Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 247


__ADS_3

Malam yang terlihat tenang dengan udara yang sejuk membuat siapa saja yang menyukai suasana malam itu sangat menikmati kesunyiannya. Julian yang sedang berada di mension itu kini tengah memberi makan peliharaan milik sang kakak. Sesekali Julian juga mengelus-elus kucing bertubuh besar memiliki surai itu.


"Kau tumbuh besar, King. Kau harus lebih menurut denganku, Kakakku sangat galak. Bisa-bisa kau yang di lahap olehnya." Julian mencoba mengajak peliharaan itu untuk berbicara. Namun, apa yang dia bilang barusan? Katanya kalau sang kakak lebih galak.


Siapa lagi kakak yang ia maksud kalau bukan Jennifer. Kalau saja Jennifer tahu, mungkin dirinya sudah di gebug begitu saja. Julia kembali memberi makan kucing besar itu dengan berhati-hati. Jennifer memiliki satu peliharaan besar di mension, ia sengaja untuk memeliharanya di mension.


"Kau sangat asik sekali, Boy." Suara yang tidak asing itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang.


"Yes, Papi. Lihatlah, di sangat pintar." Tanpa menoleh ke arah sumber suara, Julian mengelus-elus kucing besar milik sang kakak.


"Bagaimana dengan Black yang ada di markas?"


"Dia tumbuh dengan baik, dia sangat sehat dan gemuk. Aku selalu memberikan makanan yang enak untuknya," jawab Julian santai.


Bagaimana tidak gemuk? Jika ada musuh yang berhadapan dengannya dia akan memberikannya pada Black yang ada di markas. Makan enak yang di maksud oleh Julian adalah daging dari musuh-musuhnya. Dengan memberikannya pada leopard miliknya, itu salah satu caranya untuk menghilangkan jejak mush-musuhnya.


"Mami kalau marah seperti King. Garang dan wajahnya terlihat menyeramkan," celetuk Julian yang membuat Sean melebarkan kedua matanya. Sean melihat ke sekeliling untuk melihat situasi di sana.


"Kau jangan sembarangan, Boy. Bagaimana bisa Mamimu yang lembut seperti itu kau samakan dengan kucing besar ini," ringis Sean. Julian memang ada-ada saja jika sudah mengatakan sesuatu.


"Papi bicara seperti itu karena Papi takut sama Mami kan? Ngaku aja, Pi. Yang Julian katakan kan memang benar adanya, Mami kalau marah seperti King." Julian membenarkan ucapannya sendiri.


"Jangan sampai Mamimu mendengar hal ini, Boy. Bisa-bisa nanti uang jajanmu akan terpotong." Sean terlihat sangat takut jika nanti Ana akan mendengar ucapan Julian.


"Papi kalau takut tidak usah bawa uang-uang jajan Julian." Julian menDivak keras saat Sean bersekutu dengannya. Dia menDivak bersekutu dengan papinya, tetapi dia sendiri yang sudah mengucapkan seperti itu.

__ADS_1


Entahlah, memang sesuka hati Julian saja.


"Kau memang benar-benar pintar, King," puji Julian saat makanan yang ada di tangannya sudah habis. Julian memberikan wadah makanan itu pada orang yang berjaga di sana.


"Sebaiknya jaga ucapanmu sebelum uang jajanmu terpotong." Sean memberi peringatan pada Julian. Julian yang berkata, Sean yang merasa takut sendiri. Dia takut jika nanti Ana marah, dan dirinya akan tidur di luar.


Tentu saja Sean takut, karena setiap Julian yang beruat ulah pasti dirinyalah yang terkena imbasnya. Ujung-ujungnya dirinya yang mendapat hadiah yang di sebabkan oleh Julian. Julian tertawa puas, sedangkan dirinya harus nelangsa.


"Bagaimana dirimu dengan Fany, Boy?" dengan tiba-tiba Sean bertanya seperti itu pada Julian.


Julian terlihat sedikit bingung karena sang papi tiba-tiba saja bertanya akan hal itu. "Hmm... seperti biasa."


