
"Aku? Untuk apa takut, akut tidak melakukan kesalahan. Aku tidak perlu takut di mana pun kakiku berpijak," jawab Julian dengan sedikit pitis.
"Hmm... yang kau ucapkan memang benar. Mungkin aku akan mengikuti apa yang baru saja kau katakan," ucapnya lagi menanggapi Julian.
"Bagaimana jika saat seperti ini kau bertemu dengan musuh yang tidak sengaja, Tuan Muda William? Apa kau akan langsung melawannya?" tanya orang itu lagi.
"Jika dia yang memulai, maka aku akan melawannya langsung. Di mana pun aku berada, musuh tetaplah musuh. Tempat yang aku pijak tidak menjadi penghalang bagiku," jawab Julian singkat. Orang itu hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Julian.
"Apa kau tidak takut jika terkena masalah di tempat yang bukan wilayahmu?" orang itu lagi-lagi kembali bertanya.
Julian memandang ke arah orang tersebut sebelum memberikan jawaban. "Selagi aku tidak membuat rusuh di tempat yang bukan kekuasaanku kenapa aku harus takut? Aku sedang melawan musuhku, bukan menghancurkan wilayah yang bukan kekuasaanku. Untuk apa kau bertanya padaku seperti itu?"
"Aahahaha... aku hanya ingin tahu bagaimana pemegang kekuasaan Eropa bertindak," jawabnya dengan sedikit kikuk.
"Kalau kau tahu tidak perlu mengikutiku. Karena kau tidak seperti yang lain,"
"Aahh... ya... aku memang mendengarnya jika kau memang sedikit berbeda dengan mafia yang lainnya." Orang itu mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Julian.
"Aku berbeda karena ingin membuat suasana baru saja. Tidak seperti orang-orang yang bermuka datar. Ck... ck... apa mereka tidak bosan dengan wajah seperti itu? Aku yang melihatnya mereka seperti robot yang tidak memiliki ekspresi." Mulailah Julian dalam mode tengilnya di sana.
Orang itu sedikit tersenyum miring dengan jawaban dari Julian. "Sepertinya, kau memang membuat sejarah yang berbedah di dunia mafia, Tuan Muda William?"
"Aahh... itu harus. Aku akan mengajarkan anak-anak buahku bagaimana membuat suasana yang berbeda," jawab Julian yang sepertinya sangat meragukan.
Menghadapi ketengilan dari Julian saja sudah membuat banyak orang pusing, lalu bagaimana jika dia benar-benar meracuni pikiran anak-anak buahnya untuk menjadi sepertinya. Mungkin dunia permafiaan tidak akan baik-baik saja jika mereka seperti Julian. Untung anak-anak buahnya bisa memaklumi sifatnya yang tengil itu.
__ADS_1
"Aku sangat lapar, aku ingin mencoba makanan di sini. Apa kau ingin ikut denganku?" tawarnya pada orang tersebut.
"Aahh... tidak perlu, Tuan. Aku masih ada keperluan setelah ini," tolaknya dengan sopanpada Julian.
"Owwh... yasudah kalau begitu. Aku hanya menawarimu." Tidak lupa jika Julian menunjukkan sedikit wajah tengilnya.
Julian pun pergi meninggalkan museun dan segera mencari rumah makan, tangannya mengepal kuat dengan tatapan tajamnya tidak ketinggalan. "Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Mungkin suatu saat nanti pertemuanku denganmu akan berbeda."
Ternyata orang itu bukanlah orang yang baik-baik, dia terlihat jika tidak suka dengan Julian. Pandangan matanya terus melihat Julian hingga Julian tidak terlihat lagi di sana. Siapakah orang yang sudah bersama Julian? Dia sepertinya memiliki dendam pada Julian, entah apa yang pernah Julian lakukan padanya.
Julian sendiri juga tadi tidak mengenali orang itu, bahkan Julian juga tidak pernah melihatnya. Entah Julian tadi bisa melihat bagaimana orang itu sebenarnya atau bagaimana? Kita akan lihat bagaimana nanti. Sepertinya ada musuh yang sedang bersembunyi, semoga saja Julian bisa mengetahui dengan cepat.
