
"Kalian beristirahatlah, ganti pakaian kalian dan segera pulang. Mamimu pasti sudah menunggu, ini sudah malam." Ucap Sean pada twin J.
"Kan ada papi, kalau marah ya papi lah yang harus bertanggung jawab." Jawab Julian dengan entengnya. Sean tidak habis pikir dengan jawaban Julian, tapi itu sudah menjadi hal biasa. Sudah terbiasa dengan jawaban dari putranya.
"Jangan macam-macam kamu, Jul. Atau uang jajanmu papi potong," ancam Sean.
"Papi dikit-dikit uang jajan yang di potong." Gerutunya.
"Makanya nurut, jangan membantah ucapan papi. Kalian kembalilah dulu ke markas untuk membersihkan diri lalu pulang," pintanya lagi. Julian dan lainnya segera pergi meninggalkan tempat tersebut terlebih dulu. Sean masih harus memeriksa yang ada di sana.
Sedangkan di sisi Ana...
"Ini semua orang pada kemana? Kenapa belum ada yang pulang?" gerutunya karena merasa kesepian di mension besar. Tidak ada twin dan tidak ada Diva, suasana sangat sunyi seperti tidak berpenghuni.
Ana mencoba menghubungi twin J, tapi keduanya tidak mengangkatnya. Ana beralih menghubungi Diva yang sedari pagi dia tidak ada di mension, tapi tidak aktif juga. Ana ingin menghubungi Sean, tapi dia teringat jika ada acara dengan sekelompok nya di dunia bawah.
"Ini anak bertiga kemana? Kenapa tidak ada yang pulang? Awas saja nanti kalau pulang, kau juga Sean. Kau sudah membiarkan istrimu sendirian di mension, hah." Kesalnya karena tidak ada yang bisa ia hubungi.
Markas Kingdom...
Kumpulan anak-anak random itu akhirnya sudah sampai di markas, mereka segera masuk dan membersihkan diri di sana. Bau anyir darah menempel pada mereka, terlebih lagi Julian. Dia sudah seperti mandi darah.
Masing-masing mereka membersihkan diri hingga bau anyir itu tidak melekat lagi di tubuh mereka. Selang kurang lebih selama 30 menit, mereka kembali berkumpul sebelum pulang.
"Kenapa kau bisa ada di sini? kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahuku?" Cerca Jennifer pada Gerald.
"Apa kau merindukanku?" Gerald mencoba menggoda Jennifer.
"Aku hanya bertanya padamu, cepat jawablah. Kenapa tiba-tiba kau berada di sana tadi?" Jennifer bertanya-tanya dengan hadirnya Gerald secara tiba-tiba di sana.
__ADS_1
Gerald mencoba menghitung dengan jari-jarinya, " mungkin sudah sekitar hampir satu minggu aku berada di sini." Jawabnya yang membuat Jennifer menatap tajam ke arahnya.
"Kau sudah selama itu dan tidak memberitahuku?" tatapan horor ia tujukan pada Gerald.
"Sebaiknya kita pergi saja, dari pada menyaksikan mereka seperti ini. Sepertinya, tuan putri mengeluarkan tanduknya." Bisik Fany pada RDivand dan Julian.
“Sudaah, tidak apa-apa. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi, jarang-jarang kita melihat mereka seperti ini ." Jawab Julian. Keduanya mengangguk menurut dengan perkataan Julian.
Kembali lagi pada Jennifer dan Gerald...
"Tenang dulu, jangan marah seperti itu. kedipkan kedua matamu itu," ujar Gerald yang sepertinya takut dengan Jennifer yang ingin mengamuk padanya.
"Aku tidak memberitahumu karena membantu papi, tadinya aku ingin memberikan kejutan untukmu. Dan tadi sudah aku lakukan." Ujarnya dengan menaik turunkan alisnya.
"Kau pasti berbohong, kan? Sebaiknya kau kembali saja ke negaramu sana, aku tidak membutuhkanmu." Jennifer nampak merajuk di sana.
"Aku berani bersumpah, tanyakan saja nanti pada papi. Aku membantu papi untuk memancing kedatangan mereka, aku tidak mau nanti jika mereka selalu mengincarmu dan lainnya." Ujar Gerald dengan jujur.
