
Waktu menuju pernikahan semakin dekat. Jennifer dan Gerald pergi untuk mencoba gaun yang akan di kenakan nanti. Julian juga ikut bersama mereka, dia tentu saja mengajak Fany.
Kali ini dresscode yang mereka kenakan bewarna hitam karena tema dari pernikahan yang akan di gelar nanti sesuai yang di minta oleh Jennifer. Konsep yang terlihat beda dari kebanyakan konsep para sultan lainnya. Julian nampak protes dengan sikap Gerald yang terlihat posesif mengenai gaun yang akan di kenakan oleh Jennifer nanti.
"Kau ini kenapa? Kenapa kau meminta Kakakku bolak-balik berganti gaun? Kau kira tidak lelah apa?" protesnya.
"Aku tidak suka dengan model gaunnya, terlihat sangat terbuka," jawab Gerald.
Gerald menolak gaun yang di kenakan Jennifer saat ini karena memperlihatkan belahan dadanya. Tentu saja Gerald tidak mau jika itu di lihat oleh banyaknya tamu nanti. Belum lagi gaunnya tidak memiliki lengan, ia menolak sekali kulit putih mulus Jennifer tersekspos.
"Kau memangnya mau yang bagaimana? Semua gaun pasti begitu. Kenapa kau tidak merancang sendiri saja sedari awal!" Julian terlihat sewot sendiri di sana.
"Memangnya kenapa kalau dia memakai gaun itu? Gaun itu cocok untuknya, dia juga terlihat cantik. Kau tidak mau jika istrimu nanti terlihat cantik? Harusnya kau senang, seluruh dunia tahu bagaimana kecantikan istrimu itu," sambungnya. Dia lebih banyak berbicara saat ini.
"Kalau aku akan memberitahu dunia jika istriku sangat cantik," ujarnya lagi. Julian benar-benar tidak bisa diam.
"Carikan gaun yang memiliki lengan," pinta Gerald pada keryawan butik di sana. Sudah dua kali Jennifer berganti gaun tetapi tidak ada yang cocok di mata Gerald. Memang terlihat bagus setiap modelnya, tetapi Gerald tidak suka karena terlalu terbuka.
"Kau ribet sekali! Kalau kau mau semuanya tertutup kenapa kau tidak menikah dengan biarawati saja?" celetuk Julian pada Gerald. Ucapan Julian semakin lama tidak bisa di kondisikan. Namun Julian juga sedikit jengah, sebenarnya gaun bagaimana yang di inginkan oleh Gerald.
"Diam kau! Sebaiknya kau urus saja kekasihmu itu," sengal Gerald. Karena berdebat dengan Gerald hingga dirinya lupa dengan Fany di sana.
"Carikan gaun juga untuknya dengan warna yang sama," pinta Julian.
"Gaun untuk apa? Aku sudah menyiapkan dress untuk nanti, aku tidak mau ribet menggunakan gaun. Lagi pula aku sudah ada dress kembar dengan Thea, tidak mungkin aku memakainya ke duanya sekaligus," tolak Fany karena memang dia sudah menyiapkan dress selutut sebelumnya. Dress itu juga sama dengan milim Thea karena memang mereka berencana memakai baju yang serupa.
"Sudah ikut saja. Aku juga ingin melihatmu terlihat cantik. Aku ingin menunjukkan pada seisi dunia, kalau kau hanya milikku," jawabnya. Ada maksud tertentu yang di miliki oleh Julian saat ini, tetapi dia tidak memberitahu siapa pun.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau," tolaknya lagi. Dia tidak mau terlihat ribet nanti dengan gaun yang terlihat lebar dan berat pastinya.
"Kau ikuti saja, Fe. Dari pada dia nanti melirik orang lain," sahut Gerald yang ikut nimbrung percakapan mereka.
"Coba saja. Aku bisa mencokel matanya nanti." Bukannya takut melainkan Fany menunjukkan sisi bar-barnya di sana. Memangnya apa yang harus di takuti oleh seorang Fany, dia bisa saja membabat habis orang di depannya.
"Sudah ikut saja." Julian mendorong Fany untuk ikut keryawan butik untuk memilih dan mencoba gaun.
