Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 199


__ADS_3

"Tunggu...." ,"teriaknya karena Julian meninggalkannya. Ia pun segera mengambil tas miliknya dan segera pergi menyusul Julian pergi. Mereka naik ke atas motor sport masing-masing lalu pergi dari sana bersamaan.


Ada yang tahu yang bersama Julian sedari tadi? Dia adalah Robert, dia juga saat ini yang menjadi kaki tangan Julian. Mereka memang tumbuh bersama dan tidak bisa dipisahkan. Kaki tangan Julian yang lain? Tentu ada, Julian memiliki banyak kaki tangan di markas.


Yang sering bersama dengan Julian adalah Robert, untuk yang lainnya sudah mendapat tugas masing-masing dari Julian. Untuk Riko hanya datang sesekali ke sana jika di perlukan bersama Sean, Sean memberikan kekuasaaan penuh pada Julian.


Julian mencari Fany ke sana kemari tapi dia tidak menemukannya, ia celingukan ke kanan dan kiri untuk mencari Fany. Dia melanjutkan pencariannya di setiap tempat. Hingga pada akhirnya, ia menemukan Fany yang sedang asik bercengkrama dengan Richard di halaman kampus yang cukup luas.


Tidak perlu menunggu lama, Julian segera menghampiri keduanya. Julian langsung saja menarik tangan Fany untuk ikut bersamanya menjauh dan pergi dari Richard.


"Kau ini kenapa, sih?" sengal Fany yang terlihat sangat kesal di buatnya.


"Ikut denganku. Jauhi laki-laki itu!" tegasnya. Hal itu membuat Fany sangat kesal dan memberontak, setiap kali Julian selalu mengganggunya di manapun berada. Untuk sekarang, Julian memintanya untuk pergi bersamanya dan menjauh dari Richard.


"Memangnya siapa, kau? Siapa dirimu yang sudah meminta aku menjauh darinya? Kau tidak ada hak apa-apa!" akhirnya Fany meninggikan suaranya karena sudah sangat kesal dengan Julian.


"Laki-laki itu tidak baik. Kau bisa saja menjadi korban berikutnya," jawab Julian dengan tegas.


"Memangnya apa yang kau tahu, hah!" sentak Fany.


"Kau tahu, aku sangat kesal denganmu. Kau selalu saja menggangguku dan waktuku bersamanya, bukan hanya sekali dua kali, tapi hampir setiap hari. Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Dan sekarang kau memintaku untuk menjauhinya?" ungkap Fany panjang kali lebar.


"Ya... aku memintamu menjauhinya karena dia bukanlah laki-laki baik. Dia laki-laki hidung belang yang meniduri banyak wanita. Aku hanya tidak ingin jika kau menjadi korban berikutnya," jawab Julian dengan tegas.


"Kalau kau memang tidak suka dengannya, kau tidak perlu membuat cerita yang tidak-tidak. Apapun yang kau ucapkan aku tidak akan mempercayainya," ucap Fany yang tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Julian. Mungkin karena dirinya sudah cukup kesal dengan sikap jahil Julian, maka dari itu sekarang Fany tidak mau percaya dengan apa yang di katakan Julian, walau itu benar kenyataannya.


"Kalau kau memang kesal denganku tidak masalah, tapi jauhi dia mulai dari sekarang," pinta Julian kembali.


Fany menghela napasnya kasar dengan ucapan Julian. "Terserah apa yang kau katakan. Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, sebaiknya kau perbaiki saja sikapmu yang selalu membuat kesal itu."

__ADS_1


"Dan jangan ganggu aku lagi," sambungnya.


Setelah mengucapkan itu, Fany pergi dari hadapan Julian. Dia tidak perduli dengan apa yang di katakan Julian, Fany hanya menganggap jika itu hanya kejahilan dan sikap iri pada Julian. Padahal, apa yang di lakukan Julian saat ini adalah untuk melindunginya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan pada Fany.


Julian berdesis dan mengepalkan tangannya di arahkan ke udara, dia sudah mencoba memberitahu Fany, tetapi Fany tidak mempercayainya. Bagaimanapun, Julian juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Fany. Robert yang sedari tadi melihat mereka berdua ribut itu pun menghampiri Julian yang tengah sendiri saat ini.


