Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 103


__ADS_3

"Aku tidak akan berbuat sesuatu jika putramu itu tidak mengusik keluargaku, Tuan." Sambung Sean dengan tegas.


"Sean kembali dulu, Pi. Sepertinya, urusan Sean sudah selesai di sini." Pamit Sean lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kakinya keluar dan kembali ke kantor.


"Apa kau sudah mendengar sendiri, tuan? Bukankah sudah aku katakan padamu? Putraku tidak akan berbuat jika dia tidak di usik. Putramu sendirilah yang salah karena sudah mengganggu menantuku. Harusnya kau cari tau terlebih dahulu sebelum datang ke sini. Yang kau dapat hanyalah sia-sia saja." Jelas papi Sean panjang lebar pada papa Andy.


"Aku tau jika putraku salah, Tuan. Tapi harusnya putramu itu tidak berbuat brutal seperti itu pada putraku." ucapnya tidak terima karena Sean pergi begitu saja. Dirinya tampak kesal dengan sikap Sean yang terlihat angkuh di depannya.


"Kalau kau tidak terima, kenapa kau hanya diam berhadapan dengannya? Bukankah dirimu juga sebagai orang tua, harusnya dirimu tau akan kesalahan dari putramu." Terang papi Sean.


"Aku akan memberikan uang untuk penyembuhan putramu. Anggap saja ini adalah pertanggung jawaban dari putraku.


Papi Sean memberikan uang yang tidak sedikit pada papa Andy untuk penyembuhannya. Papa Andy pergi dari sana dengan rasa kesal dan sedikit dongkol. Masih mending jika papi Sean masih baik padanya, jika dia berhadapan dengan Sean terus menerus, mungkin dia tidak akan mendapat apa-apa. Dia mungkin pulang dengan sia-sia.


Mension Sean...


Twin J terlihat berlari-lari mengelilingi sofa panjang di sana. Mereka saling kejar-kejaran, tawa riang mereka terdengar memenuhi ruangan.


"Jenni, Jull... awas jatuh." Teriak mami Sean melihat keduanya terus saja berlari kesana-kemari.


Kali ini mereka dalam mode akur, entah nanti bagaimana.


"Jen, sini, Jen. Ikut kakak Diva." Panggil Diva pada Jenni.


Diva berdiri di atas sofa dan meloncat sambil bernyanyi berteriak. Mension semakin gaduh karena ulah Diva.


"Jangan di atas, Diva. Nanti adiknya ikutan naik, jatuh nanti." Tegur mami Sean.


Diva pun meloncat turun dan melanjutkan nyanyiannya. Jennifer yang berlari-lari dengan Julian itu pun ikut bergabung dengan Diva yang sedang bernyanyi. la menari-nari kecil dengan kedua tangannya di gerakkan melambai-lambai.


"Berisik, Diva." Sengal Ana mendengar teriakan-teriakan Diva saat bernyanyi.


Uhhuukk...

__ADS_1


Uhhuukk...


Diva terbatuk karena berteriak sedari tadi. la mengambil air dan meneguknya dengan cepat.


"Nah kaann... itu tandanya sudah di suruh berhenti. Jangan teriak-teriak, pusing aunty mendengar mu berteriak." Keluh Ana pada Diva.


"Aaa... lega..." ucap Diva setelah meneguk air.


"Biar rame kan ya, Jen. Bosen kalau sepi terus. Suara Diva kan enak di dengar." Jawab Diva. Ia menyomot cemilan yang ada di depannya setelah lelah bernyanyi dan berteriak.


"Lebih enak lagi kalau Diva diam." Jawab Ana.


"Ijuull... sini Jul..." ia beralih memanggil Julian mendekat. Julian yang merasa di panggil itu pun mendekat ke arah Diva.


la memberikan secuil keripik kentang pada Julian." Sudah, sedikit saja. Kau masih kecil, tidak boleh banyak-banyak. Nanti gigimu tidak tumbuh-tumbuh." Ucapnya lalu memasukkan keripik itu ke dalam mulutnya.


"Pintar lah sekali kalau menipu adik-adiknya." Ucap mami Sean yang melihat Diva pelit.


"Diva bukan menipu, grandma." Jawabnya yang masih menikmati keripik di tangannya.


"Bukan juga. Biar Diva nya hemmat." Jawabnya.


