Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 192


__ADS_3

Tepat pada tengah malam, di mana semua orang sudah berlabuh di alam mimpi. Di sisi seberang terlihat sangat ramai dengan suara selongsong senjata antara dua kubu mafia. Tembakan demi tembakan terdengar nyaring di telinga, bahkan baku hantam juga tidak bisa di hindari.


Doorr...


Doorr...


Doorr...


Satu per satu dari salah satu mereka tergeletak karena terkena tembakan.


"Bagaimana, Tuan Muda? Dari musuh masih banyak yang bertahan," ucapnya dengan seseorang yang ia panggil tuan muda.


"Kau turunlah, bantu mereka untuk segera menghabisi para musuh," perintahnya.


"Apa hanya aku? Apa Anda tidak ikut melawan mereka?" tanyanya.


"Aku akan melawan mereka nanti. Sekarang kau bantu anggota lainnya," jawabnya dengan sangat santai.


Saat ini mereka sedang memantau dari atas dengan apa yang terjadi di bawah sana.


"Aku beri waktu 15 menit, semuanya harus selesai," titahnya. Orang yang ia perintahnya hanya menatapnya dengan diam.


"Apa? Kenapa kau tidak turun juga? Apa kau mau aku lempar dari atas sini?" ujarnya karena yang ia perintah tidak kunjung turun, justru menatapnya dengan sedikit cengoh.


"Aaahh... tidak-tidak, aku akan turun membantu yang lainnya." Jawabnya lalu bergegas pergi dan turun ke bawah untuk membantu yang lainnya.


Orang tersebut hanya memanggutkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sangat menjengkelkan.


Di bawah sana...


Setibanya orang tersebut di bawah, ia langsung saja mengeluarkan senjata yang ia bawa sedari tadi. Orang itu langsung saja membabat musuh yang masih bertahan sejauh ini.


Dorr ...


Doorr...


Dorr ....


Tiga peluru ia tembakkan pada musuh yang ada di depannya. Tembakan tersebut tepat mengenai jantung dan kepala para musuh.


Buugh...


Bughh...


Kreek ...


Orang tersebut mematahkan leher dari salah satu musuh hingga tewas dengan cara memutarnya sangat keras.


Door...


Dorr ...

__ADS_1


Orang tersebut berhasil menghindar dari tembakan yang di layangkan oleh musuh padanya.


"Shi*t," umpatnya karena hampir saja terkena tembakan tersebut.


Dorr ...


Dorr...


Dorr ...


la membalas tembakan itu dengan brutal tanpa ampun.


Sedangkan di atas sana....


"Waah... ternyata aku tidak salah jika mengangkatnya sebagai kaki tanganku. Dia bisa di andalkan," ujarnya yang tengah mengamati orang yang sudah ia perintahkan membantu para anggotanya untuk menghabisi musuh.


"Tapi, bosan sekali jika aku di sini hanya berdiam diri sendiri." Ucapnya dengan celingukan ke kanan dan ke kiri yang tidak ada siapa-siapa di sana.


"Biarkan saja, lah. Lebih baik aku menikmati bagaimana kemampuan dari mereka." la kembali mengamati bagaimana pertarungan di bawah sana.


Kembali lagi ke pertarungan...


Dorr...


Dorr...


Dor...


Dorr ...


Dorr...


Dorr....


Hingga beberapa menit berjalan, suara tembakan itu masih saja terdengar. Baku hantam juga masih saja terjadi, mereka sama-sama tidak mau mengalah.


Bugh...


Suara orang mendarat di tengah-tengah pertarungan yang terjadi. la segera mengeluarkan senjata kesayangannya dan membabat musuh-musuhnya.


Sriing...


Sriing...


Senjata yang ia gunakan tidaklah main-main, ia mengeluarkan katana yang ia bawa sedari tadi dan membabat semua musuhnya. Seketika seluruh tubuhnya di penuhi oleh darah karena terkena cipratan darah dari musuh yang ia bantai di hadapannya.


Syuut...


Jlebb...


la mengambil belatinya dengan cepat dan melemparkan ke arah musuh yang berada sisi kanannya. Belati itu tepat mengenai jantung musuh.

