
"Tidak apa, Fa. Biarkan saja dia bergabung," ucap orang itu. Julian menjentikkan jarinya menyetujui ucapan orang tersebut. Laki-laki yang tengah bersama dengan Fany saat ini adalah seangkatan dengan Julian dan kawan-kawannya. Entah bagaimana pertemuan Fany dan laki-laki itu.
Sedangkan di belakang sana...
"Anak itu benar-benar." Ucap Markus menggelengkan kepalanya.
"Kita lihat saja, apa yang akan Julian lakukan. Sepertinya akan menjadi kisah yang rumit," sahut Reiner yang di angguki oleh Marcus. Mereka kembali mengamati tingkah Julian yang tengah mengganggu kebersamaan Fany dengan laki-laki itu.
Kembali lagi ke Julian...
"Tapi, dia sudah bersama dengan temannya. Dia hanya akan mengganggu kita nanti," sela Fany karena tahu bagaimana sifat Julian yang sangat jahil.
"Jangan berburuk sangka, aku tidak akan mengganggumu" jawab Julian.
"Apa yang kalian pesan? Sepertinya sangat enak, aku juga mau," sambung Julian lagi. Ia pun menyomot salah satu cemilan yang ada di hadapan mereka tanpa meminta izin.
"Kenapa kau tidak sopan sekali?" sengal Fany melihat tingkah Julian. Belum juga apa-apa Fany sudah merasa geram dengan Julian. Ia sedikit tidak enak di hadapan laki-laki yang bersamanya saat ini.
"Jangan pelit, aku hanya meminta sedikit saja." Jawabnya dengan menunjukkan wajah tengilnya.
"Kalau kau mau, beli saja sendiri. Bukankah uang jajanmu juga banyak?" Fany menaikkan sebelah alisnya. Laki-laki itu juga melihat heran pada Fany karena terlihat sangat judes pada Julian. Biasanya para wanita akan mengejar-ngejar Julian, tapi beda dengannya.
"Uang jajanku di potong Mami, jadi aku harus hemat ." Bohongnya lalu mengambil lagi cemilan tadi.
"Lebih baik habiskan makananmu, keburu jam istirahat nanti habis," ucap laki-laki itu pada Fany dengan sedikit lembut. Fany pun menurut dan kembali makan makanan miliknya.
Beda lagi dengan Julian, dia dengan cepat menghabiskan semua cemilan yang sudah Fany pesan sebelumnya. Fany memandang kesal pada Julian tapi dia menahannya, tidak mungkin jika dia harus marah-marah di depan orang yang tengah dekat dengan dirinya. Bahkan laki-laki yang bersama Fany itu juga memandang Julian, dia baru pertama kali ini melihat Julian seperti itu.
__ADS_1
Julian yang notabenya anak dari seorang konglomerat, tapi tingkahnya tidak menunjukkan itu. Makannya sangat cepat dan lahap.
"Aah... Kenyang juga. Aku akan kembali." Ucapnya lalu berdiri dan pergi dari sana begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Sepertinya dia sengaja melakukan itu.
"Semuanya sudah habis di makan, lalu dia pergi begitu saja? Dasar manusia tidak tahu diri," kesal Fany. Dirinya sudah menduga jika Julian pasti akan melakukan hal-hal yang membuatnya kesal.
"Apa mau aku pesankan?" tawar laki-laki itu dengan menunjukkan senyumnya.
"Ahh ... tidak perlu. Tidak usah repot-repot, aku juga sudah kenyang." Tolak Fany menunjukkan senyum canggungnya.
'Awas kau Jul, akan aku balas nanti. Kau sudah mengganggu kesenanganku' batin Fany yang ingin membalas perbuatan Julian. Tidak bisa di pungkiri jika dirinya sangat kesal karena Julian mengganggunya.
Julian berjalan pergi dari sana dengan tersenyum puas dengan apa yang dilakukannya. Dia bisa menebak jika Fany pasti akan kesal dengan apa yang sudah dia lakukan tadi. Sepertinya, Julian memiliki rasa pada Fany, tetapi dia tidak menyadari apa yang dia rasakan.