"Eeh... eh... eh...."
"Apa yang kau rencanakan?"
"Aku? Hehehe... kau akan tahu nanti." Julian hanya cengengesan menjawab pertanyaan Gerald.
"Kau kira aku tidak tahu dengan rencanamu!" Gerald tersenyum miring. Dia sudah tahu apa yang tengah di rencanakan oleh Julian di sana.
"Lalu kenapa kau masih bertanya padaku?" sambung Julian.
"Aku salut denganmu yang juga mengambil langkah cepat dan mempersiapkan semuanya dengan cepat. Semoga yang kau rencanakan berhasil dan tidak membuatnya syok," ucap Gerald dengan wajah seirus.
"Aku pastikan jika semuanya berjalan dengan lancar. Kau lihat saja nanti." Julian benar-benar yakin dengan rencana yang dia lakukan. Gerald hanya memanggutkan kepalanya, kepercayaan dirinya pada Julian lia puluh banding lima puluh. Namun kemungkinan besar pasti akan berhasil.
"Bagaimana dengan ini, Tuan?" karyawan itu membawa Jennifer keluar dengan gaun yang di kenakannya. Terlihat sangat bagus, bahkan gaun itu seperti di penuhi banyak berlian.
"Apa tidak ada lengan panjang?" protes Gerald lagi.
Julian memutar ke dua matanya malas mendengar Gerald yang terdengar cerewet. "Kau batalkan saja pernikahanmu kalau kau cerewet!"
__ADS_1
Julian kehilangan kesabaran melihat teman dekatnya itu benar-benar cerewet dengan gaun yang di kenakan oleh Jennifer.
"Maaf, Tuan. Tapi ini warna hitam terakhir yang ada," ujar karyawan itu dengan sopan. Gaun itu sudah lumayan tertutup, hanya tidak memiliki lengan. Bagian dada Jennifer juga sudah tertutup sempurna dari gaun itu.
"Kau memilih batal atau bagaimana? Lagian kau menikah mendadak banyak maunya!" Julian kali ini di buat benar-benar kesal.
Dengan pasrah Gerald memilih gaun yang terakhir itu dari pada dirinya batal menikah gara-gara gaun yang tidak cocok di pikirannya.
"Apa ini sudah cocok, Tuan Muda?" karyawan yang satunya membawa Fany keluar dengan gaunnya.
Julian melihat dari atas sampai bawah. "Bungkus." Tanpa protes Julian langsung setuju begitu saja. Julian sudah merasa cocok dengan gaun yang di kenakan oleh Fany.
Para karyawan menyiapkan gaun-gaun yang sudah di pilih. Gaun-gaun itu akan di kirim mereka waktu sore hari.
Hari-hari yang di tunggu telah tiba, di maan hari ini adalah hari pernikahan Jennifer dan Gerald akan di gelar. Pernikahan yang di gelar sungguh sangat mewah, dan tentunya dengan konsep yang di inginkan Jennifer. Menggunakan dekor bewarna hitam kombinasi merah, ternyata tema dark yang di pilih tidak seburuk itu.
Para tamu undangan bisa menggunakan dresscode merah atau hitam sesuai dengan warna yang di tentukan. Tentu di sana banyak dari anak buah Julian mengamankan acara, masing-masing mereka membawa pistol di tangannya. Para tamu undangan hanya mengira jika itu wujud dari tema yang di gunakan, tetapi senjata yang mereka bawa tentu senjata asli.
Sementara di ruang make up...
Jennifer tengah di rias oleh para MUA berpengalaman di sana. Keluarga William tidak akan menggunakan sembarangan MUA, pasti yang terbaik yang mereka pilih.
"Nona Fany?" sapa salah satu MUA pada Fany yang juga berada di sana menemani Jennifer. Dia juga akan di rias untuk hari ini.
"Mari ikut kami," ajaknya pada Fany. Fany tanpa protes mengikuti langkah perias tersebut.
Fany mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan cermin yang sudah tersedia make up lengkap di sana. Jari jemari mereka mulai merias wajah-wajah cantik dan mulus dari ke dua wanita yang akan menjadi ratu hari ini.
__ADS_1