Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 185 Season 2


__ADS_3

Diva datang kesana tidak sendiri, twin J ikut berkunjung ke sana. Ana dan Sean sedang mengurus untuk acara besok. Julian yang mendengar kata-kata Diva itu sedikit meneteskan air matanya, dia membayangkan bagaimana nanti jika mami dan papinya tidak ada di waktu acara besar seperti itu. Acara yang hanya di selenggarakan satu kali seumur hidup.


Ternyata Julian juga memiliki hati yang lembut di balik tingkahnya yang selalu random dan membuat orang-orang di sekitarnya kesal. Jennifer melihat Julian yang sedang mengelap air matanya, karena baru kali ini dirinya melihat sang adik bisa menangis ternyata.


"Ma, pa, Diva selalu mendoakan kalian di sana. Diva selalu berdoa pada Tuhan agar nanti bisa bertemu dengan kalian, Diva tidak akan lupa wajah kalian walaupun Diva hanya bisa melihatnya sesaat." Sambung Diva dengan air mata yang mulai menetes.


"Diva di sini sangat baik, ma, pa. Uncle dan aunty menjaga Diva dengan baik, Diva di kelilingi orang-orang yang menyayangi Diva. Kalian tidak perlu menghawatirkan keadaan Diva di sana, Diva hanya meminta doa dari mama dan papa." Diva terdiam memandang nisan yang bertuliskan mama dan papanya itu dengan sedikit lama.


Air mata Diva pecah di sana, tapi ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Jennifer yang mengerti bagaimana keadaan kakak sepupunya itupun menyentuh pundak Diva untuk menenangkannya sejenak. Tapi, Jennifer tidak melarang untuk Diva menangis, ia membiarkan Diva untuk menumpahkan semuanya di sana.


"Ma, pa, di sini juga ada Julian dan Jennifer. Mereka yang selalu menemani Diva, meskipun Julian sangat nakal sedari kecil. Dia selalu mengganggu Diva dan membuat Diva kesal sampai dia besar, Diva tidak tau dia mendapat sikap seperti itu dari mana. Kalau saja dia bukan keponakan mama dan papa mungkin Diva sudah membuangnya ke laut." Jelas Diva menceritakan bagaimana sikap Julian. Julian membuka matanya lebar-lebar mendengar ucapan Diva, tapi dia tidak berani untuk menjawab.


"Ma.... Pa.... doakan Diva ya, doakan acara Diva nanti tidak ada halangan apapun." Imbuh Diva menyudahi pembicaraannya, ia tidak mau terlalu terbawa perasaan nanti.


"Haaii maam, hai pa. Ini Jen, maaf ya kami tidak bisa setiap hari berkunjung ke sini. Maaf juga karena mami dan papi tidak ikut kali ini, tapi nanti mereka pasti akan datang kok. Kami selalu mendoakan kalian, kalian jangan khawatir, kaka Diva aman bersama kami. Kami akan menjaganya sepenuh hati, dia adalah kaka terbaik kami." Terang Jennifer yang mencoba kuat walau dirinya juga sebenarnya ikut merasakan sesak.


"Ma, pa. Kami pamit dulu, Diva harus bersiap untuk besok." Pamit Diva dengan mencoba tersenyum di sana.


Mereka bertiga beranjak pergi dari sana dan segera pulang karena masih banyak yang harus di lakukan.


Mension...


Sesampainya di mension, mereka segera masuk ke dalam. Ternyata di sana sudah ada pasukan-pasukannya yang akan ikut serta dalam pernikahannya nanti. tentu saja trio tidak pernah ketinggalan, Fany, Robert dan Gerald. Untuk yang lainnya akan datang waktu pesta pernikahan nanti.


Mereka semua melambaikan tangannya melihat kedatangan twin dan Diva.

__ADS_1


"Cepat sekali kalian datang, tidka biasanya." Sindir Diva pada ketiganya.


"Eehhh... kita sudah dari tadi di sini, kalian saja yang keluar terlalu lama." Jawab Fany.


"Pihak butik sudah datang dari tadi, mereka menunggumu ratu." Sambung Fany dengan menundukkan kepalanya ala-ala kaum bangsawan.


