Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 314


__ADS_3

Dorr... doorr... dorrr...


Dorr... doorr... doorr....


Dalam waktu sekejap semua yang berdatangan itu tergeletak tidak bernyawa. Gerald berlari untuk melarikan diri dari orang-orang yang ada di sana sebelum semua kembali berdatangan.


Bugh...


Bugh...


Bogeman mentah Gerald berikan pada orang yang ada di depannya. Dia juga mendorong orang tersebut ke arah segerombolan orang yang mengejarnya dari belakang. Mereka jatuh bersamaan, dan ada juga yang masih bisa bertahan kemudian kembali mengejar Gerald.


Gerald melompat ke arah tembok lalu menendang ke arah orang-orang yang mengejarnya.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Masing-masing dari mereka mendapat tendangan dari Gerald hingga jatuh tersungkur. Gerald melanjutkan pelariannya agar bisa dengan cepat ke luar dari sana.


"Mau ke mana kau anak muda?" tiba-tiba saja bos dari mereka muncul di hadapan. Seketika Gerald menghentikan langkah kakinya, untung sekali dia bisa mengerem kakinya.


"****!" Gerald kembali mengumpat, akhirnya ia di sana terkepung dengan bos dan beberapa orang yang tersisa.


Bos dari mereka itu menelisik wajah Gerald, dalam benaknya bertanya-tanya siapa orang di hadapannya itu. Perasaannya dia tidak memiliki musuh dengan wajah tampan dan muda.


"Siapa kau, anak muda? Bagaimana bisa kau dengan mudah masuk ke dalam gedung ini?" tanyanya. Mengingat banyak sekali jebakan yang ia pasang agar tidak mudah orang lain masuk ke dalam markasnya. Markas yang terbilang kecil sebenarnya.


"Aku bukan siapa-siapa. Kau tidak perlu tahu siapa aku, Tuan," jawab Gerald dengan tenang.


"Hahaha... anak muda sepertimu sangat berani sekali!" Gelak tawanya terdengar keras saat melihat keberanian Gerald menghadapinya.


"Hanya kau dengan mudah bisa masuk ke sini, siapa kau sebenarnya, anak muda?" orang itu kembali bertanya pada Gerald. la penasaran bagaimana bisa Gerald masuk ke sana mengingat banyaknya jebakan yang dia pasang, bahkan di sana juga dia meletakkan leser.


"Apa tujuanmu ke sini? Apa kau yang sudah membabat semua anak-anak buahku?" sambungnya lagi yang benar-benar ingin tahu siapa Gerald.


"Aku hanya melihat-lihat tempatmu ini, Tuan. Aku juga hanya ingin melihat bagaimana kekuatan anak-anak buahmu itu," jawabnya dengan santai.


"Kau memang ebnar-benar berani. Kita lihat saja apa kau masih bisa keluar dari sini. Hajar anak itu! titahnya pada anak-anak buahnya.


Baku hantam kembali terjadi di antara mereka. Dengan sigap Gerald melawan mereka, bahkan dia berhasil mengelak dari hantaman-hantaman orang-orang di sana. Gerald sudah berjanji jika dia akan kembali tidak terluka sedikit pun, maka dari itu dia dengan cepat menghindar dan melawan semua yang ada di sana.

__ADS_1


Bugh...


Bugh...


Buuagh...


Gerald membenturkan dua kepala dari orang-orang di sana dengan keras. Ke duanya seketika tidak sadarkan diri di buatnya. Bos dari mereka hanya menyaksikan pergulatan itu, dia melihat semua pergerakan Gerald yang terlihat sangat ahli.


"Ternyata dia bisa menyaingi kehebatanku," ucapnya dengan percaya diri sekali.


Baku hantam itu terus terjadi hingga mereka di sana terlihat kuwalahan dengan Gerald yang semakin membara. Napasnya terengah-engah karena melawan banyaknya orang di sana.


"Anak ini tidak bsia di remehkan." Bos dari mereka itu pun akhirnya melawan Gerald. Jika di biarkan semua anak-anak buahnya pasti akan habis di tangan Gerald.


Bugh...


Buggh...


Bugh...


Elakan yang bagus dari Gerald. Bos dari merekaa itu di buat geram karena Gerald berhasil mengelak dari setiap pukulannya.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Gerald tersenyum remeh di hadapan bos itu. "Apa


kau tahu untuk apa kedatanganku? Aku baru saja mengambil apa yang pernah kau curi. Jadi tidak sepatutnya itu ada di sini."


"Memangnya apa yang pernah aku curi darimu. Aku bahkan tidak mengenalimu, anak muda!"


