Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 82


__ADS_3

David merupakan tangan kanan dari Leon. Dia tidak ikut Leon datang ke Berlin.


Begitulah Leon, tidak pernah merencanakan sesuatu. Sekarang dirinya di ambang kematian. Untung saja anak-anak buahnya masih peduli dengannya walaupun dia bertindak seenaknya pada anak buahnya. Tapi juga ada yang juga tidak memperdulikan keadaannya, memang menuruti perintahnya. Tapi jika Leon seperti ini mereka tidak peduli, karena sikap Leon yang selalu seenaknya sendiri.


Salah satu dari mereka pun akhirnya menghubungi David yang berada di Amerika.


Kembali ke sisi Ana...


Mereka kembali berkumpul setelah makan malam. Kali ini, Diva memakan desert yang tersedia di kulkas. Entah dia masih kurang kenyang atau bagaimana?


Jennifer sedari tadi memandang Diva yang sedang memakan desert yang di bawanya, sepertinya dirinya sangat penasaran dengan rasanya.


Diva yang merasa di pandang Jennifer pun menoleh. Ada apa, Jenni? Apa kau mau?" tanya Diva.


"Nanti mamimu marah, kalau kakak memberimu makanan enak ini." Ucap Diva pelan di telinga Jennifer yang masih bisa di dengar oleh Ana.


"Divaa.... Jangan macam-macam." Ana memperingatkan Diva. Dia mengingat bagaiman waktu lalu Diva mengajak Jennifer makan ice cream hingga lantai penuh dengan noda ice cream dari keduanya.


"Tuuhh kaan.... Belum juga kakak memberimu makanan enak ini, dia sudah mau marah." Ucap Diva lagi pada Jennifer.


Diva memang sepertinya sangat hobi jika membuat Ana naik darah. Mungkin dirinya mau balas dendam waktu Ana hamil dulu dirinya yang di buat naik darah.


"Biarkan saja, sayang. Kasihan wajahnya sangat memelas seperti itu." Ujar Sean yang melihat bagaimana wajah Jennifer yang terlihat sangat memelas.


Jennifer sangat lengket memang dengan Diva, tidak seperti Julian. Dia selalu melekat dengan sang mami.


"Suamiku.... Kau tidak tahu saja apa yang selalu dilakukan dua anak ini. Waktu lalu Diva pernah memberikan ice cream pada Jenni, apa kau tau apa yang terjadi? Wajahnya penuh dengan ice cream, semua pakaian penuh dengan ice cream. Lantai pun sampai penuh dengan ice cream." Ana Menceritakan kejadian waktu lalu saat Diva memberikan ice cream pada Jennifer.


Jelas saja Sean tidak tahu akan hal itu, dirinya masih di kamarnya lantai atas.


"Apa benar itu Diva?" Sean menunjukkan tatapan intimidasi nya.


"Hihihiii..." Diva mengacungkan tanda peace-nya pada Sean.

__ADS_1


"Kau memang suka sekali jahil." Sean berdesis tidak habis fikir.


"Bukan aku yang melakukannya, uncle. Jennifer sendiri yang memintanya padaku." Diva membela dirinya sendiri.


"Hmm... haah.. haahh... pintar sekali kalau berkilah seperti ini." Sanggah Ana.


"Beri adikmu itu, kasihan dia. Sedari tadi memelas seperti itu." Sean memperbolehkan Diva memberikan desert itu pada Jennifer.


Jennifer memberikan suap demi suap desert yang ia bawa. Jennifer sangat menikmati desert buatan sang mami yang memang sangat enak. Dia memakannya dengan sangat lahap, sampai-sampai Diva tidak kebagian. Untung dia bisa mengalah dengan adik-adiknya yang masih kecil.


Keesokan harinya...


Pesawat telah mendarat dengan mulus di bandara, tepatnya di ibukota Berlin.


Seseorang yang jauh-jauh dari Amerika itu sangat terburu-buru untuk datang kesana karena mendapat kabar jika sang majikan mengalami luka tembak.


