
"Kau kan bisa main dengan temanmu, masih ada Robert dan Fany." Jennifer lanjut memilih baju-bajunya.
"Kau itu laki-laki, udah gede. Jangan seperti anak kecil," sarkas Jennifer.
Tanpa berfikir panjang, Julian merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, boleh aku ikut. Mami dan papi menyuruhku untuk ikut dengan kalian, memastikan jika kalian sampai dengan aman." Ujarnya dengan beralasan mami dan papinya. Jennifer berfikir-fikir siapa yang di hubungi Julian.
Orang yang di seberang sana berfikir-fikir memperbolehkan Julian ikut atau tidak.
"Benarkah?" Jawabnya tidak percaya dengan ucapan Julian.
"Kalau kau tidak percaya ya sudah, kau bicara saja sama mami dan papi." Julian semakin membuat alasan agar dirinya tidak di perbolehkan untuk ikut.
"Tidak, tidak perlu. Ya sudah kau bersiaplah." Jawab orang di seberang sana yang memperbolehkan Julian untuk ikut bersama mereka.
Julian memutuskan sambungan telfonnya dan terlihat sangat senang.
"Siapa yang kau hubungi, memangnya mami dan papi bicara apa denganmu?" Jennifer mulai curiga dengan Julian.
"Oohh tadi, aku menelfon Gerald. Katanya ya sudah, dia menyuruhku untuk bersiap." Jawabnya lalu beranjak pergi dari kamar Jennifer. Ia merasakan kemenangan karena di perbolehkan untuk ikut.
Jennifer menggerutu kali ini, pasti akan sangat rusuh jika ada Julian.
Malam ini Gerald berencana untuk kembali ke Amerika dan mengajak Jennifer untuk ikut bersamanya, hitung-hitung untuk liburan.
Jennifer berfikir-fikir, ia pun memiliki rencana. Ka mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
Setelah mendapat balasan persetujuan, Jennifer kembali menata barang-barang miliknya.
Malam hari...
Tepat pukul tujuh waktu Berlin, mereka sudah berada di Bandara. Sebentar lagi mereka akan mengudara.
"Kita masih menunggu siapa lagi? Bukankah hanya kita bertiga?" Tanya Julian yang sudah jengah berada di luar.
"Sudah diamlah." Ketus Jennifer.
Tidak lama kemudian, Jennifer melambaikan tangannya setelah melihat siapa yang datang. Julian menoleh berbalik karena sang kakak melambaikan tangannya.
Orang tersebutpun datang sambil berlari, "apa kalian sudah lama?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, kami baru lima belas menit di sini." Jawab Jennifer.
"Kenapa kau mengajak anak cabe ini?" Ucapnya setelah melihat siapa yang datang.
"Biar nanti kau tidak menjadi obat nyamuk, kau pasti akan menggagalkan rencana liburan kami jika tidak ada pasangannya." Jawab Gerald. Ia pun menarik dan menggandeng tangan Jennifer lalu berjalan masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Julian memincingkan bibirnya dengan jawaban Gerald. Orang yang datang itu adalah Fany, mau siapa lagi. Siang tadi Jennifer mengirim orsan pada Fany untuk mengajaknya berlibur ke Amerika setelah tahu jika Julian akan ikut ke sana.
Jennifer sengaja mengajak Fany agar nanti Julian tidak berbuat rusuh padanya, pasti dia akan ada saja tingkahnya. Itu adalah pilihan yang tepat agar nanti Julian tidak berulah.
Setelah melakukan pemeriksaan, mereka segera menuju jet yang sudah berada di sana. Jet itu milik keluarga Gerald, Daddy-nya mengirimkan untuk menjemputnya pulang.
Tidak lama kemudian, Jet itu mengudara dengan tingginya. Mereka duduk saling bersebalahan, jika Gerald dengan Jennifer maka Julian dengan Fany. Dan beberapa anak buah dari Tuan Carles berada di sana untuk berjaga-jaga.
"Tidurlah, dulu. Perjalanan kita masih lama," ucap Gerald penuh perhatian pada Jennifer.
"Aku masih belum mengantuk, aku akan tidur nanti jika sudah merasa kantuk." Tolaknya secara halus. Karena memang dirinya belum merasa kantuk.
