
Jennifer berjalan dengan santainya untuk menyusuri setiap jalur yang ada di dalamnya, banyak jalur buntu yang ia temukan. Namun Jennifer tetap tenang dan melanjutkan langkahnya. Banyak juga pengunjung lainnya yang berada di sana juga untuk mencari jalan keluar.
Beberapa menit telah berlalu, Jennifer masih berada di jalan buntu. "Ternyata tidak mudah juga." Jennifer menghembuskan nafasnya kasar.
"Akhirnya aku menemukanmu, Babe." Di peluknya tubuh Jennifer dari arah belakang.
Jennifer menoleh ke arah belakang dan melihat seseorang yang tengah memeluknya. "Bagaimana bisa kau dengan cepat menemukanku?"
"Apa kau lupa siapa aku? Aku pasti akan bisa menemukanmu di mana pun kau berada. Tidak sulit untuk diriku menemukanmu," jawabnya dengan sedikit menggombal.
"Kau pintar sekali menggombal seperti itu,"
"Emm... aku tidak menggombal. Aku berbicara sesuai fakta." Gerald mengecup singkat pucuk kepala Jennifer yang berdiri di depannya.
"Hentikan, banyak yang melihatnya," ucap Jennifer sedikit malu saat ada orang yang melintas di sana.
"Aku tidak peduli dengan orang-orang. Biarkan mereka tahu kalau kau hanya milikku," jawabnya dengan tersenyum.
"Sudah hentikan. Lebih baik kita segera keluar dari sini," ajak Jennifer.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan keluar. Di ikuti oleh pengunjung lainnya juga mencari jalan keluar. Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka yang berada di taman labirin itu bisa berhasil keluar dari jalur yang membuat kepala pusing.
Jennifer dan Gerald menuju ke taman lainnya yang belum mereka kunjungi. Mereka melewati jalan setapak berganti ke Seoul garden. Persis seperti di Korea, terdapat halaman dan paviliun ala-ala di Korea.
Jennifer memandang sekeliling dengan takjub, terlihat sangat asri dan kental akan budaya asal Korea." Kau suka, Babe?"
"Suka, sangat sangat suka," jawab Jennifer singkat.
"Lain kali aku akan membawamu ke sana langsung," ujar Gerald.
"Ke sana ke mana?"
"Tentu saja ke negara aslinya,"
__ADS_1
Gerald melihat kalau pandangan Jennifer memandang ke arah lain di sana. "Kau sedang melihat apa, Babe? Sampai-sampai pandanganmu itu tidak bisa di alihkan."
"Aaahh... lihatlah dua orang di depan sana." Jennifer menunjuk ke arah yang ia lihat. Gerald mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Jennifer padanya.
Di lihatnya dua orang yang sedang asik berjalan-jalan dengan di selingi canda tawa di antara ke duanya. Gerald tersenyum tipis melihat keduanya yang terlihat sedikit tenang, tidak seperti biasanya yang selalu ribut dan saling adu gengsi.
"Biarkan saja mereka, sebaiknya kita menjauh dari mereka. Biarkan mereka menikmati waktu berdua dan memahami perasaan masing-masing. Mereka berdua masih terlalu gengsi, biarkan mereka terbiasa seperti ini," ujar Gerald.
"Kau benar, Babe. Mereka berdua mengedepankan gengsi, yang satu sudah mengklaim miliknya yang satu masih tidak tahu perasaan yang sebenarnya." Jennifer mengangguk menyetujui ucapan Gerald.
"Ayo kita pindah sebelum mereka melihat kita," ajak Gerald pergi ke tempat yang lainnya.
Siapa lagi yang mereka maksud kalau bukan Julian dan Fany, tidak sengaja jika Jennifer melihat Julian berada di sana. Mereka berdua memutuskan pergi menjauh sebelum Julian melihat mereka. Keduanya sengaja menjauh dari Julian dan Fany agar kedua orang itu terbiasa dan memahami perasaan masing-masing.
Fany terlihat sekali jika dirinya snagat senang berada di sana, dirinya juga sedikit bercanda dengan Julian. Sepertinya sedikit demi sedikit dia mulai terbuka dengan Julian, tidak seperti biasanya jika dirinya selalu berbicara ngegas. Julian juga terlihat senang melihaFany senang di sana.
