Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 130 Season 2


__ADS_3

"Tidak pantas sekali kau bertingkah genit seperti itu." Protes Julian.


"Itu bukan genit, tapi cute. Cute Jul cute..." Jennifer kembali mengedipkan kedua matanya seperti tadi.


"Terserah kau lah, kak. Aku kembali ke kamar, ngantuk." Ucap Julian.


"Kau harus janji padaku jangan beritahu papi." Jennifer kembali mengucapkan itu.


"Iyaa...iyaa..." Julian mengiyakan saja dengan ucapan Jennifer lalu keluar dari sana.


"Maaf, kak. Aku tidak akan membiarkan hal ini, papi harus tau akan ini." Gumam Julian yang menutup kembali pintu kamar Jennifer.


Julian yang sudah merasa kantuk itu pun memilih ke kamarnya, ia akan memberitahukan ini pada sang papi besok.


Keesokan harinya...


Jennifer kali ini pergi ke sekolah menggunakan mobil miliknya sendiri, tidak bersama Julian. Jennifer memarkirkan lalu keluar dari dalam mobil sportnya.


la melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya tanpa peduli dengan banyaknya orang yang berbisik-bisik.


Di saat dirinya sedang asik berjalan, Cindy dan teman-temannya menghadang jalannya. Tangan Cindy di pasangkan gips dan di berikan penyanggah (sling/ gendongan tangan) untuk mengurangi rasa sakitnya karena mengalami patah tulang akibat ulahnya yang bermain-mein dengan Jennifer kemarin.


"Heh, anak baru tidak tahu diri. Bersiaplah hari ini, kau akan di keluarkan dari sini." Cindy berkata demikian pada Jennifer. Sepertinya, dirinya tidak merasa kapok walau tangannya sudah di patahkan oleh jennifer.


"Benarkah? Aku akan menunggu hal itu." Jennifer pun berlalu dengan tersenyum sinis pada Cindy.


"Dasar, sudah tidak tahu diri sombong sekali dia." Ucap salah satu teman Cindy yang melihat kepergian Jennifer.


"Heh, biarkan saja. Hari ini adalah hari terakhir dia menginjakkan kakinya di sini." Cindy tersenyum jahat membayangkan bagaimana Jennifer nanti yang akan menangis di keluarkan dari sekolah. Mereka pun berlalu pergi menuju kelas. Mereka sebenarnya seangkatan dengan Julian dan Jennifer, hanya saja ruangan yang berbeda.


Aktifitas mereka sedari tadi di saksikan oleh Julian dari jauh, Julian pun mengepalkan tangannya kuat.


Beberapa saat kemudian, kelas pun di mulai. Semua murid di sana langsung saja masuk ke dalam ruangan kelas masing-masing.


"Apa di sini ada yang bernama Jenni?" tanya seorang guru di kelas.

__ADS_1


Jennifer yang merasa namanya di sebut itu pun mendongakkan kepalanya dan mengangkat tangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Bisa ke ruang guru sekarang? Ada yang menunggumu di sana." Ucapnya. Jennifer mengangguk lalu melangkahkan kakinya keluar. Teman-teman Julian dan Thea yang berada di sana merasa was-was dengan apa yang akan terjadi dengan Jennifer.


"Jul, bagaimana jika saudaramu di keluarkan?" bisiknya di telinga Julian.


"Kau tenang saja," jawab Julian.


"Sir, saya izin ke belakang sebentar." Pamit Julian yang di iyakan oleh guru pengajar. Julian mengikuti langkah Jennifer secara diam-diam dari kejauhan.


Julian pun merogoh ponselnya dan menghubungi


seseorang, "halo, Pi. Papi cepat ke sini," ujar Julian melalui sambungan telfonnya.


Benar sekali jika Julian menghubungi sang papi, pagi tadi dirinya sudah berbincang dua mata dengan sang papi.


Melihat saat Julian berbincang dengan sang Papi...


"Pi, Julian mau bicara sama papi. Berdua saja," ucap Julian yang membuat Sean bertanya-tanya.


"Penting sekali," jawabnya.


