Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 83


__ADS_3

"Kalau tidak mau, kakak tinggal sendiri baru tahu." Diva mengancam Julian karena tidak mau untuk memakai sandalnya.


Julian menggelengkan kepala tidak mau. "Kakak tinggal ya. Ayo Jen, biar ljul sendiri di sini." Diva mencoba bangkit agar Julian mau memakai sandalnya.


Entah Diva dapat panggilan dari mana dirinya, bisa-bisanya Julian ia panggil dengan sebutan Ijul. Untung Ana tidak bersamanya, mungkin sudah kena semprot dengan Ana.


"Aaaa...." Julian merengek saat tahu Diva berdiri ingin meninggalkannya.


"Makanya ayo pakai, kalau tidak kakak tinggal kau." Diva sepertinya sangat geram dengan Julian.


Julian akhirnya mau memakai sandal kecilnya, Diva mengajak keduanya keluar bermain di halaman. Entah apa yang akan mereka lakukan kali ini.


Diva mengajak twin J ke kandang Alpaca untuk bermain-main.


Alpaca itu masih terlihat putih bersih, karena memang orang-orang di sana merawat Alpaca itu dengan sangat telaten dan bersih.


Diva masuk ke kandang yang lumayan besar untuk Alpaca bermain-main. Diva mencoba memberikan makan bersama dengan twin J. Tapi jelas saja di sana ada pawangnya, takut jika nanti terjadi apa-apa.


"Apa aku boleh menaikinya, pak?" tanya Diva. Ada-ada saja dia.


"Jangan, nona. Nanti jatuh gimana?" ujar sang perawat Alpaca itu.


Diva kembali memberi makan Alpaca itu bersama twin J.


Julian berdiri dan berjalan ke belakang Alpaca yang sedang menikmati makannya. Tiba-tiba saja, dirinya menarik ekor pendek dari Alpaca itu. Alpaca itu pun lari tunggang langgang setelah ekornya di tarik dengan Julian. Untung saja dirinya tidak di tendang, sepertinya jiwa-jiwa bar-barnya muncul.


"Ehh... ehh... Ijul, Apa yang kau lakukan?" pekik Diva dengan aksi Julian yang sangat bar-bar itu.


Julian hanya tertawa cekikikan melihat Alpaca itu berlari. "Kalau kau di tendang baru tahu." Diva mencoba menyeret Julian agar ikut bersamanya.


Julian tidak mau dengan ajakan Diva, ia memilih berlari kecil ke arah Alpaca tadi. Alpaca itupun berlari kembali saat melihat Julian lari ke arahnya. Dan akhirnya siang itu mereka bermain kejar-kejaran. Penjaga di sana pun panik, takut jika nanti tuan kecilnya kenapa-kenapa.

__ADS_1


Penjaga Alpaca itu pun mau tidak mau menggendong Julian agar tidak mengejar lagi, ia membawa Julian mendekat ke arah kedua kakaknya. Untung Jennifer tidak mengikuti adiknya.


"Kau ini, Jul. Sekali bertingkah membuat heboh semuanya." ." Diva mengomel pada Julian.


"Ayo masuk, mamimu pasti marah melihat aksimu tadi." Diva kembali mengajak mereka masuk ke dalam mension dari pada nanti twin J semakin berulah.


Penjaga di sana pun akhirnya bernafas lega melihat nona dan tuan kecilnya kembali masuk ke dalam. Entah apa jadinya tadi jika mereka masih bermain di halaman sana, mungkin jerapah di sana pun di lepaskan juga dengan mereka.


Sesampainya di dalam, Diva mendudukkan kedua adiknya di karpet berbulu seperti biasa.


Diva memberikan mainan, lalu dirinya menyalakan TV besar di sana. Di putarnya kartun kesukaannya.


"Tunggu di sini, oke. Kakak mau ambil makanan." Ujar Diva pada kedua adiknya. Mereka mengangguk faham dengan ucapan Diva.


