
"Mulut berisikku atau kau bisa berdua lebih lama dengan Kakakku?" lagi-lagi Julian membalikkan ucapan Gerald.
"Hmm... dua-duanya." Dengan jujur dirinya menjawab Julian.
"Lebih baik kau duduk dan diamlah. Kau di mana-mana selalu berisik," timpal Jennifer. Julian menurut dengan ucapan Jennifer tanpa ada bantahan sama sekali.
Julian sesekali melihat ke arah berlainan, sepertinya dirinya sedang melihat situasi yang ada. Sedikit jauh dari posisi duduknya terlihat jika ada orang yang tengah mengawasi dirinya dan yang lainnya. Seketika orang tersebut langsung menoleh ke arah lain untuk menghindari tatapan Julian.
Julian tersenyum miring pada orang itu, satu mata-mata telah dia lihat di sana. Julian kembali melanjutkan perbincangannya bersama yang lainnya. Orang itu kembali melihat ke arah Julian, tidak memperdulikan orang tersebut, Julian memilih untuk berbincang.
Meskipun tanpa melihatnya lagi, Julian juga sudah tahu. Yang pasti bukan hanya satu orang di sana, tetapi salah satu dari mereka sudah terlihat oleh Julian. Orang tersebut mengawasi gerak-gerik Julian dan lainnya dengan menyeruput sedikit minuman yang ia pesan.
"Hai, Bung. Apa yang sedang kau lihat?" tiba-tiba saja ada yang datang menghampirinya dengan tersenyum miring ke arahnya.
Orang yang tengah mengawasi Julian itu seketika menoleh ke arah sumber suara dengan sedikit tersedak minumannya. "Kau sangat fokus ke arah lain sampai kau tidak fokus dengan minumanmu sendiri."
"Aku tidak mengenalmu, anak muda! Sebaiknya kau pergi dari hadapanku!" wajahnya terlihat kesal dan garang saat ada yang datang menghampirinya.
"Aku juga tidak mengenalmu. Aku hanya menumpang duduk saja di sini," jawabnya dengan santai tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Masih banyak tempat lain. Sebaiknya kau mencari tempat yang lain," garangnya.
"Memangnya kenapa? Bukankah aku bebas memilih tempat duduk di mana saja dan dengan siapa saja?" ucapannya semakin membuat orang itu kesal.
Tebak saja siapa orang yang tiba-tiba datang mendekati orang yang mengawasi Julian dan lainnya. Bukan lain dia adalah Robert, dengan sengaja dirirnya duduk di hadapan orang yang tengah mengawasi Julian dan lainnya. Mungkin itu adalah bagian rencana dari Julian.
"Sebaiknya pergi dari hadapanku, atau nanti kau akan menyesal." Geram orang tersebut pada Robert.
__ADS_1
"Tenanglah, Bung. Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa kau begitu marah?" ucapan Robert semakin membuat orang itu emosi.
"Bukan hanya badanmu saja yang besar, ternyata emosimu juga besar. Apa itu karena kau menyesuaikan dengan besarnya tubuhmu?" Robert meledek orang tersebut secara terang-terangan pasalnya, orang itu terlihat berisi dengan perut membuncit.
Ternyata Robert dan Julian tidak ada bedanya, mereka sebelas dua belas. Apa karena mereka sudah berteman dari kecil hingga membuatnya juga sama seperti Julian.
"Jaga ucapanmu itu anak muda. Sebaiknya kau pergi dari sini, aku tidak ada urusan denganmu!" niatnya mengawasi Julian justru dirinya di gagalkan oleh kedatangan Robert.
"Tentu saja ada." Robert benar-benar tidak mau mengalah.
"Kau ... awas saja kau nanti. Kau akan menyesal!" marahnya dengan menunjuk wajah Robert. Robert hanya menunjukkan tampang bod*hnya di hadapan orang itu, tidak lama kemudian, orang itu beranjak pergi dari sana.
Niatnya untuk memantau Julian ia urungkan karena harus bertemu dengan Robert yang memancing emosinya. Robert hanya melihat kepergian orang tersebut. "Hah, baru begitu saja sudah kabur."
