
Saat Ana memilih baju, gerak geriknya di pandang seseorang dari luar. Karena toko itu memang berdinding kaca, jadi terlihat dari luar.
"Bukankah itu Ana? Kenapa dia memilih-milih baju anak-anak?" gumamnya melihat Ana yang sedang memilih baju.
la berjalan cepat untuk menghampiri Ana di sana. Tanpa aba-aba, dia menyerat Ana dengan kasar. Ana yang tiba-tiba saja tangannya di seret itu pun berontak agar terlepas tangannya.
"Leppaas..." berontaknya cukup kuat, tangannya pun akhirnya terlepas dari genggaman seseorang itu.
Semua pengunjung itu terdiam melongo melihat Ana yang tiba-tiba di seret oleh seorang pria.
"Aunty... ini bagus kan?"
"Loh..loh... aunty mana?" sambung Diva celingukan karena Ana tiba-tiba saja tidak ada di belakangnya.
Pandangan Diva pun tertuju melihat Ana yang sedikit jauh darinya, dan ada sosok laki-laki di sana.
"Bukankah orang itu pernah menganggu aunty dan aku saat makan dulu?" ujar Diva yang ingat wajah seseorang itu.
"Apa kau tidak bisa berhenti menggangguku, hah? Aku sudah tidak ada urusan ataupun hubungan denganmu, jangan ganggu aku lagi." Sentak Ana.
la tidak menghiraukan banyaknya pengunjung toko yang memandangnya. Ana sudah geram dengan orang itu karena terus saja mengganggunya.
Orang itu adalah Andy, mantan dari Ana. Dirinya sudah seperti kuyang yang tiba-tiba saja berada di mana saja saat ada Ana. Entah kenapa juga dia berada di sana.
"Aku tidak akan berhenti mengganggumu sampai berada di pelukanku kembali." Jawabnya tegas.
"Apa kau sudah tidak waras? Kau sendiri yang sudah berkhianat dengan sepupuku sendiri, dan sekarang kau ingin aku bersamamu kembali? Jangan harap, aku sudah mempunyai suami dan anak. Aku sudah bahagia dengan mereka." Jelas Ana dengan wajahnya terlihat sangat kesal saat ini.
"Hahaha... apa kau kira bisa membohongiku? Kau berbohong padaku bukan?" ucap Andy yang sepertinya memang kehilangan kewarasannya.
"Apa kehadiran dua bayi itu tidak cukup untukmu?" Ana menunjuk kedua anaknya bersama Diva di sana.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Karena aku tau jika dirimu tidak semudah itu bisa membuka hati untuk orang lain." Jawab Andy yang memang tahu bagaimana Ana waktu dulu.
"Sekarang ikut aku." Andy langsung saja menyeret kembali tangan Ana dengan kasar.
"Ehh... aunty... ." teriak Diva melihat Ana di tarik keluar. Dirinya ingin mengejar Ana, tapi bagaimana dengan adik-adiknya yang berada di kereta bayi itu. Tidak mungkin dirinya meninggalkan mereka berdua.
"Aaahh... kenapa uncle lama sekali sih." Diva merasa sebal kali ini. Kenapa Sean saat tidak berada di sana.
Ana berusaha keras memberontak. Ana terus saja menahan langkahnya agar tidak terbawa dengan Andy.
"Leppas... apa kau tidak dengar?" setak Ana pada
Andy.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Ayo jalan." Andy menyeret kasar tangan Ana. Ana masih berusaha keras untuk tidak kalah.
"Heyy tuan.... Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap kasar sekali pada wanita?" sahut salah satu pengunjung di toko itu. Dirinya mempunyai keberanian untuk membantu Ana, ia mencoba berdiri di depan Andy untuk menghalang dirinya membawa Ana pergi.
"Pergi dari hadapanku." Andy mendorong kuat orang itu hingga terjatuh ke lantai. Dirinya meringis kesakitan karena cukup keras dirinya mendarat di lantai.
'Sean... cepat kembalilah. Tolong aku...' ucap Ana dalam hati.
"Lepaskan aku brengsek. Apa yang kau lakukan pada wanita itu?" Sentak Ana lagi.
