
Amerika ...
Terpantau dua kelurga sedang berkumpul di salah satu rumah megah di sana. Belum pasti apa yang tengah mereka bahas saat ini. Kelihatannya itu hal yang sangat penting.
"Apa yang membuatmu kemari Tuan dan Nyonya Brown kemari? Sepertinya sangat penting," ujarnya memulai percakapan.
"Kami di sini hanya ingin mengutarakan sesuatu, Tuan Carlos," jawabnya.
Yaa... ke dua keluarga yang saat ini bertemu adalah keluarga Wendy dan keluarga Gerlad. Keluarga Wendy tanpa ada angin tanpa ada hujan datang secara tiba-tiba. Mereka berniat menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat penting.
"Katakanlah." Tuan Carlos terlihat sangat tegas di sana. Tanpa ada basa-basi atau sedikit candaan. Barangkali beliau sudah terbiasa karena memimpin mafianya.
"Begini, Tuan dan Nyonya. Putri kamu sudah sangat lama menyukai putra kalian. Kami bermaksud untuk meminangnya untuk putri kami," ujar dari Mommy Wendy.
Rupa-rupanya, mereka datang kesana karena ingin menjadikan Gerald sebagai menantu mereka. Itu pasti adalah hasil rengekan Wendy yang meminta pada daddy dan mommy-nya. Tuan Carlos beserta istrinya hanya memandang ke duanya dengan duduk tenang.
"Kami akan memberikan sebagian kekayaan kami jika Anda menyetujuinya." Daddy Wendy menyahuti ucapan istrinya. Keluarga mereka selalu berpikir dan melakukan apa-apa dengan uang, uang dan uang. Mereka berpikir jika keluarga Carlos masih berada di bawah kekuasannya.
"Kami tidak butuh kekayaanmu, Tuan." seseorang tiba-tiba saja menyahutinya. Ia baru saja sampai di kediamannya. Baru saja, ke dua orang tuanya sedikit terkejut melihat kedatangan putranya. Siapa lagi kalau bukan Gerald, dia baru saja menapakkan kakinya di kediamannya.
Dengan langakah tegap ia melangkahkan kakinya mendekat dan ikut bergabung di sana. "Kekayaan kami sudah lebih dari cukup, Tuan dan Nyonya. Terima kasih atas tawarannya."
Gerald berbicara tegas di sana. Daddy Wendy tersenyum miring mendengar ucapan Gerald. Menurutnya Gerald adalah anak yang sombong dan belagu karena sudah menolak tawarannya. Kenyataannya, memang apa yang di ucapkan Gerald itu benar, keluarga Carlos tidak butuh kekayaan milik orang lain. Kekayaan keluarga Carlos sudah sudah lebih dari cukup.
"Maaf Tuan dan Nyonya, kami tidak bisa menerima semua tawaranmu. Kalian bisa kembali." Tanpa basa-basi Gerald mengatakannya. Perbincangan antara ke dua orang tuanya dan orang tua Wendy ia ambil alih. Terdengar juga Gerald mengusir ke dua orang tua Wendy begitu saja.
"Apa kau mengusir kami, Nak?" ujar daddy-nya Wendy di sana. Dia agak shok mendengar Gerlad yang seperti mengusirnya. Baru kali ini ada yang berani berucap seperti padanya.
"Kami tidak mengusir kalian, Tuan dan Nyonya. Tapi kalian sudah mendapat jawabannya. Aku tidak bisa menerima putrimu. Aku sudah memiliki calon sendiri." Tanpa ba bi bu be bo Gerald mengatakan semuanya. Dia memang cukup berani, ke dua orang tuanya yang sudah tahu bagaimana Gerald itu hanya diam menyerahkan masalah itu pada putranya.
"Heh, pria di luar sana mereka semua mengejar putriku. Bagaimana bisa kau menolaknya, jangan sampai kau menyesal, Nak," ucap daddy Wendy sombong. Memang buah tidak jauh dari pohonnya, Wendy juga sama seperti daddy-nya.
__ADS_1
"Tidak semua pria, Tuan. Nyatanya aku tidak!" skak mat. Ucapan Gerald benar-benar sangat nyletuk. Dia secara terang-terangan menolak Wendy di depan orang tua Wendy sendiri.
"Kau memang sangat berani, Nak? Siapa dia yang menjadi pilihanmu sampai kau berani menolak putriku?" ujar daddy Wendy tidak terima jika putrinya di tolak begitu saja.
"Jangan bilang wanita itu hanya wanita biasa yang jauh dari putriku. Putriku lebih unggul dari segalanya, dia lebih baik dari siapa pun," sambungnya lagi dengan sombong.
Istrinya itu pun menyenggol dirinya agar berhati-hati dalam berbicara. Tuan Carlos beserta istrinya hanya tersenyum miring mendengar ucapan deddy Wendy.
"Maafkan ucapan suami saya, Tuan, Nyonya," ucap istrinya merasa tidak enak.
"Tentu saja pilihanku lebih baik dari putrimu, Tuan. Tidak mungkin aku menerima wanita sembarangan," celetuk Gerald.
"Putriku bukan wanita sembarangan, Nak. Dia berada di kalangan atas." Lagi-lagi daddy Wendy bersikap sombong seolah-olah hanya putrinyalah yang paling bdaik dan berkelas. Keluarga itu hanya mementingkan kasta dalam kehidupannya.
"Ohh... bernarkah? Apa smeua itu hanya berpatok dengan kasta?" Gerald tidak setuju dengan apa yang di ucapkan oleh daddy Wendy.
