
"Tapi... bagaimana anggora kita yang sudah melakukan penyerangan di lain tempat, Tuan?"
"Aku tidak peduli dengan mereka yang sudah melakukan penyerangan. Perintahkan semua anggota yang tersisa untuk kembali. Cepat!" Entah apa yang membuatnya untuk mundur. Dia takut jika kalah terlebih dahulu.
"Cepat perintahkan mereka yang tersisa untuk kembali!" Sepertinya Dario sudah tahu bagaimana akhir darinya dan anak buahnya, maka dari itu dia meminta anak buahnya yang tersisa itu untuk mundur dari pada ia kalah dengan secara percuma. Sama saja ia menyerahkan irinya pada Julian jika sudah begini.
"B-baik, Tuan." Dario memutuskan panggilannya secara sepihak. Perasaannya benar-benar sangat dongkol untuk kali ini.
"Haaakh... bagaimana bisa seperti ini!" teriaknya di dalam mobil. Niat hatinya dia yang akan mengalahkan Julian, ternyata dia sendiri yang sudah di kalahkan oleh Julian. Padahal dia juga belum melakukan apa-apa, dia kalah sebelum berperang dengan Julian.
"Kembali ke tempat tinggalku!" Napasnya memburu dengan wajahnya yang merah menahan semua amarah. Anak buahnya yang mengemudi itu menurut saja dengan apa yang Dario perintahkan.
Bawahannya yang baru saja ia hubungi itu pun memberitahu anggota yang lainnya untuk mundur dan kembali ke tempat tinggal Dario. Mungkin setelah ini Dario akan mencari cara yang lebih ampuh untuk melawan Julian. Untuk saat ini ia memilih untuk mundur dari pada harus kalah secara sia-sia, kalau melawan Julian, walau pun bisa melawan Julian mungkin dirinya tidak akan lama, sekejap sudah menjadi abu di tangan Julian.
Rencana Dario sungguh gagal total, entah tersisa berapa anggotanya saat ini. Dua titik sudah melakukan penyerangan, tetapi sepertinya di dua titik ini hanya sedikit yang Dario kerahkan. Sisanya ia kerahkan untuk melawan Julian, karena memang dua titik itu hanya untuk memancing atau mengecoh Julian agar bisa mudah di kalahkan.
Dalam pandangannya, jika dua titik itu ia serang, maka Julian akan bingung untuk menyelamatkan keluarganya dan mudah untuk di kalahkan. Namun ternyata tidak sama sekali, ia salah besar jika itu bisa membuat Julian dengan mudah untuk di kalahkan.
Mension Sean...
Dorr...
Dor...
Doorrr...
Sean menggunakan pistol yang mempunyai kekuatan ganda untuk melawan mereka-mereka. Setelah menghabisi mereka yang masuk ke dalam mensionnya, Sean ikut bergabung dengan anak-anak buahnya untuk melawan bawahan Dario. Sedikit di kejauhan Sean memberondong peluru, tetapi peluru-peluru itu tidak ada yang melesat, peluru-peluru itu mengenai sasaran dengan tepat.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak mau berlama-lama lagi untuk bermain, lebih cepat akan lebih baik," gumam Sean.
Klek ...
Suara itu berasal dari pistol yang ada di tangannya, peluru itu siap untuk di luncurkan dalam bersamaan.
__ADS_1
Dorr... dorr... dorr...
Dor... dorr... dorr....
Sean menggunakan dua pistol sekaligus untuk menghabisi mereka a yang tersisa. Ia arahkan ke setiap arah pada mereka yang ada di hadapannya.
Dorr... dorr... dorr...
Tanpa menunggu lama lagi, Sean membantai mereka semua tanpa harus tersisa. Ia berpikir akan membantu Julian setelah yang ada di hadapannya ini lenyap. Dalam sekejap di sana menjadi lautan merah pekat, daerah sekitar sana juga terlihat berantakan akibat serangan-serangan di antara ke dua kubu.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Sean bertanya kondisi para anak buahnya di sana.
"Sepertinya beberapa ada yang mengalami luka parah, Tuan," jawabnya dengan sedikit menunduk.
"Segera obati mereka. Bersihkan semua yang ada di sini seperti semula. Perbaiki juga mensionku yang tergores," pinta Sean yang sangat sayang dengan mensionnya.
"Menyusullah kalian semua jika semuanya sudah selesai, aku akan pergi untuk membantu putraku,"
Sean melangkahkan kakinya pergi dari mension berniat untuk menyusul ke tempat Julian. Tanpa menunggu lama Sean bergegas dengan cepat meninggalkan halaman mensionnya.
