Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 184 Season 2


__ADS_3

"Kau dapat dari mana, aku rasa kemarin kau tidak memainkan ponselmu. Waaahh... mencari gara-gara saja dirimu ya." Julian membuat perhitungan pada Gerald.


"Dari mana aku mendapatkannya itu tidak penting untukmu," wajah Gerald terlihat sekali jika dirinya meledek Julian. Foto itu di dapat dari anak buahnya yang berada di sekitar sana, dan entah kenapa salah satunya tepat mengenai saat Fany menyodorkan makanan miliknya pada Julian waktu itu.


"Naahh... gini nih, katanya kalau di jodohkan gak mau, tapi ternyata di belakang udah lebih bucin." Sahut Diva yang ikut bergabung dalam gumbulan mereka.


"Mungkin mereka menolak di jodohkan karena sudah saling jatuh cinta," kali ini Jennifer menyahutinya.


"Ehh... tidak-tidak, apa-apaan foto ini. Bohong sekali ," ujar Fany tidak terima di sana.


"Bohong bagaimana? Apa ini terlihat editan? Tidak ada gunanya sama sekali aku mengedit foto kalian." Jawab Gerald dengan santainya.


"Nah kaaann... ketahuan kalian, ayo ngaku saja. Tidak usah di tutup-tutupi lagi, sudah ada bukti nyata itu." Lagi dan lagi kali ini Julian terkena jahilan dari yang lainnya, mungkin karma untuknya karena sering sekali membuat orang kesal.


"Hapus foto itu, atau akan ku balas kau nanti." Wajah Julian terlihat sekali jika dirinya sangat kesal saat ini.


"Untuk apa aku menghapusnya, yang lain juga sudah


melihatnya." Gerald kembali meledek Julian di sana. "Hapus atau kau tidak akan menjadi iparku?" ancamnya pada Gerald.


"Ancamanmu tidak berarti untukku, yang lain masih banyak yang mendukungku. Kenapa aku harus pusing dengan ucapanmu itu?" jawabnya dengan enteng. Tapi, memang ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Gerald. Ancaman Julian tidak ada apa-apanya untuknya.


"Aku doakan jika nanti ponselmu hilang di tengah jalan." Fany menyahut di sana.

__ADS_1


"Aku bisa beli lagi, bahkan satu pabrik juga bisa aku beli. Kenapa harus bingung?" jawab Gerald yang membuat Fany dan Julian semakin kesal di buatnya.


"Kenapa kau selalu menjawabnya, apa kau tidak bisa diam?" kesal Julian. Jika biasanya itu adalah posisinya, sekarang berbalik. Dia kesal jika Gerald selalu menjawab ucapannya.


"Lalu apa gunanya aku di berikan mulut jika tidak untuk berbicara, kalau kau tidak mau kesal bicara saja dengan orang bisu." Jawaban Gerald sungguh membuat yang ada di sana tertawa bersamaan.


"Hahaha.... Kenapa wajahmu merah sekali? Itulah karma untukmu, biasanya dirimu yang membuat orang lain kesal. Sekarang kau yang di buat kesal dengan iparmu sendiri," Diva tertawa puas melihat Julian yang wajahnya terlihat merah karena menahan kesal.


"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" terdengar suara Ana yang baru saja turun.


"Aunty... apa kau tidak lihat wajah anak laki-lakimu ini, wajahnya sangat mereah menahan kekesalannya. Dia semalam menolak untuk di jodohkan karena sudah lebih dulu bucin dengan Fany," jawab Diva.


"Ehh... tidak-tidak. Foto itu bohong kok, aku dan Julian tidak ada apa-apa. Itu hanya fitnahan saja dari Gerald." Jawab Fany.


"Aku tidak memfitnahnya, Mam. Mami bisa lihat sendiri foto mereka, nih." Gerald menunjukkan foto itu pada Ana. Fany melototkan matanya ke arah Gerald, sedangkan Julian semakin kesal dengan Gerald. Ellinya hanya manggut-manggut setelah melihatnya.