"Beruntung sekali aku tidak sampai menikah dengan pria kasar sepertimu." Ketus Ana pada Andy. Andy yang mendengar perkataan Ana itupun menghentikan aksinya.
la mencengkram kuat kedua pipi Ana, hingga dirinya meringis kesakitan. Ana mencoba menyingkirkan tangan Andy tapi tenaganya tidak cukup kuat.
"Diam dan ikuti saja aku." Ujar Andy. Diva hanya bisa menggigit jarinya dengan harap-harap cemas. Dia juga berharap jika Sean cepat kembali.
Dan tiba-tiba saja...
Bughh...
Andy terjatuh kelantai karena mendapat bogeman keras mendarat di pipinya. Mulutnya mengeluarkan darah karena kerasnya pukulan yang ia terima.
Ana bernafas lega bisa terlepas dari cengkraman Andy. Ia juga bernafas lega siapa yang ada di depannya saat ini. Sedari tadi Ana menunggu kehadirannya untuk menolong dirinya.
"Beraninya kau menyentuh istriku." Murkanya melihat Ana di sentuh oleh Andy di perlakukan kasar. Ini bukan pertama kali Ana di perlakukan kasar oleh Andy. Rahangnya mengeras dengan wajah yang terlihat merah padam.
Yaaps... Sean datang tepat waktu. Selesai mengangkat telfon ia berbincang dengan anak buahnya sedikit jauh dari toko baju bayi itu. Ia memutuskan untuk cepat kembali sebelum Ana menunggu dirinya lama, namun tak di sangka saat dia kembali dirinya melihat Ana mendapat perlakuan kasar oleh seseorang yang sudah ia tandai.
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Bugh...
Andy kembali menerima bogeman kuat dari Sean. Semua pengunjung di toko itu berteriak ketakutan melihat Sean memukul Andy tanpa henti.
Ana segera menarik tangan Sean agar tidak terus memukuli Andy, karena ia melihat banyak pengunjung yang ketakutan.
"Sean... sudah, hentikan. Semua orang di sini ketakutan." Nafas Sean terengah-engah belum puas dirinya memukul Andy yang sudah lancing menyentuh istrinya dan berbuat kasar.
"Lihat, mereka menangis karena mendengar keributan di sini. Sepertinya, mereka terkejut." Ucap Ana melihat kedua anaknya menangis di keramaian.
Sean menoleh sekilas kearah kedua anaknya yang menangis dengan kencang.
Sean merogoh ponselnya lalu menghubungi anak buahnya untuk datang.
"Datang ke sini, cepat!! Aku berada di toko pakaian bayi." Teriak Sean melalui sambungan telfon pada anak buahnya.
Ana mencoba mengelus-elus lengan Sean agar tenang.
Melihat twin yang menangis, Ana pun datang menghampiri kedua anaknya bersama Diva.
Kaki Sean bertengger diatas dada milik Andy yang terlhat lemah tidak bisa berdiri karena di hajar habis-habisan oleh Sean.
"Jika bukan di sini, mungkin nyawamu sudah melayang saat ini juga." Ucap Sean menekan dada Andy dengan kakinya.
"Bawa dia." Perintah Sean pada anak buahnya yang baru saja tiba.
"Baik tuan." Ucap mereka bersamaan. Keduanya membawa Andy untuk pergi dari sana.
Wajah Sean masih terlihat jelas merah karena murkanya. Ia mendekat kearah Ana dan kedua anaknya.
"Kau tidak apa?" Tanya Sean.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Ana lembut.
Sean melihat kedua pipi Ana ada bekas merah karena cengkraman dari Andy yang kuat tadi.
Rahangnya kembali mengerang karena melihat hal itu. Dirinya saja tidak pernah berani menyakiti Ana, bagaimana bisa orang lain bisa menyakiti Ana.
"Tenangkan dirimu, aku tidak apa." Ucap Ana dengan senyumnya.
"Ehh sebentar." Ucap Ana.
"Tidak apa-apa nyonya. Nyonya juga tidak apa-apa bukan?" Tanyanya pada Ana.
"Tidak. Sekali lagi terima kasih, nyonya." Ucap Ana sedikit membungkukkan badannya pada wanita itu.
