
"Diam kau, aku lakban lama-lama dirimu." Kali ini Fany yang berbicara karena dirinya juga merasa jengkel dengan Gerald.
"Aku kira kau cowok cool, ternyata kau sama saja dengan Julian. Suka julid dan suka berbicara ngelantur," sengal Fany.
"Kenapa kau menyamakan aku dan dirinya, tentu saja aku berbeda dengannya." Ucap Julian yang tidak terima jika di samakan dengan Gerald.
"Kau memang sebelas dua belas dengannya, sama-sama anak mafia tapi tidak menunjukkan seorang anak mafia." Jawab Fany yang tidak kalah sewot di sana.
"Tentu saja lebih keren diriku dari pada dia." Julian mengarahkan rambut depannya ke belakang.
Diam-diam Jennifer mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Hallo, Pi. Jenni mau berbicara sama papi," semua
yang ada menatap Jennifer yang berbicara dengan sang papi di seberang sana.
"Apa, Jen?" Tanya Sean.
"Jenni mau bilang supaya papi menjodohkan Julian dengan Fany," mereka yang di sebutan namanya itu melototkan matanya lebar-lebar.
"Tidak, pi. Jangan, papi jangan dengarkan Jenni, dia cuma ngasal." Teriak Julian dengan segera.
"Papi dengar sendiri, kan. Mereka mau katanya," Jennifer tidak kalah menjahili Julian di sana. Entah ada apa sebenarnya dua sejoli itu, sepertinya sangat puas menggoda Julian kali ini. Biasanya Julian yang menjadi biang kerok, tapi kali ini dirinya yang menjadi korban.
Gerald hanya bisa menahan tawanya melihat dua saudara itu terlihat lucu, belum lagi wajah Julian yang terlihat gugup di sana.
"Tidak, tuan. Jangan dengarkan tuan putri, dia hanya bercanda." Fany ikut menolak keras.
"Pi, jangan dengarkan Jenni, pi. Sebaiknya papi nikahkan saja mereka berdua dengan cepat," ujar Julian. Gerald tertawa di buatnya.
Sean yang di seberang sana terlihat bingung mendengar kegaduhan mereka, dia berfikir apa yang sudah terjadi pada anak-anaknya hari ini.
"Yaudah, ya, pi. Jenni tutup dulu," Jennifer memilih memutuskan sambungan telfonnya karena mereka semua gaduh, untung saja mereka duduk di pojok café.
Sean di buat bingung di seberang sana, wajahnya terlihat sekali dia sedang bertanya-tanya apa yang di buat oleh anak-anaknya di luar sana.
"Ada apa, tuan?" tanya James yang melihat wajah Sean seperti kebingungan.
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita besanan saja," celetuk Sean begitu saja. James justru di buat bingung dengan ucapan Sean yang secara tiba-tiba, tidak masuk akal juga menurutnya.
"Sepertinya, tuan mabuk hari ini." Jawab James di sana. Kalau itu orang lain mungkin sangat senang jika Sean berbicara seperti itu, tapi beda dengan James. Justru dia menjawabnya dengan mengatakan kalau Sean sedang mabuk.
"Aaahh sudahlah," ujar Sean lalu melanjutkan aktifitasnya. Sudah biasa pikirnya jika anak-anak mereka sedang bercanda.
Kembali lagi ke sisi Jennifer dan lainnya...
"Kenapa kau menuruti cecunguk itu, yang kau katakan parah sekali." Ujar Julian dengan sedikit sewot.
"Kalau tau begini lebih baik kalian bertengkar saja tidak pernah akur," sambungnya dengan kesal.
"Kau parah sekali, tuan putri. Siapa juga yang mau dengannya, kalau saja dia bukan adikmu mungkin aku juga tidak mau berteman dengannya." Ucap Fany terlalu jujur. Mungkin dia juga kesal dengan Julian, bayangkan saja dirinya dari kecil selalu di jahili oleh Julian sampai dewasa masih tetap sama.
"Hahaha... good babe. Aku suka dengan gayamu," ucap Gerald memberikan dua jempolnya ke arah Jennifer.
"Aku suka melihat wajah kalian yang gugup seperti tadi, pemandangan langkah untukku. Hahahah..." sepertinya Gerald sangat puas kali ini.
