
Di ruangan lain, Julian yang satu ruangan dengan Gerald itu sedari tadi menata rambutnya dan bercermin tidak ada hentinya. Gerald yang melihatnya sangat jengah dengan tingkah laku Julian. Mereka sengaja untuk tidak membawa teman-teman dekatnya ke sana, mungkin mereka ingin fokus terlebih dulu. Toh nanti juga pasti akan bertemu saat di acara.
"Sudah berapa lama kau berdiri di situ. Apa sampai nanti kau akan seperti itu?" sahut Gerald tiba-tiba.
"Diam saja. Aku hanya merapikan rambutku agar tidak terlihat berantakan," jawabnya. Mereka berdua sudah berpakaian rapi menggunakan jas dengan warna yang sama, hanya saja model dari ke duanya sedikit berbeda.
Gerald memutar ke dua bola matanya dengan malas. "Sekalian kau botaki saja kepalamu itu. Kau terlalu ribet menjadi laki-laki!"
"Di mana Robert? Kenapa tidak bersamamu?" pertanyaan Gerald mampu membuat Julian berhenti membenarkan rambut-rambutnya.
"Astaga! Aku sampai lupa dengan anak itu. Dia pasti sangat sibuk!" pekiknya. Bisa-bisanya dia sampai lupa dengan keberadaan Robert yang biasanya menemani dirinya.
Karena rencana dadakan yang dia buat membuat Robert sibuk sendiri menyiapkan apa yang dia minta. Beruntungnya Robert bisa sabar menjalankan tugasnya.
"Ck... ck... ck... kau parah sekali. Kau meminta dia sibuk sendiri mengurus semua untukmu tapi kau melupakannya. Benar-benar Tuan yang tidak bertanggung jawab." Sudah tidak heran lagi Gerald kalau menghadapi Julian seperti itu.
"Aah... sudahlah. Biarkan nanti Papi yang memberinya bonus untuk kerja kerasnya." Mau bagaimana lagi, dia keluar sekarang juga tidak mungkin.
"Tuan macam apa, kau? Dia anak buahmu, bukan Papimu," protes Gerald tidak menyetujui ucapan Julian.
"Sama saja. Sudah diam saja, sebaiknya siapkan saja dirimu." Ke duanya terdiam. Perias di sana memberikan mereka riasan tipis-tipis agar terlihat cool.
Memakan waktu kurang lebih dua jam akhirnya Fany dan Jennifer selesai untuk di rias. Mereka terlihat sangat cantik dengan balutan gaun yang terlihat mewah.
"Haiihh... kenapa aku harus menggunakan gaun ini. Ini mmebuatku sangat sulit untuk berjalan, padahal aku sudah mempersiapkan dress yang cocok untukku.
Kenapa aku tidak bisa menggunakannya?" keluh Fany. Baginya sangat ribet membawa gaun panjang yang akan mempersulit langkahnya.
"Gaun itu terlihat cantik untukmu. Julian tidak salah memilihnya untukmu," ucap Jennifer yang melihat Fany nampak berbeda hari ini. Benar-benar cantik dengan gaun yang dia kenakan.
"Aahahaha... Tuan Putriku... pasti setelah ini kau sulit sekali bermain denganku. Nanti aku dengan siapa?" Fany merengek terharu dengan suasana saat ini. tentu dia juga merasa terharu karena mereka berdua teman sedari kecil dan hari ini akan melaksanakan pernikahan.
"Kau tenanglah, Fe. Kita masih bisa bersama sebelum hari kelulusan. Kau tenang saja, kau masih bisa melihatku." Jennifer nampak sangat tenang, kesiapan dirinya tidak perlu di tanya lagi.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, nanti." Fany mendekat dengan memeluk tubuh Jennifer dengan erat. Bukan saudara kandung, tetapi mereka sudah seperti adik dan kakak.
__ADS_1
"Jangan menangis, nanti riasanmu bisa jelek. Hari akan ada kejutan untukmu, kau harus siap," ucap Jennifer yang membuat Fany merasa penasaran.
"Kejutan? Apa? Aku sedang tidak berulang tahun sekarang." Jennifer juga tahu rencana dari Julian tetapi dia tidak memberitahu Fany saat ini. Biarkan nanti itu Julian yang mengurusnya.
Belum juga Jennifer menjawab, pintu sudah terbuka. Menampilkan sosok Sean dan Ana yang datang menemui mereka berdua dengan membawa dua buah kotak perhiasan.
"Kau sudah siap, Jen?" sebelum acara di mulai mereka menyempatkan sedikit waktu menemui Jennifer.
Melihat ke dua orang tuanya datang, Jennifer bersimpuh di hadapan mereka untuk meminta restu. Walau tanpa melakukan itu pasti Sean dan Ana akan merestuinya.
"Papi, Mami. Jen meminta restu dari kalian, maafkan Jenni jika selama ini belum bisa membuat Mami dan Papi bangga. Terima kasih sudah merawat dan membimbing Jenni sampai saat ini." Mendengar ucapan putrinya, ke duanya terharu dengan sikap Jennifer. Mereka berdua tidak gagal mendidik putra putri mereka.
"Bangunlah, Jen. Papi dan Mami merestuimu. Hari ini adalah hari bahagiamu, berbahagialah putri Papi." Sean membawa Jennifer untuk berdiri seperti semula. Ana juga nampak menahan air matanya, benar-benar tidak menyangka jika hari ini putrinya akan melangsungkan pernikahan.
