
Acara tersebut mungkin bisa menjadi impian setiap wanita jika menikah dengan pasangannya. Semua orang yang berdatangan nampak takjub dengan pesta yang di gelar oleh keluarga William. Semua teman-teman Diva dan teman bisnis Sean ikut memeriahkan acara tersebut.
"Tuan, William. Selamat hari jadi pernikahan, dan selamat juga atas pernikahan keponakan anda." Ucapnya menjabat tangan Sean.
"Terima kasih sudah datang, Tuan. Silahkan nikmati jamuan yang tersedia," ucap Sean.
Sean kembali menyambut tamu-tamu yang datang di temani dengan Ana, tidak lupa juga Sean memperkenalkan Ana pada teman-temannya yang belum tahu. Diva masih berada di salah satu kamar yang ia tempati karena belum selesai untuk berias.
"Ana...!" teriak Abigail dan Clare bersamaan memanggil Ana. Ana menoleh ke sumber suara.
"Hai." Ana melambaikan tangannya dengan antusias meliah kedua temannya itu. Ia pun meminta izin pada Sean untuk berkumpul dengan teman-temannya. Sean mengizinkan Ana untuk bergabung dengan mereka berdua, sedangkan dirinya menyambut tamu-tamu yang lainnya.
Sedangkan di sisi Diva...
"Kenapa sepatu ini kecil sekali? Apa tidak ada yang lain?" ucap Diva melepaskan sepatu yang ia kenakan karena kekecilan di kakinya.
"Makanya kalau sebelum nikah itu diet, jangan serakah kalau makan," celetuk Fany di sana. Jennifer dan Fany berada di kamar yang di tempati Diva saat ini.
"Untuk apa aku diet? Makanan di luar sangat enak-enak, tidak baik kalau aku menyia-nyiakan. Lagian aku tidak terlalu gemuk, aku kan body goals," jawab Diva.
"Body goal apanya? Pipi aja seperti bapao China," ucap Fany lagi.
"Diam kau! Aku sumpal nanti mulutmu." Diva melototkan matanya pada Fany karena sudah mengatai dirinya seperti bapao China.
"Nona, cobalah ini. Sepertinya pas di kaki anda." Salah satu perias di sana memberikan sepatu pada Diva. Diva mencobanya dan ternyata ukurannya pas.
"Kakak, aku turun dulu dengan Fany. Mau beritahu Papi kalau persiapan sudah selesai," pamit Jennifer pada Diva.
"Oke," jawab Diva singkat. Fany dan Jennifer keluar terlebih dahulu, di saat mereka di ambang pintu, mereka berpapasan dengan Riko yang juga sudah selesai untuk bersiap dan menghampiri Diva. Jennifer dan Fany segera turun menuju aula yang di gunakan sebagai tempat acara dan memberitahukan pada sang papi.
"Kau sudah selesai?" tanya Riko. Penampilannya terlihat sangat cool dengan memakai setelan tuxedo bewarna putih berkombinasi dengan warna hitam yang cocok ia kenakan.
__ADS_1
"Sudah. Bagaimana dengan penampilanku? Aku cantik tidak?" Diva meletakkan kedua tangannya di piggang dengan berpose seperti model.
Riko melihat penampilan Diva dari atas sampai bawah. "Cantik."
"Ayo, sepertinya akan segera di mulai." Riko memberikan lengannya pada Diva. Diva pun menggaitkan tangannya pada lengan Riko. Keduanya pergi menuju aula yang di gunakan untuk pesat saat ini.
Kembali ke aula...
Jennifer dan Fany yang sudah berada di sana itupun memberitahukan pada Sean jika persiapan sudah selesai semua.
"Pi, semuanya sudah selesai. Sepertinya kak Diva sudah menuju ke sini," ujar Jennifer pada sang papi.
"Baiklah. Segera kita mulai acara ini," ucap Sean. Sean menuju ke arah panggung untuk berbicara sedikit pada para hadirin di sana.
