
"Aku dengar, kau berpacaran dengan Fany ya?" Julian mengangguk pelan di sana tanpa bersuara.
"Ck... ck... ck... sayang sekali orang setampan dirimu memiliki kekasih seperti Fany,"
"Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah untuk itu." Julian menanggapinya dengan sangat santai.
"Banyak sekali orang di luar sana yang cantik dan sangat cocok menjadi kekasihmu. Contohnya, terutama aku ini," ujarnya menunjuk dirinya sendiri dengan genit.
Julian memandang dengan ke dua alisnya menaut setelah mendengarkan ucapan orang tersebut. "Aaah... memang banyak yang mau denganmu. Tapi tidak dengan aku," ," celetuk Julian yang langsung membuat mahasiswi itu terdiam.
"Kenapa kau tidak mau denganku? Aku lebih cantik, lebih baik, lebih kalem. Kau aneh sekali bisa dengan Fany yang cerewet dan bar-bar seperti itu, mana genit lagi sama laki-laki. Kuat sekali ya telingamu mendengar ocehannya setiap hari," jawab orang itu dengan mengejek Fany. Beruntung jika Fany tidak ada di sana, kalau ada, pasti dia sudah di jambak habis-habisan oleh Fany.
"Dia memang bar-bar, cerewet dan genit. Tapi setidaknya dia tidak bermain dengan laki-laki sana-sani sepertimu!" celetuk Julian lagi. Ucapan Julian terdengar santai, tapi sangat menusuk di telinga.
Wanita itu melotokan ke dua matanya lebar-lebar di sana. Ia tidak menyangka jika Julian akan berkata seperti itu padanya. "Apa maksudmu? Aku tidak bermain dengan banyak pria. Mereka saja yang memang selalu mengejarku," elaknya membela diri sendiri.
"Tapi aku selalu mendengar kabar burung mengenai dirimu," jawab Julian. "Kau sepertinya percaya sekali dengan gosip-gosip
yang di bumbui banyak sekali bumbu. Padahal semua itu tidak benar." Wanita itu kembali mengelak membela dirinya sendiri.
Tanpa mendengar kabar dari orang lain mengenai wanita itu, Julian pun pasti juga sudah tahu mengingat siapa dirinya. Bisa jadi semua orang yang ada di sana Julian mengetahui seluk beluk masing-masing orang kampus. Julian hanya menanggapi wanita itu dengan santai, selagi wanita itu tidak menjelekkan Fany.
"Kalau kau bosan, kau bisa kok mencariku. Aku pasti bisa menjadi yang kau inginkan. Aku yakin kalau kau pasti tidak akan kuat dengan sikap bar-bar Fany itu." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya genit.
Julian melihatnya tanpa ekspresi apa pun. Sudah di biasa kalau Julian melihat wanita model seperti itu. Banyak sekali yang sudah Julian temui di luar sana.
Tiba-tiba saja...
"Aaarkh... lepaskan aku! Siapa yang melakukan ini! ?" teriak orang itu dengan kencang karena tiba-tiba saja ada yang menjambaknya dari arah belakang.
Julian membulatkan ke dua matanya saat tahu siapa pelakunya.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau ya! Apa yang kau bilang tadi, hah! Kau mengataiku cerewet, bar-bar dan genit? Kau tidak sadar siapa dirimu, hah?!" ucapnya dengan menggebu-nggebu.
Benar sekali jika itu Fany, ternyata sedari tadi Fany mendengar setiap ucapan salah satu mahasiswi itu. Tadinya dia ingin mendekat ke arah Julia, tetapi dia urungkan saat melihat ada salah satu mahasiswi yang mendekat ke arah Julian. Sedikit jauh Fany bersembunyi dan mendengarkan setiap ucapan itu.
"Aaarkh...lepaskan aku! Yang aku ucapkan itu benar. Kau memang bar-bar, cerewet dan genit. Tidak pantas sekali kau dengan Julian," celetuk orang itu.
"Kalau aku tidak pantas memangnya kau pantas, hah! Dasar!" Fany semakin menjambak rambut wanita itu. Wanita itu berteriak kesakitan, hingga pada akhirnya, wanita itu menjatuhkan buku yang dia bawa lalu membalas jambakan Fany.
Ke duanya melakukan aksi saling jambak, banyak dari mahasiswa di sana melihat ke duanya bertengkar. Banyak yang berteriak mendukung masing-masing ke dua kubu itu. Julian dengan cepat menarik Fany agar terlepas dari wanita itu.
"Lepaskan aku!" berontak Fany saat berhasil di tarik oleh Julian. Fany kembali menyerang wanita itu kembali dengan aksi jambak-jambakan. Lagi-lagi Julian harus menarik Fany dari jambakan itu.