Dengan tersenyum miring Robert melihat orang itu pergi dari sana. Robert memutuskan untuk ikut bergabung dengan Julian dan yang lainnya. Meskipun awalnya terjadi perdebatan kecil di anatara mereka semua.
Jika di saat siang tadi mereka melakukan double date, lain halnya saat malam hari. Mereka tengah berkumpul di markas, tetapi hanya Julian, Robert dan Gerald. Untuk Fany dan Jennifer tidak ikut berkumpul di sana.
Julian tengah asik merancang senjata yang coba ia rancang sendiri untuknya. Terlihat sekali jika dirinya sangat fokus kali ini, wajah tengil yang biasa ia tunjukkan sekarang menjadi wajah serius. Dunia serasa damai ketika Julian bisa berdiam diri.
"Bagaimana dengan musuh yang kau maksud? Sepertinya, kau sangat tenang?" ucap Gerald memulai pembicaraan.
"Lalu, aku harus bagaimana?" jawab Julian dengan wajah polosnya.
"Kau tidak melakukan apa-apa?"
"Apa kau tidak melihat jika aku sedang merakit senjata saat ini?" yang jadi pertanyaan apa, Julian jawabnya apa.
__ADS_1
"Bukan itu yang aku maksud!" kesal Gerald menghadapi Julian.
"Apa aku salah? Kau sendiri yang bertanya padaku aku tidak melakukan apa-apa. Aku sedang merakit ini." Julian menunjukkan senjata yang ia rakit pada Gerald.
Gerald mengusap wajahnya kasar karena geram dengan Julian. Robert hanya ceikikan melihat Gerald yang sepertinya sangat frustasi di sana. Baru juga dirinya berada di markas, bagaimana dengan Robert yang setiap hari harus menghadapi sifat Julian yang seperti itu.
Untung saja Robert sudah kebal untuk itu, karena memang dia sudah tahu bagaimana Julian sejak kecil. Jadi tidak kaget untuk Robert jika berhadapan dengan Julian.
"Kau yang sabar jika mempunyai ipar seperti ini,"
canda Robert pada Gerald yang benar-benar kesal menghadapi Julian. "Aku ingin sekali melemparmu ke dasar laut sana," kesalnya.
"Apa kau berani? Kalau kau melemparku, kau tidak akan bisa menikahi Jen nanti." Julian sedikit memberikan ancamannya.
"Yang aku nikahi Jenni, bukan dirimu. Justru aku bisa hidup tennag tidak memiliki ipar sepertimu!" Gerald menanggapi Julian tidak kalah memohok di sana.
"Coba saja kalau kau bisa,"
"Kau menantangku!? Bahkan sekarang pun aku bisa melakukan acara resepsi jika aku mau." Jawaban Gerald cukup berani di sana. Namun mengingat siapa dia, tidak mungkin dirinya takut dan mengalah begitu saja dengan Julian.
"Lakukan saja kalau kau mau." Entah sampai kapan mereka akan berdebat, hingga pertanyaan serius yang di layangkan oleh Gerald itu terlupakan karena Julian yang menjawabnya dengan sedikit konyol. Namun jawabannya juga ada benarnya, entahlah siapa sebenarnya yang salah.
"Kau itu laki-laki tapi sensi sekali," ledek Julian pada Gerald yang kesal dengannya. Beda dirinya yang terlihat sangat santai menghadapinya.
"Tidak melakukan apa-apa bagaimana maksudmu, tentu saja aku sudah meminta anak buahku untuk berjaga-jaga dan mengawasi mereka. Aku juga sudah menyelundupkan anak buahku ke sana. Aku hanya ingin bermain-main dulu dengan mereka. Biarkan mereka lelah dengan sendirinya, baru nanti aku bisa menghabisinya," sambung Julian. Julian kembali mengotak-atik senjata miliknya yang baru ia buat di sana.
"Apa kau kira mereka akan berhenti begitu saja? Mereka pasti akan melakukan sesuatu di saat kau tidak tahu," sela Gerald.
__ADS_1