Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 49 Rencana Sean


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Bagaimana yang aku perintahkan kemarin, James? Apa kau sudah melakukannya?" Tanya Sean pada sang asisten.


"Sudah tuan. Saya sudah melakukan sesuai dengan yang tuan lakukan. Saham yang tersisa tinggal 20 persen yang dia miliki. Tidak lama lagi, perusahaan itu akan gulung tikar." Terang James.


"Apa saya harus melakukannya sekarang, tuan?" Sambung James lagi.


"Kau lakukan setelah perintahku nanti. Undang mereka ke kediamanku mala mini. Aku akan memberikan kejutan pada mereka semua." Perintah Sean.


Sean tidak mau berlama-lama lagi untuk menghancurkan keluarga paman dan bibi Ana. Sudah cukup Ana di hina seperti kemarin, jika dirinya yang di hina tak masalah. Tapi, jika orang-orang sudah menyentuh Ana ataupun Diva, Sean akan bertindak cepat.


"Aku ingin tau, bagaimana nanti reaksi mereka." Sean tersenyum jahat.


"Tapi tuan, kenapa perusahaan itu tidak anda balik saja dengan nama nyonya?" Tanya James mengenai rencana Sean.


"Tidak perlu. Aku sendiri yang akan memberikan lebih pada Ana. Aku tidak memerlukan perusahaan itu." Jawab Sean dengan tegasnya.


"Jika aku membalikkan nama atas nama Ana, aku yakin jika Ana akan menyuruh keluarga bibinya yang mengelola. Dan aku tidak mau itu, aku ingin mereka menerima ganjaran yang setimpal buat mereka. Mereka memang menampung Ana selama ini, tapi mereka tidak pernah memperlakukan Ana dengan baik." Sambung Sean dengan panjang lebar kali ini. James tidak percaya jika itu Sean yang berbicara.


Yang dikatakan oleh Sean memang ada benarnya. Jika saja perusahaan itu di balik nama atas nama Ana, pasti keluarga paman dan bibinya yang mengelola perusahaan itu lagi. Ana pasti tidak akan membiarkan paman dan bibinya begitu saja.


James mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sean barusan.


"Mereka sudah menghina Ana dan mengatakan yang tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka merasakan kesenangan. Bahkan mereka mengatakan jika aku om-om simpanan Ana." Keluh Sean. sepertinya dia sedikit curhat pada James.


"Tapi... bukankah memang anda juga seorang om-om, tuan?" Timpal James. Sepertinya, dia menyerahkan dirinya pada kandang singa.


"Apa kau bilang? Kau membela mereka?" Ucap Sean meninggi.


"Aku tidak membela mereka tuan. Tapi kan memang itu juga kenyataannya. Anda juga seorang om-om yang memiliki keponakan." Jawab James dengan santainya.


Sean melempar bolpoin kearah James, untung saja James cepat mengelak.


"Bukan itu yang aku maksud, bodoh." Sungut Sean sedikit kesal dengan James.


"Lalu, yang bagaimana tuan?" James sepertinya suka sekali membuat Sean kesal saat ini.


"Sudah diamlah. Lanjutkan pekerjaanmu." Ketus Sean padanya.


"Kau urus yang di sini. Aku ingin ke markas dulu." Sambung Sean dan mengambil jas miliknya yang terdampar di kursi kebesarannya.


"Jangan lupa apa yang aku perintahkan tadi."


Sean melenggang pergi meninggalkan perusahaan miliknya menuju markas dengan kecepatan diatas rata-rata.


Markas Kingdom...


"Selamat datang, tuan." Sambut anak buah Sean yang berjaga di sana. "Hmm..." Sean menjawabnya dengan deheman lalu bergegas masuk ke dalam.


"Apa ada pergerakan yang mencurigakan?" Tanya Sean pada orang kepercayaannya, Riko.


"Ada beberapa pergerakan di luar sana tuan. Sepertinya, mereka memantau anda dan nyonya." Jawab Riko.


Sean menaikkan sebelah alisnya. "Sepertinya, mereka adalah musush bebuyutan anda tuan." Sambung Riko lagi.


"Mau apa mereka?" Gumam Sean.


"Kau pantau terus pergerakan mereka semua. Aku serahkan pimpinan di sini padamu untuk sementara. Aku tidak bisa bermain-main dengan nyawa seseorang saat ini sampai Ana melahirkan nanti." Titah Sean.