"Tentu, Nak. Kami dari kalangan atas bukanlah orang sembarangan. Kami selalu di pandang baik oleh orang-orang di sana." Semakin jauh deddy Wendy semakin berbicara tidak karuan.
"Baik-baik? Bagaimana dengan ini? Apa ini yang di namakan baik-baik?" Gerald menyodorkan amplop coklat tertutup. Tiada yang tahu apa isi yang ada di dalamnya.
Ke dua orang tua Wendy terlihat mengerutkan keningnya, bahkan tuan Carlos beserta istrinya itu juga bingung dengan apa yang di bawa oleh putranya. Orang tua Wendy mengambil amplop itu dan melihat apa isi di salamnya. Mereka di buat penasaran dengan isi amplop itu.
Mereka mulai melihat-lihat semua isi yang ada di amplop itu. Gerald hanya tersenyum miring melihat reaksi dari ke dua orang tua Wendy saat melihatnya. Ke duanya nampak sangat terkejut bukan main.
"Dari mana kau mendapatkan foto-foto ini!? Jangan karena kau menolaknya kau bisa mengarang semua foto-foto ini!" sarkas daddy Wendy. Wajahnya memerah, rahangnya mengerah. Sementara istrinya itu gemetar tidak karuan, ia masih melihat-lihat foto yang di berikan oleh Gerald.
"Itu adalah putri baikmu, Tuan. Untuk apa aku mengarangnya hanya untuk menolak putrimu? Sangat tidak berguna sekali," jawab Gerald dengan sangat santai.
"Daad...," lirih istrinya menumpahkan air matanya.
"Kau pasti merekayasa semua ini, bukan!? Kau bisa saja mengedit semua foto-foto ini!" tekan daddy Wendy.
__ADS_1
"Aku terlalu sibuk, Tuan. Tidak ada waktu untukku mengedit semua gambar-gambar itu." Tunjuk Gerald mengenai foto-foto itu.
"Lain kali perhatikan semua gerak-gerik putrimu, Tuan, Nyonya. Lain kali berhati-hatilah dengan ucapan-ucapanmu. Kau sendiri saja tidak tahu bagaimana putrimu di belakangmu. Sangat miris," desis Gerald.
Apa sebenarnya foto-foto itu? foto-foto itu adalah foto tidak senonoh dari Wendy dan beberapa pria. Secara diam-diam Gerald bergerak, bahkan Jennifer tidak tahu apa yang sudah di lakukan Gerald untuknya kali ini. Boleh jadi Jennifer sudah tahu bagaimana Wendy, tetapi dia ingin bermain perlahan dulu.
Setelah mendapat semua bukti, Gerlad memutuskan terbang ke Amerika mendengar saat ke dua orang tua Wendy akan datang ke rumahnya. Emosi ke dua orang tua Wendy itu pun langsung tersulut, terutama daddy Wendy yang selalu mengeluh-eluhkan putrinya.
"Jangan pernah mempermainkanku, kau Nak? Aku bisa saja melaporkanmu untuk masalah ini karena pencemaran nama baik!" murka daddy Wendy. Dia benar-benar tidak bisa menerima apa yang baru saja ia lihat.
"Lakukanlah sesuatu yang kau inginkan, Tuan. Sudah cukup jelas bukan. Kalian bisa pergi dari sini," usir Gerald kembali.
Kenyataan yang tidak terduga di terima oleh ke dua orang tua Wendy. Wajah daddy Wendy bercampur aduk antara malu dan marah.
"Kalian sudah mendapatkan jawabannya, bukan. Aku tidak bisa menerima putrimu, Tuan, Nyonya. Aku akan beristirahat dulu." Gerald melangkahkan kakinya pergi dari sana menuju kamar miliknya.
Gerald menaiki tangga dan melihat bagaimana wajah daddy Wendy yang begitu murka padanya. Daddy Wendy memperhatikan Gerald yang melankahkan kakinya di tangga. Gerald hanya tersenyum mengejek di sana.
"Kau sudah mendengar jawaban dari putraku sendiri, bukan. Kami sudah memiliki calon mantu sendiri. Jadi dengan berat hati kami tidak bisa menerima putrimu di sini. Mungkin kau bisa memperkenalkan putrimu pada rekan-rekanmu." Ucapan tuan Carlos mengembalikan kesadarannya.
"Pesanku untuk kalian Tuan dan Nyonya. Sebaiknya kalian juga memperhatikan bagaimana putrimu. Jangan hanya memanjakannya," imbuh istri tuan Carlos.
"Bukankah memang di sini hal itu sudah menjadi biasa?"
"Jangan jadikan hal biasa itu menjadi hal wajar, Tuan. Kau juga harus bisa melindungi putrimu, jangan biarkan dia terlalu bebas di luar sana dan bermain dengan banyak pria!" tandas istri tuan Carlos. Dia geram sendiri mendengar ucapan daddy Wendy, dia sendiri mengajarkan putranya untuk menghormati wanita. Bisa-bisanya daddy Wendy mengucapkan itu di depannya.
Agak-agaknya daddy Wendy sedang bermasalah.
Padahal dia yang tadi murka melihat semua bukti itu, dan bisa-bisanya dalam sekejab dia membenarkan apa yang di lakukan putrinya di luar sana.
"Kau bisa kembali jika urusan sudah selesai, Tuan," usir taun Carlos dengan halus.
__ADS_1
Tanpa basa-basi ke dua orang tua Wendy pergi begitu saja tanpa berpamitan. Mungkin mereka malu dengan apa yang mereka dapatkan kali ini.