
Keesokan harinya....
Mension terasa sangat sepi saat ini, karena suami dan anak-anak serta keponakannya sudah pergi dan menjalankan aktifitas mereka masing-masing.
Ana yang merasa bosan itu pun memutuskan untuk pergi keluar di antarkan oleh sang supir. Sean tidak akan membiarkan Ana pergi kemana-mana sendiri. Ana mengatakan tempat tujuannya pada supir pribadinya.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya Ana sampai di tempat yang ia katakan.
"Kau boleh kembali, biar nanti aku pulang dengan tuan." Ucap Ana pada sang supir. Ia pun melangkahkan kakinya keluar. Kedatangannya di sambut oleh orang-orang di sana. Ia terus berjalan dengan langkah lurus ke depan.
"Nyonya," ucapnya saat melihat kedatangan Ana di sana.
"Ada perlu apa, nyonya?" Tanyanya dengan sopan.
"Di mana orang-orang yang sudah membuat anakku terluka?" Garangnya.
"Kau pasti sudah tahu bukan?" Sengalnya Ana padanya.
"Apa nyonya ingin bertemu dengan mereka?"
"Tentu saja, enak saja mereka bisa tenang. Putraku terluka karenanya," Ana tidak bisa diam. Rasanya ia terus ingin mengomel saja.
Orang tersebut pun membawa Ana sesuai dengan apa yang di katakan olehnya. Jika tidak, mungkin dirinya akan kena semprot dengan Ana. Di mana lagi Ana sekarang jika bukan di markas.
Selagi tidak ada orang di rumah, dirinya memutuskan untuk pergi ke sana saja. Hitung-hitung buat mengisi waktu luangnya. Dan yang membawa Ana untuk bertemu dengan orang-orang yang di maksud adalah Riko.
Sesampainya di sana, ada dua ruang yang di gunakan di sana untuk menyekap. Sean memang sengaja untuk memisahkan mereka dalam ruang yang berbeda. Di sana keluarga Cindy berada, hanya saja tidak di gabungkan menjadi satu.
Ana memandang orang-orang itu secara bergantian.
"Hai, nyonya. Apa kau datang ke sini untuk melepaskan kami. Tolong lepaskan kami, kami sudah lama di sini. Tolong lepaskan aku, mamaku dan papaku." Ucapnya pada Ana.
"Kau siapa?" Tanya Ana di sana. Pertanyaannya sepertinya ada maksud tertentu.
__ADS_1
"Aku Cindy, nyonya. Tolong lepaskan kami, kami tidak bersalah nyonya." Rengeknya pada Ana.
"Kalau kalian tidak bersalah, kenapa kalian berada di sini? Apa kalian tersesat?" ujar Ana.
"Kami memang tidak bersalah, nyonya. Kami di sini di bawa paksa," ucapnya lagi.
"Benar, nyonya. Lepaskan kami, kami tidak bersalah. Kami di bawa paksa ke sini, aku percaya kau pasti wanita yang baik lemah lembut." Mama Cindy ikut mendekat ke pintu ruangan yang di gunakan itu.
"Ko, buka pintu ini." Ucap Ana pada Riko.
"Eehh... Haah... Apa anda yakin, nyonya? Bagaimana jika nanti tuan akan marah? Bisa-bisa kami akan di penggal olehnya." Ucap Riko terkejut dengan ucapan Ana yang menyuruhnya untuk membuka pintu itu.
"Sudah, turuti saja perintahku. Biar nanti aku yang mengurus tuanmu," jawab Ana. Riko bingung harus bagaimana. Di bimbang, antar mau menuruti Ana atau tidak. Jika tidak di turuti, dia akan kena semprot oleh Ana. Kalau di turuti, bisa-bisa Sean akan memenggal kepalanya dan semua orang di sana.
"Ayo, cepat buka." Ucap Ana lagi. Dengan ketar ketir Riko mendekat dan memasukkan kunci pada gembok tersebut.