Yaahh... orang itu adalah David, tangan kanan dari Leon. Setelah mendapat kabar dari anak buahnya jika Leon tertembak, ia langsung saja bergegas terbang ke Berlin untuk melihat bagaimana kondisi sang majikan. Dia datang kesana menggunakan jet pribadi milik Leon agar bisa cepat sampai di sana.


Tak lama kemudian dia keluar, di sana sudah anak buahnya yang menunggu kedatangannya.


Tanpa berlama-lama merekapun segera melajukan mobil ke arah rumah sakit di mana Leon sudah selesai di operasi.


"Bagaimana keadaannya?" tanya David di tengah-tengah perjalanan.


"Kata dokter boss akan baik-baik saja. Untung pelurunya tidak terlalu dalam." Jawab anak buahnya sambil menyetir. David hanya bisa berdesis mendengar jawaban anak buahnya, untung saja Leon tidak mengalami luka tembak yang parah.


Inilah yang dirinya takutkan, Leon sangat suka terburu-buru, tapi ujung-ujungnya, dia juga yang akan di repot kan dengan tindakan Leon. Jika saja dirinya dan anak buahnya tidak sabar, pasti Leon sudah mereka tinggalkan saja sedari dulu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota menuju rumah sakit.


Rumah sakit...


Sesampainya di sana, David segera turun dan menuju di mana Leon di rawat.

__ADS_1


Pintu terbuka, seseorang yang ada di dalam pun melihat siapa yang sudah membuka pintu ruangan tersebut.


Kakinya melangkah masuk, ia membungkukkan badannya memberikan hormat pada orang tersebut.


"Kenapa kau datang ke sini?" tanyanya pada David.


"Maaf boss, saya khawatir terhadap kondisi anda. Anak buah kita mengatakan jika anda habis tertembak, syukurlah jika anda sudah sadar." Jawab David.


Hmm... yaa... Leon memang sudah sadarkan diri beberapa menit yang lalu. Kondisinya seperti tidak terjadi apa-apa saat ini. Mungkin karena dirinya mafia yang mempunyai kondisi fisik yang sehat, sadar pun juga tidak menunggu waktu lama.


"Aku sudah membaik saat ini." Jawabnya.


"Apa sebaiknya anda kembali dulu, boss? Anda tidak bisa berlama-lama di sini dengan keadaan seperti ini." Ujar David.


"Aku ingin kembali membawa salah satu dari mereka untuk bisa mengalahkan orang itu. Aku tidak mau kembali dengan tangan kosong," Jawab Leon yang memang sangat ingin membawa seseorang untuk di jadikan Sandra olehnya.


"Tapi, boss... jika anda tidak mempunyai rencana yang matang, itu sama saja anda masuk ke dalam kandang singa." Ucap David yang memang ada benarnya.


"Jangan pernah menceramahi ku, aku tau apa yang harus lakukan." Leon terlihat sangat tidak suka jika David memberitahunya. Entah kenapa orang itu.


"Maafkan saya, boss." Ucap David yang mengalah dengan Leon.


"Sebaiknya kau kembali dan jaga markas di sana, aku akan menghubungimu lagi nanti." Ucap Leon.


Entah kenapa orang itu sangat angkuh dan seakan-akan tahu sendiri saja. Masih untung jika David melihat kondisinya, bukan berterima kasih, justru dirinya menyuruh David untuk kembali ke Amerika. Bahkan mendengar saran dari David saja dia tidak mau. Memang benar-benar egois sekali.


Mension Sean...


Sepulang Diva sekolah, seperti biasa dirinya pasti bermain dengan adik-adiknya. Itu adalah aktifitas yang tidak pernah Diva tinggalkan.


Kali ini Diva tidak bermain dengan Jennifer saja, tapi dengan Julian juga. Ana Sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya. Ana Sering memasak sendiri untuk twin ataupun Sean.


"Jaga adik-adiknya, Diva. Jangan nakal..." teriak Ana Dari dapur.

__ADS_1


"Iya aunty..." Diva tidak kalah berteriak dari Ana.


"Ayo pakailah, Jul." Diva memakaikan sandal kecil di kaki Julian, agar nanti saat bermain di halaman kaki mulus Julian tidak gatal dan kotor.


__ADS_2