Kediaman Dario...
Brak ...
Dario menutup pintu mobil dengan sangat kuat, bawahannya yang menyetir itu pun terjinggat kaget karena saking kencangnya pintu mobil itu di tutup. Untuk saja pintu mobil itu tidak lepas begitu saja. Dario melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan langkah cepatnya, napasnya memburu dengan cepat.
"Haaakkh...." Semua barang-barang yang ada di ruang tamu ia hancurkan.
Brak...
Pyaarr....
Pyarr...
__ADS_1
Dia sudah seperti orang yang kesurupan arwah gentayangan karena rencananya yang gagal total. Kalau saja ia punya rencana yang matang pasti tidak mudah dirinya kalah. Kalau saja tadi ia masih memaksakan untuk melawan Julian, mungkin hanya satu detik nyawanya sudah hilang di tangan Julian.
Barang-barang mahalnya yang tidak salah itu pun menjadi korban amukannya. Seperti vas, meja yang sudah ia jungkir balikkan, dan lainnya sudah tidak berada di tempat asalnya. Hancur dan berantakan sudah kini isi rumahnya.
Para bawahannya dan pelayan-pelayan yang ada di sana tidak berani mendekat atau pun menegur Dario yang sedang mengamuk. Takut jika mereka nanti yang akan menjadi sasaran selanjutnya dari amukan Dario.
"Haaaakh...." Pyaar. la menendang vas yang berukuran besar itu hingga pecah menjadi pecahan beberapa pecahan. Dia benar-benar seperti orang yang kesurupan.
"Tuan, tenangkan emosi anda. Lebih baik kita membuat rencana yang lainnya untuk mengalahkan anak itu." Salah satu bawahnnya memberanikan diri untuk berbicara dengannya.
"Memangnya apa yang kau bisa, hah!? Jangan merasa kau lebih hebat dariku!" Bukannya ia menanggapi usulan dari bawahannya, malah dia semakin kesetanan di sana.
Padahal bawahannya di sana memberi usulan yang baik agar nanti mereka semua bisa dengan mudah melawan Julian. Namun sayangnya Dario terlalu sombong dan merasa dirinya paling hebat. Belum apa-apa saja ia sudah kalah lebih dulu dari Julian, tetapi menolak usulan dari bawahannya.
Bawahannya itu pun mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Dario, ia lebih memilih jalan aman dari pada harus terkena amukan dari tuannya itu. Beda lagi dengan Dario, dia tidak mau menerima usulan dari bawahannya tetapi dia bisanya hanya ngamuk di saat gagal seperti ini. Selama apa pun ia mengamuk pun juga tidak akan bisa datang keajaiban yang tiba-tiba bisa menumbangkan Julian.
Meninggalkan Dario yang mengamuk, kita beralih ke Julian dan lainnya. Mereka yang ada di posisi masing-masing sudah menunggu terlalu lama. Namun tidak menunjukkan pergerakan dari Dario dan antek-anteknya.
Julian yang sedari tadi sudah tiba itu jenuh karena tidak ada pergerakan sama sekali, padahal mereka mengikuti dirinya. "Kemana mereka semua?"
"Kenapa tiba-tiba saja tidak ada pergerakan dari mereka semua?" terlihat sangat santai sekali Julian di sana. Namun dia juga terlihat kesal menunggu kedatangan Dario dan lainnya.
Berselang sepersekian detik, datanglah anak buahnya ke arah Julian. Terlihat sepertinya ada informasi penting yang ia sampaikan pada Julian. "Maaf, Tuan Muda
"Ada apa? Apa mereka semua sudah terlihat sampai mana?" tanya Julian yang sepertinya tidak tahu.
"Eeemm... bukan itu, Tuan Muda. Saya ingin menyampaikan sesuatu," ujarnya dengan sedikit menggantung.
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Begini, Tuan Muda. Saya mendapat laporan jika mereka semua memutuskan untuk mundur. Pimpinan dari mereka tahu kalau dia masuk ke dalam rencana kita, jadi dia memutuskan untuk menarik semua para bawahannya untuk kembali," jelasnya secara singkat.
"Hah! Apa aku tidak salah dengar!?" pekik Julian. Tahu sendiri lah bagaimana Julian, dia sedikit heboh mendengar penjelasan dari anak buahnya di sana. Anak buahnya itu menggeleng cepat menanggapi Julian.
__ADS_1