
"Nah Juulll.... Kau pasti kena banting sama tuan putri." Fany mulai memanas-manasi situasi.
"Kenapa kau menyalahkan ku?" Julian sewot tidak terima.
"Pasti kau sudah mengatakan pada tuan Sean kan?" tebak Fany. Kalau tidak, bagaimana bisa mereka semua tahu jika Jennifer adalah kakak Julian.
"Jelas saja aku mengatakan pada papi, mana bisa aku membiarkan dirinya nanti di keluarkan. Sekali-kali biar orang-orang itu tidak sombong." Ketus Julian.
"Kau benar juga, tapi kenapa kau tidak mengajakku bekerja sama?" sambung Fany.
"Tidak, bisa-bisa rumit karenamu." Jawab Julian dengan ketus. Fany mencebikkan bibirnya dengan jawaban Julian.
Malam hari....
Seusai makan malam, seperti biasa keluarga Sean dan semua pasukannya berkumpul sejenak menikmati waktu kebersamaan. Julian sedang menjauh dari amukan Diva, sedangkan Ana, dirinya kini duduk berjauhan dengan Sean. Hanya Jennifer sendiri yang tenang di sana.
Sean yang melihat Ana duduk jauh darinya itu pun mendekat, saat Sean duduk di sampingnya, Ana kembali mencari tempat duduk yang kosong. Sean terus saja mengikuti kemana Ana duduk, sepertinya ada yang tidak beres di antara kedua orang tersebut.
"Papi sama mami kenapa, sih? Heran deh Jul lihatnya." Kesal Julian yang melihat mami dan papinya seperti ada masalah.
"Kau tanyakan sama mamimu ini." Jawab Sean.
"Mamiku yang cantik, mami kenapa sih?" tanya Julian.
"Kau tanyakan saja pada papimu itu." Ketus Ana.
Julian menyipitkan kedua matanya ke arah sang papi. "Hayolohhh papi.... Mami ngambek, siap-siap nanti tidur di luar." Bukannya membantu sang papi, dia justru memanas-manasi suasana.
Sean melototkan matanya ke arah putranya, bisa-bisanya nanti sang istri menuruti apa yang di ucapkan oleh Julian.
"Papi kalau lihat Julian biasa aja deh, ya. Tahu kok kalau Julian tampan." Bukannya takut dengan tatapan sang papi Julian justru bersikap narsis di sana.
"Uncle sama unty kalau bertengkar jangan di sini deh, tidak baik loh di lihat anak-anak." Sahut Diva yang mengatakan jika mereka masih anak-anak. Padahal dari mereka sudah cukup dewasa. Julian mengangguk setuju dengan ucapan Diva.
__ADS_1
"Kalian bukannya membantu, malah memanas-manasi suasana." Sean kesal dengan kedua orang yang ada di depannya itu.
"Memangnya apa yang harus kami bantu, papi. Kan papi dan mami yang ada masalah, Julian gak mau ikut-ikutan deh, ya. Dari pada nanti uang jajannya di potong." Jawab Julian memilih aman.
Ana terlihat cuek di sana tanpa peduli dengan ucapan-ucapan mereka.
"Mami kenapa sih, Mi. Papi genit ini pasti," Julian semakin memanas-manasi. Ekspresi Sean semakin pucat mendengar kata-kata Julian. Bisa-bisa dia akan tidur di luar jika begini.
"Papi potong beneran nanti uang jajan kamu." Ancam Sean pada Julian.
"Sayaang... sudah doong, jangan ngambek. Cantikmu bisa hilang," bujuk Sean pada Ana.
"Sudah jangan dekat-dekat denganku, kau urus saja wanita itu." Ketus Ana membelakangi Sean yang ada di sampingnya.
"Udahlah, Mi. Mami kan punya leopard itu, kalau papi berani macam-macam sama perempuan lain kasihkan saja ke sana. Sama perempuannya, biar mereka hidup abadi." Sahut Jennifer yang menohok.
"Kau betul, kak. Aku setuju." Celetuk Julian di sana.
"Kenapa kalian tega sekali sama papi?" Sean memelas di sana.
