Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 280


__ADS_3

Setelah beberapa langkah mereka keluar, akhirnya Thea melihat orang-orang yang ia kenal. Yang tidak lain di sana adalah Jennifer dan Fany. la sangat senang dan segera berteriak memanggil ke dua temannya itu.


Kembali lagi ke sisi Fany dan Thea di waktu sekarang...


"Sebaiknya kita tidur. Sudah hampir dini hari," ajak Fany pada Thea.


"Tapi... apa tidak akan terjadi apa-apa dengan Julian? Aku sangat takut jika hal buruk terjadi pada Julian. Aku akan merasa bersalah sepanjang hidupku jika hal itu terjadi," lirih Thea menundukkan kepala.


Fany yang mendengar hal itu pun raut wajahnya seketika berubah. Ia juga memikirkan bagaimana keadaan Julian saat ini. Bohong sekali jika ia tidak merasa sedih dan khawatir pada Julian.


"Kau tenang saja. Julian orang yang kuat. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu. Harusnya kita yang bersalah padamu, karena kami kau terseret dalam bahaya. Sebaiknya kita tidur. Semoga besok mendapat kabar baik," ujar Fany menenangkan Thea.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk tidur. Satu jam lamanya mereka terpejam, tetapi Fany tidak bisa tidur nyenyak. Sekejap-sekejap Fany membuka ke dua matanya, entah apa yang membuatnya tidak bisa tidur.


Fany terbangun dan mendudukkan dirinya di sana. Di lihatnya jika Thea tertidur sangat pulas. Wajahnya terlihat murung mengingat hal yang sedang terjadi.


"Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja," ujarnya pelan. Ternyata kali ini Fany memikirkan Julian. la tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana keadaan Julian saat ini.


Sementara di depan ruang operasi, Sean juga tidak bisa tenang. Berkali-kali dirinya mondar-mandir seperti setrikaan. Jennifer dan Ana saling menguatkan dan berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Julian.


Fany di dalam sana terlihat menitihkan air matanya. Hatinya tidak bisa tenang saat ini, ia berharap jika tidak ada hal buruk yang menimpa Julian. Cukup lama Fany terbangun, akhirnya ia memilih untuk tidur agar tidak memikirkan hal buruk.


Fany terbangun di salah satu ruangan dengan nuansa putih. Udara di sana terlihat sejuk, tira-tira di sana juga beterbangan seolah-olah melambai padanya. "Sejak kapan di rumah sakit ada ruangan seperti ini?"


la bergumam dan terus melanjutkan langkah kakinya. Di sana teramat sunyi tidak ada seorang pun, hanya ada dirinya yang tengah berjalan melihat-lihat ruangan luas itu. "Kenapa sepi sekali? Apa aku tersesat memasuki ruangan yang tidak di ketahui semua orang?"


Fany tetap melanjutkan perjalanannya walau dia sesekali juga melihat ke kanan dan ke kiri memastikan ada siapa di sana.


"Fe...." Terdengar suara yang sangat ia kenal di sana. Fany memutuskan untuk menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Julian." Wajah Fany terlihat sumringah melihat keberadaan Julian. Julian tersenyum ke arahnya dengan teduh.


Fany berhambur ke dalam pelukan Julian, dengan senang hati juga Julian membalas pelukan Fany di sana. "Kau tidak apa-apa kan?"


Fany bertanya mengenai keadaan Julian, dia ingat saat sebelum dia istirahat Julian tengah menjalani operasi untuk pengambilan peluru. Julian tersenyum lembut ke arah Fany. Ia mengangguk pelan di sana.


"Apa semuanya sudah pulang? Apa aku tertidur terlalu lama saat di rumah sakit, kenapa juga aku tiba-tiba di sini?" cerca Fany.


"Kau memang suka sekali tertidur? Apa kau tidak bosan?" Julian mendorong pelan kepala Fany dengan jarinya.