Tiga hari kemudian...
Julian menghabiskan waktunya selama tiga hari di Venezuela, dan hari ini Julian sudah tiba berada di salah satu bandara internasional yang ada di Berlin. Julian berjalan dengan santainya, kaca mata hitam yang bertengger di matanya membuatnya terlihat cool.
"Baik, Tuan Muda," jawabnya dengan membungkukkan sedikit badannya.
Julian meminta kunci mobil dari salah satu anak buahnya, tidak perlu waktu lama Julian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa jam berada di jet tidak membuatnya terlihat lelah. Julian terus melaju dengan santainya menikmati pemandangan kota saat ini.
Sementara itu di sisi kampus...
Fany berjalan dengan santainya dan melihat sekelilingnya, matanya tidak henti-henti melihat laki-laki tampan menurutnya. Fany melambai genit pada mereka yang melintas, ada yang cuek dan ada juga yang membalas kegenitan Fany. Mereka sama-sama melakukan kiss bye, entah apa yang tengah merasuki Fany hingga dirinya seperti itu.
Kemarin-kemarin saja dirinya galau akut dan sekarang sudah kembali dengan tingkahnya yang pasti ada saja. Sepertinya dia sudah kembali bersemangat seperti biasanya. Fany mengedipkan sebelah mataya genit pada setiap laki-laki di sana, kalau saja Julian melihatnya, entah apa yang akan di lakukan oleh Julian.
__ADS_1
Ada juga di antara laki-laki yang Fany goda itu cuek bebek tidak perduli dengan apa yang Fany lakukan." Idihh... sok cuek sekali dia."
"Tampang juga gak terlalu tampan, sok-sok-an cuek. Cantikan juga aku," gerutunya lagi di sana. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu, padahal memang Fanynya yang genit. Mungkin dia sedang gabut tidak ada hal yang di lakukan.
Lagi-lagi Fany melakukannya, ia melambai genit pada satu laki-laki yang di sebelahnya terdapat kekasihnya. Laki-laki itu hanya melihat yang di lakukan oleh Fany tanpa merespon, wanita itu melihat sang kekasih yang melihat ke arah Fany merasakan cemburu. Di pukulnya lengan sang kekasih sepanjang mereka berjalan.
"Yaah... dia ngamok. Hahaha... jaga kekasihmu itu, Nona," teriak Fany. Fany masih terkikik melihatnya.
"Kau sepertinya asik sekali, ya?" sahut seseorang di belakangnya.
"Sangat asik, kau patut mencobanya," jawab Fany tanpa menoleh ke arah sumber suara. Fany masih melambai-lambaikan tangannya pada setiap laki-laki yang ia lihat. Ternyata kegabutan Fany sedikit berbeda dengan yang lain.
Mereka yang tengah melintas kali ini tidak ada lagi yang merespon Fany, mereka semua terus melangkahkan kakinya saat mengetahui seseorang yang berada di belakang Fany. Fany sedari tadi tidak menyadarinya, ia masih asik dengan apa yang ia lakukan.
Seseorang yang ada di belakangnya itu pun hanya diam melihat apa yang di lakukan oleh Fany.
"Ck... kenapa pada diam semua?" decak Fany karena tidak ada yang meresponnya lagi.
"Apa kau sudah puas?" sahutnya orang itu lagi pada Fany.
"Tentu saja belum. Mereka semua tidak asik," jawab Fany yang masih tidak melihat ke arah siapa yang tengah menyahutinya sedari tadi.
Sepersekian detik Fany tersadar, ia seperti tidak asing dengan suara yang sedari tadi menyahutinya. "Aku seperti kenal suaranya? Aahh... tapi tidak mungkin, dia kan masih berada di luar negeri, mana mungkin dia tiba-tiba di sini."
Fany sepertinya sadar dengan suara yang ia dengar barusan. Ia kembali berpikir-pikir benar atau tidak apa yang ia pikirkan, ia masih enggan menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Kenapa kau susah berpikir? Lebih baik kau berbalik langsung," sahutnya lagi saat melihat Fany tengah berpikir-pikir.