
Bugh...
Bruugh...
Julian kembali menendangnya hingga dirinya lagi-lagi terpental dan membentur tembok sangat keras. Dario memuntahkan cairan merah pekat di sana. Awalnya saja Julian terlihat tengil, tetapi lihatlah apa yang di lakukan olehnya pada Dario.
Julian mendekat ke arah Dario dan menginjakkan kakinya kuat di dada Dario. Dario ingin menyingkirkan kaki itu darinya, tetapi dia sudah terlihat lemah, tidak kuat lagi untuk menyingkirkan kaki Julian.
Jennifer dan Fany akhirnya kembali lagi tanpa menemukan Thea. Mereka sudah mencarinya ke sembarang arah dan ruangan-ruangan di sana, tetapi Thea tidak ada di sana.
"Kita tidak menemukan Thea di mana pun," ujar Fany di sana. Ia melihat jika Dario sudah berada di bawah kaki Julian dengan keadaan yang terlihat lemah. "Hahaha... bukankan sudah aku katakan jika Adikku
telah membawanya pergi?" Julian semakin kuat menginjakkan kakinya pada Dario.
Fany yang kesal itu pun mendekat dan menyingkirkan Julian dari Dario.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Di luar dugaan, Fany membabi buta memukul Dario dengan tangannya. Dia benar-benar marah pada Dario yang tengah membawa Thea pergi. Dario semakin terlihat lemah karena mendapat pukulan dari Fany.
Julian pun mencekal tangan Fany untuk menghentikan pukulan Fany. "Jangan biarkan kau mengotori tanganmu itu."
Julian mengusap tangan Fany yang di gunakan untuk memukuli Dario di sana. Terlihat biasa saja, tetapi sangat manis apa yang di lakukan Julian. Julian membawa Fany sedikit jauh dari Dario yang sudah tergeletak di sana.
"Fe, Jen!" pekik suara yang sangat mereka kenal di sana. Mereka yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara.
Suara itu tak lain adalah Thea. Ia tiba-tiba saja berada di sana melihat Fany dan Jennifer. Dia berlari ke arah Fany dan Jennifer.
Fany memutar-mutar tubuh Fany memastikan jika tidak ada luka di tubuhnya. Julian sedikit menunjukkan senyum simpulnya di sana.
Di saat mereka tengah fokus pada Thea, diam-diam Dario meraih pistol yang sempat terlempar karena berkelahi dengan Julian. Dalam keadaan lemah dia mencoba meraih dan akhirnya pistol itu berada di tangannya. Dario menarik pelatuknya untuk di arahkan ke arah dari mereka.
Julian yang baru menyadarinya itu pun berlari ke arah Fany untuk melindunginya. Ia sedikit lengah dan melupakan Dario saat melihat Thea kembali.
Dorr...
Kecepatan senjata memang tidak bisa di prediksi. Julian terkena tembakan dari Dario, tembakan itu mengenai punggungnya. Fany, Jennifer dan Thea sangat terkejut saat peluru itu menembus tubuh Julian.
Julian memejamkan matanya dan tidak lama kemudian tubuhnya ambruk.
"Julian!" pekik mereka bertiga bersamaan. Robert yang baru saja tiba di atas itu pun juga terkejut melihat tubuh Julian ambruk dengan darah mengalir pada dirinya.
Dario tertawa puas walau badannya dalam keadaan lemah dan merasa remuk semua. Mereka berhambur ke arah Julian termasuk Robert. Sementara Jennifer dirinya berapi-api melihat sang adik ambruk karena ulah Dario.
Mata Jennifer terlihat merah karena sangat marah pada Dario. "Kau! Aku tidak akan membiarkan dirimu hidup!"
Doorr...
Doorr...
Dorr... .
Dorr...
Belum juga Jennifer melangkah, rentetan tembakan itu mengenai tubuh Dario. Mereka yang ada di sana menoleh ke arah sumber dari tembakan tersebut. Terlihat tidak jauh di sana berdiri sosok yang terlihat mirip dengan Dario tengah mengarahkan pistolnya.
Jennifer yang melihatnya pun juga tidak menyangkah. Ternyata yang melakukannya tidak lain adalah adik Dario sendiri, Arion yang melakukannya. Entah kenapa dia melakukan itu pada kakaknya sendiri.
