
Tiga hari sudah Sean dan Ana berada di korea. Saat ini mereka berada di pulau Jeju, tepatnya berada di Hamdeok Beach.
Hamdeok Beach terletak di sisi utara pulau Jeju di Samudera Pasifik, tidak jauh dari bandara. Hamdeok Beach memiliki air yang jernih dan berwarna biru kehijauan, pantai berpasir terbersih dengan pasir putih dan keemasan menjadi ciri khas pantai tersebut. Tak heran jika pantai itu di namakan hawai Korea Selatan
Ana berjalan-jalan di atas pasir di pantai sana, suasana yang sangat tenang tidak terlalu ramai pengunjung itu membuat Sean tenang. "Apa kau tidak lelah, sedari tadi berjalan terus?"
"Tidak, aku sangat menikmati berjalan di atas pasir saat ini," Jawab Ana.
"Pantai ini sangat indah Sean. aku juga suka suasana di sini, tenang tidak terlalu ramai pengunjung," Ungkap Ana. Karena memang benar, di sana mempunyai suasana yang tenang, tidak terlalu ramai pengunjung. Di sepanjang pantainya juga terbentang bukit tinggi dari mana pemandangan pantai dan lautan bisa di saksikan secara bersamaan.
"Aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang lebih indah nanti," Kata Sean.
"Kau janji?" Sahut Ana mendengar ucapan Sean tadi.
"Aku janji, bahkan bisa leih indah dari ini." Jawab Sean. Ana selalu di buat tersenyum dengan ucapan Sean, ucapannya memang terdengar sederhana, tapi bagi Ana itu sudah sangat lebih. la yang pernah di khianati, sekarang di ratukan oleh Sean.
"Kau memang yang terbaik," Ana memeluk tubuh
Sean.
"Teruslah seperti ini, aku suka jika melihatmu senang," Jawab Sean melihat wajah bahagia dari Ana. Mereka melanjutkan berjalan-jalan di atas pasir, tidak lupa juga mereka saling kejar di tepian laut.
Tawa Ana terdengar riang, wajahnya sudah tidak pernah lagi menunjukkan kesedihan selama bersama Sean. "Kau jangan pernah bermain-main denganku, sayang. Sejauh dan secepat kau berlari, aku akan tetap bisa menangkapmu," Ucap Sean karena berhasil menangkap Ana saat ini.
"Kau curang, Sean," Pekik Ana.
"Tidak, aku tidak pernah berbuat curang," sahut Sean. "Harusnya kau mengejarku dengan berjalan saja, jangan berlari," Ketus Ana, karena lari Sean begitu cepat di banding dirinya.
"Hahaha... meskipun aku berjalan. Aku pasti bisa menangkapmu," Jawab Sean lagi. "Aahh... sudahlah, terserah kau saja. Aku lelah," ujar Ana. Mereka mencoba mencari tempat berteduh dan berhenti sejenak.
Mata tajam Sean terus memandang waspada di lingkungan sana. Tidak menutup kemungkinan jika ada salah satu musuhnya yang juga berada di sana. Ana mengibas-ibaskan tangannya untuk menghilangkan keringat di wajahnya.
__ADS_1
Tanpa di duga-duga, Sean melihat seorang musuh bebuyutannya saat ini. Orang itu pun melihat Sean yang sedang bersama Ana saat ini. Untung saja, saat ini Ana berada di depan Sean. Jadi wajah Ana belum terlihat jelas oleh orang itu.
Sean memandang orang tersebut yang tersenyum sinis padanya, sebisa mungkin Sean bersikap tenang saat ini. "Sean, aku ingin pergi ke sana," Ucap Ana.
"Tidak, kau tidak perlu kesana. Di sini saja," Sean langsung saja membelokkan wajah Ana untuk tidak menoleh kearah lain.
"Memangnya ada apa?" Ana bertanya-tanya kenapa tiba-tiba saja Sean melarangnya. Orang tersebut pun pergi dari sana dengan menunjukkan senyum jahatnya. Entah kenapa Sean harus bertemu dengan musuhnya di waktu seperti ini.
"Tidak apa. Kita kembali saja oke, tempat ini sedikit tidak aman buatmu," Ujar Sean yang mulai khawatir dengan keselamatan Ana.
"Memangya kenapa sih?" Sean langsung saja membawa Ana untuk kembali ke penginapan mereka yang ada di dekat sana.
Sesampainya di penginapan, Sean segera menghubungi anak buahnya untuk mengurus kepulangannya.
la berencana satu minggu berada di Korea, tapi untuk saat ini sepertinya itu tidak memungkinkan. la tidak mau terjadi apa-apa pada Ana. "Ana, cepat bereskan barang-barangmu. Kita akan pulang 1 jam lagi," Ucap Sean secara tiba-tiba.