"Yasudah, kau tunggu papi di ruang kerja dulu." Jawab Sean. Julian pun mengangguk dan segera menuju ruang kerja sang papi.


Tidak berselang lama, Sean pun membuka pintu ruang kerjanya dan mendekat ke arah Julian yang sudah menunggunya.


"Ada apa, boy? Sepertinya serius sekali?"


"Julian mau cerita sama papi mengenai kak Jen." Jawabnya. Sean pun menaikkan sebelah alisnya.


"Memangnya ada apa?"


"Sebenarnya, kak Jen ada masalah pi. Kak Jen di ancam akan di keluarkan dari sekolah."


"Bagaimana ceritanya, boy? Tidak mungkin jika tiba-tiba kakakmu bisa di keluarkan." Nada suara Sean tidak bisa santai kali ini.

__ADS_1


"Ternyata Kak Jen selama ini di usik oleh Cindy, Pi. Anak orang yang berpengaruh di kota ini itu looh, papi pasti tau kan. Dia selalu mengganggu kak Jen, kemarin dia mengguyur kak Jen dengan air di kantin waktu makan siang. Dia juga menjambak rambut kak Jen, langsung saja kak Jen mematahkan tangannya sampai menangis dia." Cerita Julian panjang lebar dengan menunjukkan wajahnya yang sebentar-sebentar serius, sebentar-sebentar dengan komuk menjengkelkan.


Sean yang mendengar cerita dari Julian itu pun menunjukkan wajah marahnya, tapi dia masih berusaha untuk menahannya.


"Bukan itu saja, Pi. Dia pernah datang ke kelas memarahi kak Jen dan Fany, dia meminta kak Jen dan Fany untuk menjauhi Julian. Di situ kak Jen sudah melintir tangannya, tapi dia tidak kapok." Sambung Julian.


"Dan hari ini, mungkin orang tua Cindy datang ke sekolah pi. Dia mengatakan itu kemarin, dia mengatakan akan mengeluarkan kak Jen dari sana."


"Apa orang yang di sebut kakakmu pacarmu itu adalah dia orangnya?" tanya Sean.


"Nahh itu, pi. Tapi dia bukan pacar Julian kali, pi. Ya kali Julian sama orang seperti itu." Jawabnya dengan bergidik jika mengingat Cindy. Memang Julian tidak pernah bisa serius, dia sama seperti Diva. Di saat serius-seriusnya dia masih bisa bersikap random.


"Nanti kabari papi. Papi akan ke sana, papi ke perusahaan sebentar mengurus sesuatu." Ujar Sean.


"Papi jangan bilang kak Jen kalau Julian yang memberitahu papi, oke." Sean mengangguk dengan ucapan Julian. Dia tahu jika Jennifer pasti akan marah pada sang adik jika memberitahukan hal ini padanya.


"Bye, papii...." Julian berpamitan lalu melakukan kiss jauh. Julian yang melihat tingkah putranya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Dia juga sebenarnya heran, bagaimana bisa Julian dan Jennifer memiliki sifat yang jauh berbeda.


Kembali lagi ke sisi Julian saat ini...


"Tunggu papi, boy. Papi akan kesana," jawab Sean di seberang sana. Julian pun mematikan sambungan telfonnya. Julian melihat sebentar ke ruang guru untuk melihat di sana.


Sedangkan di dalam sana, sudah ada papa dari Cindy, serta Cindy dan teman-temannya.


"Duduk, Jen." Jennifer pun duduk.


"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi? Bagaimana bisa kau mematahkan tangan temanmu, apa kau tau dia siapa?" ucap guru tersebut dengan sedikit lembut.


"Kenapa anda tidak bertanya pada orangnya sendiri ?" Jennifer bersikap santai di sana.


"Hai, nak. Kau pasti tau siapa aku, bukan?" ucap papa Cindy di sana. Jennifer hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Apa itu penting untuk saya? Anda kesini sebagai wali murid, tuan. Bukan sebagai orang berpengaruh di kota ini." Jawab Jennifer.


"Jen, tolong jaga sifatmu." Ucap guru di sana karena takut dirinya ikut terseret dan di keluarkan di sana. Jennifer tidak peduli dengan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2