Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 315


__ADS_3

Hari yang terkihat begitu cerah, Julian menuruni tangga dengan bersenandung. Suasana hatinya kali ini sedang baik, pantas saja dia bersenandung. Bukan seperti kemarin-kemarin yang tiba-tiba menjadi sadboy.


"Kenapa sepi sekali?" ia celingukan mencari ke kanan dan ke kiri tidak ada yang terlihat di mension. Semua orang sibuk dengan kesibukan masing-masing.


"Helloow...," teriak Julian menggema. Heran sekali dengan tingkah lakunya, di mension sendiri juga dia berteriak kencang.


"Ada apa. Tuan Muda?" salah satu maid menghampiri Julian dengan tergesa-gesa karena mendengar teriakan Julian.


"Hooh... tidak ada apa-apa. Aku hanya mengetes saja. Sepi sekali seperti tidak berpenghuni," celetuknya. Bahkan dia merasa tidak bersalah sama sekali, padahal maid di sana sudah terburu-buru mendatanginya. Takutnya jika Julian membutuhkan sesuatu, nyatanya zonk.


Beruntung sekali semua maid dan pekerja lainnya yang ada di mension begitu sabar menghadapi tingkah laku Julian.


"Ke mana semua orang?" sambung Julian.


"Nyonya dan nona pergi ke luar, kalau tuan katanya ada urusan," jelas maid itu pada Julia. Ia menganggukkan kepalanya paham. Semua orang di mension pasti akan sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Sementara di sisi lain ...


Gerald menemui Sean dnegan cepat untuk memberikan


apa yang sudah ia dapatkan. Dia benar-benar cepat mendapatkannya, hanya butuh waktu semalam, dan keesokannya ia langsung saja menemui Sean.


"Bagaimana, Son?"


Tanpa basa-basi, Gerald memberikan apa yang ia dapatkan. "Aku sudah mendapatkannya, Pi."


Nampak guratan senyum di wajah Sean melihat calon menantunya itu bisa mendapatkan apa yang di cari. Bahkan tidak membutuhkan waktu lama ia mendapatkannya. Mungkin saking semangatknya untuk segera menikahi putrinya atau bagaimana.


Waktu yang di berikan Sean masih tersisa banyak. Waktu yang di miliki tiga hari, tetapi dirinya bisa dengan waktu semalam saja.


"Kau terlihat sangat bersemangat. Apa kau benar-benar sudah tidak sabar?"

__ADS_1


"Emm... untuk apa berlama-lama, Pi. Lebih cepat lebih baik, mengulur waktu tidaklah baik," jawabnya dengan santai.


"Hahaha... kau benar-benar sudah tidak sabar, Son." Tawa Sean terdengar sangat keras mendengar jawaban dari calon menantunya yang sepertinya memang sudah benar-benar tidak sabar untuk menikahi putrinya. "Papi salut denganmu. Kau selalu mengerjakan sesuatu dengan cepat."


"Tapi, sebenarnya apa isi dari berkas itu, Pi? Kenapa Papi tidak mengambilnya sendiri, atau Julian?" tanyanya yang merasa masih penasaran apa isi dari berkas itu dan kenapa Sean tidak segera mengambilnya.


"Tadinya, Papi akan memberitahu soal ini pada Julian kalau sudah waktunya. Tapi, aku memberikan tugas itu padamu karena aku ingin melihat bagaimana usahamu untuk mendapatkan putri Papi, Son. Kau memang benar-benar bisa di andalkan," terang Sean.


Sean memutuskan untuk membuka wadah itu dan mengambil apa isi darinya. Gulungan kertas terlihat bukan dari kertas biasa. Gerald mengerutkan keningnya melihat isi di dalamnya.


"Itu gambaran apa, Pi?" tanyanya bingung. Berkasi itu tidak seperti surat pada umumnya, melainkan gambar seperti peta suatu kenegaraan.


"Ini adalah peta kekuasaan dari Kingdom, Son. Semua wilayah kekuasaan terdapat di sini. Beberapa ada yang mengincar ini karena di dalamnya terdapat harta tersimpan yang ternilai besar. Dan jika peta ini barada di musuh, kingdom akan terancam." jelas Sean.


Ternyata yang di ambil oleh Gerald merupakan peta besar dari kekuasaan Kingdom. Semua tertulis dan tergambar di sana, dari wilayah kecil sampai wilayah besar. Gerald masih sedikit bingung di sana.


"Lalu, bagaimana dengan kelompok itu?" tanya Gerald penasaran.


Sean menceritakan sedikit bagaimana dia juga pernah di khiantai oleh teman dekatnya sendiri yang sudah seperti saudara. Pasti itu sangat menyakitkam, orang-orang yang telah menyakiti kita bukanlah orang yang jauh, melainkan orang-orang terdekat sendiri.