"Kau terlihat senang sekali," ujar Julian.
"Tentu saja aku senang, siapa juga yang tidak senang datang ke sini," jawabnya.
"A-aku kan memang bahagia selalu. Memangnya kau tidak pernah melihatnya!?" Fany sedikit sewot menjawabnya.
"Tidak." Julian menggelengkan kepalanya, "kau selalu uring-uringan."
"Aku tidak uring-uringan, bod*h," sengal Fany.
"Barusan itu apa kalau kau tidak uring-uringan?" baru juga mereka terlihat adem ayem, sudah kembali berdebat dan saling ngegas. Yang satu suka memancing emosi, dan yang satunya suka terpancing. Sepertinya mereka memang di ciptakan sedikit berbeda dari pasangan yang lainnya.
"Sekali-kali katakanlah kalau aku ini pintar," sambungnya sedikit menjengkelkan.
"Aku akan mengatakan sesuai yang kau minta kalau kau tidak membuat orang kesal," jawab Fany.
"Memangnya kapan aku membuat orang kesal? Aku tidak pernah melakukan apa-apa," ucap Julian dengan tampang polosnya.
__ADS_1
"Kau tidak pernah sadar dengan apa yang kau lakukan selama ini?" Julian menggeleng cepat, tak lupa dengan wajahnya yang di buat polos seperti tidak pernah melakukan apa-apa.
"Hah, berbicara denganmu memang tidak pernah ada habisnya. Kalau saja aku menceritakan bagaimana dirimu mungkin satu minggu juga tidak akan cukup," ujar Fany sedikit jengkel.
"Emm... coba saja kau ceritakan. Aku akan bersabar mendengarnya darimu, aku tertarik untuk mendengarnya ." Fany menoleh cepta ke arah Julian.
"Kau memang benar-benar ...,"
"Benar-benar tampan. Iyaa... aku tahu itu," potong Julian sebelum Fany menyelesaikan ucapannya.
"Terserah kau saja, aku ingin melanjutkan perjalananku." Fany sudah cukup lelah menghadapi Julian. Dia memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya menyusuri tempat yang ia kunjungi.
Julian menyusul langkah kaki Fany yang sudah melangkah terlebih dahulu. "Kau jangan terburu-buru, nanti kau bisa tersesat."
"Di mana Tuan Putri, kenapa tidak terlihat sama sekali sedari tadi?" bukannya menyahuti ucapan Julian, Fany bertanya keberadaan Jennifer di sana. Mungkin dirinya tidak mau salting lagi di hadapan Julian.
"Biarkan saja mereka berdua, biarkan mereka bersenang-senang. Kau juga sudah bersamaku, kenapa kau masih mencarinya?"
"Aku hampir stress kalau bersamamu," jawab Fany asal.
"Stress yang seperti apa? Sedari tadi kau juga bersenang-senang dan menyeretku...."
"Sudah diamlah. Kau terlalu banyak menjawab," potong Fany sebelum Julian menyelesaikan ucapannya. Sepertinya dia malu kalau saja Julian membicarakannya.
"Kau tidak perlu malu-malu seperti itu, aku tahu kalau kau juga sebenarnya memiliki rasa padaku," ujar Julian dengan sangat yakin di sana.
"Rasa apa yang kau maksud?" Fany mencoba untuk mengelak.
"Kau jangan suka berbohong, nanti kau timbul bisul," ujar Julian seadanya di sana.
"Aku tahu, selama aku pergi kemarin kau merasa sedih bukan. Bahkan kau galau akut," sambung Julian. Pipi Fany terlihat merona mendengar Julian mengatakan hal itu. Fany sudah menduganya jika hal ini akan terjadi. Fany hanya diam dan menyipitkan kedua matanya, dia merutuki dirinya sendiri di sana.
"Emm... emm...." Fany bingung apa yang akan ia katakan.
__ADS_1
"Kenapa kau am em am em seperti itu. Kau tidak perlu menutupinya, aku tahu semuanya. Kau juga berani sekali menggoda pria-pria selama aku pergi," sambung Julian dengan sedikit cemburu.
"Suka-suka hatiku melakukan apa saja. Memangnya kenapa? Tidak boleh?"