
"Aku penasaran saja. Kalau wanita sekarang pasti kebanyakan hanya mengincar kekayaan dan ketampanan Papi, bagaimana dengan Mami?"
"Jadi kau mengakui ketampanan Papimu ini?" Sean terlihat sangat pede setelah Julian mengatakan jika dirinya tampan. Julian menncebikkan bibirnya karena ke PD-an dari sang papi.
"Ternyata bisa narsis juga," gumam Julian.
"Sudah jawab saja, Pi. Julian ingin tahu," sambungnya lagi dengan rasa yang tidak sabar.
"Hahaha... kau sangat tidak sabar sekali." Gelak tawa Sean terdengar renyah di telinga Julian.
"Hmmm... waktu dulu, Grandma dan Grandpa mu selalu meminta Papi untuk segera menikah, tapi waktu itu Papi tidak pernah memikirkan masalah wanita," ujar Sean memulai ceritanya.
"Lalu, bagaimana Papi bisa tertarik pada Mami?" Julian penasaran dengan cerita sang papi.
"Saat itu Grandma dan Grandpa mu yang meminta Papi menikahi Mamimu," jawab Sean.
"Apa Papi di jodohkan dengan Mami?" Julian semakin di buat penasaran.
"Tidak." Sean menggelengkan kepalanya.
"Ck, Papi kalau cerita, ceritakan semuanya. Jangan setengah-setengah," protes Julian dengan sedikit kesal karena Sean tidak langsung menceritakan detailnya.
"Hahaha... kau memang tidak sabaran. Apa yang membuatmu sangat penasaran?" Sean memang sengaja untuk membuat Julian penasaran.
Akhirnya Sean menceritakan bagaimana dirinya dulu bisa bersama dengan Ana, di mulai dari Diva yang pertama kali dekat dengan Ana dan akhirnya mami dan papi Sean yang meminta Sean menikahi Ana. Julian menyimaknya tanpa menyela, sepertinya dia memang benar-benar penasaran kisah perjalanan sang papi. Kali ini dia benar-benar mendengarkan cerita sang papi, dia dalam mode kalem untuk sementara.
"Jadi, Papi dan Mami waktu itu belum ada rasa?"
__ADS_1
"Hmmm .mungkin Papi sebelumnya sudah memiliki sedikit rasa pada Mamimu, tapi waktu itu Mamimu masih belum ada rasa pada Papi. Waktu itu baru saja Mamimu di hianati oleh kekasihnya yang berselingkuh dengan kakak sepupunya sendiri, mungkin dari situ Mamimu masih takut untuk membuka hatinya," jelas Sean.
"Lelaki bodoh mana yang sudah menghianati Mami? Bisa-bisanya dia menyakiti Mami. Dan sepupu macam apa yang sudah merebut kebahagiaan sepupunya sendiri," ujar Julian yang sedikit terbawa emosi mendengar penjelasan sang papi.
"Di mana mereka sekarang, Pi? Biar Julian memberi pelajaran pada mereka!"
"Mereka sudah mendapat pelajaran yang setimpal dari Papi," jawab Sean.
"Lalu, bagaimana Mami bisa luluh dengan Papi?" Julian kembali melayangkan pertanyaannya yang sempat tertunda tadi.
"Tentu saja Papi berusaha untuk meyakinkan Mamimu, akhirnya Mamimu perlahan-lahan bisa luluh. Meskipun awal pernikahan Papi dan Mami belum memiliki rasa, tapi Papi juga tidak akan menghianati bentuk pernikahan. Pernikahan bukan untuk di mainkan," jelas Sean. Julian kembali merenungkan ucapan sang papi.
Sean tersenyum melihat Julian saat ini. "Ada apa denganmu, Boy? Apa kau ada masalah dengan Fany?" Sean menepuk pundak Julian.
"Apa yang sedang Papi katakan? Tidak ada," elaknya.
"Hahaha... apa kau kira Papi tidak mengetahui semuanya? Gerak gerik kalian masih dalam pengawasan Papi, Boy." Sean kembali tertawa dengan renyah di sana.
"Apa Fany masih belum luluh denganmu? Sepertinya kau tidak ada romantisnya, pantas saja jika Fany belum menyadari dengan perasaanmu," canda Sean.
