Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 127 Season 2


__ADS_3

"Aku tidak amnesia ya. Dan aku juga tidak tuli." Jawab Julian yang semakin memperkeruh. Jennifer melototkan matanya pada Julian agar tidak membahasnya lagi di depan sang papi.


Julian yang tahu arti tatapan Jennifer itu pun tidak peduli, "jangan dengarkan kak Jen, pi. Dia sendiri yang bilang padaku tadi." Julian mengadu pada sang papi kali ini.


Jennifer semakin melototkan matanya lebar pada sang adik tapi tak di indahkan.


"Jeenn... coba jujur sama papi dan mami." Desak sang mami kali ini.


"Tidak ada, mi, pi. Hanya masalah kecil saja, Jenni bisa mengatasinya sendiri, kok. Percaya deh, yaaah..." jawabnya pada mami dan papinya.


Jennifer kembali melototkan matanya dan menunjukkan wajah kesalnya pada Julian, sepertinya ia akan membuat perhitungan untuk sang adik yang memang tidak bisa diam.


Kali ini, Julian tidak merasa takut. Karena pasti ada papi dan maminya yang akan membela dirinya. Jika saja tidak ada papi dan maminya, mungkin dia sudah kicep duluan.


Sean dan Ana pun memerintahkan kedua Anaknya dan keponakannya untuk beristirahat, dirinya juga memutuskan beristirahat karena lelah dalam perjalanan.


Esok paginya...


Diva sudah berada di kampus tempatnya mengemban ilmu. Dirinya saat ini berada di kantin dengan teman-temannya dekatnya. Diva menikmati makan siangnya karena sudah sangat kelaparan.


"Divaa, aku terkadang-kadang bertanya-tanya. Kenapa kau tidak mengambil perkuliahan di luar negeri yang terkenal. Biasanya kalangan sepertimu ini kan pasti sudah ke luar negeri?" tanya salah satu temannya.


Diva yang mendapat pertanyaan dari temannya itu pun menghentikan makannya dan memasang wajah yang di buat Seolah-olah dirinya sedang kebingungan.


"Iyaa.. ya... kenapa, ya?" bukannya menjawab justru dirinya malah bertanya dengan dirinya sendiri.


"Harusnya yang bingung itu kita, Diva. Bukan dirimu," sahut salah satu dari mereka yang melihat muka Diva seperti orang kebingungan.


"Yaa karena aku juga sendiri bingung kenapa." Jawabnya yang terdengar konyol.


"Terserah kau saja, Diva. Terdengar konyol sekali aku mendengar jawabanmu." Sengal temannya yang ada di sana. Tanpa peduli banyak hal mereka kembali melanjutkan makan.


Kali ini, Fany mengajak Jennifer untuk bergabung bersama dirinya dan teman-teman dari Julian. Awalnya Jennifer menolak ajakan dari Fany, tapi dirinya di paksa habis-habisan oleh Fany. Tidak lupa juga Fany mengajak Thea di sana. Thea yang memang tidak pernah berinteraksi dengan siapapun itu terlihat ragu-ragu dan

__ADS_1


canggung untuk berkumpul di sana.


"Udah kak Thea gak usah kaku." Ujar Fany yang melihat Thea sangat canggung. Thea pun tersenyum kikuk.


Salah satu teman Julian yang merasa kepo itu pun memandang Jennifer dan Julian bergantian.


"Kau itu kenapa?" sengal Julian melihat temannya bergantian melihat dirinya dan kakaknya.


"Aku hanya bertanya-tanya, kalian ada hubungan tidak sih. Kenapa kalian terkadang pulang dan pergi barengan, wajah kalian juga sedikit mirip. Apa kalian berjodoh?" celetuknya.


"Ohh... kita ya ada hubungan sepesial dooong, ya kan, Jen." Jawab Julian sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Fany yang melihat Julian bersikap seperti itu mencebikkan bibirnya. Memang dirinya yang selalu sewot dengan Julian.


"Hah, seriusan?" jawab serentak teman-teman Julian. Fany dan Robert sudah tidak kaget lagi dengan Julian yang memang terkadang berbicara asal nyeplos.


