Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 138 Season 2


__ADS_3

Mereka segera bangkit lalu mengeluarkan belati yang ia selipkan di pinggang mereka masing-masing. Kali ini mama Cindy tersenyum puas, ia mengira jika Jennifer akan terkalahkan kali ini.


Jennifer menghindar dari orang-orang itu.


Bugh...


Jennifer memukul tangan orang itu hingga belati yang ia bawah terjatuh. Orang itu pun mengumpat lalu melawan Jennifer dengan tangan kosong.


Bugh..


Bughh..


Jennifer menendang rahangnya hingga merintih kesakitan karena saking kuatnya tendangan Jennifer.


Salah satu dari mereka datang mendekat ingin menyerang Jennifer, Jennifer mengambil belati yang terjatuh tidak jauh dari kakinya lalu melemparkan pada orang yang mendekar ke arahnya.


Syuutt..


Jleepp...


Belati itu mendarat di paha orang tersebut. Cindy di sana melihatnya ngeri dengan darah yang mengalir dari orang itu. Baru kali ini dia melihat aksi yang seperti ini di depan matanya.


Orang itu pun mengerang ke sakitan karena belati yang tertancap di salah satu pahanya, Jennifer tersenyum remeh padanya.


Bugh...


Buugh...


Jennifer mendapat dua tendangan dari arah belakang, dia terjatuh karena dia sedikit lengah.


"**!*, merepotkan." Jennifer kembali berdiri lalu menyerang mereka dengan brutal kali ini.


Jennifer mengangkat kursi lalu memukul pada mereka tanpa ampun kali ini.


Bugh..


Bugh...


Jennifer memukulkan dengan keras, ia menggila karena dari mereka sudah membuatnya terjatuh. Mama Cindy dan Cindy hanya bisa membelalakkan matanya lebar-lebar. Dia tidak menyangka jika Jennifer bisa brutal.


Pelayan yang kebetulan melintas mendengar suara gaduh itu pun segera mengecek apa yang terjadi di sana hingga begitu gaduh. Pintu terbuka, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan membelalakkan matanya melihat perkelahian di sana. Ruangan itu pun juga sepert kepal pecah, ada sebagian barang hancur karena perkelahian itu. Dirinya pun berlari memanggil atasannya untuk melihat semua ini.


Jennifer terus melawan mereka tidak ada hentinya, dia yang melihat vas masih utuh itu pun melemparkan pada salah satu dari mereka hingga mengenai kepalanya.

__ADS_1


Darah keluar karena lemparan dari Jennifer.


Bugh..


Bugh..


Bugh..


Tiga tendangan di berikan Jennifer pada mereka masing-masing, mereka jatuh bersamaan karena Jennifer menendang tepat di dada mereka.


Melihat belati yang tergeletak, Jennifer kembali megambilnya dan menodongkan pada mereka.


"Jika kalian berani menyentuhku sedikit saja, maka aku tidak segan-segan mengirim mereka ke neraka." Ancamnya dengan nafassedikit terengah-engah.


Jennifer pun beralih menatap Cindy dan mamanya. la mendekat dengan membawa belati di tangannya. Cindy dan mamanya ketakutan melihat Jennifer datang mendekat.


"Sebaiknya kalian mencari tahu dulu siapa lawan yang akan kalian hadapi, jangan pernah bertindak konyol. Kalian memang benar-benar keluarga b*d*h." Sentaknya pada keduanya.


"Jangan harap jika putrimu itu bisa di terima di keluarga Johnson, jika itu terjadi, maka siap-siap kau sengsara di sana." Sambung Jennifer dengan tatapan tajamnya.


Salah satu dari mereka bangun dan ingin kembali menyerang Jennifer.


Syuutt...


Jennifer melemparkan belati itu pada orang tersebut mengenai tepat di jantungnya hingga orang itu langsung tergeletak.


"Bukankah aku sudah katakan, jika kalian berani menyentuhku maka nyawa kalian akan melayang sia-sia." Kelekarnya pada siapa saja di sana. Diam-diam Jennifer memfokuskan dirinya saat berhadapan dengan Cindy dan mamanya.