Jennifer melangkah ke arah Arion dan merebut pistol tersebut dan menembakkannya pada Dario tanpa hentinya.
__ADS_1
Dorr... dorrr... doorr...
Doorr... dorr... dorr...
Jennifer menembakkan peluru-peluru itu pada Dario, walau dia tahu sebenarnya Dario sudah tidak bernyawa lagi di sana. Namun, Jennifer tidak puas melihat Dario mati begitu saja. Seluruh tubuh Dario mendapat peluru-peluru yang bersarang di sana.
"Stop, Jen." Robert mencekal tangan Jennifer agar dirinya menghentikan tembakannya pada Dario yang sudah tidak bernyawa.
"Jangan halangi aku! Darah harus di bayar oleh darah. Sebaiknya kau minggir atau kau yang akan menerima peluru ini!" Jennifer benar-benar sangat marah di sana. Begitu sayangnya dia pada ssang adik walau adiknya itu sangat nakal dan tengil.
"Hentikan, Jen. Tidak penting lagi untuk itu. Sebaiknya kita bawa Julian dari sini, keselamatannya lebih penting," tutur Robert. Kalau dia tidak mencegah Jennifer mungkin tubuh yang tidak bernyawa itu sudah menjadi daging halus di tangan Jennifer.
"Sebaiknya bawa saudaramu itu, Nona. Dia lebih penting," sahut Arion mendekat ke arah mereka.
Jennifer yang masih bisa berfikir itu pun menghentikan aksinya dan segera meminta anak-anak buahnya untuk membawa Julian pergi dari sana. Mereka semua ikut pergi mengantarkan Julian yang sedang terluka untuk di bawa ke rumah sakit. Robert masih berada di sana dengan anak-anak buah Julian yang lainnya untuk membersihkan tempat itu.
Robert memandang Arion yang masih berdiri tegap tanpa ekspresi. "Bukankah dia saudaramu? Kenapa kau melakukannya?"
Robert sangat penasaran dengan Arion yang baru saja menembak sang kakak sendiri. Apa alasan Arion melakukannya, padahal Dario adalah saudara satu-satunya yang dia miliki, keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Arion memandang ke arah Robert yang juga memandang dirinya. "Tidak ada alasan untuk aku melakukannya. Aku hanya ingin mengakhiri semuanya agar dia tidak membuat kekacauan terus-terusan di wilayah orang lain. Untuk yang lainnya, kalian bisa lakukan apa saja. Untuk dia, biarkan aku membawa jasadnya pulang. Aku akan menempatkan dia di tanah kelahirannya untuk peristirahatan terkhirnya."
Memang di luar dugaan, Arion juga menjawabnya
dengan sangat tenang. Robert semakin di buat bingung di buatnya, mungkin Arion memiliki dendam tersendiri pada Dario, pikirnya.
"Apa kau mempunyai dendam pada kakakmu karena perlakuan orang tuamu yang berbeda padamu? Tidak mungkin kau melakukannya tanpa alasan?" Robert mencoba menggali lebih dalam jawaban dari Arion.
"Tidak. Untuk apa aku dendam hanya karena masalah itu. Justru karena masalah itu aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku melakukannya agar dia tidak selalu berulah di wilayah orang lain, belum lagi kejahatannya yang selalu dia lakukan pada orang-orang yang tidak bersalah," jelasnya pada Robert. Mungkin ada bagian dari Robert yang tidak tahu semuanya tentang Dario.
Robert mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Arion. "Bukankah memang semua mafia seperti itu?"
"Apakah mafia dari temanmu itu juga seperti itu?" Robert menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Ternyata itu alasan Arion melakukan hal tersebut pada saudaranya sendiri. Bisa saja memang dari dulu Arion diam saja, dan sekarang dia tengah berubah pikiran.
"Anak buahku akan datang dan membawanya kembali. Kalau kau tidak percaya, kau bisa meminta anak buahmu untuk melihat proses pemakamannya," ujar Arion yang sepertinya sangat faham dengan jalan fikir Robert.
Helikopter yang membawa Julian kini masih berada di udara. Jennifer meminta menggunakan helikopter dari pada mobil agar cepat sampai di tujuan tanpa hambatan macet dan lain sebagainya. Julian benar-benar menutup matanya dengan rapat.