Beberapa pramugari datang menyajikan makanan untuk mereka, mereka semua menikmati makanan yang di berikan tadi.
Gerald mencoba bersikap manis pada Jennifer, ia menyuapkan makanannya untuk di coba oleh Jennifer.
"Enak, cobalah punyaku." Ucapnya lalu memberikan suapan pada Gerald karena makanan mereka berbeda.
"Eemm... Tidak buruk, habiskan. Jika mau nambah biar aku berbicara dengan mereka," ujar Gerald.
Dua pasang mata yang ada di depannya hanya bisa melihat sambil meringis. Mereka berdua bagaikan patung yang menyaksikan keduanya.
"Kalian kenapa? Apa kalian tidak lapar?" Tanya Gerald pada dua orang di depannya yang tidak jadi menyantap makanannya.
"Aku tiba-tiba merasa pengap sekali." Julian mengibas-kibaskan kaos yang ia kenakan.
"Hmm... Hmm... Aku boleh kan meminta tambahan makanan nanti." Ujar Fany pada Gerald.
"Kau minta saja sesuka hatimu," jawabnya.
"Di otakmu hanya berisi dengan makanan saja," sengal Julian padanya.
"Yaudah kenapa sih, orang yang punya aja biasa aja kok." Fany menjulurkan lidahnya meledek Julian.
Berjam-jam lamanya, akhirnya mereka sampai di Amerika. Jet mendarat dengan mulus tanpa ada gangguan apapun.
__ADS_1
"Bangunlah, kita sudah sampai." Gerald membangunkan Jennifer yang tertidur saat di perjalanan. Jennifer mengerjapkan kedua matanya lalu bangun.
Di lihatnya juga dua orang yang ada di hadapannya itu juga tertidur dengan nyenyaknya.
"Buat dirimu enakan dulu, setelah itu baru kita turun ." Ucap Gerald yang melihat Jennifer masih terlihat malas untuk beranjak dari tempat duduknya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka semua turun dari sana.
Mereka tiba di sana malam hari, mungkin di berlin sudah tengah malam atau dini hari, karena perbedaan waktu tujuh jam lebih cepat waktu Berlin.
Gerald sedari tadi menggandeng tangan Jennifer, mungkin dia tidak ingin berjauhan dengan Jennifer.
Mereka masuk ke dalam mobil yang menjemput mereka, dan tanpa berlama-lama mobilpun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota malam hari.
Mereka masih membutuhkan waktu selama kurang lebih dua jam untuk sampai di Mension keluarga Gerald.
Mobilpun masuk ke dalam pekarangan halaman luas di sana, mension keluarga Gerald tidak kalah megah dengan keluarga Johnson.
"Waahhh.... Luas sekali." Ucap Fany melihat keluasan halaman mension Gerald.
"Jangan membuat malu," ujar Julian padanya.
"Yang ada juga dirimu yang biasanya malu-maluin." Ujarnya tidak kalah ketus pada Julian.
Mereka turun dari dalam mobil saat berada tepat di depan pintu mension besar itu. Gerald keluar terlebih dahulu, kemudian di susul oleh Jennifer. Gerald meletakkan tangannya di atas kepala Jennifer berjaga-jaga agar sang tunangan tidak terhantuk mobil.
Perlakuan yang sederhana tapi membuat kaum hawa sangat di istimewakan.
Daddy dan Mommy Gerald datang menuju ke pintu depan untuk menyambut anak dan calon menantunya itu.
"Calon mantu Mommy... Akhirnya kau datang berkunjung juga ke sini," sambut Mommy Gerald di sana.
"Selamat datang, son." Tuan Carles menyambut kedatangan putranya semata wayang itu.
"Ternyata kau tuan muda Johnson, selamat datang di kediaman kami." Tuan Carles menyambut kedatangan Julian.
"Terima kasih atas sambutanya, Tuan." Ucap Julian.
"Apa dia kekasihmu?" Tuan Carles menunjuk Fany.
"Eeh... Bukan tuan, bukan. Dia bukan kekasihku," Julian segera menjawab ucapan tuan Carles sebelum nanti semakin panjang urusannya.
__ADS_1