"Sesuka hatimu saja Diva." Sahut Ana yang memang terkadang jengkel dengan setiap jawaban Diva.


"Enak kan ya, Jeen, Juulll?" ujar Diva. Keduanya mengangguk saja dengan ucapan Diva.


Julian kembali meminta cemilan itu pada Diva, ia mengulurkan kedua tangannya. Diva memberikan lagi cemilan yang ia bawa. Jennifer dan Julian lagi-lagi meminta itu pada Diva. Kali ini mereka memang tidak bergaduh, tapi nyanyian Diva dan teriakan-teriakannya yang membuat rame.


"Besok Diva minta uncle untuk bangun supermarket di depan mension, biar Diva tidak perlu beli jajan di luar sana." Celetuk Diva yang membuat Ana menatap dengan tidak enaknya pada Diva.


"Jangan mengada-ada, Diva." Sengal Ana.


"Biarkan saja, aunty. Biar kita tidak perlu keluarkan, biar lengkap semua di mension. Kebun binatang sudah ada, walaupun penghuninya cuma segelintir. Nanti buat supermarket di halaman depan, terus di belakang kasih mall." Sambungnya mengucapkan semua keinginannya dengan rinci.

__ADS_1


"Itu nanti saja kalau Diva sudah punya rumah sendiri. Diva bangun sepuasnya sesuai keinginan Diva." Ujar Ana yang tidak habis fikir dengan ucapan Diva.


"Tidak seru nanti, sekalian Diva mau bangunkan uncle tempat karaoke untuk Diva." Ucapnya lagi yang semakin mengada-ada.


Ana mencebikkan mulutnya kesal dengan permintaan Diva malah semakin aneh itu.


"Ayo Juulll, Jen. Kita kembali bernyanyi lagi." Diva bangkit berdiri dan bersiap-siap untuk bernyanyi kembali.


"DIAM, Diva." Ucap Ana dan mami Sean bersamaan sebelum Diva kembali berbuat ulah di sana.


"Kasihan semua yang ada di sini, mereka sampai menutup telinganya karena teriakan mu sedari tadi." Sengal Ana pada Diva.


Diva mengerucutkan bibirnya karena grandma dan aunty-nya melarang dirinya bernyanyi kembali.


William Company...


"Bagaimana rencana pernikahanmu, Jams. Apa kau sudah memutuskannya?" tanya Sean mengenai rencana pernikahan James.


"Aku sudah mengutarakan niat baikku, tapi untuk waktunya, aku masih belum bisa memprediksi." Jawabnya lesu.


"Kalau bisa kau percepat, jangan menunda-nunda. Nanti dia lepas darimu, jangan sampai dia nanti di rebut orang lain." Ucap Sean tegas.


"Kau laksanakan saja minggu depan." Sambung Sean.


"Itu terlalu cepat, tuan. Kami belum ada persiapan apa-apa." Jawabnya.


"Kau tidak perlu bingung masalah persiapan, Bert. Anak buahku yang akan mengurusnya untukmu, kau tinggal persiapkan diri dan pasanganmu." Ucap Sean yang dengan niat hati untuk membantu James.


"Tapi, tuan. Saya tidak mau memaksanya untuk terburu-buru, aku takut jika dirinya nanti tidak nyaman dengan pernikahan ini." Jawab James dengan sedikit bayang-bayang ketakutan jika nanti Rika tidak nyaman dengan pernikahan yang buru-buru.


"Lalu, apa kau mau menunggu berlama-lama?" James hanya menggelengkan kepalanya.


"Semua akan terbiasa seiring berjalannya waktu, James. Ana juga dulu seperti itu, kalian tinggal menyesuaikan satu sama lain. Beda denganku dulu yang harus berusaha untuk mengambil hati Ana perlahan-lahan." Jelas Sean pada James. Karena memang waktu Sean dan Ana menikah dulu, mereka belum saling mengenal dekat, bahkan Ana tidak ada rasa dengan Sean. Seiring berjalannya waktu, Ana pun luluh.

__ADS_1


James memikirkan ucapan dari Sean yang memang ada benarnya.


"Kalau minggu depan, sepertinya sangat mepet, tuan. Aku memilih untuk bulan depan saja, biar dia juga bisa mempersiapkan hati dan mentalnya." Ucap James mengambil keputusan.


__ADS_2