Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 160 Season 2


__ADS_3

"Panggil beberapa orang ke sini, dan juga orang-orang tuan Carles." Ucap Diva memerintahkan Riko. Riko segera mengubungi anak-anak huah Sean dan tuan Carles melalui earphone yang ia kenakan.


Dorr...


Door...


Dorr...


Penembakan itu terus terjadi hingga memakan korban.


Diva segera mengambil pistol yang ia sembunyikan di punggungnya, ia ingin menembak orang-orang yang melakukan aksi tembak pada orang-orang yang tidak bersalah.


"Tunggu sebentar, tunggu anak buah Tuan Carles ke sini." Cegah Riko pada Diva agar tidak melakukan apa-apa.


"Jangan halangi aku, Ko. Jika kita menunggu mereka, banyak dari semua orang di sini yang akan mati. Jika terjadi sesuatu kita akan mengurusnya bersama-sama nanti, nyawa mereka lebih penting saat ini." Diva segera berlari dan meluncurkan tembakannya pada orang-orang tadi.


Door...


Dor....


Dorrr....


Diva menembak orang-orang tadi tanpa berhenti, Riko pun mengikuti aksi Diva. Memang benar yang dikatakan oleh Diva, jika mereka menunggu yang lain datang maka akan banyak korban di sana.


Doorr....


Dor....


Baku tembak terjadi di antara orang-orang tersebut dengan Riko dan Diva. Mereka yang ada di sana bersembunyi di tempat yang aman.


Tidak lama kemudian, anak-anak buah Sean dan Tuan Carles tiba di sana karena jarak tempat mereka menginap dan tempat itu tidak terlalu jauh.


Ada yang mengamankan pengunjung dan sisanya membantu Diva dan Riko melawan orang-orang tersebut.


Door....


Dor....


Bugh...


Bughh....


Baku tembak dan baku hantam terjadi semakin panas.

__ADS_1


Entah kenapa orang-orang tersebut melakukan aksi baku tembak secara tiba-tiba pada para pengunjung yang ada di sana.


Dor...


Dor...


Dor....


Memakan waktu lima belas menit lamanya, akhirnya orang-orang itu jatuh tumbang di sana. Tempat yang tadinya bersih itu pun sekarang terlihat banyak darah dan beberapa orang yang tewas.


Diva melihat-lihat suasana sekitar, "apa mereka?" Tanya Diva pada anak buah tuan Carles.


"Benar, mereka yang sudah melakukan pembantaian besar-besaran di Amerika. Mereka telah membantai orang-orang yang tidak bersalah di sana," jelasnya pada Diva.


"Mereka lari ke negara ini sebelum kita menyergap mereka," sambungnya.


Yaa... Diva dan Riko di tugaskan Sean untuk membantu anak buah Tuan Carles untuk mencari orang-orang yang sudah membuat rusuh di Amerika beberapa bulan yang lalu.


"Apa masih ada yang lain?" Tanya Riko.


"Sepertinya mereka masih banyak yang bersembunyi dan menyebar di berbagai tempat yang ada di sini." Jawab anak buah Tuan Carles.


"Kita bereskan tempat ini terlebih dulu, kita akan mencari mereka nanti." Mereka semua segera membersihkan tempat di sana dan mengurus orang-orang yang terluka dan tewas.


.


.


Julian dan semua temannya sedang berkumpul di Mensionnya.


Sebagian dari mereka bermain game yang ada di sana, Julian lagi dan lagi dia selalu kalah dalam bermain.


"Huuuhhhh.... Aku menang, yeesss." Ucapnya girang bisa mengalahkan Julian.


"Aahh.... Kau curang." Ucapnya yang tidak terima jika dirinya kalah.


"Kenapa aku harus curang? Kau saja memang yang payah." Ucapnya pada Julian.


"Tidak... Tidak... Kau memang curang." Ucapnya lagi yang masih tidak terima.


"Tidak, aku tidak curang. Kau saja yang tidak bisa bermain." Sengalnya lagi. Mereka beradu mulut hingga suasana di sana terdengar ramah hanya karena Julian dan Reiner yang beradu mulut.