"Kenapa kita pulang mendadak sekali? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ana bingung. Karena memang mendadak sekali Sean mengatakan hal itu.
Sean tidak mau jika ada hal buruk yang akan terjadi nanti, makanya dia buru-buru mengajak Ana pulang, "Tapi... aku merasa aka nada sesuatu. Apa itu benar ?" Ujar Ana yang sedikit merasa aneh pada Sean.
"Tidak ada Ana, sayaang. Tidak akan ada yang terjadi selama ada aku," Sean mencoba untuk meyakinkan Ana.
"Baiklah, aku akan bersiap dulu," Jawab Ana. la mencoba memahami bagaimana kesibukan sang suami yang memang benar-benar sangat sibuk itu.
"Bereskan yang penting saja, untuk sisanya biar anak buahku yang urus," Ana mengangguk faham dengan penuturan Sean.
Ana pun membereskan barang-barang miliknya dan milik Sean. Tidak lupa juga Sean ikut membantu agar lebih cepat Ana berkemas. Lebih cepat lebih baik. Di rasa semua sudah selesai, Sean segera mengajak Ana untuk pergi ke bandara. Jet pribadi milik Sean sudah menunggu di sana.
"Selamat datang, tuan," Ucap salah satu anak buah Sean. Sean hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
Tanpa berlama-lama, jet peribadi tersebut segera mengudara jauh meninggalkan Korea. Ana memandang pemandangan Korea melalui sela-sela jendela di sana.
__ADS_1
"Nanti kita pergi lagi, kita ajak Diva juga," Ucap Sean yang melihat Ana sedang memandangi kota dari atas.
Ana mengangguk dan tersenyum dengan perkataan Sean. Sedangkan di sisi tempat, di mana penginapan Sean dan Ana beberapa orang mencurigakan berdatangan ke sana. Mereka bertubuh kekar dan menyamar sebagai wisatawan yang berkunjung.
"Sepertinya, mereka sudah pergi dari sini," Ucap salah satu dari mereka.
"Kau benar, kita kalah cepat. Kita kembali dan laporkan hal ini pada boss," Sahutnya lalu meninggalkan tempat tersebut.
Mereka adalah anak buah dari musuh bebuyutan yang Sean lihat tadi. Mereka datang ke sana untuk mengintai Sean. Sayangnya, mereka sudah terlambat.
Untung saja Sean segera mengajak Ana pergi dari sana. Jika tidak, entah hal apa yang akan terjadi nanti. Mereka pun kembali ke tempat di mana boss nya berada saat ini.
"Lapor boss, mereka sudah pergi meninggalkan pulau ini. Tempat penginapan di dekat sana sudah sepi," Lapor anak buahnya saat baru saja tiba.
"Kalian boleh kembali," Ucap orang itu.
"Dia memang benar-benar cepat bertindak," Ucapnya kesal..
"Tapi... siapa wanita yang sedang bersamanya tadi? Bukankah dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun?" Orang itu kembali bergumam pada dirinya sendiri. Membutuhkan waktu berjam-jam mengudara, akhirnya Sean dan Ana sudah sampai di negara mereka.
Kedatangan Sean di sambut oleh anak buahnya yang sudah stand by di sana. Sean segera memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan dirinya ke mension, karena hari sudah malam.
30 menit kemudian, Sean sampai di mension miliknya. Mension sudah terlihat sangat sepi, karena mereka semua sudah berlabuh di pulau mimpi masing-masing.
Ana segera menuju kamar dan merebahkan dirinya di atas kasur karena merasakan lelah di perjalanan. Tak lama kemudian, Ana pun tidur dengan lelapnya.
Sedangkan Sean, ia masih sibuk berbincang dengan anak buahnya. "Lapor tuan, kami mendapat laporan jika setelah kepergian anda tadi, beberapa orang mencurigakan datang ke tempat penginapan anda," Jelas anak buahnya.
"Sudah aku duga, mereka pasti akan datang kesana."
"Kalian perketat penjagaan Ana dan lainnya. Mereka pasti akan bergerak lagi," perintah Sean. Setelah berbincang-bincang, Sean kembali ke kamar miliknya. Ia melihat jika Ana sudah tertidur dengan lelapnya.
__ADS_1
Sean pun segera merebahkan dirinya dan menyusul Ana ke pulau mimpi. Sean memeluk erat tubuh Ana, "Aku akan pastikan jika tidak ada yang bisa melukaimu," Gumam Sean lalu mengecup singkat kening Ana. Tanpa menunggu lama, Sean ikut terlelap.