"Eehh... jangan lakukan itu, nyonya." Ucapnya tidak enak jika Ana bersikap seperti itu padanya.
"Saya permisi, dulu. Masih ada yang harus saya cari." Ucap wanita itu lalu melenggang pergi.
Ana kembali kearah Sean dan kedua anaknya di sana.
"Apa ini, sakit?" Tanya Sean mengelus lembut pipi Ana.
"Sedikit. Tidak apa, nanti akan hilang. Kita bayar saja lalu kita cari yang lain." Jawab Ana. Tidak mungkin mereka akan beromantis ria di sana. Itu bukan tempat yang pas.
Sean menurut saja dengan perkataan Ana. Sean membayar baju yang di pilih Ana untuk twin J.
Dia-diam, sedari tadi aktivitas mereka ada yang melihatnya dari kejauhan. Saat Sean kembali dan memukuli Andy orang itu melihatnya tanpa beranjak satu detik pun dari tempatnya. Serasa apa yang dilihatnya itu cukup, seseorang itupun pergi jauh dari sana dan melaporkan apa yang baru saja isa lihat dan ia ketahui.
Di sisi seberang sana..
Seorang pria berawakan tinggi itu sedang duduk menikmati anggur merah kesukaannya. Dia tersenyum senang setelah mendapat kabar anak buahnya tentang apa yang selama ini ia inginkan.
"Jadi, wanita itu adalah istrinya? Bahkan dia juga sudah mempunyai keturunan," ucapnya sambil menyesap anggur yang ada di gelas yang ia bawa.
"Hahaha.... Sekarang aku tau apa yang akan aku lakukan padamu, tuan William. Bersiaplah menerima ajalmu dan semua wilayah kekuasaanmu akan menjadi milikmu. Dan aku akan menjadi mafia pertama yang bisa menghanguskan dirimu. Hahaha..." sambungnya dengan tertawa sangat keras.
Dia adalah musuh bebuyutan dari Sean, entah apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Apa yang akan anda lakukan, boss?" tanya tangan kanannya.
"Aku akan mengalahkannya. Kita gunakan istri atau anaknya untuk memancingnya. Aku akan menghabisi salah satu dari mereka di depan dua matanya, dia pasti tidak akan bisa berkutik melihat anak atau istrinya tidak bernyawa di depannya." Jawabnya dengan tersenyum jahat dengan apa yang akan ia rencanakan.
"Tapi, tuan. Kita juga harus mempunyai rencana yang matang. Kita tidak bisa asal-asalan melawan mafia itu." Saran dari tangan kanannya orang tersebut.
"Ya... kau benar. Suruh anak buahmu untuk memantau mereka, jika ada waktu yang pas, kita bawa salah satu dari mereka ke sini. Aku juga akan datang kesana untuk mencari tahu." Ucapnya dengan penuh ambisi.
__ADS_1
"Siapkan keberangkatan ku lusa nanti." perintahnya pada tangan kanannya.
"Baik, tuan."
Orang itu adalah musuh bebuyutan dari Sean, ia baru saja mendapatkan kabar dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk memantau Sean. Cukup sulit dirinya mendapat tentang Sean, dan sekarang ia sudah mengantongi kartu as yang akan ia gunakan untuk mengalahkan Sean.
Tapi... entahlah... apa bisa dirinya mengalahkan Sean. Sepertinya, dirinya juga akan mengantarkan nyawanya secara cuma-cuma pada Sean. Sean pasti tidak akan membiarkan musuhnya itu bisa mengalahkannya dan menyakiti orang yang ada di sampingnya.
Mengingat juga berapa banyak rekan-rekan Sean yang akan siap membantunya.
Kembali lagi ke sisi Ana...
Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di salah satu resto yang berada di mall tersebut. Sesekali Ana menyuapi buah-buahan yang ia beli tadi khusus untuk twin J.
Julian yang ada di pangkuannya menggelengkan kepalanya menolak suapan yang di berikan oleh Ana padanya.
"Biarkan dulu, sayang. Jangan di paksa, nanti dia menangis. Berikan buah itu padanya, biarkan dia memakannya sediri." Ujar Sean.
"Baiklah..." jawab Ana lalu memberikan buah segar pada Julian.
