Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 246


__ADS_3

"Enak saja, Fany itu putriku, aku tidak mau terburu-buru untuk melangsungkan acara!" bagaikan kucing dan tikus yang tidak pernah akur.


"Julian juga putraku, jadi aku mau yang terbaik untuknya."


"Tidak-tidak. Aku tidak mau putriku dengan paksaan, kau tidak bisa memaksa. Jangan sampai kau mengancamnya seperti mengancamku waktu itu!" Rika mengotot tidak mau terburu-buru melangsungkan acara untuk menyatukan keduanya. Dia tidak mau jika nanti putrinya dalam paksaan, Rika mengingat dirinya waktu dulu yang di ancam oleh Sean.


"Diam kau!" pekik Rika saat Sean baru membuka mulutnya untuk berbicara. Ana dan James hanya bisa memandang ke duanya yang berdebat tidak ada habisnya.


"Kami memang merestui mereka. Tapi aku ada sarat, dan kau tidak bisa membantah!" tegas Rika pada Sean. Biasanya orang lain yang menurut pada Sean, sekarang justru dirinya di buat menurut dengan Rika.


"Aku tidak mau mereka dalam keadaan terpaksa meskipun mereka saling suka, aku juga ingin melihat bagaimana perjuangan putramu mendapatkan putriku. Aku ingin mereka mengambil keputusan tanpa ikut campur kita, biar mereka menulis kisahnya sendiri." Rika benar-benar menyikapinya dengan sangat.


Memang benar apa yang di katakan oleh Rika, biarkan mereka mengukir kisah mereka sendiri. Walaupun dengan sikap mereka yang memang jarang sekali menunjukkan keakuran, tetapi pasti mereka akan bersatu dengan cara mereka sendiri.


"Aku setuju dengan ucapan Rika, sayang. Biarkan mereka mengukir bagaimana kisah mereka. Pasti akan banyak cerita yang mereka lalui." Ana menyetujui ucapan Rika.


"Benar, Tuan. Biarkan mereka dengan kisah sendiri, kita hanya bisa mendukungnya saja. Kita lihat saja perkembangan mereka," timpal James.


"Kau kalah, jadi kau harus menurut. Satu banding tiga." Rika terlihat sangat puas bisa membuat Sean diam terbungkam.


"Baiklah-baiklah, aku ikut apa kata kalian saja." Sean terdengar pasrah di sana. Sean juga memikirkan ucapan dari Rika yang ada benarnya juga.


Wajar jika Sean ingin segera melangsungkan acara


pertunangan dari putranya, karena memang dirinya juga tidak pernah berurusan dengan wanita sebelumnya. la pun juga tidak menyangkah jika tiba-tiba saja waktu itu mami dan papinya meminta dirinya menikahi Ana, tetapi dia tidak keberatan. Justru dirinya bisa bahagia setelah bersama Ana.


"Kau tidak boleh terburu-buru, Sean. Biarkan Julian dengan caranya sendiri, Julian beda dengan Jennifer." Ana mencoba memberikan pengertian pada Sean. Memang tidak bisa memaksa anak-anak sesuai dengan kehendak mereka.

__ADS_1


"Baiklah, sayang. Aku akan serahkan semuanya pada Julian. Jennifer, dia bisa melanjutkan kisah mereka dengan sendiri. Aku tidak memaksa untuk mereka segera menikah." Sean bisa sangat menurut dengan ucapan Ana. Ana membujuknya dengan lembut, dia juga tidak pernah di buat marah oleh Ana.


Hanya Ana yang bisa membuatnya menurut, kalau saja di sana tidak ada Ana mungkin dirinya masih mengotot berdebat dengan Rika tidak ada hentinya. Ternyata Julian sama persis dengan Sean yang tidak mau mengalah, yang membedakan mereka hanya sifatya saja. Julian memiliki sifat sangat tengil membuatnya berbanding terbalik dengan sifat Sean.


"Akhirnya aku bisa membuatmu tidak berkutik." Rika senang sekali di sana. Akhirnya Sean yang di takuti oleh banyak orang itu tidak bisa berkutik saat ini.