Tapi, jika di fikir-fikir, memang mereka mempunyai hubungan khusus. Hubungan saudara kembar.


"Serius, laaahh. Kau tanyakan saja padanya." Jawab Julian. Teman-teman Julian pun menoleh serentak ke arah Jennifer.


Tadinya mereka ingin bertanya banyak hal, tapi mereka mengurungkan niatnya setelah mendengar suara Jennifer. Terdengar lembut, tapi penuh dengan penekanan.


"Kenapa dia sepertinya galak sekali?" bisiknya di telinga Julian.


"Berarti kau tidak tampan, makanya dia seperti itu." Jawab Julian ngasal. Temannya itu memincingkan bibirnya.


Tiba-tiba saja, ada yang mengguyur Jennifer dengan air dari arah belakang. Rambut dan bajunya basah karena tumpahan air tersebut. Semua gumbulan Julian dan Fany pun melototkan mata tidak percaya dengan apa yang sudah di lakukan orang itu pada Jennifer.


"Sudah berapa kali aku berkata padamu, jangan mendekatinya lagi." Bentaknya pada Jennifer.


Julian yang melihat itu pun langsung berdiri bangkit dari duduknya, ia terlihat marah jika sang kakak yang tidak bersalah mendapat perlakuan seperti itu.


"Apa yang kau lakukan, hah?" bentaknya menggema sampai seisi kantin. Semua orang terkejut mendengar suara Julian yang menggelegar. Julian yang selama ini di kenal jahil dan petakilan ternyata bisa semarah itu.

__ADS_1


Urat-urat di lehernya sampai terlihat karena ia marah besar. Jennifer masih bersikap santai dan duduk di kursinya.


"Mampus, Leopard bangun dari tidur." Gumam Robert melihat kemarahan dari Julian di sana.


Orang yang mendapat bentakan dari Julian itu pun juga ikut terkejut mendengar suara Julian.


"Psst... psstt..." panggil Fany pada Robert. Robert mendekatkan telinganya ke Fany


"Sepertinya, Julian Copers akan menunjukkan taringnya." Bisiknya pada Robert.


"Sudah, diamlah. Kita lihat saja." Tegur Robert.


"Aku tidak mengira jika Julian bisa semarah itu." Ujar Thea yang melihat kemarahan dari Julian.


Semua orang berbisik-bisik dengan kemarahan Julian dan apa yang sudah di lakukan orang itu pada Jennifer.


"A-aku..." ucapnya terbata.


"Apa alasanmu menyiramnya, hah?" belum juga orang tersebut melanjutkan ucapannya, Julian sudah memotongnya.


Julian mendekat ke arah orang tersebut dengan wajahnya yang merah padam. Dia yang tidak pernah melihat Julian marah seperti itu pun ketakutan.


"Duduk kembali ke kursimu, Jul." Perintah Jennifer.


"Tidak, dia sudah berani bermain-main." Tidak Julian.


"Aku bilang kembali ke tempatmu!!" sarkas Jennifer. Mau tidak mau Julian kembali duduk di kursinya dengan raut wajah yang terlihat sangat marah. Mereka yang di sana menenangkan Julian agar tidak marah lagi.


Jennifer pun berdiri dan memandang tajam ke arah orang tersebut.


"Apa aku harus mematahkan tanganmu terlebih dulu agar kau tidak mengusikku?" ucapan Jennifer penuh dengan intimidasi.


"Apa kau kira aku akan takut dengan ancamanmu itu, aku sudah mengadukan hal kemarin pada papaku. Kau pasti tidak lama lagi akan di keluarkan dari sini, kau tau siapa aku bukan?" ucapnya terlalu menyombongkan dirinya. Dirinya juga terlihat sangat menantang Jennifer, sepertinya, ketakutannya karena bentakan Julian tadi sirna seketika.

__ADS_1


Julian yang mendengar perkataan orang itu pun kembali berdiri tapi teman-temannya mencoba menarik dirinya kembali untuk duduk. Tangannya mengepal kuat di bawah meja.


"Heh, dan apa kau kira aku juga takut dengan ucapanmu itu?" Jennifer tersenyum remeh pada orang itu.


__ADS_2