"Mundur kalian," perintah Ana pada Cindy dan mamanya. Cindy dan mamanya tersenyum bahagia,
Cindy dan mamanya pun mundur sesuai dengan perintah yang di ucapkan oleh Ana.
Kleekk...
Setelah gembok itu terbuka, Riko membuka pintunya. Dengan lamgkah cepat Ana masuk ke dalam ruangan itu. Cindy dan mamanya pun bingung melihat Ana yang tiba-tiba saja masuk begitu saja.
"Tutup lagi pintunya." Perintahnya lagi pada Riko.
"Tapi, nyonya...."
"Sudah, cepat." Ana merasa kesal karena Riko sedikit lambat kali ini. Riko pun kembali menutup pintu itu.
"Kenapa anda ikut masuk ke dalam, nyonya? Bukankah anda akan membebaskan kami?" Sahut mama Cindy di sana.
Nafas Ana memburu di sana, "apa yang katakan? Aku akan membebaskan kalian? Jangan harap kalian bisa bebas dari sini, kalian sudah membuat anak-anakku celaka." Sarkas Ana lalu mendekat ke arah mama Cindy dan menjambak kuat.
__ADS_1
Riko dan anak-anak buah Sean yang ada di sana membelalakkan matanya lebar melihat nyonya mereka.
"Dasar kalian tidak tahu malu, tidak tahu diri. Apa kau kira aku akan tertipu oleh kalian, jangan harap untuk itu." Ucap Ana dengan tegas lalu membenturkan mama Cindy ke tembok.
Cindy pun juga tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Ana, ternyata dia salah memandang Ana yang terlihat kalem dan polos. Ternyata Ana juga bisa bersikap brutal.
"Mungkin aku bisa diam jika kalian menyentuhku, tapi aku tidak akan bisa diam jika kalian menyentuh anak-anakku. Kalian yang membuat anak-anakku dalam bahaya, hanya karena keinginan putri manjamu itu kalian bersikap konyol, hah?" Ana berkate dengan menggebu-nggebu. Ana membenturkan kepala mama Cindy berkali-kali ke tembok di sana.
"Nyonya, hentikan. Jangan siksa mamaku," teriak Cindy yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Papa Cindy yang berada di ruang berjarak 5 meter dari ruangan Cindy dan mamanya pun berteriak memerintahkan Ana melepaskan istrinya.
"Hentikan, jangan siksa istriku!" Teriaknya tapi tidak di indahkan oleh Ana. Taringnya sudah terlanjur keluar. Mungkin memang dirinya dulu terlalu pendiam, tapi untuk sekarang tidak. Ana tidak akan bisa diam jika ada yang menyentuh anak-anaknya.
Kening dari mama Cindy pun sampai mengeluarkan darah karena Ana tidak ada henti-hentinya membenturkan kepalanya.
"Apa, kau mau melawanku?" Ana benar-benar murka.
"Nyonya, lepaskan mamaku." Cindy mencoba menolong sang mama.
Bruugh...
Ana mendorong kuat Cindy hingga dirinya jatuh di sana. Ana benar-benar seperti induk singa kali ini.
Brruugh...
Ana pun mendorong mama Cindy hingga jatuh tersungkur dengan kuatnya di sana. Mama Cindy jatuh pingsan karena merasakan sakit di kepalanya akibat benturan-benturan dari Ana. Dan dengan teganya Ana langsung mendorong tubuhnya hingga pingsan. Cindy yang mengetahui sang mama langsung itu pun mendekat dan mencoba membangunkan.
"Ma, bangun, ma. Mama..." Cindy menepuk-nepuk pipi sang mama. Ana nafasnya memburu dan melihat kedua orang itu.
"Jika saja kau tidak seumuran anak-anakku, mungkin aku akan melakukan hal yang sama padamu." Ketus Ana lalu memerintahkan Riko membuka pintunya kembali. Ana pun berjalan keluar dari sana.
Ana ingat akan Julian dan Jennifer, maka dari itu dirinya tidak bisa melakukan hal yang sama seperti mamanya Cindy. Bagaimanapun dia masih memiliki sisi keibuan.
__ADS_1