Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 62


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Ana sudah di pindahkan ke ruang WIP atas permintaan Sean. Sean ingin memberikan kenyamanan yang terbaik untuk sang istri yang baru saja melahirkan.


Sean juga memerintahkan pihak rumah sakit untuk memindahkan anak-anaknya agar satu ruangan dengan Ana. Di ruangan tersebut terdapat dua ranjang bayi.


"Cucu grandma lucu, ya." Ucap mami Sean melihat kedua cucunya yang tertidur pulas.


"Waahh... Diva benar-benar punya dua adik." Ucap Diva yang melihat kedua adiknya.


Keduanya tertidur sangat pulas tidak peduli dengan suara berisik dari grandma dan Diva.


"Apa kalian sudah ada nama untuknya?" Sahut papi Sean.


"Belum pi, kami belum ada nama untuk mereka. Kami memang sengaja menunggu untuk mereka lahir." Jawab Sean.


Ana juga sedang tertidur istirahat, tenaganya terkuras habis setelah proses melahirkan tadi.


"Kenapa tidak memberikan nama sekarang?" Tanya sang mami.


"Nanti saja, mi. Tunggu Ana bangun." Jawab Sean.


"Yasudah terserah kalian saja. Apapun namanya nanti papi dan mami akan tetap menyayangi mereka." Sambung papi Sean.


Mami Sean dan Diva melihat-lihat dua bayi mungil itu yang masih terus saja tertidur dengan pulas.


"Lihat grandma, matanya terbuka." Antusias Diva melihat salah satu dari mereka yang membuka matanya sipit. Tidak lama kemudian, matanya kembali terpejam dan tertidur.


"Biarkan adiknya tidur dulu ya. Nanti nangis, kasihan aunty yang baru saja istirahat." Ucap sang grandma pada Diva. Ola mengangguk faham dengan apa yang di ucapkan sang grandma.


2 jam kemudian...


Ana terbangun dari tidurnya. "Eeengh..." lenguhnya saat cahaya lampu menyilaukan pandangannya.


la menoleh kearah samping dan melihat Sean yang sedang mengelus lembut pipi anak-anaknya.


"Sean..." panggil Ana. Sean yang menoleh saat mendengar namanya di panggil.


"Kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?" Tanya Sean dengan penuh perhatian.


"Apa aku lama tertidur?' Bukannya menjawab Ana malah bertanya balik.


"Tidak, kau tidur selama 2 jam." Jawabnya.


"Apa mereka tidak menangis?" Tanya Ana lagi.


"Mereka anak-anak yang baik. Mereka juga tertidur pulas sedari tadi." Jawab Sean sambil tersenyum.


"Apa ada yang sakit?" Sambung Sean.


"Sedikit."


"Mana mami sama papi?" Tanya Ana yang tidak melihat keberadaan mertua dan keponakannya.

__ADS_1


"Mereka pulang sebentar, mungkin setelah makan malam nanti mereka kembali kesini."


"Mereka belum punya nama, apa kau tidak mau memberikan nama untuk mereka?" Sambung Sean mengenai nama-nama untuk anak-anak mereka.


Ana memikirkan nama yang pas dan cantik untuk anak-anak mereka.


Cukup lama Ana berfikir, tapi sepertinya dia tidak menemukan apa-apa.


"Aaarghh... kenapa aku tidak menemukan nama yang pas." Ucap Ana frustasi. Sean tersenyum dengan tingkah Ana, sepertinya tingkah random Ana tidak akan hilang meskipun dia sudah melahirkan.


"Jangan terburu-buru, masih banyak waktu untuk memberikan nama pada mereka." Ujar Sean lembut.


"Apa kau sudah punya nama untuk mereka?" Tanya Ana kali ini.


"Ada, tapi entah itu bagus atau tidak." Jawab Sean sambil berdesis.


"Apa? Tunjukkan padaku. Aku benar-benar tidak bisa berfikir, sepertinya ada yang salah pada otakku." Ujar Ana.


"Julian dan Jennifer." Jawab Sean.


"Julian dan Jennifer?" Ana mengulang nama itu sambil berfikir-fikir.


"Bagus. Aku setuju dengan itu." Pekik Ana sedikit


keras.


"Sayang, pelankan suaramu. Nanti mereka bangun." Tegur pelan Sean.


Seketika Ana membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku suka dengan nama mereka. Semoga mereka bisa menjadi anak-anak yang berbakti dan kuat sepertimu." Ujar Ana menoleh kearah ranjang anak-anaknya.


"Kau bisa mengubah namanya jika tidak suka." Kata Sean.


"Tidak, aku menyukainya. Otakku lagi macet, tidak bisa berfikir." Jawab Ana.


Tak lama kemudian, salah satu dari mereka terbangun dan menangis cukup kencang.


"Mereka bangun?"


"Sepertinya lapar." Sean segera mengambil salah satu dari mereka yang menangis.


