Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 59 Paket Coklat dan Jerapah


__ADS_3

"Waahh..." ucap Diva sangat senang melihat isi di dalamnya.


Diva pun mulai membuka kotak besar yang berada di bawah sendiri. Setelah kotak itu di buka, matanya berbinar lebar melihat apa isi dari kotak tersebut.


"Apa isinya Diva?" Tanya Ana penasaran.


"Ini coklat aunty... uncle benar-benar membelikan Diva coklat yang banyak." Jawab Diva dengan senangnya. Diva mengambil satu batang coklat yang ada di sana.


"Lalu... apa sebanyak ini semuanya coklat?" Tanya Ana bengong setelah memandang begitu banyak kotak Besar.


"Kenapa uncle mu kalau membeli tidak kira-kira Diva. Ini sangat banyak sekali." Gerutu Ana.


Paket dengan kotak-kotak besar itu adalah coklat pesanan Diva. Berbagai macam coklat Sean pesankan untuk keponakan kesanyangannya.


"Hahh.. jadi... apa yang di luar itu mereka membuat kandang untuk anak jerapah yang aunty minta." Ana menutup mulutnya dengan tangannya. Ia terkejut, karena Sean benar-benar menuruti apa yang ia minta kemarin.


"Sepertinya iya, aunty. Uncle kan tidak pernah bohong dengan ucapannya." Jawab Diva yang sudah memakan separuh coklat yang ia ambil tadi.


"Waah... pasti anak jerapah itu nanti sangat comel. Aunty mau naik dan berkeliling bersamanya nanti." Celetuk Ana. Mulut Diva seketika menganga lebar dengan ucapan sang aunty.


Apa katanya tadi? Naik berkeliling dengan anak jerapah? Bagaimana bisa? Pikir Diva. Ucapan Ana tidak pernah masuk akal. Pasti akan ada-ada saja yang di ucapkan.


"Aunty jangan aneh-aneh deh. Bisa-bisa mati itu anak jerapanya." Sungut Diva langsung saja pada Ana.


"Tidak mungkin Diva. Aunty kan badannya kurus tidak gemuk. Pasti anak jerapanya kuat lah bawa aunty keliling-keliling." Jawab Ana sambil nyengir kuda.


"Aunty tidak sadar. Perut aunty saja sebesar itu. Mana kuat itu anak jerapanya?" Diva sepertinya sudah habis kesabarannya menghadapi kerandoman Ana saat hamil.


Bayangkan saja, anak jerapa mau di ajak Ana berkeliling sambil dirinya naik diatasnya. Bisa-bisa anak jerapanya nangis dulu.


"Perut aunty besar kan ada adik kecil. Bukan gemuk." Jawab Ana.


"Sama saja aunty. Kasian nanti anak jerapanya." Kesal Diva sampai-sampai dirinya tidak jadi memakan coklatnya.


"Sudah Diva diam saja, habiskan itu coklatnya." Ketus Ana karena Diva selalu menjawab ucapannya.


"Aku suruh saja uncle mengembalikan anak jerapanya. Dari pada nanti dia mati tersiksa." Sahut Diva jerapa? Bagaimana bisa? Pikir Diva. Ucapan Ana tidak pernah masuk akal. Pasti akan ada-ada saja yang di ucapkan.


"Orang aunty nggak menyiksanya kok." Jawab Ana.


"Terserah aunty deh. Diva lelah." Jawab Diva. Ia pun melanjutkan makan coklatnya dengan perasaan sedikit dongkol karena berdebat dengan Ana. kata Diva, makan coklat lebih penting dari pada harus berdebat dengan Ana yang tidak pernah ada habisnya.

__ADS_1


Sore harinya...


Seperti biasa Sean akan pulang waktu sore hari. la duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu. Di letakkan tangannya di atas sandaran sofa dengan posisi merentang, matanya terpejam. Mungkin karena merasa lelah bekerja seharian.


"WAAHH..." Ana datang mencoba untuk mengagetkan Sean.


Sean membuka matanya dan hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa kau tidak kaget? Harusnya kau kaget tadi." Ketus Ana yang melihat ekspresi Sean tidak terkejut sama sekali.


Sean tersenyum manis di hadapan Ana. "Aku sudah terbiasa mendengar suara tembakan yang lebih keras, bagaimana aku bisa terkejut?" Jawab Sean.


"Kau itu kenapa tidak asik sekali. Tidak bisa apa membuat istrinya senang." Sungut Ana.


Sean memeluk tubuh Ana dari samping. "Apa seperti ini tidak membuatmu senang?" Sean meletakkan dagunya di pundak Ana.


Ana seketika tersenyum lebar dengan perlakuan manis Sean padanya."Bahkan ini lebih dari senang." Jawab Ana.


