Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 223


__ADS_3

Penjaga gerbang itu merasa tidak asing dengan suara dari wanita itu, mereka menyelidik wajah dari wanita itu.


"Nona Muda, apa ini anda?" pekiknya saat mengenali wanita itu meskipun penampilannya yang acak-acakan.


"Beritahu Mrs Chaddrik jika Nona sudah kembali."


"Cepat!" Salas satu penjaga itu mengangguk dan segera berlari ke dalam itu memanggil siapa yang di maksud.


"Nona, apa yang sebenarnya terjadi pada anda?" tanyanya yang melihat penampilan tidak karuan itu.


"Pergilah, jangan mendekatiku. Pergi!" pekiknya meminta penjaga itu pergi dengan sangat ketakutan. Orang itu terjinggat melihat orang yang ia panggil nona muda itu membentaknya kuat, belum lagi melihat penampilannya yang sangat-sangat jauh.


"Marilah, Nona. Mrs dan Ms Chaddrik sudah menunggu anda selama ini, kita masuk ke dalam," bujuknya dengan lembut karena melihat wanita itu sangat ketakutan.


Di dalam rumah mega itu di waktu yang bersamaan, terlihat jika wanita paruh bayah itu hanya diam melamun. Pandangannya terlihat kosong, tidak merespon ucapan siapa pun. Bahkan ia juga tidak mau makan sama sekali, berbagai bujukan tidak membuatnya membuka sedikit mulutnya.


"Mom, makanlah sedikit saja. Aku tidak tega melihat Mommy seperti ini." la menurunkan garpu yang ia sodorkan pada sang mommy karena tidak kunjung membuka mulut.


Pyaar ...


Di dorongnya piring yang di bawakan oleh putri sulungnya hingga pecah berserakan. "Mommy tidak mau makan sebelum adikmu pulang, Cia! Jangan memaksa Mommy!"


Benar sekali jika saat ini berada di kediaman Chaddrik, keluarga dari Sisca. Mereka masih melakukan pencarian pada Sisca yang tidak kunjung di temukan.

__ADS_1


"Biarkan, Cia. Sebaiknya kau pergi urus perusahaan, biarkan Mommy-mu yang keras kepala itu. Jangan membuang-buang waktumu," marahnya melihat sang istri yang sangat sulit di atur.


"Dad...,"


"Jangan pernah membantah!" Cia pun terdiam mendapat gertakan dari sang daddy.


la mencoba untuk mengerti bagaimana keadaan sang daddy yang juga merasakan pusing dengan keadaan Mommy-nya, belum lagi dengan Sisca yang belum di temukan. Cia melangkahkan kakinya keluar dair sana, belum juga dia sampai di pintu, salah satu penjaga datang ke sana dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?" tanya Chaddrik saat melihat penjaga rumah itu datang menemuinya, tidak biasanya salah satu dari mereka datang begitu saja.


"Maaf mengganggu, Sir. Saya hanya memberitahukan kalau Nona Muda Sisca sudah kembali." Semua yang ada di sana terjinggat mendengar kabar itu.


Mommy Sisca pun seketika beranjak berdiri mendengar kabar sang putri telah kembali. "Apa kau benar?" ia terlihat antusias mendengarnya.


"Benar, Madam. Saya melihatnya sendiri, tadi ada satu mobil menurunkan Nona Muda di depan pintu gerbang," jelasnya.


"Lepaskan aku! Jangan ada yang menyentuhku!" teriaknya dengan memberontak keras.


"Maaf, Sir. Nona sedari memberontak," ucapnya takut jika sang majikan akan memarahinya.


"Sisca, apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa kau seperti ini?" ucap sang Mommy yang mendekat ke arah Sisca. Terlihat jelas Sisca sangat tekut di dekati siapa pun, walaupun dengan sang Mommy.


