Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 164 Season 2


__ADS_3

Klek...


Pintu terbuka, menunjukkan dokter tiba di sana.


"Anda sudah sadar, Nyonya? Apa yang Nyonya rasakan?" Tanya dokter lalu memeriksa keadaan Mama Lita di sana.


"Dok, dimana suami saya? Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya.


"Tadi ada dua korban seorang laki-laki yang sudah tidak bernyawa, Nyonya. Saya tidak tahu itu suami Nyonya atau bukan." Jawab dokter tersebut. Mama Lita terlihat kaget walaupun dia belum tahu siapa orang itu. Tapi perasaannya terasa tidak tenang dengan ucapan dokter tadi.


"Apa aku boleh melihatnya, Dok?" Ucapnya merasa sedikit was-was.


"Silahkan, Nyonya. Biar saya panggilkan salah satu perawat untuk menemani Anda." Ucap dokter tersebut lalu berjalan keluar memanggil salah satu perawat yang ada di sana.


Tidak lama kemudian, salah satu perawat datang ke sana dengan membawa kursi roda untuknya. Suster membawanya ke kamar tempat di mana semua orang yang sudah tidak bernyawa lagi.


Sesampainya di sana, keduanya berhenti. Penjagaan di sana mempersilahkan mama Lita untuk melihat.


Mama Lita melihat orang pertama, ternyata itu bukan suaminya. Dan yang ke dua, dia kembali melihat.


Matanya terlihat melebar melihat orang yang terbujur kaku sudah tidak bernyawa di atas brankar.


"Pa, Papa... Bangun Pa. Pasti papa pura-pura tidur, bangun Pa." Teriaknya sambil mengguncangkan tubuh suamimya itu.


Ternyata papa Lita tidak bernyawa lagi setelah kecelakaan yang di akibatkan mobil oleng tadi.


"Paa... Bangun, Pa, Bangun. Kita harus mencari Lita dulu, bangun Pa." Teriaknya lagi. Air matanya memang tidak menetes, tapi terlihat sekali jika dirinya sangat terpukul melihat suaminya terkubur kaku tidak bernyawa lagi.


"Paaa..." Teriaknya semakin histeris dengan mengguncang tubuh tak bernyawa itu dengan hebatnya. Perawat dan petugas itu pun menjauhkan Mama Lita yang sudah seperti orang gila di sana. Mereka membawa paksa mama Lita keluar dari ruangan itu.


"Lepaskan, biarkan aku membangunkan suamiku dulu. Lepas! Apa kalian tidak dengar?" Dia semakin berteriak. la merontah-rontah untuk di lepaskan dari cekalan petugas rumah sakit.


Mama Lita terus saja memberontak hingga dirinya

__ADS_1


terlepas, dia lari sekuat tenaga. Tapi, bukannya lari kembali menuju ruang di mana suaminya berada, tapi justru dia berlari keluar dengan sedikit berteriak seperti orang gila. Semua orang menepi melihatnya yang berlari sambil berteriak.


Tiba di sebuah tangga, dia memilih turun melewati tangga tersebut dengan berlari. Belum juga separuh tangga, kakinya tersandung, dia pun jatuh menggelinding dari atas.


Perawat dan petugas yang melihat itu pun hanya bisa berteriak karena terlambat menyelamatkan mama Lita yang jatuh menggelinding.


Saat di bawah, mama Lita terlihat berlumuran darah. Luka yang ada di kepalanya terbuka kembali karena benturan-benturan yang terjadi.


Orang yang menyaksikan kejadian tersebut segera mendekat ke arah mama Lita yang sudah tidak sadarkan diri.


Orang-orang yang melihatnya mencoba memeriksa, apakah mama Lita masih bernafas tau tidak.


Salah satu di antara orang-orang itu menggelengkan kepalanya setelah memeriksanya.


Belum lama suaminya tiada, sekarang dirinya yang menyusul kepergian suaminya. Petugas rumah sakit segera mengurusnya dan meletakkan dirinya di ruang jenazah.


Di sisi Sean, dia baru saja turun dari mobilnya bersama Ana. Sepertinya mereka menghabiskan waktu berdua selama anak dan keponakannya tidak ada di rumah.


Kriing....


Bunyi ponselnya terdengar, Sean segera merogoh ponselnya dan melihat siapa yang sudah menghubungi dirinya.