"Aamm... mam... mamm..." celoteh Jennifer yang belum jelas. Ia meminta buah lagi yang di berikan oleh Sean. Sean memberikan buah semangka pada Jennifer, Jennifer menerimanya dan memasukkan buah itu ke dalam mulutnya.
"Apa itu, enak?" Sean mencoba berbicara dengan anaknya. Jennifer menganggukkan kepalanya sambil memakan buah yang ada di tangannya.
Jennifer menyengir kuda di hadapan papinya sambil kedua matanya terpejam, dia menunjukkan kedua giginya yang sudah tumbuh.
Kulit putih, dengan tubuh mungil dan pipinya yang chubby itu membuat Sean merasa gemas dengan putrinya.
Sean mencoba memberikan potongan kecil sosis lalu ia berikan pada Jennifer. Jennifer menerima suapan dari sang papi dengan lahap.
"Apa mau lagi?" Jennifer kembali mengangguk setelah merasakan rasa sosis yang gurih di lidahnya.
"Sean, jangan memberikan makanan juncfood padanya. Nanti perutnya sakit." Tegur Ana pada sang suami.
"Aku hanya memberikannya sedikit. Biarkan dia juga merasakan apa yang kita makan."
Saat ini mereka sedang menikmati currywurst dan menu-menu yang lainnya. Mereka melanjutkan makan siang dengan twin J yang sangat lahap memakan makanan miliknya.
Kediaman Rika....
Seiring berjalannya waktu juga, kedekatan Rika dan James mulai sedikit terbuka. Tidak seperti dulu yang hanya melalui chat pribadi. Dan jika bertemu seperti orang yang tidak kenal satu sama lain, entah bagaimana itu konsepnya yang mereka jalani.
"Memangnya kita mau kemana lagi?" tanya Rika yang sepertinya sangat malas untuk keluar.
"Kita makan siang di luar." Jawab James.
"Kau ini, kenapa harus keluar segala hanya mencari makan? Kenapa tidak makan saja di rumah?" protes Rika.
"Aku bosan di rumah, tidak ada yang bisa aku makan ." Jawab James.
"Apa tidak ada yang memasak untukmu? Memangnya di mana istrimu?" cercanya. Sepertinya dirinya sedang oleng.
Pletak...
James menyentil dahi Rika dengan sedikit keras.
"Auuhh... kenapa kau menyentil ku?" ketusnya dengan mengusap-usap jidatnya yang mendapat sentilan dari James.
"Kau itu lupa atau bagaimana? Kalau aku punya istri untuk apa dekat denganmu dan mengajakmu makan keluar. Lebih baik aku makan dengannya dari pada harus makan denganmu." Jawab James yang tidak kalah sewot.
"Sudah cepat. Hari sudah panas." Ucapnya lalu masuk kedalam mobil.
"Kalau sudah tau panas-panas begini kenapa juga kau mengajakku keluar." Gerutunya di sepanjang jalannya. Ia membuka pintu mobil lalu kembali menutupnya dengan kencang.
Braakk...
"Kau merusak mobilku atau bagaimana?" James menaikkan sebelah alisnya.
"Sudah cepat jalankan mobilnya. Panas tauuu..." ketusnya pada James.
Akhirnya mobil itu pun membelah jalanan kota di siang hari. Jalanan lumayan sedikit macet, karena ini hari minggu. Banyak dari mereka bepergian, entah hanya sekedar nongkrong dengan teman-temannya, makan siang dengan keluarga dan pasangan. Dan masih banyak lagi.
Sore harinya, Diva mengajak Jennifer bermain bersamanya. Dia memang lebih senang mengajak Jennifer bermain, Julian sangat rewel menurutnya jika di ajak bermain.
Diva menuntun Jennifer ke halaman, ia mengajak ke kandang Leopard yang biasa ia ajak bermain. Leopard itu sudah sangat besar sekarang, pertumbuhannya sangat cepat.
"Hai Black... aku datang kembali." Sapa Diva pada Leopard itu. Diva dan Jennifer cukup melihat dari luar kandang saja.
__ADS_1
Black mendekat kearah Diva dan duduk di hadapannya. "Kau manis sekali, Black." Diva mencoba mengelus Leopard itu.