Tidak lama kemudian, manajer restoran dan beberapa karyawan datang ke sana. Mereka sangat terkejut, apa lagi ada salah satu dari mereka tergeletak dengan pisau tertancap.


Jennifer yang melihat akan hal itu memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"Mintalah pertanggung jawaban pada dua wanita itu, merekalah dalang di balik semua ini." Ucapnya pada pelayan dan atasan restoran itu.


Jennifer pergi dengan santainya membiarkan Cindy dan mamanya dalam hal rumit di sana. Senyum jahatnya terlihat di sepanjang perjalanannya.


"Tuan, ada laporan kalau ada kerusuhan di restoran siang ini." Ucapnya.


"Kerusuhan? Apa maksudmu?"


"Manajer di sana memberikan laporan jika terjadi perkelahian di salah satu ruang VIP. Satu perempuan dan tiga orang laki-laki. Satu dari mereka tewas dengan belati menancap tepat di jantungnya." Jelasnya dengan singkat.


Tidak lama kemudian, ponsel miliknya berdering menandakan jika ada panggilan telfon untuknya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu, tuan. Kami melaporkan jika nona muda menghajar beberapa orang di restoran, mereka semua adalah orang bayaran. Nona berhasil melumpuhkan mereka, salah satu dari mereka tewas." Lapor anak buahnya dari seberang sana.


Anak buahnya pun menceritakan semua yang terjadi di sana tanpa ada sedikitpun yang tersisa. Dia mendengarkan semua cerita itu hingga selesai. Tidak lama kemudian sambungan telfonnya ia matikan secara sepihak.


"Kita ke sana sekarang." Ajaknya pada sang asisten.


.


.


Mension Sean...


"Kau baru pulang Jen?" tanya sang mami melihat kedatangan Jennifer.


"Iya, mi. Tadi Jenni ada urusan sebentar di luar." Jawabnya.


"Yasudah, kau istirahat saja dulu." Pinta sang mami, Jennifer menuju kamarnya dan meletakkan tas sekolah miliknya.


Sedangkan di restoran....


Mereka yang ada di sana mengurus semua kekacauan dia sana, banyak pengunjung di sana memutuskan untuk segera kembali. Takut jika akan ada kerusuhan lagi yang terjadi. Banyak juga di antara mereka yang masih stay dan melihat apa yang sudah terjadi.


"Nyonya, anda harus bertanggung jawab dengan ini." Ucap manajer di sana padanya.


"Kenapa harus aku, anak itulah yang harus bertanggung jawab. Dialah yang sudah membuat kekacauan dan menewaskan orang itu." Tolaknya.


"Gadis tadi berkata jika kalianlah dalang di balik semua ini," tegas manajer itu.


"Apa kau percaya dengan ucapan anak ingusan itu?" sengalnya.


"Pokoknya kalian harus bertanggung jawab, karena hanya kalian yang ada di sini saat ini. Bukankah anda yang juga menyewa ruang ini?" manajer itu tetap mempertegas nya.


"Maa... bagaimana ini? Bagaimana kalau kita masuk penjara, Cindy tidak mau, ma." Rengek Nya pada sang mama. Itulah akibatnya jika sudah bermain-main dengan Jennifer. Mereka sendiri yang terkena masalah.


"Apa sebaiknya kita telfon papa?" sambungnya.


"Sekarang kalian ikut kami, kalian harus menjelaskan semua kekacauan ini. Kalian harus bisa bertanggung jawab dengan semuanya."


"Berani sekali kau? Apa kau tidak tahu siapa aku?" sombongnya pada manajer itu. Sudah berbuat salah tapi dia tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang di perbuat.


"Saya tidak peduli siapa anda, nyonya. Setinggi apapun jabatan anda dan bagaimanapun anda berpengaruh di kota ini, jika anda tidak bisa bertanggung jawab dengan semua ini tidak ada apa-apanya di mata orang-orang." Ternyata manajer di sana cukup tegas, dia tidak peduli dengan siapa yang ia hadapi saat ini meskipun mereka dari keluarga yang berpengaruh di kota sekalipun.


Tidak berselang lama, pemilik restoran itu pun sampai di sana. Ia langsung saja menuju ke ruangan di mana terjadi kekacauan di sana.

__ADS_1


__ADS_2