"Namanya juga ngantuk. Mau apa lagi kalau bukan tidur?" ketus Fany.


"Tapi... ke mana semua orang? Apa mereka sengaja membiarkanku di sini sendiri?" tanya Fany terlihat bingung di sana.


"Emmm semua orang menunggu di luar. Aku sengaja membawamu ke sini," jawab Julian membuat Fany semakin bingung.


"Membawaku ke sini? memangnya ada apa?"


"Memangnya kau mau ke mana?" Fany mengerutkan keningnya.


"Eeemm... mungkin ke suatu tempat. Ingat pesanku, kau harus berhati-hati. Awas kalau kau melanggar apa yang aku ucapkan tadi. Aku akan meminta anak buahku untuk menghajar pria itu," ujar Julian. Dia yang petakilan sekarang terlihat kalem, tetapi tetap saja bersikap seenaknya.


"Tidak ada waktu lagi. Aku harus pergi," pamit Julian.


"Kau mau kemana?" Fany merasa sedih saat Julian berpamitan padanya.


"Bye bye....." Julian berjalan mundur sambil melambaikan tangannya pada Fany. Senyumnya yang menawan itu tidak tertinggal.


"Julian...." Satu kedipan mata Julian tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya. Fany mencari ke sana ke mari tetapi tidak menemukan Julian.

__ADS_1


"Julian....!" Teriaknya memanggil nama Julian, namun yang ia teriaki tidak ada.


"Juliiiiaaa....!" Teriaknya lagi.


"Hiks... hiks... kau ke mana?" air matanya lolos jatuh membasahi pipinya.


"Juliaan...." Fany terbangun dari tidurnya dengan napasnya tersengal-sengal. Di lihatnya jam yang ada di sanasudah menunjukkan pukul 7 pagi, padahal baru saja ia tertidur.


Di lihatnya ruangan yang ada disana sama dengan ruangan yang ada di rumah sakit. Thea juga berada di sana masih tertidur nyenyak.


"Julian...." la teringat dengan Julian.


la pun beranjak dari sana dan keluar dari tempat yang ia tempati. Ia menuju ke ruang VIP yang bersebelahan dengan ruang yang dia tempati. Terlihat di sana semuanya terkumpul, dokter pun keluar masuk ke ruangan tersebut.


James, Rika, mommy dan daddy Thea pun juga berada di sana. Bahkan Diva dan lainnya juga berada di sana. Entah sejak kapan mereka di sana. Fany mendekat ke arah mereka yang sedang berkumpul.


"Aunty, bagaimana ke adaan Julian? Apa dia baik-baik saja?" Fany bertanya pada Ana namun tidak ada jawaban sama sekali. Ana hanya sesenggukan di sana, Fany bingung di sana.


"Mom, apa semua baik-baik saja?" tanyanya beralih pada Rika. Rika bingung harus menjawabnya apa.


Sean mendekat ke arah Fany dengan tersenyum tipis. "Kau percaya pada Julian bukan?" Fany mengangguk begitu saja.


"Kami akan memindahkan Julian ke Amerika untuk meneruskan pengobatan. Kondisi Julian saat ini tidak memungkinkan. Peluru yang mengenai dirinya sangat menyerempet ke jantungnya." Fany yang mendengar itu terkejut bukan main.


"A-apa Uncle tidak salah?" Air matanya mulai menetes di sana. Fany jadi teringat dengan mimpi yang baru saja ia alami. Sean hanya tersenyum ke arahnya.


Air matanya mulai deras membasahi pipi mulusnya." Apa Fany boleh melihat Julian sebentar?"


"Temuilah dia. Beri dia kekuatan, dia pasti akan mendengarkan ucapanmu." Sean memberikan izin pada Fany.

__ADS_1


Fany melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan bercucuran air mata. Ia mengusap air matanya kasar dan mendekat ke arah Julian. Walau ia sudah mengusapnya, air mata itu tetap jatuh membasahi pipinya.


__ADS_2