Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 116


__ADS_3

"Aku? Aku hanya berjalan-jalan ke sini, aku mencoba melihat-lihat gudang ini. Ternyata ada wanita cantik sepertimu." Jawabnya dengan menunjukkan smirknya.


Lita yang terus waspada itu pun tidak percaya dengan jawaban dari Riko. "Aku tidak percaya denganmu, mana mungkin jalan-jalan ke gudang tua seperti ini." Jawabnya.


"Hahaha.... Kau sedikit pintar rupanya." Gelak tawa Riko terdengar di sana.


Riko lebih mendekat ke arah Lita yang sudah berwaspada dari tadi. Lita berlari menghindari Riko di sana, Riko hanya tersenyum remeh memandang Lita yang saat ini berlari.


Buuggh...


Lita menabrak seseorang bertubuh besar dengan keras. Niatnya ingin menjauh dari Riko, justru dia malah tertangkap dengan anak buah Sean yang lain.


"Kau tidak bisa lari kemana-mana lagi, nona." Ucap Riko di sana.


"Lepaskan aku." Berontaknya untuk di lepaskan.


la mencoba memukul dan menendang-nendang kaki anak buah Sean, tapi usahanya sia-sia. Dia tidak bisa menjatuhkan anak buah Sean.


la terus saja memberontak memukul-mukul wajah anak buah Sean.


Riko mendekat dan mencekal kuat pundaknya agar tidak memberontak. Riko merogoh ponselnya untuk menghubungi Sean.


Kriing...


Kriing...


Sean segera merogoh ponselnya karena mendapat panggilan. Ia melihat nama yang tertera di sana, Sean segera menekan tombol hijaunya.


"Halo." Ujar Sean singkat.


"Lapor, tuan. Kami sudah menemukan wanita itu, sekarang dia sedang bersamaku." Ucapnya. Ia mencekal kuat pundak Lita karena terus saja memberontak.


"Good. Bawa dia ke markas, aku akan segera ke sana." Ujar Sean lalu mematikan sambungan telfonnya.


Riko dan anak buah Sean pun segera membawa Lita dengan paksaan karena dia selalu memberontak untuk di lepaskan. Mereka terpaksa membekuk orang tersebut hingga jatuh pingsan, jika tidak, orang tersebut terus saja memberontak dan memukul anak buah Sean.


Anak buah Sean mengikat Lita dengan rantai di kedua tangan dan kakinya agar tidak memberontak nanti.


"Kau memang cantik, nona. Tapi sifat dan sikapmu tidak secantik wajahmu." Ujar Riko yang melihat kecantikan dari Lita. Ia tersenyum remeh lalu melangkahkan kakinya pergi.


"Tunggu di sini sampai tuan datang." Perintah Riko berjalan meninggalkan mereka untuk berjaga di sana. Riko berjalan keluar dengan satu tangannya ia masukkan di saku celananya.


Tidak lama kemudian Sean sampai di markas bersama Jennifer, ia menurunkan Jennifer dan menggandengnya berjalan masuk ke sana.


"Hai uncle..." sapa Jennifer melihat Riko yang sedang berjalan.

__ADS_1


"Selamat datang, tuan." Ujarnya membungkukkan badannya pada Sean.


"Hai juga nona kecil,." Sapanya kembali pada Jennifer.


"Jenni... sama uncle Riko dulu, ya." Ujar Sean pada putri kecilnya.


"Siap, papi." Jawabnya.


"Jaga dia, aku akan ke ruang bawah tanah menemui orang itu." Ujar Sean lalu melangkahkan kakinya pergi. "Uncle, ayo kita main piano." Ajak Jennifer. Jadi,


itulah alasannya untuk kuekeh mengikuti sang papi.


Riko mengajak Jennifer ke salah satu ruang yang ada piano Sean di sana.


Sean berjalan dengan langkah lebarnya menuju ruang bawah tanah. Sorot matanya menajam, ia sedari tadi menahan amarahnya di depan semua orang dan anak-anaknya. Kali ini, wajah marahnya tidak bisa berbohong lagi. Wajahnya sangat merah dengan rahangnya mengeras.


Anak buahnya memberikan hormat padanya saat tiba di sana.