"Mami dan Papi akan selalu mendoakan kebahagianmu, Sayang."
"Pakailah ini, perhiasan ini dari Gerald. Dia memberikan ini untukmu." Eliina membuka kotak berisi satu set perhiasan yang full dengan berlian. Fany yang melihatnya di buat melongo karena itu dia benar-benar melihat di depan matanya.
Ana memakaikan perhiasan-perhiasan itu pada Jennifer. Jennifer nampak menerima tanpa menolaknya. Perhiasan yang sangat cocok di gunakan, Ana tersenyum simpul melihat putrinya yang benar-benar cantik hari ini.
la kembali membuka kotak itu yang juga berisi satu set perhiasan dengan full berlian. Fany semakin menganga karena itu di berikan Ana untuknya.
"Ini untuk apa Aunty? Kan bukan aku yang menikah? Kenapa harus memberiku ini?" protes Fany. Ia belum melihat perhiasan yang berisi full berlian selama ini, tetapi dia bisa melihatnya di depan matanya saat ini. Rasanya seperti mimpi.
"Kau juga harus memakainya, kau juga calon menantu di keluarga William." Fany tidak menaruh curiga sedikit pun di sana. Kepekaan pada dirinya sedang hilang.
"Kan baru calon, Aunty. Harusnya Aunty tidak emmberikan yang berlebihan seperti ini."
"Sudah tidak apa-apa, kau pakai saja. Biar kau terlihat cantik." Fany tidak bisa menolaknya lagi, dia menerima pemberian dari Ana sepasang set berlian itu.
Dia benar-benar tidak sadar jika dandanannya juga sama seperti Jennifer. Apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya, mungkin dia hanya berpikir jika dandanan seperti itu permintaan Julian saja.
"Sebaiknya kita turun, semua sudah menunggu di sana." Sean memberikan tangannya pada putrinya. Jennifer menerima tangan itu dan berjalan beriringan dengan sang Papi.
"Ayo kita turun, semua sudah datang." Ana berada di samping Fany. Fany menjinjing tinggi-tinggi gaun yang ia kenakan karena ia kesulitan untuk berjalan.
__ADS_1
Sementara aula hotel, semua para tamu undangan sudah hadir. Bahkan teman-teman dekat Gerald dan Julian sudah berada di sana. Mereka takjub dengan dekorasi dan konsep yang di gunakan, terlihat sangat mewah. Bahkan dekor di sana bukan main-main, acara di gelar di salah satu hotel ternama yang ada di kota.
Tentu acara akan di gelar sangat megah, dua sultan sedang di satukan dalam acara ini.
"Waah...benar-benar konsep yang mewah dan berbeda dari yang lain. Aku juga akan menggunakan konsep seperti ini nanti." Marcus terkagum-kagum dengan dekorasi yang ada di sana. Karena memang benar-benar berbeda dan nampak mewah.
"Jangan mengada-ada! Sekaya apa kau bisa membuat acara semegah ini?" celetuk Reiner. Mereka hanya duduk bertiga dengan Robert tanpa kehadiran Julian di tengah-tengah mereka.
Masing-masing dari mereka tidak ada yang membawa pasangan, karena memang mereka belum memiliki pasangan.
"Kau pasti tidak tahu kekayaan keluargaku, kan?" Reiner menggeleng cepat di sana.
"Tidak penting untukku, sebaiknya kau rahasiakan saja." Dirinya tentu saja pasti tahu bagaimana temannya itu, mereka bergantian datang satu sama lain.
"Fany ke mana? Kenapa anak itu tidak terlihat sama sekali. Mana ponselnya tidak bisa di hubungi lagi." Thea celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan Fany yang tidak terlihat sama sekali di sana.
"Thea...!" teriak Marcus melambaikan tangan melihat Thea celingukan sendiri.
Bugh...
"Kecilkan suaramu. Kau membuat malu saja." Marcus mendapat pukulan dari Reiner karena berteriak kencang. Bisa-bisanya dia berteriak dengan kencang sampai-sampai banyak yang menoleh ke arah mereka.
"Lama-lama aku menyubal mulutmu." Robert yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Santai saja kenapa, kalian tidak perlu sewot." Julian tidak ada, dia yang menggantikan posisi Julian dengan kerandomannya.
Thea yang merasa di panggil itu pun mendekat ke arah meja kumpulan laki-laki itu. Dari pada dirinya sendiri, mereka juga sudah saling kenal.
"Kau sedang mencari siapa?" tanya Reiner dengan lembut di sana.
"Aku sedang mencari Fany. Sedari tadi aku tidak menemukannya," jawabnya dengan sedikit cemberut.
"Duduk saja dulu dan nikmati hidangan yang ada. Pasti Fany bersama dengan Julian saat ini," ujarnya dengan sedikit perhatian.
"Tunggu saja sebentar. Tidak lama lagi Fany akan nampak, kau tenang saja," sahut Robert di sana. Dia sengaja tidak memberitahukan teman-temannya perihal Fany dan Julian.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, pintu aula terbuka. Di sana menunjukkan kedatangan Jennifer bak ratu hari ini. Semua tamu undangan yang melihatnya benar-benar di buat takjub, baru pertama kali juga mereka melihat sosok Jennifer.