"Aku rasa kau sedang tidak sehat hari ini," sahut Fany padanya.
"Terserah kau saja, tertawalah sepuasmu sebelum kau tidak bisa tertawa." Fany semakin di buat kesal di sana. Semakin tertawalah Gerald melihat Fany yang sangat kesal pada dirinya.
"Aku doakan kau tersedak nanti," kali ini giliran Julian yang mendoakan Gerald di sana. Julian kembali memakan burger miliknya dengan rasa kesalnya.
Uhhuukkk...
Gerald dan Jennifer tertawa bersamaan melihat Julian yang tersedak di sana, Fany menatap Julian di sana tanpa membantunya.
"Hahaha... senjata makan tuan ternyata," gelak tawa Gerald tidak pernah berhenti di sana. Baru kali ini mereka membuat kesal Julian.
"Sepertinya kau termakan dengan ucapanmu sendiri ," sahut Jennifer.
"Makanya, kalau mendoakan orang itu yang baik. Kena sendiri kan luuu..." Fany ikut menghakimi Julian di sana.
"Kenapa kau tidak membelaku? Harusnya kau membelaku, bukan ikut-ikutan seperti mereka berdua."
__ADS_1
Julian terlihat kesal karena tidak ada yang di pihaknya.
"Gak ada untungnya juga aku membelamu," sinis Fany lalu kembali memakan makanan miliknya.
Tawa Gerald dan Jennifer tidak ada hentinya di sana, kapan lagi mereka membuat Julian kesal. Mumpung mereka ada kesempatan untuk membalas kejahilan Julian selama ini. Julian terlihat sekali jika dirinya kesal, tanpa berbicara lagi dia memakan burger miliknya tanpa peduli dengan orang-orang di sana. Hari ini menjadi hari terburuk untuknya.
Malam hari....
Semua keluarga Sean sudah berkumpul seperti biasa, tak lupa juga di sana ada Riko yang di perintahkan oleh Sean untuk datang ke sana.
"Ada apa, tuan?" tanyanya penasaran.
"Aku memintamu datang kemari untuk membicarakan pernikahanmu dengan Diva," seketika Riko membulatkan kedua matanya lebar-lebar.
"Apa tuan tidak bercanda?" ucap Riko tidak percaya.
"Apa kau melihatku sedang bercanda?" Riko melihat ke arah Sean, tidak ada wajah kebohongan di sana.
"Aku dan Ana sudah sepakat untuk ini, aku tidak ingin ada sesuatu hal yang akan terjadi nanti. aku percaya denganmu, kau pasti bisa menjaga Diva dengan baik." Ucap Sean, setelah usai berperang waktu itu Sean berfikir matang-matang untuk mengambil keputusan besar itu.
Selepas perang, Sean juga menceritakan apa sebenarnya yang sudah terjadi karena Ana marah dengannya sebab tidak kunjung pulang. Ana nampak terkejut mendengar cerita Sean, maka dari itu keduanya segera mengambil keputusan itu.
"Diva juga sudah sepakat untuk ini. Mau kapan lagi kau menundanya? Sudah waktunya dirimu bersama dengan pendamping hidupmu. Untuk persiapan kau juga tidak perlu khawatir, semua pasti akan menyiapkannya untukmu. Kau hanya menyiapkan dirimu saja," sambung Sean.
"Uncle... sampai kapan kau mau menunda-nunda. Tinggal kau sendiri yang belum menikah, apa kau tidak takut menjadi perjaka tua? Apa dirimu mau menunggu berumur 50 tahun dulu baru menikah" sahut Julian yang memang tidak pernah di filter jika berbicara.
Bugh...
Jennifer memukul lengan Julian sedikit keras karena ucapnya yang ngasal.
"Kenapa kau memukulku, aku kan berbicara benar." Ujarnya mengelus lengannya yang sedikit sakit.
"Yang di katakan Sean benar, Ko. Mau sampai kapan dirimu menunda-nunda, tidak baik jika menunda pernikahan. Kau tidak perlu khawatir untuk biaya dan lainnya, anggap ini semua adalah hadiah untukmu dari kami. Kau sudah bertahun-tahun mengabdi pada kami, waktunya dirimu menemukan kebahagianmu." Ucap Ana yang menyetujui.
Like vote gift and komen
__ADS_1