Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 271


__ADS_3

"Hahaha... yang kau lihat?" apa aku terlihat seperti mereka-mereka


"Tidak tahu. Aku tidak mengenal laki-laki sebelumnya!" jawabnya singkat. Dia tidak pernah mengenal laki-laki sebelumnya, tetapi dia mengatakan semua laki-laki sama saja. Entah bagaimana konsepnya saat ini.


"Waahh... aku merasa beruntung jika aku laki-laki pertama yang bisa kau kenal." Gerald merasa dirinya spesal saat ini.


"Tidak juga." Jawab Jennifer yang mematahkan bayangan Gerald saat ini.


Gerald melihat ke arah Jennifer dengan wajah yang sedikit berbeda. "Memangnya ada laki-laki yang pernah kau kenal sebelum aku?"


Jennifer mengangguk begitu saja. "Siapa dia? Aku ingin menghajarnya karena dia lebih beruntung dari pada aku."


Jennifer kembali memandang sinis di sana."


Memangnya kau berani?"


"Tentu saja aku berani. Tidak ada yang perlu aku takutkan," jawabnya dengan sedikit menggebu-nggebu.


Jennifer kembali memincingkan bibirnya di sana. Katakan padaku siapa dia? Aku sangat penasaran bagaimana orang itu?"


Jennifer manaikkan sebelah alisnya. "Memangnya apa yang akan kau lakukan?"


"Tentu saja aku akan memberikan sedikit pelajaran untuknya. Cepat katakan padaku siapa orang itu!"


"Apa kau yakin?" Jennifer kembali menaikkan sebelah alisnya.


"Aku sangat-sangat yakin. Cepat katakan padaku." Gerald benar-benar menggebu ingin tahu siapa orang yang di maksud oleh Jennifer.


"Tidak penting. Sebaiknya kita pulabg. Hari sudah sangat siang." Jennifer beranjak dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu.


"Babe... kau belum mengatakannya padaku." Gerald mengejar Jennifer yang sduah melangkah lebih dulu.


Gerald mencekal tangan Jennifer, langkahnya seketika terhenti karena Gerald. "Ada apa?"


"Kau benar tidak ingin mengatakan siapa itu? Benar


dia laki-laki pertama yang kau kenal?" Gerald nampaknya


cemburu kali ini.


"Kau benar-benar ingin mengetahuinya?" Gerald mengangguk mengiyakan. Sedikit sesak di dada sebenarnya, tetapi dia mencoba menahannya dan ingin tahu siapa orang itu.

__ADS_1


Jennifer menarik napas panjang di sana. "Sebelum aku mengenalmu, aku mengenal laki-laki yang setiap hari dekat denganku. Dia juga menjagaku setiap waktu."


Gerald mencoba menahan terlebih dahulu perasaannya, ia masih menunggu Jennifer menjawabnya dengan jelas. "Siapa orang itu?"


Wajahnya terlihat benar-benar berbeda kali ini.


Entah apa yang ia rasakan kali ini.


"Papi dan Julian...." Jawaban yang tidak terkira yang Gerald dengar.


"Hah?" Gerald nampaknya tidak connect dengan apa yang di katakan oleh Jennifer.


Jennifer memutar ke dua matanya. "Kau ingin tahu


bukan siapa orang itu? Aku sudah menjawabnya."


Gerald masih mencoba mencerna jawaban dari Jennifer. Ia memejamkan ke dua matanya di sana, sudah susah hati ia menahan perasaannya, dan ternyata jawabannya di luar ekspektasi. Jennifer melihat perubahan ekspresi Gerald dalam sekejap.


"Apa kau yakin kau ingin menghajarnya? Kau tidak takut, kan?" Jennifer membalikkan ucapan Gerald.


"Tidak. Lupakan saja. Sebaiknya kita pulang," jawabnya pasrah di sana. Mereka melanjutkan langkah kaki mereka.


Kalau saja itu Julian, mungkin Gerald sudah emosi terlebih dahulu. Berhubung dia adalah Jennifer, ia menahan kekesalannya.


Setelah mengantar Fany ke rumah, Julian langsung saja bergegas ke markasnya. Dia tidak pernah absen datang ke markas, bahkan dirinya lebih banyak waktu di markas dari pada di mension. Ia melepaskan helmnya dan segera masuk ke markas.


"Di mana Robert?" Julian bertanya pada anak buahnya yang ada di sana.