"Baiklah budakku, sebaiknya kalian ikut denganku." Ucap Diva yang memanggil mereka dengan sebutan budak.


"Enak saja! Mana ada budak seperti kami?" sungut Fany yang tidak terima dengan sebutan itu.


"Sudahlah, jangan berisik. Sebaiknya kita semua bersiap saja." Sahut Robert. Kalau di biarkan nanti Fany tidak akan ada diamnya.


Mereka segera menuju keruangan yang sudah di siapkan masing-masing. Diva segera mencoba gaunnya yang akan di kenakan untuk besok, gaun itu bewarna putih dengan bahan blukrat yang berkualitas.


Diva melihat-lihat dirinya di depan kaca besar yang tengah memakai gaun itu, "ini sudah pas, sesuai dengan ukuran tubuhku." Jawabnya. Karyawan itu bernafas lega karena tidak ada yang salah dalam membuatnya.


Sedangkan Fany tengah berputar-putar dengan menggunakan gaun yang ia kenakan.


"Wuuu.... Gaun ini membuatku terlihat cantik." Ucapnya memuji dirinya sendiri. Jennifer menoleh ke arah Fany yang sedang bersikap tidak jelas di sana.


"Kau seperti anak kecil saja." Celetuk Jennifer di sana.


Mereka menggunakan gaun sama, gaun yang mereka gunakan juga bewarna putih dengan panjang selutut. Jika terlalu panjang bisa-bisa menyamai pengantin yang sesungguhnya, mereka berdua akan menjadi tim penabur bunga nanti.


Sedangkan di sisi pihak pria....

__ADS_1


"Permisi, Tuan. Ini setelan jas yang akan anda kenakan nanti, nyonya yang mengirimkan." Ucap salah satu anak buah Sean yang di tugaskan Ana mengirimkan jas untuk Riko.


"Terima kasih, kau boleh kembali." Jawabnya.


"Akhirnya kau melepas masa bujangmu, bagaimana perasaanmu?" ucap Erick yang menabok pundak Riko.


"Nahh... ini yang aku tunggu-tunggu darimu, akhirnya kau ikut menyusul meskipun kau telat jauh dengan kita. Apa yang kau rasakan saat ini?" James ikut menyahuti.


"Entahlah, aku tidak tau apa yang aku rasakan. Aku hanya merasakan sedikit tenang saja saat ini." Jawabnya dengan santai.


"Tenangkan dirimu, jangan sampai nanti saat pengucapan janji kau salah. Jangan seperti Erick yang memalukan sekali, bisa-bisanya dia salah dalam penyebutan nama istrinya sendiri." Sindir James yang mengingat bagaimana waktu dulu Erick saat pengucapan janji.


"Diam kau, itu sudah masa lalu, jangan di bahas lagi." Sengalnya tidak terima karena James kembali membuka aibnya.


Waktu pengucapan janji dulu, Erick sempat salah pengucapan nama Clare. Mungkin dia terlalu gugup hingga namanya sedikit meleset. Nama yang seharusnya Clare Gratia Elyse, tapi Erick menyebutnya dengan Clare Gratia Elsa.


"Ya, aku juga ingat sekali itu. untung saja waktu itu pernikahanmu tidak batal karena dirimu menyebut nama ." Sahut Riko yang juga berada di sana waktu itu.


Mereka sempat tertawa karena Erick salah penyebutan nama, untung saja nama yang ia plesetkan masih nama yang bagus dan masih sedikit mirip.


"Kau harus mengingat nama nona dengan baik-baik, Ko. Jangan sama seperti dia nanti, jangan membuat malu nanti." Tutur James dengan sedikit sindiran di layangkan pada Erick.


"Sudahlah, kenapa kalian selalu mengingatnya." Sengalnya tidak terima.


"Bagaimana bisa lupa, itu momen yang sangat epik dalam hidupku yang tidak bisa aku lupakan." Jawab James. Erick hanya bisa pasrah dengan apa yang di ucapkan oleh James, tidak ada gunanya jika nanti berdebat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2