Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 281


__ADS_3

Sementara di sisi Thea ...


la baru saja terbangundari tidurnya, di lihatnya ke kanan dan ke kiri tidak menemukan keberadaan Fany di sana. "Ke mana Fany? Apa dia sudah bangun? Kenapa tidak membangunkanku juga? Dasar anak itu kebiasaan."


Baru juga bangun tidur, Thea sudah berkomat kamit mendumel kesal karena Fany meninggalkan dirinya sendiri di sana. Thea memutuskan untuk bangun dan membasuh mukanya terlebih dahulu. Air yang membasahi wajahnya terasa sangat menyegarkan.


Tanpa berlama-lama Thea keluar dari ruangan yang ia tempati di sana. Ia terkejut melihat semua orang sudah berkumpul di sana, bahkan sang mommy dan daddy-nya berada di sana.


"Mommy, kapan Mommy datang? Mommy tahu dari mana?" ia bertanya dengan polosnya.


"Di mana Fany? Apa Julian juga baik-baik saja?" ia kembali bertanya. Jennifer pun mendekat dan memberitahukan yang sebenarnya terjadi.


Thea tdak kalah sedih, air matanya juga bercucuran di sana. Robert juga baru saja tiba setelah mendengar bagaimana ke adaan Julian. Semalam dirinya yang mengurus sisa-sia di sana, ia juga ikut ke Bavaria untuk melihat pemakaman Dario.


Robert menjadi saksi atas terkuburnya Dario di sana. Maka dari itu ia baru bisa datang ke rumah sakit di waktu pagi hari. Mereka di sana hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Julian.


Kembali ke sisi Fany...


Terlihat Julian yang terbaling lemah di atas brankar, ia mendekat dan menggenggam tangan Julian yang terasa dingin.


"Jul... kenapa kau berbohong padaku?" ia menyeka air matanya.


"Kau bilang padaku kalau kaut. Kau bilang padaku kalau kau tidak akan terluka. Ini apa buktinya, kau berbohong." Suaranya mulai terputus-putus karena menangis. Seanyang melihatnya juga diam-diam meneteskan air matanya melihat kondisi putranya.


Sekelebat bayangan-bayangan di kepala Fany di mana sehari-hari saat mereka bersama dan beradu mulut. "Hiks... hiks... bangunlah. Mana Julian yang biasanya tengil dan suka menggangguku?"


Fany kembali mengusap kasar air matanya. "Kalau kau tidak kunjung bangun, aku akan memusuhimu sampai kapanpun. Aku juga tidak akan mau lagi kalau kau mengajakku untuk kencan seperti yang kau katakan setiap mengajakku pergi."


Fany mencoba diam untuk beberapa menit, siapa tahu jika Julian di sana hanya mengerjainya. Setelah hampir 10 menit, Julian juga tidak kunjung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Aahaaa... kenapa kau tidak bangun?" Fany menangis dengan keras di sana.


"Apa kau marah padaku? Kenapa kau tidak mau bangun?" isak tangisnya kembali terdengar di telinga. Sean mendekat dan merangkul pundak Fany.


"Kau tenanglah. Kita akan berusaha untuk menyembuhkan Julian. Kau bisa mengunjunginya kapan pun kalau kau mau." Sean menenangkan Fany yang tidak kunjung diam di sana.


"A-apa b-boleh?" suaranya terbata-bata di sana. Sean mengangguk mengiyakan.


"Berikan kekuatan padanya. 5 menit lagi kita akan membawanya." Seanmelihat jam di pergelangan tangannya.


Fany mengangguk lalu mendekatkan dirinya ke telinga Julian. "Kau masih ingin melihatku, kan? Kau masih ingin berkencan denganku, kan? Jadi, kau harus kuat, kau tidak boleh kalah. Aku akan menunggumu di sini. Aku berjanji selama kau di Amerika aku tidak akan genit dan menggoda laki-laki lain.


"Kau juga harus berjanji padaku. Kau harus kembali." Pecah sudah air matanya di sana. Tanpa ia ketahui, Julian merespon ucapannya, ia menggerakkan jarinya dalam sekejap.