Ana melihat Sean yang sepertinya sudah sangat ahli dalam menggendong bayi.


"Sepertinya, kau sudah sangat ahli menggendongnya." Ujar Ana saat Sean memberikan bayi itu pada Ana.


"Aku sedikit banyak tau waktu Diva masih kecil, terkadang aku juga mencoba menggendongnya. Meskipun terasa kaku." Jawab Sean.


"Sepertinya, dirimu lebih berpengalaman dari pada aku." Keluh Ana yang merasa dirinya masih belum ahli dalam menggendong bayi.


"Jangan begitu, kau pasti akan terbiasa nanti." Tutur lembut Sean.


Ana memberikan asi pada salah satu anaknya, seketika tangisannya terdiam. Yang satu lagi, dia masih tertidur dengan lelapnya meskipun suara berisik dari saudaranya menangis dengan kencang.

__ADS_1


Sepertinya, dia akan mewarisi sikap Sean yang dingin.


Sean mengelus lembut pucuk kepala anaknya yang sedang meminum asi dari Ana.


"Tumbulah menjadi anak-anak yang kuat dan lembut seperti mami mu, son." Sean mengecup singkat kening anaknya.


Tidak lama kemudian, bayi kecil itu kembali tertidur dengan lelapnya. Sean berjalan mendekat kearah ranjang satunya untuk melihat apakah dia terbangun atau tidak.


"Dia sangat cantik sepertimu, Ana. Tidurnya sangat lelap, dia tidak terusik sedikitpun." Jawab Sean memandang wajah cantik anaknya yang masih tertidur di ranjang bayi miliknya.


Sean mengelus pipi putrinya dengan lembut. Elusan tangan Sean membuatnya menggeliat kecil, mungkin dirinya terganggu dari tidurnya.


Sean mencoba mengambil putrinya ke dalam gendongannya. "Putri papi harus kuat, tidak boleh cengeng." Ujar Sean lalu mencium pipi lembut putrinya.


Ana tersenyum melihat aktifitas Sean yang sepertinya sangat bahagia setelah anak-anaknya terlahir ke dunia.


"Mereka akan menjadi anak yang kuat dan tidak terkalahkan nanti. Mereka yang akan melindungi semua keluarganya kelak." Ana mengelus pipi putranya yang berada di gendongannya dan menclium lembut pipi yang masih kemerahan itu.


Ucapan Ana seperti petuah yang tidak bisa di elakkan. Kata-katanya seperti ramalan yang akan terjadi nanti.


"Sini, biarkan aku memberikan asi juga untuknya. Sepertinya dia juga lapar." Ucap Ana yang melihat putrinya menggeliat di gendongan Sean.


Ana meletakkan putranya di sampingnya lalu mengambil alih putrinya yang ada di gendongan Sean.


Ana memberikan asinya dan mengelus lembut pipi putri kecilnya.


"Putri mama harus bisa lebih kuat dari adiknya ya." Ujar Ana pelan.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Di sana menunjukkan Diva yang baru saja tidab bersama dengan grandpa dan grandmanya.


Mami Sean mencoba mengambil alih cucunya yang berada di samping Ana.


"Hai cucu grandma. Kau sangat tampan sekali." Mami Sean merasa gemmas dengan putra Sean.


"Mami... jangan kasar-kasar kalau menciumnya. Nanti dia terbangun lagi." Tegur Sean karena maminya begitu gemmas dengan putranya.


"Iyaa.. iya.."


"Haii adik... apa kau tidak mengenalku?" Ucap Diva melihat baby boy yang ada di gendongan grandmanya.


"Grandma... boleh Diva menciumnya?" Izin Diva.


"Boleh," mami Sean pun mendekatkan baby boy pada Diva. Diva mencium pelan pipi lembut itu.


"Apa kau tidak akan menggelar pesta atas kelahiran anak-anakmu, son?" Sahut papi Sean.


"Sean terserah Ana saja, pi."


"Kenapa aku?"


"Aku ikut apa maumu bagaimana. Karena banyak dari mereka tidak mengetahui siapa aku dan dirimu." Jawab Sean.


"Emm... kita adakan pesta kecil-kecilan saja untuk menyambutnya. Kita adakan dengan semua penghuni mension, itung-itung kita berbagi pada mereka." Ucap Ana. Ana memang memiliki hati yang lembut, bahkan dia selalu berbagi pada setiap penghuni mension yang bekerja di sana.

__ADS_1


"Papi dan mami ikut kalian selagi memang itu yang terbaik. Biar papi nanti yang mengurus dan memberitahukan pada penghuni mension." Sahut papi Sean.


Setelah berbincang-bincang, mereka pun saling bergantian menunggu baby twin yang sedang terjaga. Mereka semua merasa senang dengan kehadiran anggota keluarga baru yang akan meramaikan mension.


__ADS_2