"Sebentar, aku angkat telfon dulu." ucapnya pada Ana lalu sedikit menjauh. "Ada apa?" Tanya Sean to the point melalui sambungan telfon.


"Lapor, Tuan. Paman dan Bibi Nyonya telah tiada, mereka mengalami kecelakaan di jalan Y. Tuan Mike tewas saat di tempat sedangkan istrinya menyusul kepergiannya setelah tahu suaminya tidak bernyawa lagi. Dia jatuh terguling dari atas tangga di rumah sakit." Jelas anak buahnya melalui sambungan telfonnya.


"Baguslah, aku tidak perlu repot-repot mengurus mereka. Kembalilah dengan tugasmu," ucap Sean lalu mematikan sambungan telfonnya secara sepihak. la kembali dan merangkul pundak Ana untuk masuk ke dalam.


"Ada apa?" Tanya Ana.


"Emm... Tidak ada, tadi anak buahku yang melaporkan keadaan di markas." Bohongnya pada Ana. Sean menutupi kematian paman dan bibi Elina, dia memang sengaja tidak memberitahukan Ana akan hal ini. Bagi Sean, Ana tidak perlu menangisi mereka lagi.


Sudah cukup dirinya di sakiti oleh keluarga paman dan bibinya.

__ADS_1


Jennifer dan Fany turun dari lantai atas menuju ke dapur untuk sarapan karena keluarga Gerald dan lainnya sudah menunggunya.


"Maaf, Mom, Dad, sudah menunggu terlalu lama." Ucapnya yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, duduklah. Kita makan sama-sama," mereka pun akhirnya menyantap makanan mereka masing-masing.


Setelah tiga puluh menit kemudian, mereka sudah menghabiskan sarapan mereka masing-masing.


"Ajaklah Jenni keluar, biar tidak bosan di sini." Ucap sang Mommy padanya.


"Jangan khawatir, Mom. Aku akan mengajaknya ke Hollywood setelah ini." Jawabnya.


Fany yang mendengar kata Hollywood itu pun sangat antusias, "hah, Hollywood. Benarkah?" Antusiasnya. Yang di ajak siapa yang jawab siapa, sudah biasa untuk Fany.


"Aku tidak mengajakmu, pergilah bersama Julian." Ketusnya pada Fany. Seketika Feny mengerucutkan bibirnya pada Gerald.


"Kalau kau mengajak kakakku harusnya kau juga mengajakku, aku dan dia kan sepaket. Tidak lengkap nanti," sahut Julian. Entah kenapa ada saja yang ia katakan.


"Hahaha... Kau ikutlah bersamanya, tuan muda Johnson. Jangan hiraukan apa yang dia katakan." Tuan Carlos. Terkadang memang Gerald sedikit ketus dan dingin, tapi itu bukanlah hal yang serius.


"Sekarang kalian bersiaplah, setelah itu berangkat." Sahut Mommy Gerald.


Mereka segera bersiap di kamar masing-masing, Fany terlihat sangat antusias. Kapan lagi dia akan datang ke Hollywood.


"Tuan putri, kau beruntung bisa mendapatkannya, calon mertuamu juga sepertinya sangat baik. Kalau aku jadi dirimu pasti tidak akan aku biarkan dia lepas begitu saja." Ucapnya pada Jennifer.


"Eemm... Dia sudah jadi milikku, milikku tetaplah milikku. Tidak bisa di sentuh orang lain, itu sudah hak paten." Jawaban Jennifer cukup mencengangkan. Tapi, itulah Jennifer, apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan ia lepas lagi.


"Aku setuju denganmu, Tuan Putri. Jika aku di posisimu pasti juga akan begitu," jawabnya menyetujui ucapan Jennifer.


"Sudah ayo, jangan berlama-lama." Ucapnya lalu berjalan keluar dari kamar. Fany berjalan tepat di belakang Jennifer.


Tidak lengkap rasanya jika ke Amerika tidak berkunjung ke Hollywood. Gerald dan Julian sudah menunggu di bawah, Jennifer dan Fany segera menyusul.

__ADS_1


"Ayo." Mereka segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke tempat yang akan ia tuju kali ini. Tanpa berlama-lama Gerald melakukan mobilnya membelah jalanan kota.


__ADS_2