
Teman sebangkunya hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat tingkah Diva. Mungkin sifat Julian yang petakilan itu menurun dari Diva.
Waktu pulang sekolah....
Segumbulan ciwi-ciwi yang melihat Jennifer ke toilet itu pun mengikutinya sedikit jauh dari sana. Siapa lagi kalau bukan Cindy dan teman-temannya.
"Kunci pintunya, jangan biarkan dia lolos kali ini.” Ujarnya memerintahkan teman-temannya untuk mengunci Jennifer yang ada di dalam. Sepertinya, dirinya tidak ada kapoknya setelah tangannya di pelintir oleh Jennifer.
Setelah melakukan itu, mereka pun segera pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya, Cindy tersenyum puas karena mengerjai Jennifer.
Setelah beberapa menit, Jennifer selesai buang hajat lalu mencuci tangannya di westafel. Ia pun mengeringkan tangannya dan memutuskan untuk keluar karena Julian pasti sudah menunggunya.
Saat ingin membuka pintu, pintu itu terkunci dari luar. Jennifer mengerutkan dahinya sejenak lalu mencoba untuk membukanya.
"Terkunci? Siapa yang menguncinya?" gumamnya pelan.
Tok...
Tok...
"Apa ada orang di luar?" ucap Jennifer sambil mengetukkan pintu dari dalam. Siapa tahu jika ada orang yang melintas.
Jennifer melakukan berkali-kali namun tidak ada sahutan atau siapapun di luar.
Sedangkan di sisi Julian....
Julian berada di parkiran sedang menunggu Jennifer yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya.
"Kenapa belum keluar juga. Apa toiletnya pindah di ujung dunia?" Ujarnya kesal sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Tidak lama kemudian seorang wanita dengan genitnya datang ke arah Julian yang sedang menunggu Jennifer. Julian yang tahu jika orang itu datang mendekat itu pun terlihat kesal sekali.
"Ck... kenapa malah orang ini yang datang?" decaknya kesal melihat orang itu. Siapa lagi kalau bukan Cindy. Dia mencoba mengambil kesempatan kali ini.
"Hai Jul, sepertinya aku tidak di jemput. Boleh aku menumpang?" ujarnya yang bersikap ramah. Julian menaikkan sebelah alisnya.
"Sorry, gua lagi nunggu seseorang. Pulang saja dengan teman-temanmu itu, temanmu banyak kan? Pasti mereka mau memberi tumpangan untukmu." Jawab Julian dengan cueknya. Sepertinya, Julian sangat ogah dengan Cindy.
"Ayolah, Jull... sekali ini saja." Bujuknya dengan sedikit memelas.
__ADS_1
Kembali ke sisi Jennifer...
Berulang kali dirinya mengetuk pintu dari dalam dan sedikit berteriak tapi hasilnya nihil. Tanpa pikir panjang, Jennifer menggunakan tenaganya untuk membuka pintu tersebut dengan sekuat tenaga.
Karena saking kuat tenaganya, pintu itu terbuka dengan gagang pintu dan kunci dalam kondisi rusak. Jennifer melangkahkan kakinya keluar dengan wajah yang sudah tidak bisa di deskripsikan.
la melihat kanan dan kiri dan menemukan secarik catatan yang bertuliskan jika toilet tersebut dalam pembenahan. Jennifer menaikkan sebelah alisnya, ternyata dirinya di kerjai kali ini.
"Kau berani bermain-main denganku? Akan ku buat kau menyesal nanti." Ujarnya merasa marah karena dirinya selalu di usik. Jennifer sudah menebak siapa yang sudah mengerjainya, karena hanya orang itulah yang mengusik Jennifer dari awal.
Jennifer pun melangkahkan kakinya pergi menuju ke parkiran.
Kembali lagi ke sisi Julian...
"Nggak. Aku sibuk." Ketusnya pada Cindy.
"Apa kau tidak kasihan denganku?" ujarnya dengan wajah memelas agar Julian kasihan dengannya dan memperbolehkan dirinya untuk pulang bersama Julian.
"Aku tidak peduli." Jawabnya sangat cuek. la mencoba menghubungi Jennifer dengan ponselnya.
Beberapa menit kemudian, Jennifer pun sudah tiba di sana dan langsung saja menuju tempat Julian yang sudah menunggunya.