"Kalau nanti mami jadi single parent juga masih banyak laki-laki yang ngejar mami, mami kan cantik." Cetus Julian yang membuat Sean melototkan matanya kembali pada Julian. Bisa-bisanya putranya itu mengatakan hal itu.
"Memangnya, kau mau jika mamimu menikah lagi?" tanya Sean.
"Yaa mauu... tapi ada syaratnya. Laki-laki itu harus lebih kaya dari papi, kalau tidak lebih kaya dari papi Julian tidak mau. Nanti uang jajan Julian kepotong lagi." Jawabnya yang terdengar konyol.
"Kau itu hanya uang saja yang kau pikirkan." Sahut Diva. Julian memicingkan bibirnya pada Diva.
"Big no. Papi tidak akan membiarkan mami menikah dengan laki-laki lain. Meskipun orang itu lebih kaya dari papi." Jawab Sean dengan wajah kesalnya mendengar jawaban Julian.
"Diva enggak ikut-ikutan deh yaaa... mau balik ke kamar aja," Diva melenggang pergi dari sana.
"Julian juga, mau ke kamar. Kau mau di sini apa ke kamar kak? Tidak baik melihat orang berantem." Ujar Julian pada sang kakak. Jennifer pun mengangguk lalu beranjak dari sofa lalu melangkah ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Saat ini, hingga hanya ada Ana dan Sean yang ada di sana. Sean pasrah karena tidak ada yang membantunya untuk membujuk sang istri yang sedang ngambek akut itu.
Dirinya harus memikirkan cara untuk bisa membujuk sang istri.
"Sayaang... dengarkan aku dulu."
"Apa yang mau kau jelaskan, hah? Aku tidak perlu penjelasanmu itu. Kau pasti lebih tertarik pada karyawanmu itu bukan? Dia lebih cantik dari pada aku, di juga lebih mudah dariku. Hah." Cerca Ana yang tidak bisa berhenti.
"Bukan, sayang. Kau tetap yang paling cantik di mataku." Jawab Sean membujuk Ana. "Kau pasti berbohong, kan? Kalau aku yang tercantik
bagaimana bisa kau memandang wanita, hah?" Ana benar-benar merasakan cemburu pada suaminya.
"Tadi dia menjelaskan pekerjaannya padaku, sayang. Tidak sopan kalau pandangan kita tertuju ke arah lain. Dia juga tahu kalau aku suamimu," jawab Sean menjelaskan yang ada di kantornya tadi.
Memang saat siang tadi Ana berkunjung ke perusahaan karena merasa bosan di mension sendiri. Saat di sana Ana melihat salah satu karyawan wanita yang sedang berbicara dengan Sean.
"Kau itu pintar sekali beralibi," ketusnya pada Sean.
"Istriku, sayangku, cintaku... aku berani bersumpah padamu. Aku tidak tertarik dengannya, mana mungkin aku mengkhianati istri sepertimu. Kau sempurna untukku dan anak-anak kita. Aku hanya persikap professional saat di kantor." Jelas Sean panjang lebar di sana.
"Kau berbohong kan. Sudah sana, jauh-jauh dariku. Aku tidak suka laki-laki pembohong." Sengal Ana.
"Astaga, sayang. Aku tidak berbohong padamu, kau bisa lakukan apa saja kalau aku berbohong padamu." Ucap Sean. Dia senang jika Ana merasa cemburu, tapi terkadang cemburu Ana sangat membuatnya frustasi. Dia jadi serba salah.
"Kau terlihat menggemaskan jika seperti ini." Sean mencoba merayu Ana.
"Jangan merayuku, rayuanmu itu tidak mempan untukku."
"Sayaang...."
"Sudah diam, kau tidur di luar malam ini." Ana berbicara tegas dengan Sean.
"Sayang, kenapa kau tega sekali. Aku...."
__ADS_1
"Sudah diam. Jangan protes, semakin kau protes satu bulan kau tidur di luar." Ucap Ana lalu beranjak berdiri menuju kamarnya yang ada di lantai atas di ikuti oleh Sean yang juga membujuk rayu Ana.