
Kembali ke Sean...
Darah segar bercucuran dari lengan papa Cindy.
"Itu balasan untuk putraku," ujar Sean dengan tatapan horornya.
"Ternyata orang yang sangat terkenal penjuru Eropa merupakan penjahat kelas dunia. Bagaimana jika orang-orang tahu siapa dirimu sebenarnya?" Papa Cindy memancing emosi Sean.
Doorr...
Door..
Sean kembali menembak papa Cindy mengenai kakinya. Terlalu banyak ucapan-ucapan tidak penting yang Sean dengar di sana. Hal itu membuat telinganya sakit saja.
"Aku tidak butuh dengan ocehanmu," ujar Sean.
"Kenapa kau tidak menghabisiku saja? Apa kau takut?" Sudah dalam keadaan lemah tapi papa Cindy masih saja berbicara yang tidak penting.
Hal itu membuat Sean geram dan kesal mendengarnya.
Tanpa basa-basi lagi....
Door...
Door....
Dorr...
Sean kembali memberondong peluru ke tubuh papa Cindy, kali ini Sean menembakkan tepat di tengah-tengah dahi papa Cindy dan jantungnya. Hingga tidak lama-lama papa Cindy tidak bernyawa lagi.
Sean memandang tajam tubuh papa Cindy yang sudah tergeletak tidak bernyawa.
Sedangkan di sisi Diva...
Cindy merasa takut di sana, ingin sekali lari jauh dari sana. Tapi itu tidak akan bisa dia lakukan.
"Kau takut?" Diva mengejek Cindy yang sedang ketakutan.
"Hahah... Sepertinya tinggal kau sendiri di sini. Mama papamu sudah kami kirim jauh ke alam sana, mau aku apakan ya dirimu?" Diva mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagunya.
"Kalian memang keluarga psikopat, pembunuh. Kalian tidak layak hidup!" Cindy tidak kehabisan kata-kata.
"Jika kami tidak layak, lalu bagaimana denganmu?" Diva suka sekali meladeni ucapan-ucapan Cindy. Sepertinya dirinya sangat suka adu mulut.
"Kenapa kau sekalian tidak membunuhku, hah?"
Sean mencari keberadaan Ana yang saat ini juga ada di markas, ia menanyakan keberadaan sang istri pada anak-anak buahnya.
Setelah mengetahuinya, Sean langsung saja mendatangi Ana yang berada di taman labirin.
Di sana memang ada taman labirin permintaan Sean, tapi itu tidak tinggi. Hanya setinggi perut orang dewasa saja. Ana berada di sana untuk sekedar melihat-lihat dan menyegarkan fikiran.
Ana cukup betah di sana, tanaman-tanaman di sana pun juga terjaga rapi dan bersih.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya dari belakang.
Dugh...
Ana menyikut kuat orang itu karena sudah lancang memeluknya negitu saja.
"Auuwh... Sayang... Kenapa kau menyikutku, itu sedikit sakit. Dirimu menggunakan tenaga lumayan besar ," pekiknya. Ana pun menoleh kebelakang melihat siapa di sana.
"A-Sean..." Ucapnya saat tahu siapa yang naru saja ia sikut. Ana bernafas lega jika itu Sean yang memeluknya, tapi dia juga merasa sedikit bersalah.
"Apa sakit?" Tanyanya perhatian. Sean menganggukkan kepalanya dengan wajah manjanya ia perlihatkan.
"Lagian, kenapa kau tiba-tiba saja memelukku. Aku terkejut," jawabnya. "Aku kan memeluk istriku sendiri, sayang. Tidak ada yang salah," jawab Sean yang memang benar adanya.
Sean kembali memeluk erat Ana di taman sana," suamikuuuu.... Bagaimana jika banyak orang yang melihat?" Ucap Ana.
"Aku tidak peduli, ini tempat milikku. Mereka tidak akan melihat apa yang kita lakukan, jika mereka berani melihat akan aku buat mereka tidak membuka matanya lagi." Jawab Sean yang terdengar sadis.
"Kau ini," Ana memukul kecil kengan Sean.
"Kenapa kau datang kesini sendiri, hmm? Kenapa tidak menunggu atau mengajakku?"
"Aku sangat bosan di mension sendiri, aku ke sini memberi sedikit pelajaran pada orang-orang itu." Jawab Ana terlihat sedikit ketus.
"Memangnya apa yang sudah kau lakukan pada mereka?" Tanya Sean yang pura-pura tidak tahu. Dia ingin mendengar cerita dari Ana.
"Aku tidak akan bisa diam kali ini ketika mereka menyentuh anak-anakku. Aku membuat ibu anak itu pingsan, aku sudah cukup geram dengan mereka." Ana bercerita dengan menunjukkan wajah kesalnya. Sean tersenyum mendengarnya.
"Tidak, aku juga tidak akan tinggal diam jika mereka menyentuh putra putriku." Sengalnya.
Sean pun mencium bibir Ana sedikit lama, "kau memang istri dari seorang Sean." Ujarnya pada Ana.
Anak-anak buah Sean yang melihat aktifitas tuannya itu pun segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Mereka tidak mau mengganggu dan melihat keuwuan pada mereka.
"Astaga, mereka berdua memang tidak tau tempat." Ucap Diva yang juga ada di sana. Dia melihat aktifitas aunty dan uncle-nya di sana.