Setelah memeriksakan Ana waktu itu, mami Sean memberikan banyak wejangan padanya. Terutama yang berhubungan dengan dunia bawah Sean, mami Sean melarangnya untuk bermain-main dengan nyawa seseorang sampai Ana melahirkan nanti.


Untung saja Sean seorang anak yang penurut, meskipun sikapnya itu dingin seperti kutub utara.


Sean melangkahkan kakinya menuju ruang latihan yang khusus untuknya. Hari ini dia berniat untuk berlatih di markas.


Ana turun dari kamarnya menuju kearah dapur. Di sana banyak sekali para maid yang memasak. Seperti ada acara besar-besaran.


"Tumben sekali kalian masak banyak sekali? Apa ada acara?" Tanya Ana penasaran.

__ADS_1


"Eh nyonya... tuan tadi bilang jika nanti malam akan ada tamu. Kami di suruh oleh tuan menyiapkan hidangan makan malam." Jelas salah satu maid di sana.


"Tamu? Kenapa dia tidak memberitahuku?" Gumam Ana pelan.


"Memangnya siapa tamunya?" Tanya Ana lagi.


"Kami kurang tau, nyonya. Tuan hanya mengatakan jika ada tamu dan memerintahkan untuk menyiapkan hidangan." Jelasnya lagi.


"Emm... ya sudah. Kalian lanjutkan saja." Ucap Ana padanya.


Tidak lama kemudian, Sean tiba di mension. Ana


menyambut kedatangan suaminya itu dengan wajah


bahagianya.


"Kau sudah pulang?" Sambut Ana.


"Kau bawa apa?" Tanya ana melihat paper bag yang di bawa oleh Sean.


"Aku membawakan baju untukmu. Pakailah, nanti kita akan kedatangan tamu spesial." Ujar Sean.


"Tamu spesial? Siapa yang akan datang?" Tanya Ana penasaran sedari tadi.


"Apa semua keluargamu akan datang kesini?" Sean menggelengkan kepala.


"Teman bisnismu?" Tanya Ana lagi. Sean kembali menggelengkan kepala.


"Teman bisnismu?" Tanya Ana lagi. Sean kembali menggelengkan kepala.


"Lalu siapa...?" sungut Ana kesal karena Sean menggelengkan kepalanya sejak tadi.


"Nanti kau akan tau. Berdandanlah yang cantik." Ucapnya dengan santai.


"Diva mana?" Tanya Sean tidak melihat Diva. Biasanya dia selalu ada di mana-mana.


Malam harinya...


Hidangan yang berada di mension Sean sudah terjejer rapi di sana.


Tidak lama kemudian, tamu yang di maksud oleh Sean datang. Mereka adalah keluarga bibi dari Ana. Maid membukakan pintu untuknya masuk.


"Selamat datang tuan, nyonya." Sambut maid di sana. Maid tersebut membawa mereka ke ruang tamu terlebih dahulu.


Mereka semua melongo melihat desain interior di mension sean.


"Waahh... papa, ini rumah atau istana?" Kagum bibi Ana. Lita tak kalah terkagum-kagum melihatnya, bahkan saat dirinya kerumah Andi pun, tidak semegah dan sebesar ini.


"Waw... bahkan rumah Andi saja kalah besar dari rumah ini. Aku jadi ingin sekali tinggal di sini." Ungkap Lita dengan mulutnya yang tidak bisa berhenti mengagumi.


"Jelas saja orangnya kaya. Apa kalian lupa, dia yang memiliki perusahaan terbesar di Eropa ini. Dia juga yang menawarkan perusahaan papa untuk bekerja sama." Sahut papa dari Lita.


"Kita beruntung pa, bisa bekerja sama dengannya." Imbuh bibi Ana.


Mereka terkagum-kagum dan merasa bangga saat ini. Bisa bekerja sama dengan Sean, bisa datang ke kediaman pribadi dari Sean. Padahal, nasib mereka sedang berada di ujung tanduk.


"Kalian sudah datang rupanya." Suara Sean terdengar.


Mereka semua menoleh kearah sumber suara. Lita sedikit terkejut melihat Sean, karena ia pernah bertemu sekali waktu di mall.


"Selamat datang di kediaman saya tuan dan nyonya." Sambut Sean. Sean sengaja untuk turun ke bawah terlebih dahulu tidak bersama Ana.


Sean terlihat sangat ramah saat ini, padahal di balik keramahannya terdapat jiwa iblis yang bersembunyi.


Tidak lupa juga ada James di sana. Sedari tadi, mereka berdiam diri di ruang bekerja untuk menunggu kedatangan keluarga bibi Ana dan menyiapkan beberapa kejutan.