Rika dan Sean juga seperti musuh bebuyutan, Rika yang bar-bar dan Sean yang suka memaksa ataupun mengancam membuat Rika tidak bisa diam. Sama halnya dengan Fany dan Julian, tetapi mereka seperti kucing dan tikus karena kejahilan Julian sedari dulu yang tidak pernah ada habisnya.


"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta semalam?" tanpa berbasa-basi Julian meminta laporan yang ia pintahkan semalam pada anak buahnya.


"Maaf, Tuan Muda. Kami belum mendapatkan yang sesuai, kata Tuan Robert, berliau yang akan mengurusnya dan memberikan sendiri pada Tuan Muda," jelas anak buahnya.


"Beritahu dia untuk secepatnya," pinta Julian lagi.


"Baik, Tuan Muda. Kami akan memberitahukan pada Tuan Robert." Dengan membungkukkan sedikit badannya, ia pun berjalan pergi meninggalkan Julian sendiri di sana.


"Kau tidak ke kampus?"


"Tentu saja aku ke kampus. Jam sudah usai, aku memutuskan untuk ke sini." Jennifer mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Ada apa? Sepertinya ada hal yang serius?" Jennifer bertanya setelah melihat wajah Julian yang sepertinya terlihat serius.


"Aku akan memberitahumu, tapi kau jangan beritahu Papi dan Mami."


Jawaban Julian membuat Jennifer mengerutkan alisnya karena merasa penasaran. " Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Hmm...." Julian berdehem sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bukan masalah yang berat. Hanya saja saat ini ada yang mencoba mengintaiku dan keluarga yang lainnya. Dan lebih konyolnya lagi, dia memberitahuku sendiri kalau dia adalah musuhku." Julian tersenyum remeh mengingat bagaimana dengan terang-terangan musuhnya mengatakannya.


"Maksudmu, orang yang sudah mengintai kita adalah orang yang juga memberitahukan dirinya kalau dia musuhmu?"


"Yups... kau benar sekali, Kakak. Tapi aku masih mencari tahu sebenarnya," jawab Julian membenarkan ucapan Jennifer.


"Waahh... musuhmu sangat bod*h kalau begitu. Bagaimana bisa dia memberitahumu secara terang-terangan?" Jennifer pun juga tidak habis pikir dengan musuh yang baru saja muncul itu dan memberitahu sendiri identitasnya.


"Sepertinya dia harus belajar padaku." Julian menyombongkan dirinya sendiri di hadapan sang kakak.


"Kalau dia belajar denganmu mungkin kebod* hannya bertambah dua kali lipat," ledek Jennifer padanya.


"Kau jangan salah, Kak. Justru dia akan semakin pintar, tidak menunjukkan kebod*hannya seperti itu padaku," elak Julian membela dirinya sendiri.


"Aku mengiyakan saja dengan ucapanmu itu." Dari pada harus berdebat dengan Julian, lebih baik jika Jennifer mengalah dan mengiyakan saja.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada orang itu? Apa kau akan menangkapnya langsung?" sambung Jennifer.


Julian menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak."


"Aku ingin mengikuti permainannya dulu, biarkan dia mengira kalau aku tidak tahu apa-apa. kita lihat saja sampai mana kebod*hannya itu."


"Oke... tapi kau juga harus hati-hati. Jangan sampai kau kecolongan." Jennifer mencoba memberitahu Julian agar fokus pada musuh yang tengah mengintainya saat ini.


"Kau tenang saja, kau juga harus berhati-hati di mana pun berada. Kapan pun dan di mana pun kita berada pasti ada saja yang mengincar." Mereka saling mengingatkan satu sama lain. Meskipun mereka jarang akur, tetapi mereka juga saling menunjukkan kasih sayangnya masing-masing.


Setelah berbincang cukup serius, tidak lama Julian menunjukkan sifatnya yang menjengkelkan itu. Jennifer memilih untuk pergi dan latihan dari pada harus melihat Julian yang sangat menjengkelkan.

__ADS_1


__ADS_2