"Tuan Robert belum datang, Tuan Muda. Mungkin beliau ada kesibukan yang tidak bisa di tinggal," jawabnya dengan jujur. Julian menganggukkan kepalanya faham dengan apa yang di katakan anak buahnya.


Julian memutuskan untuk ke ruang pribadinya yang ada di sana. Di ruangannya terdapat komputer berjejer di sana, komputer-komputer itu miliknya seorang. Julian menyalakan komputer-komputer yang ada di depannya.


Jari-jarinya berseluncur di atas keyboard hingga terdengar bunyi-bunyi dari keyboard di tengah-tengah sepinya ruangan itu.


Tok... tok... tok...


Ketukan pintu terdengar, nampak salah satu dari anak buah Julian di sana. "Saya, Tuan?"


Julian mendongakkan kepalanya saat terdengar suara dari anak buahnya. "Iya, kemarilah." Anak buahnya pun mendekat ke arahnya, sepertinya ada sesuatu yang penting.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

__ADS_1


"Ada. Banyak sekali yang harus kau bantu," jawab Julian.


"Kenapa wajahmu seperti tertekan seperti itu? Belum juga aku memintamu mengerjakan tugas dariku." Julian mencoba menggoda anak buahnya di sana.


"Eeeh ... tidak, Tuan. Saya tidak merasa tertekan atau keberatan." Anak buahnya sedikit salah tingkah mendengar. Bisa-bisanya Julian berkata seperti itu, kalau tidak julid sepertinya hari-harinya hambar.


"Coba kau selidiki orang yang tengah berbicara padaku saat di perpustakaan tadi," pinta Julian padanya.


"Baik, Tuan,"


"Apa kau tahu siapa orang tadi?" Anak buahnya pun menggeleng dengan polosnya. Tentu saja kalau anak buahnya tidak tahu, sedari tadi ia berjaga di markas. Entah kenapa terkadang Julian bertanya dengan randomnya.


"Lalu, bagaimana kau menemukannya nanti?"


"Tidak sulit untuk kami mencarinya, Tuan," jawabnya dengan penuh kepercayaan diri.


"Baiklah, aku menungu hasil kerjamu. Aku harap kau bisa dengan cepat mendapatkannya." Anak buahnya itu pun menunduk lalu keluar meninggalkan ruangan Julian. Julian kembali fokus pada komputer yang ada di depannya.


Julian tidak pernah meminta pekerjaan dari para anak buahnya dengan terburu-buru kecuali dalam keadaan mendesak. Jadi, mereka mengerjakan tugas tanpa terbebani, hasil yang mereka peroleh juga pasti tidak pernah mengecewakan. Meski pun tanpa di minta oleh Julian, mereka sudah melakukannya dengan cepat.


Malam hari...


Julian masih setia berada di markasnya, ia memang jarang sekali di mension. Tengah malam pulang, nanti siangnya kembali lagi ke markas, untung saja Ana tidak memintanya tinggal saja di markas sekalian. Saat ini dirinya sedang termenung, entah apa yang ia pikirkan hingga membuatnya termenung.


Robert yang baru datang itu melambaikan tangannya di depan wajah Julian, tetapi Julian tidak ada respon sama sekali. Hal itu membuat Robert sedikit bingung padanya, tidak seperti biasanya Julian seperti itu.


"Anak ini kenapa?" Robert kembali melambaikan tangannya di depan wajah Julian. Namun lagi-lagi tidak ada respon dari Julian.


"Apa ada yang salah dengannya?" Robert kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai apa yang terjadi pada Julian.


"Sepertinya dia sedang tidak beres," gumamnya lagi karena Julian masih diam saja.


"Wooyy...!" sentak Robert dengan keras. Sekertika Julian tersadar karena sentakan dari Robert yang cukup keras di telinganya.


"Apa kau ingin aku gantung dengan posisi terbalik!?"


sengal Julian pada Robert. la cukup terkejut dengan suara Robert.


"Sepertinya kau baru saja di rasuki arwah penasaran. Kau tiba-tiba saja diam termenung lalu marah-marah." Jawaban Robert membuatnya membulatkan ke dua matanya.


"Jangan asal bicara kau!" Julian yang teringat sesuatu itu pun melangkahkan kakinya pergi dari sana dan menuju ke ruang pengendali. Robert hanya mengikuti langkah Julian dari belakang. la menemui anank buahnya untuk menanyakan sesuatu penting untuknya.

__ADS_1


__ADS_2