Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 231


__ADS_3

Fany masih saja mengorek-orek makanan di depannya dengan sedikit cemberut, kedatangan Gerald pun dia tidak merespon. Biasanya dia yang paling sewot jika Gerald berada di antara mereka bertiga. Sekarang dia yang paling diam tidak peduli dengan sekitar.


"Dia kenapa, Babe? Tidak seperti biasanya dia diam tidak membuat keributan?" mereka yang tahu Fany sangat hapal bagaimana Fany.


"Hmm... Kau seperti tidak pernah jatuh cinta saja, Babe," jawab Jennifer singkat padat dan jelas. Gerald yang paham itu pun segera merogoh ponselnya, ia memfoto Fany dan mengirimkan foto itu melalui aplikasi chatnya. "Apa yang kau lakukan, Babe?"


"Aku membantunya untuk hidup kembali, apa kau tidak lihat temanmu itu, Babe. Dia seperti tidak ada tujuan hidup," jawab Gerald.


Fany benar-benar tidak merespon ucapan siapapun, dia diam seribu bahasa. Beberapa waktu kemudian, ponsel Gerald berdering, Gerald segera menggeser tombol hijaunya dengan cepat.


"Lihatlah orang itu, dia seperti tidak ada tujuan hidup. Kau tidak ingin pulang dan menemuinya?" ujar Gerald setelah panggilannya tersambung.


Saat ini mereka sedang melakukan panggilan video dengan orang di seberang sana. Fany masih tidak perduli dan mengorek-orek makanan miliknya. Thea ikut menimbrung di antara Jennifer dan Gerald membiarkan Fany yang dalam mode galau akut.


"Kau benar-benar membuatnya gila. Kau lihat saja, dia seperti kesurupan. Sedari tadi diam tidak berbicara sama sekali," sahut Jennifer di sana.


"Tidak di hiraukan Fany kau langsung saja pergi begitu saja. Kau sangat hebat." Thea menunjukkan dua jempolnya pada layar ponsel itu.


"Kalian semua behentilah berbicara," ujarnya di seberang sana. Fany yang mendengar suara dari seberang sana itu pun menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah tiga orang yang ada di hadapannya.


"Kau lihat kan, Babe. Aku berhasil membuatnya hidup kembali," ujar Gerald melihat perubahan Fany.


"Kau memang terbaik." Jennifer mengacungkan satu ibu jarinya dengan sebelah mengedipkan sebelah matanya.


"Hei Jul, apa kau tidak melihatnya. Dia seketika berubah mendengar suaramu itu," ujar Gerald. benar sekali jika yang menghubungi tadi adalah Julian. la mendapatkan kiriman foto dari Gerald, tanpa berlama-lama Julian segera menghubungi Gerald.

__ADS_1


"Berhentilah berbicara dan tutup telfonmu. Kalian terlalu berissik!" ketus Fany. Ia pun akhirnya memasukkan makanannya ke dalam mulutnya dengan kesal.


"Sepertinya dia marah padamu. Tapi kau juga hebat, bisa membuatnya gila seperti itu," timpal Jennifer.


"Lihatlah." Gerald mendekatkan ponselnya ke arah Fany. Fany seketika menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, dan satu tangannya ia gunakan untuk menyendok makanannya.


Fany terus menghindari ponsel Gerald, di seberang sana Julian sengaja untuk berdiam diri melihat Fany dari layar ponselnya. Julian sebenarnya juga senang jika melihat ekspresi Fany sedari tadi, tetapi dia menahannya. Julian tidak menunjukkan kalau hatinya senang, ternyata usahnya berhasil.


"Kau lama-lama persis dengannya. Sebelas dua belas, sama-sama menyebalkan!" ketus Fany saat panggilan vidio itu sudah berakhir.


"Harusnya kau terima kasih denganku. Berkatku kau kembali hidup," jawab Gerald dengan santainya.


"Aku belum mati, bod"h," sengal Fany. Jiwa-jiwa bar-barnya kembali terlihat setelah Gerald melakukan panggilan vidio bersama Julian.