Berselang 15 menit kemudian, helikopter itu mendarat di atap rumah sakit terbesar di Berlin. Pertugas yang ada di sana sudah bersiap karena sebelumnya mereka sudah mendapatkan kabar. Mereka menurunkan Julian dan membawanya ke dalam gedung rumah sakit untuk segera di tangani.
Jennifer dengan cepat menyusul langkah mereka. Dia ingin menumpahkan air matanya, tetapi ia menahannya di sana. Tentu saja ia merasakan khawatir teramat dalam, bahkan dia juga sangat cemas dengan keadaan Julian.
Mereka membawa Julian ke ruang operasi lebih dulu. Jennifer menunggu di luar dengan menundukkan kepalanya. Ia menyeka air matanya yang hampir terjatuh.
Sementara di luar, mobil yang membawa Thea dan Fany baru saja tiba. Mereka berdua segera turun dari dalam mobil dan menutup pintu tersebut dengan sangat cepat. Anak buah Julian yang menjadi sopir itu pun sampai terkejut karena ulah ke duanya.
Mereka segera lari ke dalam tanpa mempedulikan orang-orang yang tengah melihat ke arah mereka berdua.
"Jen....!" Terdengar suara teman-temannya yang baru saja tiba di sana.
Jennifer mendongakkan kepalanya saat mendengar teriakan dari Fany dan Thea. Mereka berlari dan berhambur memeluk Jennifer di sana. Mereka memberi kekuatan satu sama lain.
"Jen... Julian tidak apa-apa kan? Maafkan aku yang membuat kalian dalam situasi sulit seperti ini. Maafkan aku karena membuat Julian harus terluka dengan orang itu." Thea terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia juga berbicara terputus-putus karena habis menangis sedari tadi.
"Sudah aku bilang padamu, ini bukan salahmu. Memang sedari awal orang itu sudah sudah membuat ulah." Fany sedikit kesal dengan Thea yang sedari tadi menyalahkan dirinya. Sepanjang perjalanan dia sudah menjelaskannya pada Thea, tetapi Thea masih saja menyalahkan dirinya dan merengek.
Jennifer tersenyum tipis ke arah Thea. "Ini bukan salahmu, Thea. Kau tidak perlu merasa bersalah. Justru aku yang harus meminta maaf padamu karena sudah menyeretmu ke dalam masalah ini."
Jennifer juga tentu merasa bersalah pada Thea dengan masalah yang terjadi. Karena memang Thea yang tidak tahu apa-apa dengan masalah mereka justru Thea terseret ke dalamnya. Thea yang terjebak dalam bahaya, kalau saja Arion tidak membantu Thea, entah apa yang sudah di lakukan Dario pada Thea.
"Bagaimana dengan pipimu itu?" Jennifer bertanya bekas tangan yang ada di pipi Thea. Waktu di sana ia tidak sempat menanyakannya pada Thea.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok,"
"Tidak apa-apa bagaimana? Kau pintar sekali berbohong." Fany mendorong pelan kepala Thea dengan jari telunjuknya. Sepertinya tua atau muda orang di hadapannya kalau berurusan dengannya sepertinya sama semua.
"Jen...!" terdengar suara sang mami yang baru tiba di sana.
Mereka semua menoleh ke arah Ana dan Sean yang baru saja tiba di sana. Dengan langkah cepat dirinya berjalan ke arah putrinya. Jennifer melangkah dan memeluk Ana dengan erat di sana.
la menitihkan air matanya yang sedari ia tahan di depan teman-temannya. Ana membalas pelukan Jennifer, ia tahu pasti saat ini putrinya sangat sedih. Ana pun juga ikut meneteskan air matanya di sana.
"Tenangkan dirimu, Jen. Adikmu tidak akan kenapa-kenapa." Sean mencoba menenangkan Jennifer yang ada di pelukan istrinya..
"Fe, ajak temanmu itu beristrahat. Biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dulu," pinta Sean pada Fany. Sean faham, pasti saat ini Thea merasa takut setelah kejadian ini. Semoga saja tidak menjadi trauma bagi Thea.