"Tuan ...," ujar anak buahnya yang sudah siap membawa Julian dari sana.


Ana pun juga berhambur memeluk suaminya saat mereka membawa Julian. Mereka membawa Julian ke atap, karena mereka akan menggunakan helikopter untuk mempersingkat waktu.


Jennifer berpamitan pada mami dan papinya untuk mengantar keberangkatan Julian. "Jen, Mami titip Adikmu ya. Beritahu Mami saat kalian sampai di sana."


Jennifer mengangguk pelan. "Mami yang tenang, oke. Kita akan berusaha menyembuhkan Julian. Jen pergi dulu, ya."


Jennifer mulai melangkahkan kakinya pergi di ikuti Robert di belakangnya. Mereka sepakat untuk mengantarkan Julian terlebih dahulu. Mungkin yang lain akan menyusul di lain waktu.


Helikopter mulai mengudara tinggi pergi meninggalkan rumah sakit itu. Semoga Julian bisa segera pulih sedia kala.


Hari-hari mulai berlalu, tidak terasa satu minggu sudah terlewati. Selama itu Fany terlihat sangat murung, makan pun ia sangat enggan. Yang di pikirkan dirinya saat ini hanya keadaan Julian.


"Makanlah. Kau sudah satu minggu tidak makan, jangan biarkan perutmu itu kosong," seru Rika yang melihat putrinya tidak ada semangat sama sekali.

__ADS_1


la hanya menggelengkan kepalanya menolak sarapan yang ada di depannya. "Mau sampai kapan kau seperti ini, Fe. Kau juga harus makan, jangan sampai nanti Julian pulang melihatmu kurus kering seperti ranting pohon."


Rika sedikit kesal menghadapi putrinya yang sama sekali tidak nafsu makan


"Aku tidak lapar, Mommy. Aku berangkat dulu," pamitnya dan mengambil satu lembar roti tawar lalu pergi ke kampus tempatnya belajar.


"Fe, Fany. Makanlah dulu, kau bisa pingsan nanti!" teriak Rika melihat putrinya yang sedah melangkah jauh.


James mencekal tangan Rika dan menggeleng pelan. "Biarkan dulu putrimu. Jangan selalu memaksanya, biar nanti aku yang membujuknya. Dia pasti masih belum bisa menerima keadaan saat ini."


"T-tapi.. bagaimana nanti kalau dia sakit? Perutnya di biarkan kosong begitu saja selama satu minggu." Rika terlihat cemas melihat sikap Fany yang biasanya cerewet dan banyak makan kini diam dan tidak ingin makan sama sekali.


"Tidak akan. Aku yang akan membujuknya nanti." James menenagkan Rika agar tidak merasa cemas.


"Baiklah. Aku serahkan padamu." Mereka kembali melanjutkan sarapan di pagi hari yang sempat tertunda.


Kampus...


Selama jam kuliah, dia sangat tidak semangat. Wajahnya sangat murung, sedari awal dia hanya mencoret-coret bukunya tanpa memperhatikan apa yang di jelaskan dosen di depan sana. Sesekali ia menatap ke luar jendela yang tidak jauh dari posisinya duduk.


Beberapa menit kemudian, jam sudah berakhir. Ia pun keluar dari kelasnya dan berjalan lesu. la pergi ke halaman luas yang ada di depan kampus.


Banyak sekali laki-laki yang menggoda dirinya, tetapi moodnya hilang. Sesuai dengan apa yang dia ucapkan di samping Julian waktu itu. Ia tidak akan bersikap genit lagi pada laki-laki yang ada di depannya.


"Aaaaaaaaaaark....!" Teriaknya dengan kencang di sana mengeluarkan beban di hatinya. Semua mahasiswa yang ada di sana menoleh ke arahnya. Mereka bingung dengan sikap Fany yang tiba-tiba saja berteriak kencan di sana.


"Hehehehee... sorry-sorry. Sengaja," cengirnya di sana. Masih sempet-sempetnya dia cengengesan di saat seperti ini.


Mereka semua kembali fokus sendiri-sendiri tanpa perduli dengan Fany. Mereka yang tahu Fany memang tidak kaget kalau terkadang Fany random seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2