'Bukankah orang ini adalah orang aku temui waktu di mall bersama Ana?' ucap Litaa dalam hati.


Lita terdiam dan bersikap pura-pura tidak pernah melihat Sean kali ini. Ia bersikap seperti biasa saja. 'Suara ini, seperti aku pernah mendengarnya' batin bibi Ana kali ini.

__ADS_1


"Terima kasih atas sambutannya, tuan. Suatu kehormatan bisa datang ke kediaman pribadi anda." Ucap paman Ana menjabat tangan sean.


"Apa kalian sudah lama menunggu?" Tanya Sean berbasa-basi.


"Tidak, tuan. Kami baru saja datang." Jawab paman Ana.


"James, bawa mereka keruang makan. Kita akan makan malam bersama." Sean memerintahkan James untuk membawa mereka.


Sean berjalan terlebih dahulu, lalu di ikuti dengan mereka semua.


"Silahkan duduk." Sean mempersilahkan mereka semua untuk duduk. Tidak lupa juga dengan James yang berada di sebelah kanan Sean.


"Aku dengar, kalian mempunyai keponakan. Dimana dia sekarang? kenapa tidak kalian ajak sekali?" Tanya Sean yang sebenarnya penuh sindiran.


"Buat apa anda mencarinya, tuan. Dia tidak pantas jika ikut. Dia adalah seorang pencuri, sia-sia kami merawatnya." Jawab bibi Ana dengan menjelek-jelekkan Ana.


Sean hanya menggut-manggut mendengar jawaban dari bibi Ana.


"Bagaimana anda bisa tau kalau kami mempunyai keponakan, tuan?" Tanya bibi Ana.


"Hahaha.... Apa yang tidak saya ketahui nyonya. Saya tau semuanya."


"Tidak sulit untuk saya mengetahui semua tentang klienku." Sambung Sean.


"Apa kau mengundang kami kesini hanya untuk kesombonganmu itu, tuan?" Kali ini Lita yang berbicara. Sean beralih menatap tajam pada Lita.


"Lita, jaga bicaramu." Ucap papa Lita.


"Maaf tuan atas kelancangan anak saya." Ucap papa Lita yang merasa tidak enak hati pada Sean, la mencoba bersikap baik di depan Sean. Jika tidak, bisa-bisa semua kerja samanya sean mencabutnya.


"Tidak apa, tuan. Santai saja." Jawab Sean dengan menyembunyikan tanduknya.


"Sebenarnya, aku mengundang kalian kesini untuk menunjukkan sesuatu." Ucap Sean yang membuat mereka penasaran.


"Sesuatu? Memangnya ada apa, tuan?" Tanya papa Lita.


"James kau ambil semua berkas yang ada. Dan panggilkan nyonya dan Diva ke sini." Perintah Sean pada James.


James segera mengundurkan diri mengambil berkas yang di perlukan dan memanggil Ana sesuai perintah dari Sean.


"Memangnya ada apa, tuan? Sepertinya sangat serius?" Tanya papa Lita kembali dengan perasaan yang sedikit merasa tidak enak.


"Kalian akan tau nanti." Jawab Sean penuh dengan


tanda tanya.


Sesaat kemudian, Diva dan Ana turun menuju ruang makan di ikuti James yang berada di belakang.


Ana berdandan natural dan memakai dress selutut


yang di belikan oleh Sean tadi sore. Ana belum tahu jika


keluarga bibinya berada di mension saat ini.


"Halo uncle..." Sapa Diva dengan rambut yang di kuncir kuda oleh Ana.


"Kemarilah." Panggil Sean pada Ana.


Keluarga paman dan bibi Ana terlihat sangat terkejut melihat Ana mendekat kearah Sean.


"Ana..." ucap mereka bersamaan. Ana yang mendengar namanya di sebut itupun menoleh kearah sumber suara.


"Paman, bibi, kakak?" gumam Ana. Ana juga tak kalah terkejut melihat kedatangan mereka kali ini.


"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" Tiba-tiba saja Lita berdiri dari tempat duduknya melihat Ana.


"Lita, jaga sikapmu." Paman Ana mencoba menarik tangan Yuna agar duduk kembali. Jangan sampai Lita meninggalkan kesan buruk di mata Sean


"Jaga sikapmu, nona. Apa kau lupa berada dimana kau sekarang." Ujar Sean tegas. Lita pun terduduk kembali setelah melihat sorot mata tajam Sean.

__ADS_1


__ADS_2