"Aku lebih suka kau pendiam seperti tadi dari pada kembali ke setelan pabrik," timpal Thea.


"Kau yang benar itu yang mana!?" sengal Fany kembali dengan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Keduanya saja kalau bisa,"


"Kalau gak begini dia tidak akan tahu perasaannya pada Julian. Pintar juga anak itu, aku kira dia hanya bisa membuat orang pusing," sahut Jennifer yang ikut menggoda Fany di sana.


"Kau benar, Jen. Aku sependapat denganmu." Thea menunjukkan jari jempolnya pada Jennifer.


"Diam kalian!" ketusnya pada ketiga orang di sana, mereka bertiga tertawa girang melihat Fany yang sedang merasa kesal.

__ADS_1


Kapan lagi membuat Fany kesal, biasanya dia juga selalu membuat orang pusing dan stress melihat kelakuannya. Fany menahan malu atas perasaannya pada Julian. Entah bagaimana nasibnya nanti kalau Julian pulang dan menemuinya, mungkin dia akan berlari jauh menghindari Julian pada waktu itu juga.


Sedangkan di sisi Venezuela...


"Apa benar dia begitu karena aku pergi tanpa memberitahunya? Kalau benar erarti aku sudah berhasil. Waaah aku memang keren. Apa aku harus kembali secepatnya?" gumam Julian sambil terus berpikir-pikir.


"Hmm.... sepertinya aku membutuhkan liburan sejenak. Aku masih ingin melihatnya, apa yang ia rasakan ," sambung Julia.


Julian memutuskan untuk sedikit lama di Venezuela, Julian ingin melihat dalam jangka waktu sedikit lama bagaimana perasaan Fany sebenarnya. Sebenarnya tadi sudah membuatnya senang, tetapi Julian masih ingin melihatnya lagi. Apa memang benar-benar Fany memiliki rasa padanya.


"Sebaiknya aku kembali tidur." Julian kembali merebahkan dirinya dan kembali untuk tidur selagi dia tidak ada yang mengganggu. Kalau saja dia di mension mungkinsudah mendapat omel dari Ana.


Siang waktu Venezuela...


Julian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar selagi dia berada di sana, Julian pergi berkeliling di pusat kota melihat-lihat bagaimana suasana di sana. Setelah lama berkeliling, Julian memutuskan untuk pergi ke salah satu museum yang bersejarah di sana. Julian datang ke Casa Natal Del Libertador Simon Bolivar.


Tempat itu salah satu daya tarik dari para wisatawan, Julian melihat-lihat bentuk arsitektur dari tempat itu. Di sebelahnya juga terdapat Museum Bolivarian, kedua tempat itu di jalankan bersamaan. Julian melihat-lihat barang-barang yang berkaitan dengan kemerdekaan Boliver dan Venezuela yang di sajikan di museum tersebut.


Cukup lama Julian melihat-lihat di sana, hingga tiba-tiba ada yang tengah menghampirinya. "Halo, Tuan Muda William."


Julian menaikkan sebelah alisnya saat ada yang menyapanya. "Kau berbicara padaku?" Julian menunjuk dirinya sendiri, sudah jelas-jelas jika orang tersebut menyebut embel-embel keluarganya tetapi Julian masih bersikap begitu.


"Apa di sini ada orang lain?" ujar orang tersebut. Julian menatap sekeliling yang memang tidak ada orang di sana, mereka sedikit jauh di tempat Julian berdiri. Julian hanya menggedikkan bahunya tanda dia tidak tahu dan tidak perduli.


"Mungkin kita tidak pernah bertemu sebelumnya, aku semalam juga menghadiri acara dan melihatmu di sana," jawabnya dengan menampilkan senyumnya.

__ADS_1


Julian mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan singkat orang tersebut. Orang itu pun ikut berdiri di sebelah Julian dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia juga melihat-lihat barang-barang yang ada di museum tersebut.


"Aku melihatmu cukup berani semalam, Tuan. Bagaimana bisa kau memiliki keberanian di sana? Aku ingin menjadi sepertimu," ujarnya memulai pembicaraan dengan Julian.


__ADS_2