti mereka akan syok melihat siapa aku sebenarnya. Aku sudah mengirim salah satu anak buahku untuk melatih mereka di sini," terang Julian.


"Mereka tidak penasaran dengan anak buahmu itu?" Fany menunjuk anak buah Julian yang tengah melatih Reiner dan Marcus saat ini.


"Tidak. Pasti mereka mengira jika anak buah itu pengawal-pengawal yang ada di mension." Mulut Fany hanya membentuk huruf O mendengar penjelasan Julian.


Mereka tidak perlu tanya siapa anak buah Julian, karena memang pasti keluarga Julian memiliki bodyguard yang bisa bergulat untuk melindungi majikannya.


"Aku ingin berlatih dengan mereka,"

__ADS_1


"Kau mau ke mana? Sudah diam saja, jangan sampai kau bersentuhan dengan mereka," cegah Julian. terselip rasa cemburu dan tidak suka Jika Fany bersentuhan dengan laki-laki lain.


"Aku kan hanya berlatih dengan mereka. Aku ingin mengetes kekuatan mereka sampai di mana. Kau yang tenang saja, okeeee. Aku sudah lama sekali tidak memanasi otot-ototku." Fany berusaha membujuk Julian agar dirinya di perbolehkan untuk berlatih dengan ke dua temannya itu.


"Kalau tidak boleh aku akan pulang saja." Fany memasang wajah cemberut agar dia di perbolehkan untuk berlatih.


"Baiklah-baiklah. Kau berlatihlah dengan mereka." Fany yang mendengar jawaban dari Julian itu pun segera meletakkan tas kecilnya dan berlari ke arah ke dua temannya yang tengah berlatih itu.


Dia sangat semangat, Julian yang melihat antusias dari Fany terheran-heran. "Aiih... kenapa dia seperti itu. Padahal ada aku di sini, kenapa dia tidak berlatih saja denganku?" keluh Julian melihat sang kekasih itu sangat senang akan berlatih dengan ke dua temannya. Julian memilih untuk mengawasi saja mereka dari kejauhan.


Di tengah-tengah lapangan, Fany hanya memilih salah satu dari temannya untuk ia ajak berlatih. Ia ingin mengetes satu-satu dari mereka, yang pertama ia pilih Marcus. Sementara Reiner beristirahat sejenak dan duduk bersama Julian.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


"Aaarkh... tolong aku!" teriak Marcus dengan kencang di sana. la kalah telak dengan Fany. Baru saja dia memulai tapi sudah kalah telak dengan Fany.


Fany sengaja mengeluarkan kekuatannya. Reiner melotokan ke dua matanya melihat Fany dengan mudah membuat Marcus terkapar di sana.


"Bukannya kau pernah melihatnya dia melawan preman? Kenapa kau terkejut seperti itu?" sahut Julian pada temannya itu.


"Waktu itu kan aku hanya melihat dia memukul. Siapa yang tahu kalau dia memiliki tenaga sebesar itu. Apa dia juga pernah membuatmu terkapar seperti itu?" Reiner merasa penasaran dengan itu karena ke dua orang itu terlihat tidak pernah akur.


"Waaahh... tolooong!" Marcus masih berteriak kencang dari kejauhan tanpa ada yang menolongnya. Fany mengunci pergerakan Marcus.


"Lepaskan aku! Sakit tahu!" sentak Marcus pada Fany.


Tangannya di pelintir ke arah belakang, sedangkan dia dalam posisi terngkurap tidak bisa bergerak lagi.


"Kau laki-laki atau bukan? Kenapa lemah sekali? Baru juga satu tendangan kau sudah tumbang. Tidak terlihat keren sama sekali," ejek Fany. Fany memang sengaja melakukan itu, dia sudah merencanakannya sedari tadi.


"Satu tendangan dari mana!" Marcus tidak terima dengan ucapan Fany. Jelas-jelas dia juga di sleding oleh Fany hingga tersungkur.

__ADS_1


"Tentu tendangan dari kakiku, bod*h. Mau dari mana lagi?" Bicara ngegas, tidak lupa juga dia menoyor kepala Marcus. Memang yang dia lakukan itu di sengaja, pantas jika tadi dia tersenyum seperti iblis yang mengeluarkan tanduk.


Kasihan sekali Marcus tidak ada yang menolongnya, anak buah Julian juga tidak di perbolehkan mendekat untuk menolongnya.


Kembali lagi ke Julian dan Reiner....


"Kalau dia setiap hari membuatku terkapar," jawab Julian membuat Reiner tidak percaya.


"Apa itu benar? Kau tidak melawannya?"


"Sudah aku lawan dengan segenap cinta dariku." Reiner sudah bersiap sedia mendengar jawaban dari Julian ternyata jawaban yang di berikan adalah jawaban bucinnya sedari tadi.


"Menyesal aku bericara denganmu!" Reiner sangat kesal di buatnya. Sungguh sangat menyesal rasanya dia bertanya pada Julian. Sudah tahu kalau Julian tidak pernah serius dalam ucapannya, tetapi dia masih saja bertanya seperti itu.


Dia sudah kapok rasanya berbicara serius dengan Julian, pasti jawaban yang dia dapatkan hanya jawaban nyleneh yang membuat darah tinggi.


3 hari kemudian...


Kabar menikahnya Jennifer dan Gerlad sudah di ketahui oleh semua keluarga William, bahkan teman-teman Jennifer dan Julian mengetahui kabar bahagia ini. Suasana mension Sean terlihat ramai karena akan ada jamuan makan malam di antara dua keluarga itu. Julian kembali menjadi seperti sadboy mendengar jika kakaknya benar-benar akan menikah di waktu dekat.


Dia sebenarnya bahagia, hanya belum siap kalau nanti dia akan terpisah dengan kakaknya. Hari-hari dia selalu menyempatkan waktu untuk datang ke kamar Jennifer seperti saat ini.


"Kenapa dengan wajahmu?" Jennifer memang terlihat cuek dari segi sikap, tetapi dia juga memiliki kepedulian.


"Apa kau nanti akan ikut dengan Gerald? Lalu, siapa yang akan menjadi temanku saat kau tidak ada. Pasti sepi sekali di mension." Wajahnya nampak lesu.


"Masih ada Papi dan Mami, para maid juga banyak di rumah. Kau juga ada Fany," jawab Jennifer dengan membolak-balikkan buku yang di tangannya.


"Tapi aku tidak bisa melihatnya setiap hari," jawab Julian lagi.


"Kau ajak saja dia menikah sekalian. Biar nanti kau bisa melihatnya setiap hari," celetuk Jennifer dengan asal.


"Menikah?" Julian mencoba mencerna ucapan Jennifer di sana.


Wajah Julian terlihat berubah setelah lama berpikir, ia pun bangkit dan berlari keluar dengan terburu-buru. Apa lagi yang akan dia lakukan. Jennifer yang melihat tingkah Julian juga di buat bingung.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengannya?"


Jennifer terheran-heran di buatnya. Baru saja Julian nampak lesu dan sekarang tiba-tiba bersemangat berlari keluar tanpa berbicara sepatah kata pun. Jennifer kembali melanjutkan membaca buku yang ada di tangannya tanpa mau tahu apa yang akan di lakukan oleh Julian.


__ADS_2