"Sorry... sepertinya, ada orang yang ingin bermain-main denganku." Jawab Jennifer sambil tersenyum sinis ke arah Cindy.
Cindy yang melihat Jennifer bisa keluar itu pun terkejut dan bingung, tapi dia menyembunyikan ekspresi wajahnya.
'Kenapa orang ini bisa keluar? Apa dia juga tau kalau aku yang mengucninya?'Cindy hanya bisa membatin karena dia juga melihat senyum sinis dari Jennifer padanya.
"Siapa yang sudah bermain-main denganmu?" Julian sepertinya tidak terima mendengar hal itu.
"Heh, tidak penting. Sebaiknya kita pulang." Jawab Jennifer memandang sinis pada Wilona. Ia menaiki motor sport milik Julian lalu meninggalkan halaman sekDivah yang sudah sepi.
Cindy mengepalkan kedua tangannya kesal, ia tidak terima jika Jennifer bisa bersama dengan Julian. Gumbulan dari Cindy pun keluar dari tempat persembunyiannya melihat Cindy tinggal sendiri di sana.
"Apa ada yang membuka pintu untuknya? Kenapa dia bisa keluar, hah?" bentaknya pada teman-temannya.
"Mana kita tau, kita sedari tadi kan juga ada tidak jauh dari sini. Sekolah juga sepi, mana mungkin ada yang menolongnya." Jawab salah satu dari mereka.
Cindy terlihat semakin membenci Jennifer, ia belum tahu saja siapa sebenarnya Jennifer. Jika saja dirinya tahu, mungkin dia mendekati Jennifer untuk bisa berdekatan dengan Julian.
__ADS_1
Malam harinya....
Julian sangat antusias membuka oleh-oleh yang di bawakan oleh mami dan papinya. Entah kenapa dirinya seperti anak kecil saja.
"Badan aja yang gede, tingkahnya kayak anak kecil." Ejek Diva di sana.
"Kak Diva diam, gak boleh syirik." Jawabnya melanjutkan membuka semua barang-barang yang ada di depannya.
Yaap... Sean dan Ana baru saja pulang berlibur. Dia membawa banyak oleh-oleh untuk putra dan putrinya di mension.
"Bagaimana dengan sekolahmu, Jen? Apa kau suka setelah pindah?" tanya sang papi.
"Hmm... yaa... lumayan papi. Hanya saja, ada gangguan kecil dari pacarnya Jul." Jawab Jennifer yang membawa-bawa nama Julian.
Julian yang mendengar namanya di sebut itupun menghentikan aktifitasnya. Dia bersikap bingung dengan ucapan sang kakak barusan.
"Pacar? Pacar? Memangnya pacarku yang mana?" tanyanya bingung dengan raut wajah yang membuat Diva ingin menaboknya.
"Biasa saja wajahnya, kau terlihat bodoh dengan raut wajah seperti itu." Sahut Diva melihat wajah Julian yang kebingungan.
"Memang pacarku yang mana?" ucapnya lagi.
"Memangnya kau punya pacar berapa?" sengal Jennifer pada Julian. Julian pun menggelengkan kepala menunjukkan itu jawaban untuk Jennifer.
"Lalu, wanita yang mendekatimu tadi?" Jennifer menaikkan sebelah alisnya. Mami dan papinya hanya bisa diam melihat perdebatan kedua anaknya.
"Hiihh... oggah..." ujar Julian bergidik ngeri membayangkan jika Cindy pacarnya.
"Kenapa? Bukannya itu memang pacarmu?" desak Jennifer.
"Jangan mengada-ada ya.... Ya kali aku bisa dengan wanita seperti itu." Jawabnya.
"Memangnya kau di apakan Jen?" sahut sang papi. Sepertinya sang papi faham dengan apa yang di bicarakan oleh Jennifer.
"Emm... tidak pi, tidak apa." Jawabnya berbohong agar sang papi tidak marah. Jika saja marah, mungkin sekolah itu akan di robohkan olehnya.
"Kau berbohong kaaannn.... Kau sendiri yang mengatakan padaku jika ada yang bermain-main denganmu tadi." Julian kembali mengeluarkan wajah songongnya kali ini.
"Tidak, kapan aku berbicara seperti itu padamu?" Jennifer mengelak.
__ADS_1