"Iya... mami percaya kok." Jawab Ana. Julian dan Fany bernafas lega karena Ana mempercayainya. Julian menjulurkan lidahnya ke arah Gerald karena saat ini ada yang membelanya.


"Mami percaya kalau foto itu tidak bohong." Sambung Elina, baru saja Fany dan Julian terlihat bahagia. Tapi ternyata sama saja, Julian kembali menunjukkan wajah kesalnya mendengar ucapan sang mami.


"Oohh... ayolah, Mam. Itu tidak seperti yang mami lihat, itu semua bohong. Itu tidak benar, yang benar Julian menolak suapan itu." Jelasnya dengan kesal.


Yang ada di sana semakin terpingkal-pingkal melihat kekesalan Julian, Julian yang notabenya pembuat onar dan kesal sekarang dirinya merasa kesal sendiri. Tidak ada orang yang di pihaknya saat ini, bahkan Ana tidak membelanya.

__ADS_1


"Gak papa lagi, kalian udah cocok. Mami setuju untuk itu," ujar Ana.


"Ya sudah kalau gitu, biar Julian pergi saja dari rumah." Ucapnya.


"Mau pergi kemana kamu, hah? Gak usah sok-sok-an pergi dari rumah, mau minta uang jajan sama siapa kamu, hah? Kalau mau pergi ya sudah pergi saja," Ana terlihat galak. Bahkan dia berkacak pinggang saat berbicara. Julian mengurungkan niatnya, padahal dia hanya ingin menakut-nakuti sang mami. Malah dia sendiri yang di buat menciut dengan sang mami.


"HAHAHA..." tawa keras kembali terdengar karena melihat wajah Julian yang sudah tidak bisa di deskripsikan.


"Ijulll.... Yang sabar ya. Orang sabar biasanya di sayang Tuhan, hahaha." Gelak tawa Diva tidak ada henti-hentinya. Itung-itung itu adalah pembalasannya, kapan lagi dia membalas perbuatan Julian. Mumpung sekarang banyak temannya. Julian hanya bisa terdiam tidak berbicara lagi.


"Bagaimana, rasanya di nistakan tuan muda? Enak kan?" Robert memancing kekesalan Julian.


Bughh...


Julian melempar bantal sofa pada Robert yang sedang tertawa.


"Laahh... kok ngamook. Makanya, jadi orang jangan suka usil. Kena karma kan sekarang? Kesal sendiri kan?" bukannya berhenti Robert malah semakin memancing Julian yang kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun.


Fany juga hanya bisa diam kali ini, kalau saja dia tidak menjadi topik hari ini, mungkin dia juga akan ikut menghabisi Julian. Dia juga sepertinya mempunyai dendam kasumat dengan Julian sedari dulu.


Tidak terasa jika waktu berjalan begitu cepatnya, hari pernikahan Diva dan Riko tinggal menghitung jam saja. Acara pernikahan di lakukan besok, untuk resepsi di lakukan tiga hari setelah pengucapan janji suci. Hari ini finishing untuk acara besok yang akan di lakukan di outdoor sesuai permintaan Diva, acara itu hanya di hadiri keluarga dekat saja.


Untuk para tamu undangan dari Sean ataupun teman Diva akan hadir pada resepsi nanti, resepsi tidak di langsungkan bersamaan karena mereka menunggu saudara ataupun keluarga yang berada di jauh agar bisa datang. Sebelum melakukan janji suci, hari ini Diva berkunjung ke makam ke dua orang tuanya yang sudah lama tidak ia datangi.

__ADS_1


Diva meletakkan rangkaian bunga di atas pusara papa dan mamanya.


"Ma, pa, besok Diva akan melangsungkan pernikahan. Diva selalu beharap jika waktu menikah nanti mama dan papa yang mendampingi Diva, tapi sepertinya mustahil. Mama dan papa doakan Diva dari sana ya, doakan pernikahan Diva langgeng sampai kakek nenek. Diva janji nanti akan memberikan cucu-cucu yang lucu untuk mama dan papa." Ucap Diva mengelus nisan mama dan papanya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak luruh di sana.


__ADS_2