Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 91


__ADS_3

"Julian sama mami aja ya." Bujuk Ana agar nanti mereka tidak bertengkar jika dua-duanya ikut dengan Sean. Akhir-akhir ini mereka memang sering sekali bertengkar atau berebut sesuatu.


Sean mengajak jennifer ke ruang kerjanya dulu yang di penuhi dengan banyak-banyak buku.


Sean mengambil satu buku bergambar untuk Jennifer, sepertinya itu buku dongeng yang tersimpan di sana.


Sean mendudukkan dirinya di sofa, sedangkan Jennifer duduk anteng di pangkuan sang papi. Sean mulai membuka buku bergambar itu dan di saksikan oleh Jennifer. Ia melihat-lihat buku yang di bawakan oleh sang papi.


"Apa Jenni ingin menggambar lagi?" Jennifer menggelengkan kepalanya. Sepertinya ia tertarik melihat lembaran-lembaran buku itu dari pada menggambar.


"Papi bacakan untuk Jenni, oke. Jenni dengarkan papi bercerita." Sambung Sean. Jennifer menuruti perintah sang papi, ia berdiam menyimak apa yang di ceritakan oleh sang papi.


Sean bercerita dengan perlahan-lahan agar Jennifer dapat memahaminya. Buku yang di ambil Sean ternyata adalah buku dongeng milik Diva dulu. Buku itu menceritakan seorang putri yang hidup di lingkungan istananya.


Jennifer sangat anteng di sana, matanya mulai terasa berat mendengar setiap dongeng yang di bacakan oleh sang papi.


"Apa Jenni mengantuk?" Sean melihat kedua mata Jennifer yang sudah mulai menyipit. Ia mengucek kedua matanya yang sudah terasa berat.


Sean meletakkan buku yang ia bawa lalu menggendong tubuh kecil itu untuk di tidurkan. Sean menepuk-nepuk punggung Jennifer pelan agar dirinya cepat tertidur.


Tidak membutuhkan waktu lama, Jennifer tertidur di gendongan sang papi dengan lelapnya.


Sean membawanya kkeluar untuk menuju kamarnya yang ia tempati saat dirirnya berada di mension utama dulu.


Sean meletakkan tubuh Jennifer dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun. "Kau akan menjadi anak yang kuat Jen." Sean mengelus lemput pucuk kepala putrinya lalu mencium sejenak kening Jennifer.


Jennifer sudah sangat lelap dalam tidurnya, ia tidak terusik sedikitpun.


Pagi harinya...


Semua orang yang ada di mension sedang sarapan. Julian dan Jennifer di letakkan di kursi khusus untuk mereka.


Ana memberikan biscuit terlebih dulu untuk Julian dan Jennifer agar mereka tenang, sedangkan dirinya menyiapkan makanan di piring Sean.


Julian membuang miliknya dan merebut biscuit yang ada di tangan Jennifer dengan paksa.


"Aaa.... mamii... maamiii... Hiks... hikss." Teriaknya lalu menangis karena biscuit miliknya di rebut oleh Julian. Julian tanpa rasa berdosanya memakan biscuit milik Jennifer.

__ADS_1


Semakin hari kejahilan Julian sepertinya menjadi-jadi. Padahal sang mami sudah memberi mereka masing-masing satu, tapi Julian masih saja ingin merebut milik sang kakak. Padahal rasanya juga di berikan yang sama.


“Ijul lagi, ljul lagi...." Sepertinya Diva merasa kesal degan kenakalan Julian.


Jennifer menangis karena ulah Julian. Sean beranjak dari duduknya dan mengambil alih Jennifer ke dalam pangkuannya.


Sean mengelap air mata yang menetes dari putri Sean mencoba menenangkan tangisan Jennifer.


Jennifer terdiam tapi bibirnya masih melengkung ke bawah, matanya terlihat sembab.


"Juul... tidak boleh nakal dengan kakaknya, yah." Ucap Ana mengelus kepala Julian. Tidak mungkin jika Ana berucap panjang lebar. Mereka juga belum bisa memahami.


Sean menyuapkan makanan di hadapannya pada Jennifer yang ada di pangkuannya. Jennifer menerima suapan dari sang papi tanpa penolakan.