Mc yang sudah berada di sana mempersilahkan Sean untuk berbicara sebentar. "Selamat malam semuanya." Semua orang menoleh ke arah Sean.
"Sebelumnya aku ucapkan banyak terima kasih pada kalian semua yang sudah bersedia hadir di acara keluarga kami yang sederhana ini." Para tamu undangan di sana menganga mendengar ucapan Sean jika acara tersebut sederhana. Padahal jika di hitung entah berapa biaya yang di keluarkan untuk acara megah itu. Jika acara mewah seperti itu di bilang sederhana, mewah yang seperti apa yang di bilang Sean, batin orang-orang di sana.
"Tanpa berlama-lama, mari kita sambut pengantin kita dan semoga semua yanga da di sini menikmati acara yang kita selenggarakan." Sean memberikan mic tadi kepada mc. Sean kembali turun dan menuju ke arah Ana.
Diva dan Riko mulai memasuki Aula yang sudah di sulap dengan sedemikian rupa, semua mata tertuju pada mempelai berdua yang berjalan ke singgasana mereka. Tepuk tangan dan bisik-bisik terdengar mengagumi kecantikan Diva dan Riko yang terlihat cool.
"Babe..." bisik Gerald didekat telinga Jennifer. Jennifer seketika menoleh ke arah sumber suara hingga ke dua bibir mereka saling bertemu. Gerald tersenyum lebar dengan apa yang terjadi di sana.
"Astaga! Mataku ternodai." Pekik Fany dengan menutup kedua matanya.
"Jangan di depan umum, nanti malu," sahut Thea yang ikut menghadiri acara tersebut.
Jennifer tersipu malu di sana, pipinya menunjukkan rona merah.
"Ayo kita pergi saja dari sini, dari pada kita jadi obat nyamuk." Thea menyeret tangan Fany untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Teman-temanmu aneh," ucap Gerald melihat kepergian mereka berdua.
"Mereka juga temanmu," jawab Jennifer.
"Apa Daddy tidak datang?" tanya Jennifer.
"Datang. Daddy sedang bersama Mommy, mungkin mereka sedang berkumpul dengan yang lain. Biarkan saja ," jawabnya.
The mengajak Fany untuk berpindah ikut bergabung dengan geng Julian, tentu di sana juga ada Robert yang ikut nimbrung sedari tadi.
"Kenapa kalian kemari?" tanya Julian.
"Kami tidak mau menjadi saksi buta di antara orang yang sedang bucin," jawab Thea dengan entengnya.
"Ya udah cari pasangan aja. Kalau mau bisa
denganku juga tidak apa-apa," sahut Marcus pada Thea. Thea hanya memandang aneh Marcus yang menyahuti ucapannya.
"Biar kau tidak terlihat jomblo," Julian ikut menimpali.
"Memangnya kau ada pasangan? Kau sendiri juga jomblo. Sebaiknya diam saja," jawab Thea.
"Sudah jangan bertengkar. Kita nikmati saja acaranya," sahut Robert yang mungkin cukup jengah melihat orang berdebat.
Acara pernikahan sedang berlangsung, semua para tamu undangan memberikan selamat dan berfoto bersama dengan kedua mempelai. Termasuk dengan teman-teman Diva yang juga hadir di sana.
Setelah satu demi acara sudah terlaksanakan, maka beralih dengan acara selanjutnya. Mc mulai berbicara di depan mic.
"Perhatian untuk semuanya. Sebelum kita memasuki acara inti, kita akan beralih ke acara selanjutnya. Acara pemotongan kue antara Tuan Sean dan juga Nyonya Ana. Untuk Tuan dan Nyonya saya persilahkan untuk naik ke atas," ucap mc.
Sean segera berdiri dan menjulurkan tangannya pada Ana. Ana tersenyum dan menerima uluran tangan Sean. Keduanya bergandengan ke atas dengan rona bahagia terlihat.
__ADS_1