"Benarkah? Apa kau tidak bohong?"


"Benar. Kenapa aku harus bohong padamu?" Sean kembali menunjukkan senyum di wajahnya. Seketika rasa lelahnya hilang karena Ana berada di sisinya.


"Oh ya, suamikuuuu.... Apa kau tidak salah membelikan Diva coklat segitu banyaknya?" Tanya Ana yang mengingat banyaknya paket coklat yang tiba di mension hari ini.


"Bukan begitu, Sean. Aku khawatir nanti jika Diva terlalu banyak makan yang manis. Belum lagi ice cream yang ada di kulkas." Tutur Ana. Diva memang sepertinya sangat suka makan yang manis-manis.


"Tegur Diva jika makannya terlalu berlebihan."


"Lau.... Bangunan yang di luar itu? Untuk apa?" Tanya Ana yang ingin memastikan.


"Itu aku menyuruh pekerja untuk membuat kandang. Bukannya kau menginginkan anak jerapa, hmm?" Jawab Sean lembut.


"Benarkah? Akan ada anak jerapa di sini?" Sean mengangguk dengan tersenyum.


"Aiishh... pasti sangat comel sekali. Aku tidak sabar untuk menunggunya datang."


"Tapi, kapan datangnya?" Sambung Ana.


"Tidak akan lama. Setelah kandang itu jadi, anak jerapa itu akan tiba. Bisa saja aku mendatangkan sekarang, tapi kasihan nanti. dia belum ada tempat tinggal di sini." Jawab Sean.


"Aahhh... kau memang suamiku yang terbaik." Ana mencium seluruh wajah Sean karena saking bahagianya.

__ADS_1


Sean ikut merasakan bahagia melihat istrinya itu bahagia. Ana memang tidak pernah meminta barang-barang mahal dan branded, tapi yang di minta terkadang di luar nalar. Itu yang membuat Sean semakin menyukai kepribadian dari Ana. Ana beda dari yang lain.


"Aku senang sekali mendengarnya. Aku sudah tidak


Jika saja itu wanita lain yang menjadi istri Sean, mungkin barang-barang mahal dan branded sudah penuh di kamar mereka.


"sabar anak jerapa itu tiba di sini." Ucap Ana lagi.


"Andai saja jika ada alpaca. Pasti lebih menyenangkan lagi." Ujar Ana lagi.


"Apa kau menginginkannya?" Tanya Sean. Sean akan melakukan apa saja jika itu membuat sang istri senang.


"Aku pernah melihatnya di ponselku. Dia lucu sekali, tapi pasti harganya sangat mahal." Keluh Ana.


"Apa kau lupa siapa suamimu ini, hmm?"


"Iya aku tahu, tidak usah sombong deh. Jangan membuang-buang uangmu karena hal yang tidak penting ." Ketus Ana. Sean hanya bisa tersenyum karena ucapan Ana yang memang terkadang-kadang ngegas seperti itu.


"Aku tidak sombong, sayang. Selagi kau senang, aku juga sangat senang. Kau juga tidak pernah meminta apa-apa dariku." Jawab Sean.


"Memangnya aku meminta apa lagi darimu. Aku sudah memiliki semuanya, tas mahal, baju, perhiasan dan masih banyak lagi. Aku mempunyaimu saja sudah sangat bersyukur." Jawab Ana.


Sean mencium kening Ana dengan lembut. Ia merasa tersentuh dengan ucapan Ana. "Kau memang yang terbaik."


"Iya..iyaa... aku tau aku yang terbaik. Sudah sana bersihkan dirimu."


"Beri aku hadiah."


"Hadiah apa?" Ana menaikkan sebelah alisnya.


Sean menunjukkan pipinya, Ana yang faham itu pun langsung saja memberikan hadiah pada suaminya." Satunya lagi." Ujar Sean beralih menunjukkan pipi sebelahnya.


Ana memutar malas kedua matanya. Dan cup.. cup .. cup... Ana kembali mencium seluruh wajah Sean.


Hati Sean berbunga-bunga mendapat hadiah dari Ana.


"Sudah sana. Tunggu apa lagi?" Ana kembali menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak ada. Love you..." ucap Sean lalu bangkit dari duduknya. Ana tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu.


Ana merasa sangat bahagia bisa mendapatkan suami seperti Sean. Belum lagi dengan semua keluarga Sean yang menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


Kesendirian dan perlakuan buruk dari keluarga paman dan bibinya itu terbayarkan sudah setelah dirinya menikah dengan Sean. Semuanya terasa lengkap, bahkan sebentar lagi dia akan mempunyai dua orang anak sekaligus. Kebahagiaannya tidak bisa di gambarkan saat ini.


__ADS_2