"Sudah sana, kau kembali saja sana ke negaramu. Jangan menemuiku," sambungnya. Jennifer benar-benar merajuk apda Gerald karena tidak memberitahunya jika dirinya berada di sini.
Julian, Fany dan RDivand hanya menyaksikan saja drama kedua pasangan tersebut tanpa ikut campur, tumben sekali jika Julian diam. Biasanya dia berbuat ulah pada lainnya, mungkin karena dia sedang lelah karena berperang tadi. Gerald berusaha keras untuk membujuk Jennifer yang sedang marah padanya, dia sudah menjelaskan semuanya dan membujuk Jennifer. Tapi, memang sepertinya Jennifer benar-benar ngambek, buktinya dia tidak luluh dengan bujuk rayu Gerald padanya.
Satu minggu kemudian...
Susah payah Gerald membujuk Jennifer yang sedang merajuk dengannya, bahkan sampai berhari-hari dia membujuknya. Belum lagi terkena dengan mulut Julian yang terkadang suka sekali julid dan mengompor-ngompori. Dengan segala upaya dan bujuk rayu akhirnya Jennifer luluh, dan kali ini mereka sedang berada di salah satu cafe.
Tapi, mereka bukan hanya berdua, tentu saja ada Julian juga tidak lupa dengan Fany yang kemana-mana ikut dengan Jennifer. Masing-masing dari mereka memesan burger dan beberapa makanan pendamping lainnya di sana.
"Buka mulutmu," Jennifer menyodorkan irisan burger pada Gerald. Gerald menerimanya dengan senang hati tanpa berucap apapun. Kedua manusia itu hanya bisa diam menjadi obat nyamuk antara Gerald dan Jennifer di sana.
__ADS_1
"Lagi-lagi," belum juga Gerald menghabiskannya, Jennifer sudah memberinya lagi. Tapi, Gerald tidak menDivak sama sekali. Itu membuat Jennifer ingin menjahilinya lagi dan lagi.
"Enak, kan?" Gerald menganggukkan kepalanya. Dan lagi, Jennifer memberikan suapan lagi hingga pipi Gerald mengembung karena belum juga menelan makanannya. Jennifer tersenyum melihat Gerald yang mau saja menerima suapan darinya.
"Kenapa tidak sekalian satu burger penuh itu kau suapkan saja padanya, biar dia langsung kenyang." Sahut Julian yang melihat keduanya.
"Kau tidak ajak, sebaiknya kau diam saja." Ketus Jennifer padanya.
"Coba buka mulutmu, Jul." Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja Fany memberikan Julian suapan di sana. Julian hanya menaikkan sebelah alisnya sedikit bingung.
"Sudah cepatlah buka mulutmu, biar kau tidak terlihat jomblo di sini." Ujar Fany yang faham dengan ekspresi Julian
"Padahal kau sendiri juga jomblo di sini," ketusnya pada Fany.
"Tidak usah, kau makan saja. Aku punya sendiri," ujar Julian mengambil burger miliknya dan memakannya.
"Tidak mau ya sudah, sayang juga aku memberikannya padamu." Fany juga memakan burger miliknya.
"Babe, kenapa kau tidak meminta papi untuk menjodohkan mereka saja. Sepertinya mereka akan akur jika mereka di jodohkan," ucap Gerald pada Jennifer. Jennifer memikirkan apa yang di ucapkan oleh Gerald.
"Siapa yang kau maksud? Aku?" ujar Julian menunjuk dirinya sendiri.
"Aku dan dia di jodohkan? Ogah sekali aku mendapat lelaki seperti ini," sahut Fany.
"Lihatlah, mereka pura-pura menolak. Padahal dalam hati mereka sangat senang sekali," Gerald kali ini yang memancing. Biasanya kemarin-kemarin Julian yang memanas-manasi dirinya dengan Jennifer, sekarang gilirannya. Sepertinya ada dendam di hati Gerald.
"Diamlah kau, jangan asal kalau berbicara." Julian melempar kentang goreng ke arah Gerald yang sedang menggoda dirinya.
"Kau lihat sendiri kan, babe. Dia saja sampai salah tingkah," bukannya berhenti, justru Gerald semakin membuat panas.
__ADS_1
tinggalkan komentar mu ya Readers
like vote gift and follow ya ges