"Kau harus berusaha sekuat tenaga, Boy. Hilangkan sifat tengilmu itu, tunjukkan sesekali sikap manismu, berikan perhatian untuknya. Kejar dan usahakan dia jika kau memang benar-benar menginginkannya. Papi dan Mami tidak akan ikut campur hal ini, Papi dan Mami ingin melihat bagaimana usahamu mendapatkan apa yang sudah kau sebut milikmu," jelas Sean panjang lebar.


"Jangan terlalu membuang waktu dengan sikap konyolmu itu, Boy. Jangan sampai orang lain mengambil milikmu," sambung Sean. Julian mendengarkan tanpa menyela sedikitpun.


la berpikir-pikir jika memang yang di ucapkan sang papi benar adanya, didinya merasa jika selama ini dia selalu membuang-buang waktunya untuk megambil hati Fany. "Baiklah, Papi. Mulai sekarang Julian tidak akan membiarkan hal itu lagi. Julian akan berusaha lebih untuk membuatnya luluh. Dengan cepat Julian akan memabwanya ke dalam keluarga Johnson." Julian bertekad kuat kali ini setelah mendengar ucapan sang papi.


"Bagus, Boy. Harusnya yang seperti ini yang Papi lihat dari dulu." Sean menepuk pundak Julian.


Krriiing...


Kriing...


Tiba-tiba saja terdengar suara ponselnya berdering di sana, Julian merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Di lihatnya nama yang tertera lalu segera menggeser ke tombol hijau.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Cepatlah ke mari, aku menunggumu di markas," jawab orang di seberang sana.


"Oke." Dengan singkat padat dan jelas Julian memutuskan panggilan telfonnya.


"Pi, Julian pergi ke markas dulu. Ada hal penting yang harus Julian urus," pamitnya pada sang papi.


"Penting tidak penting kau setiap hari juga berada di sana. Berhati-hatilah." Julian menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi.


"Kau memang bisa di andalkan, Boy." Sean menatap kepergian Julian hingga punggungnya tidak terlihat. Sean memutuskan untu masuk ke dalam mension sebelum Ana amrah padanya, bisa-bisa akan tidur di luar nanti.


Julian memakai helm full face dan mulai mneyalakan motor sportnya. Tanpa berlama-lama Julian langsung saja melesat meninggalkan halaman mension.


Markas ....


Memakan waktu kurang lebih selama satu jam, akhirnya Julian telah tiba di markas. Dengan langkah lebarnya Julian masuk ke dalam markas untuk menemui orang yang sudah menunggunya di sana.


"Bagaimana?" tanpa berbasa-basi Julian bertanya dengan orang tersebut. Di berikannya map yang berisi semua informasi yang ia dapat. Julian segera membukanya dan melihat isi dari dokumen itu.


"Orang yang memantau kita adalah musuh yang ingin melakukan balas dendam, dan apa kau tahu, orang yang kau temui beberapa waktu adalah orang di balik semua ini. Orang itulah yang memerintahkan anak-anak buahnya untuk mengawasi kita," jelasnya pada Julian. Julian masih membDivak-balikkan dokumen yang berada di tangannya.


"Apa kau ingat waktu kita perang besar-besaran beberapa tahun yang lalu? Orang yang kau temui itulah putranya, dia datang ke sini untuk membalaskan dendam atas kematian Papanya," jelasnya lagi.


"Aaahh... putra dari Jacob? Yang dengan kekanak-kanakan mengajak kita untuk berperang? Ternyata putranya juga tidak kalah jauh darinya. Mereka sama-sama memiliki sifat seperti anak kecil." Julian masih ingat jelas waktu terjadi perang besar-besaran beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Di mana kelompok Sean memilih berperang dengan kelompok Jacob dari pada harus membirkan Diva menjadi bagian dari keluarga itu. Lalu sekarang, putranya datang ke sana ingin membalaskan dendamnya atas kematian papanya yang tewas di tangan Sean. Waktu berperang dulu, Jacob melarangnya untuk ikut, berjaga-jaga jika ada suatu hal.


__ADS_2