"Ehh... tidak apa Uncle, eh Tuan. Ehh aku harus manggil apa?" ujar Thea bingung yang harus memanggil Sean dengan sebutan apa. passalnya ia paling jarang bertemu dengan Sean.
Fany yang sedari tadi sudah kesal dengan Thea itu menoyor pelan kepala Thea. Akhirnya Fany menuruti apa kata Sean di sana membawa Thea untuk beristirahat.
"Apa aku bisa bertanya padamu?" tanya Fany yang sangat penasaran. Saat ini mereka berada di ruang istirahat yang ada di rumah sakit. Sean meminta petugas di sana untuk memberikan satu ruang yang cocok di gunakan untuk beristirahat.
"Tanya apa?"
"Bagaimana tadi kau bsia bersama dengan orang itu? Orang yang bersamamu tadi?" Thea mengingat-ingat siapa yang di maksud oleh Fany.
"Ohh... orang tadi?" Fany mengangguk mengiyakan.
"Hmm... aku juga tidak tahu awalnya bagaimana. Waktu itu aku di ikat di salah satu ruang kan. Aku tidak tahu siapa orang itu namanya. Setelah menamparku di pergi dari sana. Tidak lama kemudian banyak suara tembakan-tembakan. Aku rasa mereka semua *******. Tidak lama orang tadi datang dan melepaskan ikatanku," jelas Thea.
"Terus-terus...."
"Dia membawaku ke salah satu ruang seperti ruang rahasia. Aku sangat takut saat dia membawaku ke sana. Aku takut jika dia melakukan hal yang lebih parah dari orang yang menamparku itu." Thea menceritakan apa yang ia rasakan.
"Lalu?"
"Untung saja tidak. Aku terus saja merengek meminta keluar dari sana. Aku benar-benar takut," jawab Thea lagi.
Ternyata saat Thea bersama Arion, ia terus merengek untuk keluar dari persembunyian. Mungkin karena ia tidak tega, atau bisa jadi jika Arion tidak betah mendengar rengekan Thea yang mmebuatnya pusing.
Kembali waktu beberapam jam yang lalu, di mana Thea dan Arion bersembunyi...
"Bawa aku keluar dari sini. Aku tidak mau berada di sini lama-lama," rengeknya pada Arion.
"Apa kau tidak mendengar di luar sana masih
berperang?"
"Aku tidak peduli. Aku ingin keluar dari sini, bawa aku keluar. Kau juga pasti sama saja dengan mereka kan? Ini pasti hanya akal-akalanmu menyembunyikan aku di tempat ini."
Arion mencoba mendekatkan dirinya pada Thea. Thea memejamkan kedua matanya dan berdoa agar orang di hadapannya itu tidak melakukan apa-apa padanya. Arion melihat jelas ketakutan yang ada di diri Thea.
Walau begitu, Arion tetap mendekatkan dirinya pda Thea. Dririnya tidak memiliki maksud apa-apa, ia mendekat hanya karena memandang wajah Thea dari jarak hanya beberapa centi. Thea masih betah memejamkan ke dua matanya karena dirinya benar-benar takut.
'Manis'Arion berucap dari lubuk hatinya saat memandang wajah Thea dari dekat.
Thea mencoba membuka kedua matanya lalu memejamkan lagi melihat Arion di depannya sangat dekat. "Aku mohon menjauhlah. Jangan apa-apakan aku, aku tidak tahu apa-apa di sini. Tolong lepaskan aku."
Thea memohon dengan suara serak karena menahan tangis. Sepanjang memejamkan mata, Thea terus berdoa agar selamat. Arion yang mendengar suara Thea seperti menahan tangis itu pun segera menjauhkan diri dari hadapan Thea.
Arion melangkahkan kaki untuk membuka pintu tempat persembunyiannya saat ini. "Buka matamu. Apa kau tidak ingin keluar dari sini?"
Thea yang masih terpejam itu pun membuka ke dua matanya saat Arion mengatakan itu. "Cepatlah! Atau kau yang akan aku kunci sendiri di dalam sini."
Thea yang mendengarnya itu segera melangkah dengan cepat. Mereka keluar dari persembunyian, tetapi Arion masih tetap berjaga-jaga agar tidak di ketahui oleh bawahan Dario.
__ADS_1