Baru kali ini Julian menghadapi Fany yang tengah bergelud dengan wanita lain. "Awwaass kau ya!" ucap Fany pada wanita itu saat Julian membawanya pergi menjauh.
Wanita itu napasnya memuru dan terlihat kesal, rambutnya seperti singa tidak berbentuk. "Apa kalian?! Bubar!!" sengal wanita itu kesal. Dia sedikit malu dengan apa yang baru saja terjadi, belum lagi penampilan yang rapi kini menjadi acak-acakan.
"Huuuhh...." Banyak sekali orang-orang menyorakinya.
Wanita itu pun memunguti semua buku-bukunya yang berserakan di lantai. Ia mengambil buku-bukunya pun dengan sewot dan perasaan dongkol. "Dasar wanita itu benar-benar gila!" kesalnya.
Sementara di sisi lain ...
Fany memberontak agar tangannya terlepas dari genggaman Julian. Napas Fany memburu di sana, penampilan juga acak-acakan setelah aksi jambak itu. Julian membawa ke tempat yang tidak terlalu ramai di kampus.
"Kenapa kau melepaskanku tadi, hah!?" sengal Fany marah pada Julian.
"Apa, hah!? Kau pasti suka kan dengan wanita itu. Kau memang tidak ada bedanya dengan laki-laki di luar sana. Ada yang cantik sedikit matamu tidak isa di kondisikan." Belum juga Julian menjawab, Fany sudah kembali mengomel. Padahal dia dengan perempuan tadi juga tidak ada masalah.
"Aku...."
"Sudah diam saja kau! Tidak perlu banyak alasan!" sambung Fany lagi. Lagi-lagi Julian tidak mendapat kesempatan untuk berbicara.
__ADS_1
"Hmm... my honey bunny baby sweetie... kau bisa tidak dengarkan aku dulu," selah Julian karena tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Karena melihat Fany yang marah terus-terusan padanya, sampai-sampai semua panggilan di sebutkan di sana.
"Apa yang mau kau jelaskan!?" sengal Fany.
"Harusnya biarkan saja tadi biar aku menjambaknya sampai botak!?" imbuhnya. Fany benar-benar merasa kesal. Kesal karena dirinya di ejek di tambah lagi karena dirinya merasa cemburu.
"Kalau aku tidak melepaskanmu, kau juga nanti yang ikut botak bukan hanya wanita itu. Memangnya kau mau jika terlihat botak?" kata Julian.
"Paling itu juga hanya akal-akalanmu doang. Kau suka sekali sepertinya kalau dia mengejekku!?" Fany
tidak henti-hentinya marah pada Julian.
"Astaga, Honey. Tentu saja aku tidak suka orang lain mengejekmu, aku kan punya cara sendiri membalas ejekan orang itu padamu," cetus Julian membela dirinya.
"Cara apa? kau sedari tadi juga diam!" Fany memang sebelas du belas dengan Abigail, dia akan terus marah tanpa henti kalau belum puas.
Julian menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena frustasi, dia bingung bagaimana menjelaskannya. Memang hanya ke dua pasangan itu yang unik, jarang sekali romantis. Lebih banyak perdebatan yang terkadang tidak penting, tetapi ke duanya enjoy-enjoy saja.
"Kalau tahu begini, harusnya aku merekamnya biar kau mendengarnya sendiri," ujar Julian.
"Sudah tenang, oke. Lihatlah penampilanmu? Kalau saja aku tidak melepaskanmu pasti rambutmu botak, semua bajumu juga pasti sobek." Julian mencoba menenangkan Fany, dia juga membenarkan rambut Fany agar tidak berantakan seperti rambut Fany.
"Kau memuji atau mengejekku!" sengal Fany lagi. Lantaran ucapan Julian menenangkan dengan di selingi ejekan.
"Aku tidak pernah mengejekmu. Aku hanya berbicar sesuai fakta," jawabnya dengan jujur. Dirinya benar-benar jujur, kenapa juga tidka bisa berbohong sedikit saja. Sudah tahu Fany dalam mode singa, dirinya justru ikut menambahi.
Bugh...
Fany memukul perut Julian hingga dirinya merintih karena merasa pukulan Fany keras. "Kau memang tidak ada bedanya. Sudah pergi sana, biar aku rapikan sendiri.'
Fany berlalu pergi karena kesal dengan Julian. Dasar laki-laki! Tidak ada romantisnya malah mengejekku. Awas saja kau nanti," gerutu Fany di tengah-tengah perjalananannya.
__ADS_1
"Honey, kau mau ke mana!" teriak Julian dengan kencang tetapi tidak di gubris dengan Fany.
Julian memutuskan untuk mengejar Fany dari pada nanti Fany semakin marah dengannya. Bisa gawat kalau Fany marah besar padanya.