"Bahkan anak buah yang kau lihat di sana sebagian besar berasal dari kingdom yang ikut dengannya." Kenyataan baru yang baru saja di ketahui oleh Gerald. Kalau saja itu Julian yang tahu, mungkin dia akan melakukan hal lebih dari pengebooman yang di lakukan oleh Gerald semalam.


"Dia tidak bisa menggunakan peta itu karena itu hanya salah satu yang dia ambil. Terdapat pisahan-pisahan dari peta itu. Itulah alasan Papi tidak mengambilnya dengan cepat, dia tidak akan bisa menggunakannya. Dan lagi, Papi tidak ingin melihat wajahnya lagi."


Beruntungnya jika Sean membagi peta besar itu menjadi beberapa bagian untuk menghindari apa yang tidak di inginkan. Kalau saja itu tidak dia lakukan, pasti kingdom sudah berada di tangan orang lain. Belum tentu juga jika keluarga William juga masih ada sampai sekarang.


Sean mengenang sedikit kebersamaan yang dia lakukan oleh salah satu teman dekatnya itu, hingga akhirnya pengkhianatan yang ia dapatkan. Gerald hanya mendengarkan penjelasan Sean tidak berniat sedikit pun memotong pembicaraan. Dari awal dia memasang telinganya dengan baik.


"Bagaimana dia bsia membawa peta dan orang-orang dari sini?" Gerald benar-benar merasa penasaran.


"Entah bagaimana dia melakukannya. Sepertinya dia sudah merencanakan sejak lama. Anak-anak buah di sini juga tidak menyangkah jika dia akan melakukan pengkhianatan." Sekuat-kuatnya kelompok Sean juga ternyata masih bisa kecolongan. Orang-orang terdekat memanglah musuh yang sebenarnya. Maka dari itu saat ini Sean berlaku lebih ketat lagi dengan anak-anak buahnya.

__ADS_1


Gerald tidak ingin bertanya lebih dalam lagi walau dia ingin tahu bagaimana yang sebenarnya. Lebih baik dia diam dari pada membuka luka lama dari kelompok Sean. Karena dia tahu bagaimana sakitnya jika di khianati oleh orang-orang terdekat sendiri.


"Harusnya memang ini adalah tugas Julian, Son. Tapi kau membuktikan pada Papi untuk bisa bersanding dengan putri Papi. Papi percayakan putri Papi padamu, Son." Akhirnya kata-kata yang di tunggu oleh Gerald terdengar.


"Pernikahan seperti apa yang kau inginkan, Son?" tanya Sean yang mengakhiri ceritanya. Lebih baik jika dia membahas yang lebih penting lagi.


"Aku hanya ingin mengabulkan pernikahan yang katakan oleh Jenni beberapa tahun lalu. Dia menginginkan pernikahan dengan konsep dunia bawah. Dan aku juga menginginkan resepsi di dua negara, Pi," jelas Gerald tanpa ragu. Dia sudah sangat yakin akan keputusannya. di


"Kau bisa lakukan, Son. Kita akan lakukan resepsi pernikahan itu di sini dan di negara asalmu." Sean menyetujui rencana dari Gerald. Buat apa lagi menunda-nunda jika semua sudah siap.


"Kapan rencananya kau akan melakukannya?" tanya Sean pada Gerald.


"Lebih cepat lebih baik," jawabnya singkat.


"Kita lakukan semuanya minggu depan. Papi juga akan memberitahu Daddy-mu mengenai hal ini," celetuk Sean. Yang menikah adalha putrinya, yang antusias besar adalah dirinya.


"Apa itu tidak terlalu cepat. Pi?"


"Kau tidak mau?" ucap Sean yang membuat Gerald menggeleng cepat.


"Bukan itu maksudku. Apa nanti Jenni juga akan menerima keputusan ini?" Gerald takut jika nanti Jennifer menolak karena sangat mendadak.


"Kau tenanglah, Son. Dia juga sebenarnya sudah memiliki persiapan. Papi yang akan mengurus persiapan di sini."


"Tidak, Pi. Biarkan aku yang menyiapkan semuanya. Aku akan meminta anak-anak buah Daddy untuk datang dan menyiapkan semua. Aku juga akan menanggung semua biaya pernikahan." Mereka berebut untuk mempersiapkan pernikahan yang akan di buat megah.


"Tidak. Dia juga putri Papi, jadi Papi yang akan


menyiapkannya." Sean tidak mau kalah. Begitulah jika keluarga sultan jika di satukan.


"Emm... begini saja. Kalau begitu, kita bagi saja, Pi. Aku yang akan membiayai pernikahan di Amerika." Gerald mengusulkan rencananya dari pada nanti akan berdebat lama dengan Sean.

__ADS_1


"Baiklah, Papi setuju. Semua akan di persiapkan." Mereka akhirnya sepakat untuk ini. Keputusan sudah bulat jika pernikahan mereka akan di gelar di dua negara dan akan di laksanakan minggu depan.


__ADS_2