"Benarkah? Bagaimana dengan ini?" Gerald menunjukkan wadah emas yang baru saja ia ambil dari sana dengan tersenyum sinis.


"Bagaimana bisa itu ada di tanganmu!? Kembalikan, atau kau akan menerima akibatnya!" orang itu mencoba beranjak berdiri dengan menahan sakit.


"Aahh... tidak semudah itu." Gerald kembali berlari dengan membawa benda itu di tangannya.


"Sial! Apa anak itu keturunan dari William? Tutup pintu otomatis. Jangan biarkan anak itu kabur membawa berkas itu! Kejar anak itu!" pintahnya pada anak-anak buahnya. Ia mengira jika Gerald adalah keturunan dari Sean.


Dengan cepat anak-anak buahnya menekan tombol untuk pintu otomatis di sana agar Gerald tidak bisa keluar membawa berkas penting itu. Gerald yang melihat pintu yang tertutup dari atas itu pun semakin kencang berlari sebelum pintu itu tertutup sempurna.

__ADS_1


Pintu itu benar-benar sudah hampir tertutup, hanya tinggal jarak satu meter. Gerald melepas ranselnya dan melemparnya terlebih dulu keluar, setelah itu ia menyusul dengan meluncurkan dirinya dengan cepat.


Dugh...


Pintu tertutup dengan sempurna, dan untung sekali jika dirinya masih bisa lolos. Orang-orang di sana frustasi di uatnya karena Gerald bisa lolos dengan mudahnya.


Gerald hanya tersenyum remeh di sana, tidak lama kemudian dia kembali mengambil ransel miliknya dan berlari keluar.


Brugh...


Gerald mendarat dengan sempurna saat melompati pagar pembatas di sana.


"Baiklah, akan aku beri hadiah untuk kalian di dalam sana." la mengeluarkan boom yang berada di ranselnya. Di tekannya tombol timer yang ada di boom tersebut lalu dia melempar ke dalam pagar.


Ada beberapa boom yang Gerald tinggalkan di sana. Dengan langkah cepat Gerald pergi sebelum boom-boom itu meledak. Ia berseluncur ke bawah menuruni dataran tinggi dari rumah itu. Ia memilah jalan untuk menghindari jebakan yang ada di sana.


Duaarr...


Duuarr...


Duaarr...


Dentuman keras di hasilkan dari boom yang Gerald tinggalkan. Bangunan itu seketika luluh lantah karena ledakan yang di hasilkan begitu kuat.


"Suara apa itu? Bagaimana dengan tuan muda yang masih berada di sana?" ujar anak buah Gerald yang sudah lebih dulu meloloskan diri dari sana.


"Apa kita harus kembali ke sana. Kita tidak bisa membiarkan tuan muda terluka. Tuan besar pasti akan marah jika tuan muda sampai terluka," ujarnya lagi yang khawatir dengan keadaan Gerald.


Mereka meloloskan diri terlebih dulu atas perintah dari Gerald sendiri. Gerald meminta mereka menunggu tak jauh dari tempat tadi. Lalu, sekarang mereka mendengar dentuman keras yang membuat mereka khawatir.


"Sebaiknya kita kembali ke sana," ajak salah satu dari mereka.


Baru beberapa langkah mereka berlari, mereka mendengar suara yang mereka kenali. Hal itu membuat mereka menghentikan laju larinya. "Tidak perlu. Aku sudah ada di sini. Jangan membuang nyawa kalian sia-sia, sebaiknya kita kembali."


"Tuan Muda!" pekik mereka bersamaan saat melihat tuan mereka datang dalam keadaan selamat.


"Anda tidak kenapa-kenapa, Tuan Muda? Apa ada yang terluka? Beritahu kami," cerca anak anak buahnya yang benar-benar khawatir akan keadaannya.


"Kalian tenang saja. Tidak terjadi apa-apa pada diriku. Kalian sudah bekerja keras. Sebaiknya kita kembali dengan cepat."


Gerald melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempat itu. Misi yang di jalankan tengah berhasil, ia juga berhasil memenuhi janjinya yang akan kembali dalam keadaan selamat tidak terluka sama sekali. Anak buahnya mengikuti langkahnya dari belakang, mereka kembali dengan bersamaan.


Sementara bangunan yang ia tinggalkan tadi sudah tidak berbentuk lagi. Terdapat asap mengepul dan semua bangunan remuk, entah bagaimana keadaan orang-orang yang tersisa di dalam sana. Itu bukan urusan Gerald bagaimana keadaan mereka yang ada di sana, misi yang ia jalankan sudah selesai. Waktunya dia kembali dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

__ADS_1


__ADS_2