"Sudah, ayo pergi dari sini. Nanti matamu rusak melihat mereka," Riko menyeret Diva pergi dari sana dari pada melihat Ana dan Sean beruwu ria di taman.
"Sedari dulu aku memang istrimu," jawab Ana. Sean semakin mengeratkan pelukannya pada Ana.
"Kau sudah banyak berubah, lebih garang sekarang." Ujar Sean dengan senyumnya.
Ana menangkup wajah Sean dengan kedua tangannya, "karena aku belajar darimu." Ana sedikit menjijit dan mencium bibir Sean, Sean kembali tersenyum karena Ana mempunyai inisiatif sendiri.
Selagi ada waktu luang, Sean menghabiskan waktunya bersama Ana di sana. Tentu saja Sean menunjukkan sikap-sikap manisnya pada Ana.
"Aku heran, kenapa mereka berdua selalu saja tidak tahu tempat." Gerutu Diva di tengah-tengah perjalanan.
"Biarkan saja, mereka kan suami istri. Tidak ada yang melarang tuan Sean dan nyonya Ana untuk sekedar berromantis ria." Jelas Riko pada Diva.
"Memang tidak salah, perih mataku melihatnya." Keluh Diva.
"Apa kau mau mencobanya?" Goda Riko mendekatkan wajahnya pada Riko.
__ADS_1
"Aku kubur hidup-hidup kau kalau berani macam-macam," Diva menjauhkan wajah Riko menggunakan tangannya.
Waktu begitu berlalu dengan cepatnya, saat ini memasuki waktu liburan bagi Julian, Jennifer dan kawan-kawan.
"Halo, son. Bukankah kau sudah waktu liburan?" Tanya sang daddy dari seberang sana melalui sambungan telfon.
"Yes, daddy." Jawabnya.
"Apa kau tidak ingin pulang ke negaramu? Mommy mu ingin sekali bertemu denganmu, dia selalu merengek pada daddy." Ujarnya lagi.
"Hmmm.... Sepertinya, aku tidak pulang dulu, dad. Aku ingin berlibur dengan teman-temanku di sini." Jawabnya lagi.
"Baiklah, son. Kau jaga diri di sana, kalau ada waktu daddy dan mommy-mu akan berkunjung ke sana." Ujar sang daddy.
"Hmmm..." Jawabnya dengan deheman lalu mematikan sambungan telfonnya. Ia menghela nafas panjangnya.
"Permisi, tuan muda. Teman-teman anda datang berkunjung," ujar salah satu bawahan sang daddy yang ada di sana bersama dirinya.
"Suruh mereka menunggu." Jawabnya. Orang tersebut pun mengundurkan diri dari sana dan menemui teman-teman dari tuan mudanya.
Julian dan teman-temannya berebut cemilan yang ada di sana, entah kenapa jika mereka kumpul seperti anak kecil. Dan benar sekali jika saat ini mereka berkunjung ke rumah Gerald, di sana menjadi gaduh karena tingkah Julian dan teman-temannya.
Sedangkan di sisi sebaliknya....
"Tuan putriii.... Di mana adikmu? Tumben sekali dia tidak ada?" Tanya Fany pada Jennifer.
"Kenapa kau mencarinya? Apa kau merindukannya?" Goda Jennifer padanya. "Ogah sekali aku merindukannya, hanya memastikan saja kalau tidak ada biang rusuh di sini." Jawabnya lalu memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Jujur saja, Fa. Dirimu pasti mencari tuan Julian, tidak usah beralibi." Sahut Robert.
"Diamlah, aku tidak berbicara denganmu." Sengal Fany.
"Bohong Mu kelihatan sekali, Fa. Sudah jujur saja," timpal Thea di sana.
Jika Julian dan kawan-kawannya berkumpul du rumah Gerald, beda lagi dengan Thea, Fany dan Robert yang datang ke mension untuk sekedar bermain bersama Jennifer. Mungkin saja jika ada Julian suasana semakin ramai seperti pasar.
"Ini orang-orang pada kenapa sih? Siapa juga aku rindu dengan anak itu, ogah sekali." Fany mencebikkan bibirnya kesal dengan mereka semua yang menggodanya.
.
.
Kembali lagi ke sisi Julian...
Padahal cemilan di sana lebih dari satu, tapi entah kenapa mereka merebutkan satu jenis cemilan.
"Ambil yang lain, kenapa kau merebut milikku?" Julian menjauhkan cemilan yang ia bawa dari teman-temannya.
"Kau jangan serakah, nanti kau tersedak kalau tidak bagi-bagi." Sahut Marcus. Gerald yang baru menuruni tangga melihat teman-temannya berebut cemilan itupun hanya
menggelengkan kepalanya. Entah kenapa dia memiliki teman-teman yang begitu random dan heboh sendiri.
"Apa perlu aku bawakan pedang masing-masing?" Sahut Gerald yang ada di sana. Mereka semua menoleh ke arah Gerald dengan posisi yang sudah tidak aturan. Julian yang menjepit tubuh Marcus dengan kedua kakinya, sedangkan Reiner kepalanya di tahan oleh Julian menggunakan tangannya. Bisa di bayangkan sendiri bagaimana mereka.
__ADS_1