"Makanya, kalau suka ungkapkan saja. Jangan terlalu jahil jadi orang," ucapnya. Bukannya membantu Julian bagaimana caranya, justru dia menggoda Julian.


"Diam kau!" sengalnya.


"Sepertinya, Fany sudah di butakan dengan cinta. Apa yang akan kita lakukan? Aku juga tidak mau terjadi apa-apa dengannya," ujar Robert. Tentu Robert juga tahu siapa Richard sebenarnya.


"Kita biarkan saja untuk saat ini. Tetap awasi mereka berdua, jangan sampai kecolongan," pinta Julian.


"Kau tidak cemburu?" Robert kembali menggoda Julian.


"Terlalu kelebihan gengsi." Ucap Robert yang melihat kepergian Julian dari sana. Robert pun memutuskan untuk pergi berlainan arah dari sana.


Tiga hari kemudian...


Selama tiga hari itu, Julian tidak lagi mengganggu Fany. Meskipun dia sangat tidak suka jika Fany masih berdekatan dengan Richard. Rasanya ia sangat ingin menenggelamkan Richard di dalam lautan dalam. Di balik itu semua, Julian sudah meminta bantuan Robert ataupun anak buah lainnya untuk memantau Fany.


Fany tidak peduli bagaimana Julian saat ini, mungkin mendengar ucapannya waktu lalu membuat Julian sadar, pikirnya. Saat ini, Fany bersama Richard berada di kantin yang ada di kampus, mereka melihat Julian yang hanya melintas begitu saja tanpa ada sapaan sama sekali.


"Tumben sekali temanmu tidak ikut bergabung di sini, biasanya dia selalu ikut bergabung dan menghabiskan makanan? Hahaha...." Ucap Richard yang di selingi dengan tawanya.


"Sudah biarkan saja. Syukurlah dia sadar, dia selalu berbuat jahil pada siapapun," jawab Fany. Richard hanya menganggunggakan kepalanya.


Sebenarnya, Richard juga merasa senang jika Julian sudah tidak mengganggu mereka lagi. Mungkin akan ada banyak kesempatan yang ia gunakan untuk mendekati Fany.

__ADS_1


"Apa kau malam ini sibuk?" tanya Richard.


Fany berpikir sejenak sebelum menjawab, ia mengingat malam ini apakah ada kesibukan atau tidak. Sepertinya, tidak. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya," jawabnya.


"Eemm... sebenarnya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kalau kau tidak mau tidak apa, aku bisa memaklumi." Sambungnya dengan menunjukkan sedikit senyumnya. Jantung Fany terasa maraton mendengar ajakan dari Richard.


"Memangnya kau mau mengajakku kemana?" tanya Fany yang merasa sedikit penasaran.


"Kesuatu tempat yang akan membuatmu dan aku bersenang-senang nanti," jawab Richar yang membuat Fany semakin penasaran.


"Kalau kau tidak mau tidak apa, aku tidak memaksa,"


"Eemm... baiklah, aku akan ikut denganmu nanti," jawab Fany.


Richard yang mendengar jawaban Fany itu pun tersenyum senang. "Apa nanti Mommy dan Papamu tidak akan marah kau keluar malam-malam?"


"Tidak, mereka tidak akan marah selagi aku masih di batas wajar," jawab Fany.


"Baiklah, aku tunggu di jalan A nanti," ucapnya. Mereka kembali melanjutkan makan dan sedikit dengan candaan, di saat Fany menikmati makanannya, Richard menyunggingkan senyumnya yang mencurigakan tetapi Fany tidak mengetahui itu.


Skiip...


Malam hari ...


Fany sudah berdandan rapi dan siap untuk pergi bersama dengan Richard, ia memakai make up natural dengan mengenakan outfit yang pas. Fany segera keluar dari kamarnya dan bergegeas untuk pergi.


"Kau mau kemana, Fa?" tanya sang mommy.

__ADS_1


__ADS_2