Gracia pun ikut mendekat ke arah sang adik, ia tidak tega melihat apa yang sedang terjadi. Sisca terus berteriak seperti orang gila dan sangat ketakutan, dengan bujukan lembut sang mommy, akhirnya Sisca bisa tenang. Rahang Chaddrik sedikit mengeras melihat sang putri dalam keadaan seperti itu.

__ADS_1


"Siapa yang membuatnya seperti ini!" teriaknya keras. Semua bodyguard yang ada di sana menunduk melihat majikan yang terlihat marah.


"Maaf, Sir. Menurut para penjaga tadi, ada sebuah mobil hitam menurunkan Nona di depan gerbang. Mereka langsung melajukan kembali mobilnya setelah menurunkan Nona," jelasnya sesuai dengan informasi yang ia dapat.


"Cari tahu siapa yang sudah membuat putriku seperti ini. Jangan biarkan orang itu hidup dengan tenang !" titahnya dengan tegas. Mereka yang ada di sana membungkukkan sedikit badannya lalu bergegas melaksanakan perintah dari Chaddrik. Chaddrik melangkahkan kakinya ke dalam untuk melihat keadaan sang putri.


Jika Sisca bebas, berarti Gerald yang melepaskannya. Gerald pasti mempunyai alasan untuk membebaskan Paul dari ruang bawah tanahnya, tidak mudah sebenarnya bagi Gerald melepaskan tawanannya begitu saja.


Melihat mundur beberapa waktu lalu, tepatnya di ruang bawah tanah yang berada di mension tempat Gerald tinggal. Gerald berjalan dengan ke dua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, dengan langkah tegap dan pandangan lurus ke depan. Ia berhenti tepat di depan ruang yang di mana terdapat Sisca di dalamnya, Gerald melihat Sisca meringkuk ketakutan dengan memejamkan ke dua matanya dan menutup telinga.


Gerald tersenyum miring di sana. "Di mana keberanianmu sekarang, Nona? Kenapa kau tidak menunjukkannya di sini?"


Sisca yang mendengar suara Gerald itu pun membuka mata dan mendongakkan kepalanya, ia berlari dan mendekat ke arah pintu jeruji. "Gerald, aku mohon, lepaskan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku sangat takut di sini. Aku mohon lepaskan aku." Sisca menangkupkan kedua tangannya memohon pada Gerald.


Raut wajahnya terlihat sekali jika dia sudah tidak sanggup lagi berada di sana, dia selalu mendengar dan melihat penyiksaan yang di lakukan oleh anak-anak buah Gerald pada orang-orang suruhannya.


"Kenapa kau merasa takut, Nona? Di mana keberanianmu? Bukankah waktu itu kau juga cukup berani pada Jenniku? Setiap hari kau mengganggunya dan mengancamnya, bukan?" ungkap Gerald di depan Sisca. Sisca yang mengingat perbuatannya terdiam kaku, ia pikir jika Gerald tidak tahu semuanya.


"Heh, jangan kira aku tidak tahu semua yang kau lakukan padanya. Harusnya kau nikmati saja hukuman untukmu ini," sambung Gerald.


"Aku sungguh minta maaf padamu. Tolong lepaskan aku, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sangat takut di sini," mohonnya lagi. Bagaimana dia tidak takut, anak buah Gerald tidak main-main menghukum orang-orang suruhannya. Memang begitulah di dunia mafia, Sisca tidak tahu sebenarnya siapa Gerald.


Selama di sana Sisca melihat hukuman itu secara langsung, ia pun takut jika hal itu terjadi padanya. Dia benar-benar tidak sanggup, hal itu membuat mentalnya terganggu. Hal itu membuat trauma padanya, bahkan dia juga terlihat seperti orang gila yang terkadang berteriak dengan sendirinya.

__ADS_1


"Apa jaminannya jika aku mengeluarkanmu?"


"Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Kau bisa menghukumku jika aku melanggarnya. Aku mohon Gerald, lepaskan aku. Aku sudah tidak sanggup lagi." Sisca berusaha keras meyakinkan Gerald. Ia berharap jika Gerlad akan mengeluarkannya dari sana.


__ADS_2