__ADS_1


Sring...


Sring...


Katana kembali ia ayunkan pada musuh di hadapannya. Ia tidak pernah memandang kasihan pada musuhnya, siapa yang sudah mengusiknya maka tidak akan ada ampun darinya. Semua anak buahnya sudah tidak heran lagi dengan apa yang dia lakukan jika sudah menghabisi musuhnya.


la mengambil pistol milik musuh yang sudah tergeletak dan langsung saja menembakkan ke musuh yang lainnya.


Dorr ... dorr...


Dorr ... dorr...


Dorr ... dorr...


Rentetan tembakan dia tujukan pada musuh-musuh yang masih tersisa. Dan hanya membutuhkan waktu 5 menit semua musuh ia berantas dengan habis tidak ada yang tersisa. la mendekat ke arah kaki tangannya dengan tubuh yang seperti sudah bermandikan darah.


"Kenapa lama sekali kau menghabisi mereka semua ?" kesalnya.


"Maaf, Tuan Muda. Mereka terlalu banyak dan mereka juga lumayan kuat," jawabnya.


la memutar kedua matanya malas mendengar jawaban dari kaki tangannya. "Kalian bersihkan semuanya, aku akan kembali."


"Wleek... tubuhku bau anyir." Ia mencium tubuhnya yang di berbau anyir darah. Padahal dirinya sudah terbiasa jika bermandikan darah seperti itu, tapi ia berucap seperti itu seperti baru pertama kali melakukannya.


"Bukankah Anda juga sering seperti ini, Tuan?" sahut salah satu dari anggotanya.


"Sudah diam saja, lebih baik kalian urus di sini. Aku akan kembali lebih dulu," ucapnya.


"Heeh... siapa suruh kalian menyusup ke wilayahku. Rasakan sendiri akibatnya." Smirknya terlihat jelas. Tidak menunggu lama ia pun bergegas meninggalkan lokasi tersebut dan kembali ke markas untuk membersihkan diri sebelum ia pulang ke mension.


Di tengah-tengah perjalannya, ia kembali menoleh kebelakang. "Ooey ... apa kau tidak mau pulang?" teriaknya pada kaki tangannya yang masih berdiam diri di sana bersama dengan anak buah yang lainnya.


Jika biasanya pimpinan dari mafia bersikap dingin, maka beda dengannya. Dia terlihat tengil dan terkadang juga bar-bar. Sifat yang ia miliki ternyata sudah bawaan dari dia lahir, hingga dewasa sifatnya masih sama tidak ada yang berubah.


Meskipun begitu, dia juga tidak kalah kejam jika berhadapan dengan musuhnya.


"Eeeh... iya, tunggu aku," sahutnya.


"Kalian urus sisanya, aku kembali dengan Tuan Muda. Obati mereka yang terluka," pamitnya pada yang lainnya.


"Baik, Tuan," jawabnya.


la pun sedikit berlari mengejar Tuan Mudanya yang sudah melangkah sedikit jauh dari sana. Tidak berlama-lama, mobil pun melaju menuju markas terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Ada yang tahu siapa pimpinan dari mafia tersebut? Dia adalah putra penguasa Eropa, entah di dunia bisnisnya, ataupun dunia bawah. Siapa lagi dia jika bukan Julian William, putra bungsu dari Sean William. Saat ini, mafia yang pernah di pimpin oleh sang papi itupun berada di tangannya.


Sean memberikan jabatan tersebut saat Julian berusia menginjak usia 18 tahun, dan sekarang dia sudah berusia 20 tahun. Yang artinya, kurang lebih 2 tahun mafia besar itu di bawah pimpinan Julian. Sikap tengil dan jahilnya tidak bisa hilang meskipun dia menjadi pemimpin mafia, dalam penyerangan pun dia masih menunjukkan sikap tengilnya.


Para anggota mafianya terkadang juga di buat heran dengan sikapnya, dia memang berbeda dengan sang kakak ataupun papinya. Tapi, meskipun begitu, Julian juga tidak kalah kejam dari sang papi.


Skiipp...

__ADS_1


__ADS_2