Ana yang mencoba menyuapi makanan untuk Julian di tDivak. Julian menggelengkan kepalanya tidak mau makan.


"Apa Jul mau makan sendiri?" Ana meletakkan


mangkuk kecil berisi bubur itu di hadapan Julian.


Pipi kanan dan kirinya penuh dengan bubur miliknya.


Akhirnya keduanya bisa tenang setelah berdrama kecil-kecilan karena ulah Julian.


Sedangkan di sisi seberang...


Rika mendengus kesal karena sedari tadi ponselnya berbunyi, hingga dirinya tidak bisa menikmati sarapannya dengan nikmat.


"Astagaa... orang ini kenapa sih?" kesal Rika melihat siapa yang menghubunginya.


Mau tidak mau dirinya mengangkat ponselnya dari pada berbunyi tidak henti-hentinya.


"APAA...?" sentak Rika pada orang di sana.


"Hahaha... ini masih pagi, kenapa kau ngegas seperti itu?" tawa orang itu terdengar dari sana. Siapa lagi kalau bukan James.


la suka sekali mengganggu pagi Rika.

__ADS_1


"Kau juga, apa kau tidak sarapan? Menggangguku saja." Ketusnya memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan sedikit kesal.


"Ini aku lagi sarapan sendiri. Makanya aku menelfonmu, agar suasana sedikit berbeda." Jawab James.


Rika tersenyum sendiri mendengar jawaban dari James. Padahal, baru saja dia berkata ngegas. Mungkin bisa-bisa sampai delapan oktaf suaranya.


"Jangan menggombal. Ini masih pagi, nanti kau tersedak." Jawabnya sedikit ketus. Padahal dirinya sedang tersenyum di hadapan makanan miliknya.


"Aku tidak menggombal." Jawabnya di seberang sana.


"Aaahh... sudahlah. Habiskan dulu makanan milikmu, nanti keburu telat." Ucap Rika langsung saja memutuskan panggilan telfonnya secara sepihak dan melanjutkan sarapan paginya.


"Laahh... kenapa buru-buru sekali dia mematikan ponselnya? Padahal aku ingin bilang jika aku akan menjemputnya." Ucap James memandang ponselnya.


la mengedikkan kedua bahunya lalu melanjutkan makan pagi nya.


Jam sudah menunjukkan waktu menjelang siang hari, Ana bergegas menjemput Diva. Tidak lupa jika dirinya di antarkan oleh supir.


"Jenni dan adek di rumah dulu sama grandma dan grandpa ya. Mami jemput kaka Diva dulu, nanti mami bawakan oleh-oleh." Ana mencoba membujuk twin J. Ana takut jika nanti mereka bertengkar dan tidak bisa di bujuk nanti.


Ana segera bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil, untung saja mereka menurut dan tidak rewel saat Ana tinggal. Justru, Jenni melambaikan tangannya saat Ana pergi.


Sedangkan di sisi seberang...


"Kau jalankan perintahku. Kalian ikuti mobil wanita itu dan bawa wanita dan anak kecil itu ke mari. Kita akan bawa dia pergi jika jet sudah tiba di sini." Perintahnya pada anak buahnya.


"Baik, tuan." Beberapa anak buahnya berjalan keluar dari sana dan menjalankan apa yang di perintahkan oleh Sean.


"Hahaha.... Kali ini kau pasti akan aku kalahkan, Johnson." Ucap Leon dengan menunjukkan seringai jahatnya.


Mobil yang di tumpangi Ana itu pun akhirnya sudah sampai di sekolah Diva. Ana turun dari mobil dan menjemput Diva ke dalam lingkup sekolah.


Pergerakan Ana saat di sana telah di awasi oleh beberapa orang dari dalam mobil yang terparkir sedikit jauh dari sana. "Apa itu orangnya?" tanya salah satu di antara mereka.


"Yaa... itu orangnya. Kita tunggu sebentar lagi." Ucapnya.


Tak lama kemudian, Ana keluar bersama Diva. Mereka langsung saja masuk ke dalam mobil tanpa berlama-lama disana.

__ADS_1


__ADS_2