"Buka." Ucap Sean dengan nada suara yang sangat tegas. Anak buahnya segera membukakan pintu tersebut.


Sean melihat Lita dengan kedua kaki dan tangannya di ikat dengan rantai besi di sana. Lita masih belum sadarkan diri saat ini.


Plaak...


Sean langsung saja menampar wajah Lita dengan sangat keras, hingga tangannya mengecap di pipi Lita. Untung dirinya saat ini masih belum sadarkan diri, jika dia sadar, mungkin dirinya akan jatuh pingsan hanya sekali tamparan dari Sean.


"Bawakan Air ke sini." Perintah Sean pada anak buahnya. Mereka segera mengambil air sesuai yang di perintahkan oleh Sean.


Tidak lama kemudian, mereka membawa satu ember yang berisikan air penuh.


"Masukkan ke dalam mulut dan hidungnya." Perintah Sean kembali. Mereka melakukan apa yang Sean perintahkan.


Uhhuukkk...


Uhhuukkk...


Lita terbatuk dan terbangun karena banyaknya air yang masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Hal yang pertama ia rasakan adalah panas di pipinya karena tamparan keras dari Sean.


"Auuhh..." ringisnya merasa sakit dan panas.


la memberontak saat tahu dirinya terikat dengan rantai.


"Kau sudah bangun?" ujar Sean dengan suara beratnya. Lita terbelalak melihat Sean di depannya saat ini.


"K-kau?" ucapnya terbata.

__ADS_1


"Kau tahu siapa aku, bukan?" Sean mendekat ke arah Lita dan mencengkram kuat dagunya.


"Apa yang sudah kau lakukan pada istriku, hah?" bentaknya di depan wajah Lita.


"Bahkan tangan kasarku saja tidak pernah membuat dirinya terluka, bagaimana bisa kau membuatnya seperti itu?" Sean melepaskan kasar cengkramannya pada Lita.


"Heh, memang dia pantas mendapatkannya. Karena dirinya aku menderita selama bertahun-tahu." Ucapnya yang tidak ada takut-takutnya pada Sean.


Plaak...


Sean kembali menampar pipi sebelah Lita dengan keras.


"Dasar wanita tidak tahu diri, kau menderita karena ulahmu sendiri. Apa kau lupa, siapa yang sudah membuat istriku di usir? Apa kau juga lupa bagaimana kalian memperlakukannya?" ucap Sean menjambak rambut Lita hingga dirinya mendongak ke atas.


"Kali ini aku tidak akan melepaskan mu." Sambung Sean.


Dia benar-benar ingin menghabisi Lita saat ini. Jiwa monsternya telah bangun dari tidur panjangnya.


"Ambilkan belati yang sudah berkarat." Perintahnya.


"Apa yang akan kau lakukan, hah?" bentaknya pada Sean.


"Aku akan melakukan hal yang sama padamu." Jawab Sean menunjukkan senyum iblis nya.


Anak buah Sean memberikan belati itu padanya. Sean menerimanya dan tersenyum jahat pada Lita.


"Bagaimana jika belati ini menancap pada tubuhmu ?" Sean menaikkan sebelah alisnya.


Sreeett....


Sean menggores kasar belati itu pada tubuh Lita. "Aaarrkhh..." teriak Lita menahan sakit karena goresan yang di berikan Sean. Darah segar bercucuran.


"Bagaimana? Apa ini enak?" tanya Sean dengan raut wajah yang seperti psikopat.


"Kau gila, kau psikopat." Umpatnya pada Sean.


Rasa sakit yang di derita Lita dua kali lebih sakit dari pada Ana, karena belati yang di gunakan oleh Sean sudah berkarat.


"Jika aku gila dan psikopat, lalu bagaimana dengan dirimu yang melukai orang tidak bersalah?" Sean membalikkan kata-kata Lita.


"Aku memberimu kesempatan hidup, tapi kau malah menggali lubang kubur mu sendiri." Sambung Sean menatap Lita dengan penuh amarah.


Sreett....


Sean kembali menggoreskan belati itu pada Lita. Lita kembali berteriak menahan sakit yang ia derita.

__ADS_1


Sean tidak peduli dengan teriakan-teriakan dari Lita, justru Sean ingin mendengar teriakan Lita lebih keras lagi.


__ADS_2