"Pantas saja kau tiba-tiba bertanya bagaimana Papi dan Mamimu dulu, jadi ini alasannya," sambung Sean.
"Kau hanya butuh usaha untuk mengambil hatinya, Boy. Beri sedikit sikap manis, jangan selalu berubuat jahil atau membuatnya kesal. Papi tahu mungkin setiap orang mempunyai cara tersendiri, tapi kau juga perlu bersikap manis sesekali. Papi rasa, bukannya dia tidak memiliki rasa padamu, Boy. Tapi dia masih belum bisa menyadari perasaannya," terang Sean panjang lebar.
"Sepertinya dia juga masih belum bisa membedakan antara serius dan gurauanmu, dia bersikap seperti itu karena tahu bagaiman sikap tengilmu," sambung Sean.
"Mana ada Julain tengil, Julian hanya menghibur orang lain saja," elaknya tidak terima jika sang papi mengatai dirinya tengil. Padahal itu benar adanya jika dirinya memang sangat tengil, Sean hanya tersenyum miring di sana.
__ADS_1
"Hmmm... Papi ada sedikit cara untukmu,"
"Cara apa?" tanya Julian sedikit antusias.
"Buatlah dia cemburu, coba dekati wanita lain. Tunjukkan sikap manismu dengan wanita lain di depannya," ujar Sean memberikan solusi.
"Cara apa itu? Tidak menunjukkan jiwa laki-lakinya," protes Julian yang tidak menyetujui solusi yang di berikan oleh sang papi. Padahal cara itu bisa di bilang ampuh membuat Fany menyadari perasaannya.
"Hahaha... lalu cara apa yang kau inginkan. Cara itu bisa saja sangat ampuh untuk melihat bagaimana perasaannya sebenarnya." Sean menertawakan protes Julain.
"Kalau tidak begitu, kau coba cueki dia selama satu minggu atau lebih. Tidak berinteraksi dengannya dalam bentuk apapun, lihat saja dia merasa kehilanganmu atau tidak." Sean kembali memberikan solusi pada Julian.
"Kau memiliki banyak cara, Boy. Kau juga harus sedikit berusaha, Papi tidak bisa ikut campur dalam dunia kalian. Papi hanya bisa mendukungmu dan memberi saran untukmu. Tapi, jika memang Fany tidak ada rasa padamu, kau juga tidak bisa memaksanya, Boy. Kau tahu apa yang harus kau lakukan," jelas Sean pada sang putra.
"Papi masuk dulu, nanti Mamimu marah." Sean beranjak berdiri dari sana.
"Ingat kata Papi tadi." Sean menepuk pundak Julian lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Julian berpikir-pikir saran dan ucapan dari Sean. Mungkin Julian akan mencoba saran yang di berikan oleh Sean, jika itu tidak berhasil, maka Julian harus mengambil langkah. Setelah berpikir-pikir cukup lama, akhirnya Julian masuk ke dalam karena malam semakin larut.
Keesokan paginya...
Di depan gerbang yang menjulang tinggi tepatnya di depan pintu gerbang rumah mewah, mobil hitam itu berhenti untuk menurunkan seseorang. Mereka menurunkan seorang wanita dengan penampilan yang sudah tidak karuan. Rambutnya yang acak-acakan dengan pakaian yang juga sudah terlihat lusuh.
Mereka menurunkan sedikit kasar wanita itu, tanpa berlama-lama mereka kembali melajukan mobil dengan cepat. Penjaga gerbang di sana beranjak dari duduknya karena mereka tadi menutup pintu mobil dengan kencag hingga terdengar keras. Mereka sedikit terkejut dengan wanita yang baru saja mereka turunkan itu, wanita itu terlihat sekali dalam keadaan takut.
"Siapa itu? Ayo kita lihat." Mereka segera berlari mendekat untuk melihat wanita itu.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya salah satu di antara mereka.
"Menjauhlah! Jangan sentuh aku!" sentaknya merasa sangat ketakutan saat di dekati oleh penjaga gerbang. Ia benar-benar takut dengan penjaga gerbang itu, sepertinya dia takut dengan semua orang.