Yang ia rasakan sangat tidak suka jika melihat Fany dekat dengan laki-laki lain, ada kepuasan sendiri saat dirinya mengganggu keduanya saat ini.
Malam hari di bandara, jet pribadi tengah mendarat dengan mulus di sana. Tidak lama kemudian, pemilik jet tersebut pun akhirnya keluar dan segera turun menuju jemputan yang sudah ada di sana. Ia menggunakan kaca mata hitamnya dengan hanya memakai kaos lengan pendek dan celana jeans, jaket yang ia kenakan tadi ia tenteng begitu saja.
"Berikan kunci mobil untukku." Pintanya dangen mengulurkan tangannya pada anak buahnya.
"Untuk apa, Tuan Muda?" tanyanya bingung.
"Aku ingin mengendara sendiri. Kau dengan yang lainnya saja," jawabnya.
"Apa anda yakin, Tuan Muda?" tanyanya.
"Tentu." Anak buahnya pun memberikan kunci untukknya berkendara.
__ADS_1
"Kalian ke mension saja dulu, aku berkeliling sebentar." Perintahnya yang di angguki oleh anak buahnya.
Mereka menuju mobil masing-masing, tidak lama kemudian, mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju arah yang berbeda. Ia menuju ke arah jalanan yang lumayan sepi karena hampir tengah malam, orang itu mengemudi dengan kecepatan penuh. Sepertinya dia sudah sangat lihai dalam mengendara, bahkan ia bisa dengan santai menyalip pengendara lainnya.
la membuka separuh kaca mobilnya dan menikmati udara malam kota Berlin yang sudah lama tidak ia hirup. Hampir satu jam orang itu berkeliling, ia pun memutuskan untuk kembali ke mension yang ia tempati.
"Aku kembali, Babe. Kita akan sering bertemu nanti, tidak ada jarak lagi yang menghalangi." Ucapnya dengan tersenyum simpul. Ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Jika menebak orang itu adalah Gerald, maka itu benar adanya. Dia memutuskan untuk kembali ke Berlin dan melanjutkan pendidikannya di sana. Sepertinya dia tidak ingin jauh-jauh dengan Jennifer. Ia sengaja untuk tidak memberitahu Jennifer, ia ingin memberikan kejutan pada pujaan hatinya nanti.
Hubungan mereka terbilang cukup awetdan baik-baik saja, Jennifer juga tidak pernah mempermasalahkan jika dirinya jauh dengan Gerald. Karena dari hubungan jarak jauh dia bisa belajar bagaimana arti setia, rindu dan kepercayaan. Dia memberikan kepercayaan penuh pada tunangannya itu, tapi jika Gerald bermain di belakangnya maka Jennifer tidak akan tinggal diam.
Waktu berjalan dengan cepat, langit yang gemerlap dengan bintang itu saat ini sudah berubah terang benderang menunjukkan awan yang sangat cerah mmebuat siapa saja semangat untuk memulai hari.
"Lapor, Tuan Muda. Nona Muda William akan berangkat ke kampus nanti siang, untuk pagi ini sedang free," lapornya.
"Apa kalian sudah mengurusnya untukku?" tanyanya.
"Sudah, Tuan Muda. Anda bisa langsung saja memasuki kelas nanti," jawabnya.
"Baiklah, siapkan semuanya untukku." Anak buahnya pun bergegas pergi dari sana dan melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Gerald.
"Kita akan bertemu, Babe." Ucapnya dengan tersenyum tipis.
Kampus...
Fany tengah berjalan dengan laki-laki yang saat ini tengah dekat dengannya, mereka saling melemparkan candaan satu sama lain.
__ADS_1
"Eemm... Richard, bukankah dirimu mengatakan jika hari ini masuk di jam siang? Kenapa kau sudah datang? Rajin sekali," ucap Fany pada orang tersebut. Nama laki-laki tersebut adalah Richard.
"Tadinya aku akan pergi nanti siang, tapi aku sangat bosan di rumah. Aku juga ingin bertemu denganmu," jawabnya. Fany tersenyum malu di sana. Mereka kembali berjalan dan melanjutkan perbincangan mereka.