Diva berjalan ke kulkas yang terletak khusus untuk menyimpan desert dan lain sebagainya. Diva membuka kulkas lalu mengambil desert seperti biasa.


la membawa dua kotak desert, sepertinya dia akan memberikan yang satunya pada adik-adiknya.


Tidak lupa juga Diva membawa snack untuk adik-adiknya. Sepertinya kali ini dia tobat, tidak tahu jika nanti.


"Apa, Jul? Apa kau mau?" tawar Diva. Julian menunjuk ke arah desert yang di makan Diva.


"Amamamam..." ucapnya.


Diva memberikan satu suapan pada Julian, ia menerima suapan dari Diva. Saat Diva ingin memakannya, ia merengek meminta lagi. Akhirnya Diva memberikan desert itu pada Julian.


"Sini Jen." Diva memanggil Jennifer, ia mendekat ke arah Diva. Diva memberikan suapan pada Jennifer biar adil. Julian sudah menerima sekotak desert yang di bawa Diva.


Julian mengambilnya dengan tangan mungilnya itu lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Tangan mungil yang bersih itu pun sekarang sudah berubah penuh coklat. Mulutnya yang cemong tidak karuan.


Sekarang giliran Julian yang bertingkah, bukan lagi Jennifer. Beginilah mereka, jika sudah bersama Diva tidak akan aman.

__ADS_1


Ana yang berada di dapur menata bekal untuk di antarkan ke sang suami di kantor. Ana selalu menyuruh anak buah Sean mengantarkan makanan ke perusahaan.


Ana tidak bisa keluar dengan bebas lagi, maka dari itu dia selalu menitipkan pada anak buah Sean.


Selesai menata bekal, Ana keluar sebentar dan memerintahkan salah satu dari mereka mengantarkan bekal itu ke kantor di mana Sean berada saat ini.


la memberikan pada salah satu dari mereka, lalu kembali melangkahkan kakinya masuk.


la menuju ke tempat biasa mereka berkumpul. la terkejut melihat kali ini Julian yang cemong semua karena memakan desert yang di bawa Diva tadi.


"Astaga.... Ini apa lagi?"


"Diva.... Kenapa memberikan adiknya desert itu?” Ana kehabisan kata-kata kali ini. karena saat mereka dengan Diva, pasti ada saja tingkahnya.


"Ijul sendiri yang mau aunty. Dia merebutnya dariku, yasudah, Diva berikan saja dia. Dari pada nanti nangis." Ucap Diva panjang lebar.


"Namanya Julian, Diva. Bukan Ijul." Sahut Ana mendengar nama panggilan dari Diva yang di berikan pada anaknya.


"Sama saja, aunty." Diva tidak kalah ngegas.


Ana membawa Julian ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum makan siang. Dirinya hanya menyengir kuda pada sang mami dengan menunjukkan muka cemongnya.


"Ingin sekali mami memarahi kalian, tapi mami tidak tega memarahi anak-anak mami yang menggemaskan ini ." Ujar Ana yang merasa gemas pada anak-anaknya.


Ana pun melepaskan pakaian yang di kenakan oleh Julian dan membersihkan cemong-cemong itu dari muka Julian.


Sedangkan di luar, Diva dan Jennifer masih memakan cemilannya tidak ada hentinya. Jennifer dan Diva sama-sama suka makan sepertinya.


Diva mengambil sekotak besar ice cream yang ada di kulkas, Diva membawa dua sendok untuknya dan untuk sang adik.


Diva mengoleskan ice creamnya pada snack yang ia bawa tadi. Sedangkan Jennifer, ia langsung memasukkan ice cream itu ke dalam mulurnya. Ia menyendok sedikit demi sedikit ice cream yang berada di kotak.

__ADS_1


Untung saja Jennifer memakan ice cream itu dengan rapi, tapi tidak tahu jika nanti akan belepotan atau tidak.


"Sudah ya Jen, tidak boleh makan banyak-banyak. Biar kakak kembalikan, oke." Diva membujuk Jennifer untuk tidak memakan uce cream banyak-banyak.


__ADS_2