"Kalian bisa diam tidak!" Sentak Marcus. Tumben sekali jika bukan dirinya yang kali ini beradu mulut dengan Julian. Biasanya dialah yang beradu mulut dengan Julian, mereka berdua sebelas dua belas.

__ADS_1


"Kau diam saja, ini urusan laki-laki." Jawab Julian.


"Memangnya kau anggap aku ini apa?" Sentaknya tidak terima.


"Kau itu sangat cerewet, tidak pantas di sebut laki-laki." Reiner membantah ucapan Marcus.


"Kalau aku cerewet, lalu kau apa?" Marcus berdiri dan berkacak pinggang.


Mereka bertiga akhirnya melakukan baku hantam dan beradu mulut satu sama lain. Mereka sangat ricuh di sana, hanya Gerald lah yang terlihat anteng tidak seperti ketiganya. la menghela nafasnya melihat teman-temannya. Entah kenapa bisa dia memiliki teman-teman seperti mereka.


Tidak lama kemudian, Jennifer keluar dari kamarnya. la melihat jika Julian melakukan baku hantam dan beradu mulut di sana.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" Jennifer bertanya pada Gerald.


"Aku juga tidak tahu, mereka sedari tadi beradu mulut." Jawabnya.


"Kita pergi saja dari sini, biarkan mereka." Ajak Jennifer jengah dengan kelakuan sang adik yang memang tidak pernah ada habisnya. Gerald menyetujui ajakan Jennifer dari pada harus menyaksikan mereka yang bergelud.


Keduanya keluar dari sana, Gerald mengajak Jennifer untuk berkeliling dengan menggunakan motor sportnya. Ia melajukan motor sportnya dengan kecepatan sedang.


Jennifer menikmati angin malam bersama Gerald, mereka menikmati perjalan dengan sedikit candaan dan gurauan kecil keduanya.


Jika di Meksiko siang hari, maka di Berlin sudah malam hari. Jarak waktu di antara kedua negara tersebut berkisar tujuh jam.


Jennifer sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan Gerald, dia selalu mencoba menjadi yang terbaik untuk tunangannya itu.


Kembali ke sisi Julian dan teman-temannya...


Mereka selesai bergelud mencari Gerald ke sana ke mari, Gerald sudah tidak ada di tempatnya.


"Kemana Gerlad?" Tanya salah satu dari mereka yang tidak melihat adanya Gerald.


"Biarkan saja, paling juga dia kencan" Sambung Julian.


Mereka kembali beradu mulut dan baku hantam hingga para maid di sana bingung dengan tingkah Julian dan teman-temannya. Untung saja Ana sedang tidak ada di sana, jika ada mungkin ketiganya akan kena omel.


Diva dan semua anak buah Sean dan Tuan Carles mengurus kejadian berdarah tadi, mereka akan bertindak cepat sebelum ada kejadian berdarah lagi di Meksiko. Pemerintahan setempat ikut mengurus keadaan di sana bersama Diva dan lainnya.


"Terima kasih atas bantuannya. Siapa sebenarnya mereka yang sudah berbuat seperti ini?" Tanyanya.


"Maaf karena kerusuhan ini tuan, kami sedang mencari kawanan mereka yang beberapa bulan telah membantai orang-orang yang tidak bersalah di Amerika dan melarikan diri ke sini. Mereka adalah mafia yang selalu membuat rusuh di berbagai negara, kami di sini di tugaskan untuk menangkap mereka." Jelas salah satu anak buah Tuan Carles.


Setelah berbincang-bincang, mereka kembali mengurus semua yang ada di sana. Masih banyak lagi klompotan mereka yang masih belum muncul, baru sedikit orang di antara mereka yang melakukan kerusuhan.

__ADS_1


Diva beserta lainnya kembali ke tempat mereka tinggali, mereka pun membahas apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


"Sepertinya, kita harus memancing mereka untuk keluar dari sarang mereka. Kita tidak bisa membiarkan mereka terus-terusan." Ucap Diva memulai pembicaraan.


__ADS_2